Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Baik baik saja


__ADS_3

Ibunya Liam yang mendengar ada suara teriakan segera turun dengan suaminya yang ikut mengekor pada sang istri takut terjadi sesuatu. Karena teriakan itu sangat lantang sekali.


Saat mereka turun sudah melihat bi Sari yang berdarah darah sambil memangku Lucas yang juga terkena darah bi Sari


"Ya alloh, bibi kenapa " teriak ibunya Liam sambil berlari kecil kearah sang cucu dan pengasuhnya.


Bi Sari segera memberikan Lucas pada neneknya "bibi kenapa banyak darah begini, apa yang terjadi bi, apa ada maling bi dirumah "


"Mba Sarah ingin membunuh den Lucas, tapi alhamdullilah saya bisa menyelamatkan den Lucas, saya berhasil menyelamatkan nyawa den Lucas nyonya"


"Astagfirullah , bibi sini kemari duduklah disini "


Segera bi Sari di papah oleh ayahnya Liam dan menyobekan pakaian bi Sari untuk membalut lukannya.


"Bibi apa tak ada yang terluka lagi, apa cuman ini saja bi, coba katakan pada saya bi" tanya ayah ya Liam


"Sudah tuan, tolong tuan Andre, dia sedang berkelahi dengan Aryo. tolong dia tuan, kasian tuan Andre berkelahi sendirian saya takut terjadi sesuatu dengan tuan Andre"


"Baiklah, ibu tolong obat bi Sari bu "


Dengan cepat ayahnya Liam segera masuk kedalam rumah anaknya, saat melihat ke pos satpam pak satpamnya tidur, dengan cepat dia masuk dan membuka pintu rumah dan ada andre yang sedang terkapar dan darah yang tercucura.


"Andre, kamu dimana nak" teriak ayahnya Liam saat melihat Andre yang terkapar, ayah Liam berlari dengan cepat, segera berjongkok menghampiri Andre.


"Yah, Lucas gak papakan, tadi Lucas di kejar kejar yah" sambil memegang perutnya yang tertusuk agar tak terlalu mengeluarkan darah yang sangat banyak. Apalagi pisau masih tertancap diperutnya.


"Lucas baik baik saja Dre, ayo kita kerumah sakit, kamu harus kuat ya Dre, ayah akan membawa kamu secepatnya kerumah sakit" ayah Liam dengan sekuat tenaga membangunkan Andre.


Sedangkan Liam dan juga Zeline yang baru sampai dirumahnya melihat pintu rumah terbuka "mas ini ada apa, kenapa pintu terbuka dan rumah kenapa sangat sepi sekali mas"


"Entahlah sayang , kamu tunggu disini, aku akan mengeceknya, jika ada apa apa segeralah lari kerumah ibu ya"

__ADS_1


"Iya mas kamu hati hati ya mas "


Liam segera berlari dengan terbirit birit dia yakin ada yang terjadi dirumahnya dan benar saja saat masuk Ada ayahnya yang sedang membantu Andre.


"Ayah, Andre kenapa, kenapa Andre yah" tanya Liam


"Nanti ayah jelaskan, sekarang bantu untuk membawa Andre kurumah sakit cepat nak, ayah sudah sangat khawatir dengan Andre"


Liam segera berjongkok dan segera memangku Andre, meskipun Liam keberatan memangku tubuh Andre namun dirinya tak menyerah membawa Andre keluar untuk dibawa kerumah sakit.


Zeline yang melihat kak Andre bercucuran darah dan tak sadarkan diri tiba tiba jantungnya berasa berhenti "mas ada apa ini, Lucas mana mas, kak Andre kenapa "


Air mata Zeline bahkan sudah mengalir tanpa di minta "tenang nak tenang, Lucas dan bi Sari ada dirumah, kau temui mereka berdua , kami akan kerumah sakit dahulu, kunci rumah ya nak nanti "


Zeline segera mengaguk dan menatap suaminya, Liam segera mengangguk, Zeline akhirnya segera berlari kerumah ibunya dan meninggalkan suaminya yang akan mengantar kak Andre kerumah sakit.


