
Sekarang Asa sudah sampai dirumahnya bahkan sekarang kedua orang tuanya sedang mengobrol dengan ayah Yuda. Ayahnya bahkan meliriknya dengan garang..
"Saya akan bertanggung jawab om tante maafkan atas kekhilafan saja beserta Asa, kalau saja Asa tak menjaga saya ini tak akan terjadi maafkan kami " ucap Yuda dengan lancar sambil menundukan kepalanya tanda bahwa dirinya sangat bersalah.
"Tidak yah, bu aku tak melakukan apa-apa " ucap Asa menyakinkan orang tuanya.
"Diam kamu Sa, ayah dan ibu kecewa sekali. Kita berdua percaya kalau kamu bisa jaga diri kamu sendiri tapi pada akhirnya kamu malah mengecewakan kami berdua. Sudah lebih baik kamu menikah saja hari ini disini juga kalian menikah " putus ayah Asa.
Asa yang tak terima segera berlari kekamarnya, lalu menutup pintunya cukup keras, menangis dengan meraung-raung kenapa ayah dan ibunya tak percaya juga pada dirinya, dia tak melakukan apa-apa dengan Yuda. Dia dijebak oleh laki-laki licik itu.
Sekarang harus bagaimana dirinya agar terlepas dari Yuda dan kedua orang tuanya. Dia tak mau menikah dengan orang licik seperti Yuda. Sekarang dirinya tahu bagaimana jahatnya Yuda. Dia bukannya jahat tapi gila.
Dirinya yang ingin membalaskan perbuatan keji Yuda kepada adiknya malah sekarang dirinya yang terperangkan dengan Yuda. Rencana apalagi sekarang yang harus dirinya gunakan.
Sedangkan diluar ayah Yuda serta Yuda akan pergi untuk membeli mas kawin dan keperluan yang lain-lainnya, sedangkan ibu Asa sedang menghubungi perias.
Asa yang mendengar suara mobil segera mengeceknya lewat jendela. Ini kesempatannya untuk kabur dari Yuda dari pernikahan ini.
Segera Asa membuka jendelanya dengan perlahan, segera memanjat keatas jendela. Sebelum turun Asa sudah celingak-celinguk melihat keadaan takutnya ada yang melihatnya.
Segera Asa meloncat,lalu berlari sekencang-kencangnya tanpa melihat kebelakang sama sekali. Tanpa Asa sadari dirinya dikejar oleh laki-laki berbadan besar.
Asa yang panik saat melihat kearah belakang ada yang mengejarnya dia malah fokus menegok terus menerus yang mengejarnya dan pada akhir dia malah jadi masuk kedalam kolam renang ikan yang airnya sangat hijau dan ini bau sekali.
"Ieuhhh bau sekali, ibuuuu " teriak Asa sambil menangis.
" Sini non saya bantu ayo " teriak pria botak tadi yang mengejarnya.
"Gamau, kamu botak pasti suruhannya Yuda kan buat jagaian aku biar ga kabur. Udah kamu pergi aja "teriak Asa sambil menciprat-cipratkan airnya kewajah pria botak itu.
"Eh jangan gitu non, ini bau non eh nanti skincare saya luntur "
"Bodo amat, udah sana "
__ADS_1
'Emang non tahan didalam sana gimana kamau ada ular "
"Yang bener emang ada ularnya disini" Asa menjadi was-was badanya sudah berkeliling takutnya tiba-tiba ada.
Tanpa Asa sadari pria botak itu sudah turun dan sedang perlahan-lahan untuk menangkap Asa dan hap tertangkap Asa di panggulnya. seperti karung beras oleh pria botak itu.
"Akhhhh lepaskan aku botak lepas aku bukan sampah, mau ku hajar kau lepassss " teriak Asa sambil mengacungkan kakinya dan memukul pungung pria botak itu lalu Asa tak sengaja menedang burungnya pria botak itu.
Dengan kesakitan Pria botak itu masih menahan kesakitanya, Asa yang memang belum menyerah terus aja memukul lelaki botak itu dengan tenaga penuh.
"Jurus seribu bayaran hiyyaaa " teriak Asa sabil memukul pungkung Pria botak itu dengan jurus seribu bayangannya dan akhirnya abruk juga. Segera Asa berlari lagi namun belum juga jauh sudah ada yang memangilnya.
