
"Tolong jangan kak Gavin jangan sadar kak, sadar aku ini adik mu, sadar "
"Aku sadar kau adikku, dan keluargaku namun aku harus melakukan ini aku harus mengambil keputusan ini, aku ingin hidup Riri. Aku ingin hidup aku ingin menikmati semua hidupku ini"
"Jangan kak jangan "
Riri bangkit dan segera berlari agar tak tertangkap oleh kakaknya namun kakinya malah ditarik begitu saja, dan membuat Riri jatuh dan kepalanya kejedot ke batu yang ada dihadapannya.
Riri langsung merangkak dan menyender ke pohon "tolong kak lepasin aku, lepasin aku, kita bisa keluar sama sama, jangan kayak gini kak, gita keluar sama sama aja ya "
"Kamu nggak tahu laki-laki itu siapa dan bagaimana wataknya jadi kita tidak akan pernah mungkin bisa keluar bersama sama, harus ada salah satu yang berkorban untuk keluar dari sini ya kakak yang harus keluar dan kamu harus berkorban demi kakak, dulu sekolah kamu semua kakak yang biaya maka sekarang kamu harus membalas semua itu dengan nyawa kamu"
Riri menggenggam pasir yang ada di dekatnya lalu melemparkannya ke arah mata kakaknya, dengan cepat Riri segera berlari kembali meninggalkan kakaknya yang sedang mengucek ngucek matanya sambil berteriak karena kesal.
"Aku harus mengumpat dimana jangan sampai aku ketahuan, aku harus kabur aku tak boleh ketangkap, aku tidak mau mati"
Riri naik keatas pohon yang sangat besar, dia naik kepohon itu dan diam paling atas, karena dirinya tau kakaknya tidak bisa memanjat.
"Turun kamu Airin turun kamu tuh seharusnya harus relain nyawa kamu buat aku, bukannya kayak gini turun cepetan turun sekarang juga "
"Aku akan relain nyawa aku kalau kakak bisa manjat sini dan bisa bunuh aku di sini, "
"Baiklah jika itu mau mu, akan aku lakukan lihat saja kau akan habis ditangan ku, kau akan mati ditangan ku, dan aku yang akan bebas dan hidup bersama ibu bukan dirimu."
Liam yang jenuh melihat ini, akhirnya berdiri dan melihat kearah Tora "saya mau pulang aja, kamu jaga dia dan mainkan permainan ini, saya harus temui anak dan istri saya dulu "
"Baik tuan, saya akan ada disini untuk mengawasi semuanya "
Liam langsung pergi, namun sebelum pergi dia melihat kearah ibunya Gavin, namun ibunya Gavin menatapnya dengan tidak suka, namun itu tak masalah untuk dirinya biarkan saja.
Liam saat akan masuk kedalam mobil, terus saja menelfon sang istri namun sama sekali tak diangkat "sebenarnya kemana Zeline "
__ADS_1
Liam kembali menghubungi sang istri sambil menjalankan mobilnya untuk segera pulang kerumah, Liam menghubungi Hamzah pasti dia tau dimana istrinya, karena hanya Hamzah yang dirinya perintahkan untuk mengawasi sang istri.
"Hallo tuan "
"Dimana istriku "
"Sekarang nyonya sedang ada di rumah Ibu Jovanka. Saya juga sedang ada di sini tuan di rumah utama Ibu Jovanka di rumah ibunya"
"Baiklah kau pulang saja, nanti biar aku saja yang menjemput istriku "
"Baik tuan "
Sambungan pun terputus, Liam akhirnya lega, ternyata istrinya ada bersama Jo, Liam langsung fokus menyetir dan tak khawatir lagi dengan sang istri, kalau anaknya masih bersama sang ibu dan juga ayahnya.
