
Beberapa kali Xiao Shuxiang mengembuskan napas, perlahan tangannya menyentuh dadanya sendiri. Dia bisa merasakan jantungnya berpacu begitu kencang, seolah organ dalamnya itu hampir melompat keluar.
"Shuxiang, bagaimana keadaanmu?"
?!
Xiao Shuxiang tersentak, pandangan matanya lalu mengarah ke bawah. Tepat di pintu ruangan yang terbuka--dia bisa melihat seorang anak kecil yang nampak berusia 9 Tahun berpakaian putih dengan corak bunga wisteria ungu.
Anak itu tidak lain adalah Tianqi Mao. Ciri khas-nya selalu pada pakaian dengan rok sepanjang lutut yang nampak mengembang layaknya bunga.
Dia juga selalu membawa kipas yang senada dengan warna pakaiannya, kedatangannya ke ruangan ini tidak lain untuk melihat kondisi Xiao Shuxiang.
"Aku memberimu waktu latihan sendiri selama tiga hari dengan tujuan selain untuk membuatmu menenangkan diri, juga untuk membuatku tahu bakatmu dalam berlatih sendiri. Tapi saat kuperhatikan, kau tidak banyak kemajuan.."
Tinggi pilar tempat di mana Xiao Shuxiang duduk bersila lebih dari 10 meter, Tianqi Mao perlu mendongak agar bisa melihat dan bicara pada Koki Alkemis itu.
".. Kau terlihat tidak tenang, apa ada yang mengganggumu?"
"Penglihatanmu jeli sekali.." Xiao Shuxiang tersenyum canggung dan lalu mengembuskan napas berat, dia mengatakan pada Tianqi Mao bahwa saat ini perasaannya sedang tidak enak.
?
Dalam sekali kipasan.. Api yang menyelimuti kesebelas pilar panjang mulai mengecil. Tianqi Mao perlahan melayang ke arah Xiao Shuxiang berada.
"Ada masalah apa?" Tianqi Mao bertanya saat dirinya berada tepat di depan Xiao Shuxiang, tubuhnya nampak melayang di udara.
"Aku tidak yakin ingin mengatakan ini padamu.."
Kening Tianqi Mao mengerut, dia bisa melihat ada perubahan pada raut wajah pemuda di depannya, Xiao Shuxiang seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Jika kau tidak bisa menenangkan hatimu, maka latihan ini tidak ada gunanya sama sekali. Bicaralah jika kau memang punya masalah,"
"..."
Memang benar Xiao Shuxiang saat ini memiliki masalah, tetapi dia ragu untuk mengatakannya. Bukan karena dia tidak percaya pada Tianqi Mao, tetapi karena masalahnya ini berhubungan dengan kecurigaannya pada pilar terakhir dari Scarlet Bayangan.
Beberapa saat yang lalu, ketika dia berkonsentrasi menenangkan diri.. Ingatan tentang Scarlet Bayangan tiba-tiba datang dan menghantui pikirannya. Perasaannya langsung berubah menjadi tidak enak saat itu juga.
"Shuxiang? Kau benar-benar memikirkan sesuatu, ayo katakanlah. Mungkin dengan kau menceritakan kegelisahanmu, perasaanmu bisa lebih baik,"
"..."
Diam selama beberapa saat dan kemudian bibir Xiao Shuxiang mulai bergerak untuk bicara.
".. Tianqi Mao, apa kau percaya.. Takdir bisa diubah?"
"Hm?" Tianqi Mao berkedip mendengar pertanyaan Xiao Shuxiang barusan, dia memainkan pelan kipasnya dan kemudian mulai menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa takdir manusia selain yang sudah ditetapkan, Shuxiang.."
?!
"Maksudmu takdir yang ditetapkan.. 'Kematian'?"
"Mn, benar. Setiap makhluk hidup tidak akan tahu di usia ke berapa mereka akan mati. Tapi satu hal yang sudah pasti, bahwa kematian itu selalu menjadi bayangan bagi setiap makhluk di dunia ini, dan itu merupakan Takdir yang Ditetapkan,"
Tianqi Mao bahkan menjelaskan bahwa kultivator yang telah hidup selama beratus-ratus tahun sekali pun.. Tidak akan bisa lari dari 'Kematian', setinggi apa pun tingkat kultivasinya.