Segera Asa membalikan badanya ternyata ibunya, sialnya dirinya sudah ada didepan rumahnya dan pria botak itu sudah bangkit lagi dan menghalagi jalannya "Kamu mau kemana Sa "
"Ibu Asa gamau, Asa ga gelakuin apa-apa bu " menangis sambil menghampiri ibunya yang sedang menyiram bunga.
"Ibu tak bisa berbuat banyak nak, ayahmu sudah memutuskannya dan ibu tak mungkin membantahnya " jawab Ibu Asa sambil menundukan kepalanya.
Asa segera memeluk ibunya sambil menangis sesegukan, menumpahkan semua kekesalannya dan ketidak berdayaan dirinya serta ibunya atas keputusan ayahnya yang sangat susah goyah.
"Ibu jahat, bilang anaknya sendiri bau " jawab Asa sambil melepaskan pelukan pada ibunya.
"Tapi emang bau Sa, kamu habis ngapain. Kamu main di sawah ya Sa"
"Bu Asa bukan anak kecil lagi, Asa udah besar masa iya main disawah " teriak Asa sambil menghentak-hentakan kakinya karena kesal pada ibunya yang tak serius.
Bukannya menjawab ibunya malah menyiram Asa seperti sedang menyiram tanaman saja "ahhh ibu basah "
"Gapapa Sa, sekalian kamu mandi " .
"Tapi ga gini juga kali bu, aku ini anak perawan bu. Bukan kambing hik hik ibu jahat "
Ibunya sengaja melakukan itu, untuk menghibur anaknya yang sedang sedih, dirinya percaya bahwa anaknya tak mungkin melakukan perbuatan sehina itu, untuk apa dirinya mengajarkan Asa mengaji, sholat kalau akhirnya akan mengecewakannya.
__ADS_1
Dirinya tak bisa membantah suaminya, tak akan bisa sampai kapan pun ayahnya Asa ini sangat keras kepala sama seperti ayah Zeline. Jadi percuma dirinya akan meminta dengan cara apapun jika dia sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu hal tak akan bisa dibantah, bahkan kalau nanti dirinya sampai menangis darah pun tak akan digubris dirinya ini.
Ya gimana kan susah, tapikan gitu-gitu juga suaminya dan dia sangat menyayangi suaminya itu. Ayah Asa yang baik hati dan tidak sombong.
***
Andre sekarang sedang dikantor namun fikirannya malah melayang kepada Syifa pada adegan semalam, tergiang-ngiang terus bagaimana bulatnya payudara Syifa bagaiman kenyalnya dan empuknya.
Semuanya terbayang jelas, kenapa dirinya ini menjadi seperti ini, kenapa bisa jadi tergila-gila oleh tubuh anak kecil itu. Padahal kan Syifa bikan typenya. Syifa itu pantasnya jadi adiknya saja bukan jadi istrinya.
"Pamannn " teriak Syifa sambil membuka pintu ruangan kerja Andre.
Andre yang melihat anak kecil itu ada dihadapannya langsung meneguk ludahnya dan tatapannya langsung jatuh pada benda kenyal semalam. Bahkan sekarang peluhnya sudah bercucuran.
Syifa yang tak mendapatkan jawaban langsung saja berlari dan duduk dipangkuan paman Andre. Lantas kedua mata Andre makin saja melotot disuguhi benda kenyal itu sedekat ini bahkan dagunya sedikit lagi akan menyentuhnya.
"Paman kenapa. Kok keringetan gini padahal kan disini pake ac paman "
"Engga paman gapapa. Udah turun duduk gih dikursi paman Liam "
"Engga ah aku mau disini aja lebih empuk"
"Gabisa anak kecil, nanti kamu malah akan menganggu aku saja "
"Ga akan kok paman sayang"
Andre akhirnya mengalah membiarkan anak kecil itu untuk duduk dipangkuannya, matanya ini sudah sangat gatal ingin melihat yang sedang bersembunyi didalam seragam itu. Andre terus saja meliriknya bahkan sampai menatapnya lama sekali.
"Ada apa paman di dadaku, apakah ada yang kotor "
"Emm ada-ada itu ada kotoran Alibi Andre
"Baiklah tolong bersihkan paman" ucap Syifa menantang pamannya.
__ADS_1
Karena kan tadi dia sudah bercerita pada temannya bahwa itu katanya adalah awal yang bagus, paman Andre sudah tertarik dengan tubunya tingggal saja dirinya menggoda paman Andre dengan yang lainnya. Ini adalah salah satu rencananya bersama teman-temanya.
Andre dengan perlahan-lahan membuka satu persatu kancing seragam Syifa dirinya sudah tak sabar namun tiba-tiba...