Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Aryo kembali


__ADS_3

Nabil tiba tiba sudah kembali lagi kekamar Syifa sambil membawa koper "Ayo " ajak Nabil dengan ketus..


"Kemana Nabil, "


"Oh gak jadi, yaudah gue balik kamar "


Syifa dengan segera memasukan kembali pakaiannya, dia hanya membawa beberapa pakain saja, selesai semuanya dikemas.


Syifa berlari kearah Nabil dan memeluknya dengan erat "makasih ya Nabil "


"Iya tapi inget kesana buat liat keadaanya bukan untuk kamu kembali lagi dengan dia "


"Iya Nabil hanya memastikan saja, aku janji "


Mereka segera pergi kebandara, Nabil tadi sudah memesan tiketnya. Nabil tak mau membuat Syifa sedih jadi memutuskan untuk pergi saja mengantar Syifa ke jakarta melihat keadaan om om nyebelin itu.


***


Liam sekarang masih ada dirumah sakit, menunggu Andre yang sedang senyum senyum sendiri, yang lain sudah pulang bahkan Jo, disuruh menginap oleh Liam menemani istrinya dirumah.


Karena dirinya harus menjaga dulu Andre sahabatnya dan istrinya pun tak keberatanan, karena tau Andre sudah tak memiliki siapa siapa selain Liam dan keluarga Liam


"Dre lo gak gilakan bekas ketusuk, lo kenapa sih senyum senyum terus gue jadi was was nih"


"Ya enggalah masa tiba tiba gue jadi gila, cuman karena hal sepele seperti ini, lo tau gak gue seneng kenapa "


"Ya gak tau lah, makannya gue nanya, lo seneng kenapa malah balik nanya, gak waras ya lo, kayanya gue salah bawa lo kerumah sakit ini, harusnya lo dibawa aja kerumah sakit jiwa "


"Emosian mulu lo Liam, nanti cepet tua lo, terus Zeline gak mau sama lo "


"Cepetan seneng karena apa gue jadi penasaran kan gara gara lo"


"Iya iya, gue tadi sama Jo kirim foto gue yang lagi beginian nih ke Syifa dan dia mau kesini "


"Bener dia mau kesini, yang bener gimana kalau Syifanya gak di bolehin sama calon suaminya gimana coba "


"Jangan bilang gitu dong Liam, lo doain yang baik baik dong, jangan bicara yang membuat harapan gue langsung pupus gitu "


"Oke oke, gue doain semoga Syifa kesini, sekarang lo tidur, biar cepet sembuh "


Andre segera menarik selimburnya dan tertidur membiarkan Liam sendirian. Liam pengambil ponselnya dan menelfon istrinya untuk menanyakan situasi dirumah.


"Hallo sayang, bagaimana apakah baik baik saja " tanya Liam to the point


"Baik sayang. Tak ada yang terjadi disini, jadi bagaimana apakah kau akan melaporkannya pada polisi "


"Emm tidak sayang, aku yang akan mencarinya langsung, aku tak mau melibatkan polisi "


"Kenapa tidak, lebih baik dicari polisi saja mas, dari pada kau harus mencarinya langsung, aku tak mau ya mas sampai kau melakukan hal keji pada orang lain lagi "


"Bagaimana nanti sayang segeralah tidur dan peluk selalu Lucas jangan lepaskan dia dari pelukan mu"


Panggilan sudah mati Zeline segera melempar ponselnya dan membuat Jo yang sedang main dengan Lucas kaget.


"Ada apa sih Line marah marah terus gak baik loh "


"Aku pusing Jo, pusing aku tuh pengen cepet cepet penjahat itu tertangkap bi Sarah dan Aryo, tapi mas Liam pengen cari orang itu langsung, kenapa tak meminta bantuan saja pada polisi, tadi dia tak mau dan malah menolaknya dan tak mau mempertimbangkannya "


Jo segera menghampiri Zeline sebelumnya Jo telah membuat tempat aman untuk Lucas.