"Tunggu, tapi aku pernah lolos dari kematian. Jadi bagaimana kau menjelaskan itu?"
__ADS_1
Tianqi Mao bisa melihat ada kegugupan yang nampak di wajah Xiao Shuxiang, pemuda di depannya ini jelas sedang tidak berada di kondisinya yang biasa.
"Itu mudah, kalau kau bisa lolos dari kematian.. Berarti saat itu kau masih belum ditakdirkan mati. Tapi yang jelas, kematian pasti akan menghampirimu, hanya waktu dan tempatnya saja yang tidak diketahui kapan,"
...
Tianqi Mao memainkan kipasnya di depan wajah Xiao Shuxiang sambil menyebut nama pemuda itu. Dia lalu bertanya mengenai kondisi hati Xiao Shuxiang saat ini.
".. Apa sekarang kau sudah lebih baik? Atau masih ada yang ingin kau tanyakan?"
Xiao Shuxiang menatap Tianqi Mao sejenak dan kemudian menggelengkan kepala pelan, "Kurasa saat ini sudah tidak ada. Ayo kita mulai latihannya,"
"Kau yakin? Kau sudah lebih baik?"
"Mn, ini sudah cukup mengobati kegelisahanku.."
Tianqi Mao mengangguk, dia lalu meminta Xiao Shuxiang untuk menutup mata dan berkonsentrasi penuh. Sebab dirinya akan menjelaskan cara pelatihan untuk meningkatkan Teknik Jurus Cermin Pemindah.
".. Aku hanya akan menjelaskannya sekali, jadi kau harus mendengarkan dan memahami dengan baik apa yang kukatakan. Ini adalah pelatihan tertutup dan aku hanya membantumu satu hari ini saja, setelah itu kau harus melakukannya seorang diri,"
Tianqi Mao juga berkata bahwa dirinya nanti hanya bertindak sebagai pemantau, dan tidak akan memberikan bantuan apa pun pada Xiao Shuxiang. Jadi setiap penjelasannya kali ini benar-benar harus diingat dengan baik.
Cermin Pemindah sebenarnya adalah teknik milik kaum Demonic Beast berwujud kucing, teknik kepunyaan kaum Tianqi Mao.
Sulit bagi manusia mempelajari ini apalagi meningkatkannya, Xiao Shuxiang punya kesempatan melakukannya jelas adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
".. Kunci dari meningkatkan teknik ini ada pada kekuatan dan bakatmu. Kau harus mampu mengingat setiap tempat yang pernah kau jelajahi, baik tempat di mana kau meletakkan penanda segel cerminmu maupun yang bukan.."
Xiao Shuxiang mendengar begitu jelas setiap ucapan Tianqi Mao. Tidak hanya ingatan saat dia pertama kali berada di Desa Tani, tapi juga dirinya mengingat tempat-tempat dan seluruh kejadian di masa lalunya, termasuk setiap perubahan pada kondisi tanah yang dipijaknya.
".. Selanjutnya kau pisahkan mereka dengan tempat yang paling ingin kau kunjungi, atau tempat yang menurutmu paling memiliki hubungan erat dengan dirimu,"
Demonic Beast berwujud kera yang memiliki tongkat sakti bercincin emas itu adalah rival sekaligus temannya dalam membuat kekacauan.
Dunia Demon benar-benar berguncang hebat tatkala mereka berduel dengan niatan saling menghabisi satu sama lain.
Dunia selanjutnya yang Xiao Shuxiang ingat merupakan dunia terindah nan paling damai, tempat di mana para Elf tinggal dan hidup di sana. Dia jadi memikirkan Eins, entah bagaimana keadaan burung hantu putih temannya itu sekarang ini.
".. Semakin jelas kau mengingat tempat yang berkesan bagimu, maka semakin tepat juga sasaran dari Cermin Pemindahmu nantinya. Jadi bahkan tanpa meletakkam segel penanda sekali pun, kau bisa pergi ke tempat mana pun yang kau inginkan,"
Xiao Shuxiang mengangguk pelan tanpa membuka matanya, dia terus fokus mengingat lokasi-lokasi yang pernah dirinya pijak, termasuk Dunia Para Siren.
