
Zeline yang sudah bangun terlebih dahulu entah mempunyai inisiatif dari mana sekarang dirinya sedang mengubrak abrik dasi suaminya mengambilnya dua biji lalu kembali ketempat tidurnya.
Menatap suaminya yang sedang tertidur dengan pulas. Segera dirinya menaiku tubuh suaminya dan mengikat tangan suaminya mengunakan dasi yang tadi di kepala ranjang.
Zeline juga tak lupa menguncir kuda ramburnya segera dirinya menyambar bibir suaminya yang lembut dan kenyal. Liam yang sedang tidur-tidur nyeyak segera bangun dan melihat tangannya sudah di ikat serta bibirnya sedang dimainkan oleh istrinya.
Setelah puas Zeline segera melepaskan tautanya, membelai wajah suaminya lalu beralih membuka celana suaminya untuk melihat burung yang sedang tertidur tapi sekarang sudah bangun.
Dengan perlahan-lahan Zeline memaikan burung suaminya dan membuat suaminya menggerang nikmat. Liam tak berbicara apa-apa membiarkan istrinya melakukan apa yang dirinya mau. Setelah punya ya basah karena melihat suaminya mengeluatkan lahar segera Zeline memasukannya kedalam sangkarnya dan memaju mundurkan pinggulnya.
Zeline pun akhirnya menikmati penyatuan mereka berdua yang dipimpin langsung oleh Zeline. Liam dibawah hanya diam sambil menatap dua gunung kembar yang sedang mengantung bebas dan melambai-lambai untuk segera dirinya mainkan. Namun itu tak bisa mustahil sekali.
**
Asa sekarang sedang bersiap-siap untuk menemui bibi dan pamannya untuk menjelaskan kenapa dirinya pergi dan mengambil semua pakainnya. Tapi dirinya tak akan menceritakan yang sebenarnya pada paman dan bibinya untuk sekarang maafkan dirinya akan mematipulasi semuanya.
"Mau kemana kamu Sa " tanya Yuda yang baru bangun
"Bukan urusan mu Yud "
"Kau itu istriku dan mulai sekarang kemana pun kamu pergi aku berhak tau Sa "
Asa sama sekali tak menghiraukan celohan dari Yuda segera dirinya pergi. Segera membuka pintunya dan sedikit membantingnya.
"Ahh sial gara-gara kaki lumpuh ini aku tak bisa sama sekali mengejar Asa istriku dasar kau laki-laki tak becus " teriak Yuda sambil memukul-mukul kakinya melampiaskan semua kemarahannya itu.
Sedangkan Asa sekarang sedang didalam mobil, menuju rumah bibi dan pamannya. Dirinya harus mengeluarkan setiap kebohongan-kebongan pada paman dan bibinya sebenarnya tak mau tapi bagaimana lagi tak ada pilihan lagi.
Hatinya harus kuat, tubuhnya juga harus kuat, semoga saja paman dan bibinya tak menghalangi dirinya saat akan pergi dari rumah mereka. Semoga saja Yuda tak menyuruh seseorang untuk mengikutinya.
__ADS_1
Asa yang masih ada didalam mobil, kembali manarik nafasnya dan keluar dari dalam mobil untuk segera menemui paman dan bibinya.
Asa dengan perlahan-lahan menuju rumah dan mengetuk pintunya. Pintu sudah terbuka dan menampilkan bibinya dengan mata yang sembab ada apa dengan bibinya ini.
Segera bibinya itu memeluknya dengan erat "kamu dari mana saja Sa, ayo masuk "
Asa segera menurut dan masuk kedalam sambil memapah bibinya dan duduk dikursi ruang tamu. Asa segera menyiapkan dirinya untuk segera berbicara pada bibinya.
"Bibi bagaimana apakah sehat, Zeline mana bi " tanya Asa.
"Alhamdullilah bibi sehat, Zeline sudah pindah dengan suaminya " ucap bibinya sambil sesekali mengalihkan pandangannya.
"Alhamdullilah kalau begitu bi, kenapa ya Zeline gabilang aku vi ga biasanya "
"Mungkin dia lupa nak "
"Hemm iya bi, nanti aku telfon saja Zelinenya. Bi ada yang harus aku bicarain "
"Begini bi, sebelumnya aku mau minta maaf sam bibi sama paman, aku ga bisa tinggal disini lagi, aku harus tinggal dirumah orang yang sakit itu. Sampai dia pulih kembali bi. Karena orang tunya yang minta biar aku katanya gak bulak balik " jelas Asa sambil menahan tangisnya.