"Mungkin pak dosen pengen balas dendan langsung Line, pengen tangannya sendiri yang menangkap orang itu"


"Nah itu yang aku gak mau. Aku gak mau kalau sampai ada korban lagi, kamu tau kan aku gak suka kalau mas Liam harus kembali pada kebiasaan dulu. Aku gak mau dia makin menjadi jadi, lalu nanti bagaimana jika ada orang yang balas dendam seperti Aryo dan juga Bi Sarah "


"Ya aku tau. Kau tau sendirikan suami mu siapa, dia pembunuh Line, lalu kalau misalnya melibatkan seorang polisi dan bi Sarah serta Aryo punya bukti kuat kalau pak dosen membunuh Nina bagaimana, suamimu akan di penjara, coba kau fikirkan kesana, memang rumit tapi itu konsekuensi pak dosen "


"Ya kau bener, aku ingin merubah sikapnya merubah semua kebiasaan dulunya, aku pengen dia jadi orang biasa Jo, gak mau menyangkut sesuatu hal tuh harus dibereskan dengan cara membunuh kan ada cara lain"


"Iya niat kamu baik, tapi berubah itu perlu waktu Line, gak mungkin pak dosen bakal langsung berubah, sesuai kemauan kamu, dia juga harus menyusuaikan dulu. Menahan semuanya agar tak ada korban kembali. Hidup emang gak adil Line, jadi kamu terima semuanya kamu harus sabar, karena merubah karakter yang sebelumnya itu sulit Line, berubah itu gak segampang membalikan telapak tangan "


"Tapi dia udah janji Jo, bakal berubah, bakal gak gitu lagi, aku tuh kaya gini buat kebaikan dia, buat kebaikan keluarga kita, ya pokoknya buat kebaikan kita semua "


"Iya iya aku tau. Mending sekarang kita tidur, kamu yang sabar aja karena berubah itu perlu waktu Line, jadi jangan mau instan, kamu jangan terlalu mengekang pak dosen, karena pada akhirnya gak akan baik Line."

__ADS_1


Jo segera membaringakan tubuhnya, dengan Lucas yang masih bermain dan memukul mukul wajah Jo.


**


Sedangkan dirumah sakit, saat Liam sedang pusing dan tak tau harus bagaimana menyakinkan istrinya, kalau dia yang akan membereskan semuanya, sekarang Liam sedang ada ditaman rumah sakit, merokok membuatnya sedikit tenang.


Namun tiba tiba ada seorang perempuan duduk disebelah Liam, memakai pakaian kurang bahannya.


"Hai boleh aku duduk disini, aku sedang menunggu pacarku yang sakit, tapi aku merasa jenuh dan lelah saja makannya aku keluar dan eh ternyata ada teman yang juga sedang diluar, menjaga orang sakit itu sungguh tak menyenangkan hanya diam saja tak bisa melakukan apa apa"


"Aku tak bertanya, dan aku tak peduli, kau kenapa dan sedang menunggu siapa, aku sama sekali tak peduli"


"Kenapa kau sangat dingin, aku kan hanya ingin bercerita saja tidak lebih kok"


"Jangan padaku, aku tak mau mendengarkan sepatah kata pun dari mu, dari mulut mu itu"


"Baru kali ini loh. Ada laki laki yang nolak aku secara terang terangan, yaudah kenalan dulu biar gak dingin lagi Maura " sambil memberikan tangannya untuk bersalaman, namun Liam langsung saja menepisnya dengan kasar.


"Aku bilang aku tak mau bicara denganmu atau pun berbincang bincang dan mengenal dirimu, tak semuanya laki laki tertarik dengan perempuan murahan seperti mu "


"Waw kau sungguh munafik, diseluruh dunia ini, laki laki tak akan pernah cukup dengan satu wanita saja, jadi kau jangan menolak ku, aku tau kau tertarik denganku jangan malu malu, istrimu juga gak akan tau kok " Maura mengatakan itu karena melihat cincin yang dikenakan Liam .


"Hemm, sungguh pemikiran yang dangkal. Kau hanya menilai dari sisi mu saja, banyak laki laki yang hanya butuh satu perempuan. Laki laki didunia ini mencari seorang perempuan yang bisa menemaninya dari 0 dan itu perempuan yang berhak di perjuangkan, tidak seperti mu yang tak layak hidup atau pun diperjuangkan "


"Pedas sekali ucapan mu, jangan sok jual mahal. Aku sering menemukan laki laki seperti mu yang awalnya sok sokan menolak tapi pada akhirnya mau juga "


Liam yang sudah kesal segera membalikan badannya lalu mematikan rokoknya namun dengan cara menusukannya pada paha perempuan itu.