**
Hamzah langsung masuk kedalam rumah "maaf nyonya saya akan pulang terlebih dahulu, tadi tuan menelfon saya dan dia akan menjemput nyonya kemari "
"Baik nyonya "
Saat Hamzah akan pergi Jovanka memanggilnya, Hamzah kembali membalikan badannya "ada yang bisa saya bantu nona "
"Bisa kah kau mengambilkan semua barang-barangku di rumah itu, ya seperti pakaian dan yang lainnya mungkin hanya beberapa berkas itu saja kau cari langsung saja, nanti ada Bi Neneng di sana yang akan membantu mu untuk mencarikan semuanya"
Hamzah melihat kearah Zeline terlebih dahulu dan Zeline menganggukan kepalanya "baiklah saya akan mengambil semua barang barang nona "
Hamzah langsung pergi meninggalkan mereka berdua, sedangkan ibu Jo dia belum pulang masih ada pertemuan katanya.
"Kamu mau makan apa Jo, biar aku buatin "
"Gak ada Line aku gak mau makan apa apa, aku cuman mau diem aja "
__ADS_1
"Kamu harus jaga kesehatan kamu, kamu gak boleh nyiksa diri kamu ya, kamu harus banyak makan, makanan sehat ya "
"Jo kamu disini "
Ibunya Jovanka baru datang, dan langsung menghampiri sang anak, "kamu kenapa nak, kamu habis nangis ya, Line kenapa sama Jovanka "
Jovanka langsung memegang tangan ibunya " Jovanka baik-baik aja kok mih Jovanka nggak apa-apa, Jovanka cuman lagi mau sama mami aja saat Jo lagi hamil gini Jo pengen lebih deket aja sama Mamih nggak papa ya Jovanka sama mamih disini "
"Iya nggak masalah mamih senang banget, terus suami kamu gimana dia juga ikut ke sini atau gimana"
"Enggak mih cuman Jovanka aja yang tinggal di sini, tapi Jovanka tetap kerja ya mih, kerjanya juga cuma setengah hari pak dosen juga udah kasih keringanan, ya biar Jo juga gak terlalu jenuh aja gitu di rumah, mamih jangan cerewet ya masalah itu Jovanka juga baik-baik aja kok"
"Ya udah jika itu emang mau kamu mamih nggak akan larang-larang lagi, sebenarnya apa sih yang terjadi Mamih kok nggak enak hati ya, apa sih yang terjadi lihat kamu kelihatan banget tuh udah nangis dan muka kamu tuh pucat banget, apa sebenarnya yang terjadi cerita sama mamih, mamih pasti akan dengerin semuanya, ayo cerita semuanya sama mamih "
"Enggak kok mih semuanya baik-baik aja, nggak ada yang terjadi, ya Jovanka cuman pengen sama mamih aja gitu aja, ini mungkin efek karena Jo nggak dandan jadinya pucet mukanya"
"Masa sih Jo kamu tuh nggak pernah sepucat ini kalau nggak sakit, meskipun kamu nggak dandan kamu nggak sepucat ini, terus suami kamu udah tahu kamu bakal di sini dan nginep di sini, jangan sampai dia nanti marah-marah dan nggak terima kalau kamu tinggal sama mami di sini "
"Enggak kok mih , dia udah tahu aku mau istirahat dulu ya mih, Line makasih ya kamu udah anterin aku pulang"
"Iya sama sama, hati hati Jo "
Setelah Jo pergi Zeline mendengar suara mobil masuk pasti itu suaminya "tante aku pulang dulu ya, kayaknya mas Liam udah ada disini "
"Sebentar Line tante mau bicara sama kamu. Sebenarnya apa sih yang terjadi sama Jovanka apa, kok dia kelihatan murung banget sih dia nggak apa-apa kan"
"Aku juga bingung mau ceritainnya dari mana dulu tan, aku takutnya emang Jovanka nggak mau lagi ceritain sama siapa-siapa lagi, tapi yang perlu tante tahu ini masalah sama suaminya sama kak Riyan, tolong tante jangan ungkit-ungkit dulu ya biarin nanti Jovanka aja yang cerita semuanya sama tante, aku nggak mau lebih dulu cerita sama tante takutnya nanti Jovanka marah dan lebih baik tante hibur dia aja dulu "
"Ya udah deh nanti akan tante coba nunggu Jovanka yang bicara kamu hati-hati ya di jalannya"
"Iya tante "
__ADS_1
Zeline segera pergi meninggalkan kediaman Jo.