Liam segera masuk kedalam kursi kemudi dan ayahnya duduk dibelakang dengan Andre, menopang tubuh Andre.


"Nak tenanglah anakmu sedang istirahat dia baik baik saja dia tak terluka sayang " ucap ibunya sambil menghampiri Zeline dan membawanya duduk disebelah bi Sari yang sudah selesai di obat oleh ibunya.


"Tangan bibi kenapa " sambil memegang tangan itu.


"Gak papa nyonya, saya baik baik saja, saya sudah menepati janji pada nyonya untuk menjaga den Lucas dengan nyawa saya sendiri, benar kekhawatiran nyonya, kalo kakak saya akan mencelakai den Lucas saya mohon maaf nyonya atas kesalahan kakak saya "


"Terimakasih bi, karena sudah melindungi anak saya, terimakasih bi, bibi tak perlu meminta maaf karena bukan bibi yang salah, kenapa malah bibi yang minta maaf "


"Ya karena mba Darah adalah kakak saya nyonya, dan saya merasa malu atas kelakuan kakak saja dan juga menantunya yang akan mencelakan anak nyonya keluarga nyonya "


Zeline segera memeluk bi Sari dengan sangat erat dan setelah itu Zeline pergi untuk menemui anaknya. Zeline segera duduk disamping tempat tidur dan mengusap kepala anaknya.


"Maafin mamih sayang, maafin mamih, seharusnya mamih gak tinggalin kamu, maafin mamih yang udah teledor sayang, untung saja ada bi Sari sayang, kamu selamat sayang, kalau sampai saja kamu tak selamat mungkin mamih sudah mati nak, jangan tinggalkan mamih sayang "

__ADS_1


Zeline segera membaringkan tubuhnya dan memeluk anaknya, sampai tak sadar dirinya tertidur dengan sangat anak, ibunya dan juga bi Sari yang mengintip segera pergi keruang tamu lagi.


"Bibi istirahat lah, terangkan fikiran bibi ya, ayo saya antarkan kekamar ya bi "


"Saya tidur disini saja nyonya "


"Tidak bu, ayo tidur dikamar saja "


Akhirnya bi Sari tak bisa menolak lagi, hanya bisa mengikuti majikannya kedalam kamar untuk segera istirahat.


**


"Aryo kita harus pergi kemana, pasti mereka akan mencari kita, apalagi pasti s Sari akan ngadu"


"Apa kita pulang kampung saja bu"


"Jangan yang ada nanti kita berangkat Aryo, kamu pintar sedikit dong"


"Lalu harus kemana bi, kita harus pergi kemana, sedangkan uang dan barang barang kita tak ada, lalu sekarang kita harus hidup bagaimana "


"Agh kenapa ini semua bisa gagal sih, padahal kita sudah merencanakannya dengan sangat matang tapi tetep saja gagal, seharusnya dari awal kita mengajak Sari kerja sama Aryo"


"Sudahlah bu, kita tak usah fikiran itu lagi, yang perlu kita fikiran sekarang adalah lari dari orang kaya itu, apalagi Liam adalah orang gila yang sewaktu waktu bisa membunuh kita bu"


"Benae juga kamu Aryo. ayo kita cari tempat persembunyian "


**


Bi Sari yang sudah ada dikamar bukannya tertidur mengistirahatkan tubuhnya, malah melamun memikirkan kelakuan kakaknya.


"Kenapa sih mba, bisa senekad itu, kenapa tak berdamai saja, mungkin saja kalau berdamai tak akan terjadi peristiwa seperti ini, dan kamu mba pada akhirnya akan menjadi buronan. Padahal kamu sudah enak mba disini menjadi kepercayaan orang rumah ini. Tapi kamu malah menyia nyiakan semua itu, mungkin Nina mati itu sudah takdirnya "

__ADS_1


Segera Bi Sari membaringkan tubuhnya, namun kedua matanya sama sekali tak terpejam, hanya diam sambil melihat langit langit kamarnya dan tak menghiraukan sakit ditangannya ini. masih memikirkan nasib mbanya


__ADS_2