".. Saat kau mengingat jelas satu tempat dan yakin dengan tempat itu, maka coba keluarkan sebuah cermin pemindah kecil. Tahap ini lebih sulit sebab fokusmu akan terbagi dua dan akan semakin bertambah,"
Dalam sekali kibasan pelan, kobaran api mulai menyeruak hingga ruangan ini menjadi lebih panas. Tianqi Mao menjelaskan bahwa kobaran api ini bisa menjadi keberuntungan dan kemalangan bagi Xiao Shuxiang.
".. Kau tidak akan letih dalam menggunakan mentalmu karena api ini berfungsi selain memberi kehangatan, juga untuk menjernihkan pikiranmu. Tapi jika kau memaksakan diri, api ini akan terasa sangat panas dan kemungkinan terburuknya kau bisa jatuh dari sini tanpa kau sadari,"
Tianqi Mao sudah sangat baik dalam membantu latihan Xiao Shuxiang, dia menjelaskan semuanya secara detail dan tentu mudah dipahami oleh kakak angkatnya ini.
".. Berhasil atau tidak latihan ini.. Semua bergantung pada usahamu sendiri. Selanjutnya aku akan datang, tetapi tidak lagi mengeluarkan suara untuk bicara padamu,"
Tianqi Mao mulai melayang turun, dia lalu berjalan ke arah pintu dan kemudian meninggalkan Xiao Shuxiang seorang diri di ruangan ini. Pemuda tersebut nampak sangat fokus dalam berkonsentrasi.
Tidak hanya Koki Alkemis itu yang berlatih, tetapi juga Ling Qing Zhu. Gadis cantik berambut putih dan bercadar tipis tersebut selalu berlatih pedang di kediaman Tianqi Mao.
Awalnya dia berlatih sendiri, namun hari berikutnya Yi Wen datang dan menjadi lawan latih tandingnya. Mereka juga terkadang mengunjungi Xiao Lu di istana Kaisar Matahari Tengah dan mengajak gadis itu untuk latihan bersama.
Dai Chen, Sang Kaisar Muda nampak sibuk mengurus berkas-berkas dan masalah politik yang tidak dimengerti oleh Xiao Lu.
__ADS_1
Kakak Ipar Xiao Shuxiang itu setiap harinya selalu duduk dan sesekali memijat kepalanya, dia benar-benar merasa menjadi 'Kaisar' membuat tulang-tulangnya menjadi keropos akibat terus duduk.
".. Haiish.. Kapan selesainya kertas-kertas ini? Aku merasa usiaku sekarang sudah lebih dari delapan puluh tahun,"
Ini kesebelas kalinya Dai Chen merutukkan hal yang sama, dia memijat pelan tengkuknya dan beberapa kali menggerak-gerakkan leher karena pegal. Meski dirinya seorang kultivator, tetapi melakukan pekerjaan ini tetap saja melelahkan.
".. Aku lebih baik bertarung tiga hari tiga malam tanpa henti daripada harus duduk sambil bermesraan dengan tumpukan kertas-kertas ini,"
!
"Sayang, apa aku boleh masuk?"
Dai Chen mendengar suara ketukan pintu dan juga suara seorang wanita yang tidak asing di telinganya. Itu tidak lain adalah Li Qian Xie, istri pertamanya sekaligus putri dari Li Jing Hua-Kaisar Matahari Tengah yang sudah berumur.
Dia menyahut dan mengizinkan istrinya masuk. Pintu besar tersebut mulai terbuka dan memperlihatkan dua orang pelayan yang bertugas membuka pintu, serta seorang gadis cantik berambut panjang dengan pakaian hijau kekuningan bercorak sayap kupu-kupu.
"Kau memakai seragam itu.. Apa kau baru saja pergi ke Sekte Kupu-Kupu?"