"Kenapa harus begitu na, kenapa. Kenapa tak pulang saja. apa bibi saja yang harus bilang pada orang itu " sambil menitihkan air mata.
"Bibi jangan menangis. Tak bisa bi ini adalah tuntutan pekerjaan "
"Baiklah kalau bibi tak bisa menahanmu, tapi ingat selalu lah main kesini jangan lupakan bibi ya " ucap bibinya sambil memeluk Asa.
Asa yang dipeluk seperti ini merasa sangat bersalah. Kebohongan yang dirinya buat pasti akan menyakiti semua orang, semua keluargannya. Biarlah nanti dirinya yang menangung sendirian.
Setelah itu Asa segera masuk kedalam kamarnya. Membereskan semua barangnya. Satu persatu, rasanya berat harus tinggal terus bersama Yuda bersama musuh terbesarnya.
__ADS_1
Setelah semua selesai. Asa pergi dan menyetop taxi lalu pergi ke apotik ada sesuatu yang harus dirinya beli dan sudah resep dari dokter hewan juga. Akan ada sesuatu yang besar yang aku lakukan. Pasti akan menyenangkan sekali.
Setelah sampai di apotik Asa segera masuk dan memberikan resep dokternya pada penjagannya dan menunggu dengan sabar. Setelah mendapatkan obat itu Asa segera pergi sambil mengukir senyumnya.
Ternyata mudah sekali mendapatkan obat ini, tanpa harus menjelaskan terlebih dahulu. Ternyata berguna juga profesinya sampai bisa menampatkan resep ini dengan mudah.
Sebelum pulang dirinya akan membelikan dahulu Yuda makanan. Mencoba baik padanya tak apakan. Tapi dibalik kebaikan itu akan ada sesuatu yang dia mainkan. Agar Yuda kembali percaya padanya dan semua berjalan dengan lancar.
Setelah membeli makanannya Asa segera pulang diantar oleh bapak taxi. Sampai juga dirumah Yuda. Saat Asa masuk tak ada siapa-siap.
Asa segera masuk kedalam kamar Yuda. Alangkah kagetnya Asa saat melihat Yuda sedang terkapar dilantai. Sedang mencoba mengapai-ngapai kursi rodanya.
Asa segera menghampiri Yuda dan membantunya untuk bangun, Yuda yang tak menyadari tadi ada orang masuk dan sekarang ada Asa yang membantunya untuk bangun.
Asa segera mengangkat Yuda dan mendudukannya di ataa tempat tidurnya. Asa segera mengambil baskom dan kain lap kering. Lalu kembali lagi kearah Yuda.
Dengan telaten Asa mengelap seluruh badan Yuda, Yuda yang menglihatnya lalu tertunduk mali. Apakah dirinya selemah ini bahkan untuk mengurus dirinya saja tak bisa.
Selesai Juga lalu Asa mengacungkan sendok yang berisi makanan kearah mulut Yuda. Dengan sungkan Yuda menerimannya setiap suapan yang diberikan Asa istrinya. Tanpa ada kata sedikit pun dan bantahan.
Asa yang sudah selesai segera membereskan semua barang-barang itu, namun belum juga melangkah Yuda sudah mencekal tangannya. "Apakah kita bisa berbicara sebentar Sa "
"Baiklah apa yang akan kau bicarakan Yud "
"Maafkan aku Sa, maaf aku sebagai suami mu sangat tak berguna. Seharusnya aku bekerja untuk mu dan menafkahi mu. Tapi aku malah berbaring tak berguna seperti ini " ucap Yuda sambil menundukan kepalanya.
"Tak apa Yud aku tahu kamu sedang sakit, nanti juga pasti kamu bisa menafkahiku " kalau kau masih hidup itu pun lanjut Asa dalam hatinya.
"Aku pergi kedapur dahulu ya untuk membereskan semua ini " minta Asa sambil melepaskan pegangan Yuda lalu pergi kedapur tak lupa membawa obat Yuda juga.
__ADS_1
Setelah semuanya aman dan tak ada orang didapurnya ini, Asa segera membuang obat Yuda lalu mengantinya dengan obat baru yang tadi dirinya beli. Harus lancar rencana yang ini.