"Iya, aku sudah lama tidak ke sana. Tetua sedang tidak ada, saat ini hanya Senior Ro Wei dan Bibi Shao Nu yang mengurus sekte, jadi aku merasa khawatir.."
Dai Chen berdiri dan berjalan ke arah Li Qian Xie, dia merangkul istrinya dengan penuh kelembutan sambil menegur pelan wanita berambut panjang itu.
"Tidak seharusnya kau pergi ke mana-mana dalam kondisi tubuh seperti ini.." Dai Chen mengusap-usap pelan perut buncit Li Qian Xie dan membawa istrinya itu untuk duduk di kursinya.
Li Qian Xie memang saat ini sedang mengandung anak pertamanya, usia kandungannya sekarang adalah 8 bulan, tidak seharusnya di saat-saat seperti ini dia pergi jauh dari lingkungan istana.
".. Kau jangan membuatku khawatir, ayah tidak akan mengampuniku bila sesuatu terjadi padamu,"
"Aku minta maaf, tapi aku baik-baik saja.. Kau jangan memarahiku~"
"Aku tidak marah padamu, tapi lain kali kau harus memberi tahuku lebih dulu. Kalian berdua adalah tanggung jawabku, dan cukup Lu'Er saja yang membuat masalah, kau tidak boleh sampai menirunya. Mengerti?"
Dai Chen mencubit pelan pipi kanan Li Qian Xie, dia mendapat anggukan pelan dari istrinya tersebut yang nampak berwajah menggemaskan.
"Sayang, kau setiap hari mengurus berkas-berkas ini.. Apa tidak bosan? Bagaimana kalau kita mengunjungi Senior Xiao, kudengar dari Kakak Lu.. Dia sedang latihan di kediaman Wali Kota Embun Bunga,"
"Mm.. Pekerjaanku sebenarnya masih banyak, tapi.." Dai Chen menatap Li Qian Xie dan lalu mengusap pelan kepala istri pertamanya ini, ".. Kita akan pergi, tapi tidak ke tempat Tianqi Mao,"
"Mn? Kau tidak mau menemui Senior Xiao?"
"Hmh, tidak akan. Aku tidak ingin melihat wajah menyebalkan orang itu. Setiap kali mengingatnya, kepalaku selalu saja sakit. Aku akan membawamu menemui Tuan Muda Lan, sifatnya yang tenang dan tatapan mata teduhnya baik untuk kondisi anak kita yang belum lahir,"
Dai Chen tidak akan pernah rela bila Li Qian Xie bertemu Xiao Shuxiang, dia tidak mau pengaruh Koki Alkemis itu menurun pada bayi yang ada di dalam perut istrinya.
".. Aku tidak mau kau dekat dengan Xiao'Er, dia pemuda nakal dan juga tidak tahu malu. Anak kita tidak boleh sampai meniru sifatnya, jadi aku akan membawamu ke Sekte Pedang Langit. Kau bisa bersama Tuan Muda Lan seharian kalau perlu, tempat itu bersih dan jauh dari pemuda seperti Xiao Shuxiang,"
Li Qian Xie tersenyum saat melihat kecemasan suaminya ini. Dia jadi ingat Senior Xiao-nya pernah menggoda Dai Chen sambil berpose di atas tempat tidurnya, kemungkinan gara-gara itu hingga suaminya ini anti dengan Xiao Shuxiang.
Di waktu yang bersamaan, kelakuan Bocah Pengemis Gila sedang menjadi topik perbincangan panas di kalangan murid-murid Sekte Pedang Langit.
Pemuda bertongkat bambu itu dengan cepat menarik perhatian karena tingkahnya yang tidak disangka-sangka.
".. Lan'Er Gege~ pakaian warna putih tidak nyaman untukku. Berikan aku pakaian yang biasa, warna hitam atau merah lebih cocok bagiku Lan'Er Gege~"
"Mn, pakai itu dulu."
Saat ini, Bocah Pengemis Gila sedang berjalan bersama Lan Guan Zhi, mereka menuju ke Balai Peristirahatan. Hanya saja setiap murid sekte menatap keduanya dengan ekspresi wajah terkejut dan tanpa sadar membuka mulut lebar.
***
__ADS_1