"Apa yang kau lakukan apa kau gila, ini panas sekali"


Maura segera bangkit dan berlari dari Liam namun Liam malah mengejarnya, dia sudah sangat marah dengan semua pembicaraan tadi, sedang kesal ditambah dengan bacotan perempuan itu jadi makin memuncakan kemarahanya.


Tak akan dirinya lepaskan sampai kapan pun, akan habis perempuan itu ditangannya.


**


Zeline yang merasa kehausan segera turun kebawah untuk mengambil minum, namun tak sengaja dirinya melihat sebuah bayangan diluar rumah, "siapa itu, kok ada bayangan orang sih, mana mungkin mas Liam pulang kan dia akan menginap disana, terus pak satpam kemana ya masa membiarkan orang masuk kedalam halaman rumah sih "


Zeline yang baru ingat kalau pintu belakang jarang dikunci segera berlari kesana dan benar belum dikunci, saat Zeline menguncinya datang Aryo yang mencoba membuka pintu namun kalah cepat dengan Zeline. Rumah Zeline memang pintunya semua terbuat dari kaya namun tenang anti peluru.


Lalu Zeline kembali berlari ke pintu samping dan menguncinya lagi, kembali Aryo kalah cepat, tinggal satu lagi, Zeline sudah sangat takut bahkan detak jantungnya saja sudah tak beraturan tinggal satu pintu lagi.


Aryo menatap Zeline dengan bengis, sambil menodongkan sebuah pistol, dengan badan yang bergetar Zeline kembali berlari kearah pintu depan dan sekarang kalah cepat, Aryo sudah akan masuk dan Zeline sedang menarik pintu itu agar tertutup.


"Tolong Jo, tolong , siapa pun tolong" teriak Zeline.


Jo yang kaget dengan teriakan Zeline segera bangun dan melihat kearah sampingnya tak ada sahabatnya. "Line kamu dimana "dengan panik Jo segera turun kebawah, tak lupa dia membawa pisau lipat kecil yang selalu dirinya bawa untuk jaga jaga saja takut ada orang jahat.


Jo berlari dan melihat sahabatnya sedang ditarik rambutnya oleh sesorang "Jo tolong, ini Aryo cepetan tolong "


Dengan panik Jo berlari dan langsung menusuk tangan itu dan membuat Aryo menarik tanganya dan pintu akhirnya terkunci.


"Itu orang yang mau celakain Lucas kan Line "


"Iya Jo itu dia, aku harus hubungin mas Liam "


"Kamu tenang Line tenang " Jo segera menengkan Zeline karena tangan Zeline sudah sangat bergetar ketakutan.


"Pintu balkon Jo, pintu balkon semuanya harus dikunci "


Jo segera berlari meninggalkan Zeline dan akan menutup pintunya satu satu saat Zeline akan berlari juga datang bi Sari.


"Nyonya gak papa teriak teriak tadi ada apa nyonya "


"Aryo bi Aryo ada disini, bibi pergi kekamar, terus ngumpet sama Lucas ya, aku akan mengunci balkol dulu membantu Jo "


Bi Sari segera menurut berlari tergopoh gopoh keatas ,Zeline pun sama berlari untuk mengunci semua ruanganya yang ada pintunya dan juga balkon balkon kamar.


Zeline mengunci balkon kamar anaknya, pas dengan datangnya Aryo, Zeline segera mundur merogoh ponselnya dan menghubungi suaminya namun sama sekali tak diangkat, diluar sana Aryo hanya meledeknya saja.


Zeline memasukan ponselnya dengan berani menatap Aryo dengan sengit "apa lagi yang kamu inginkan , kenapa kau menganggu keluargaku "teriak Zeline


"Aku ingin nyawa dibalas dengan nyawa "

__ADS_1


"Nyawa apa hah, nyawa apa kami semua tak pernah memiliki hutang nyawa padamu, jadi kau segeralah pergi dari rumah ini sebelum suami ku datang dan mengabisi mu"


"Datangkan suami mu, aku tak takut dan tak akan pernah, suami mu telah membunuh istriku. Jadi aku menagih nyawa pada suami mu, jika suami mu tak bisa di lenyapkan maka gantinya kau atau anak mu "


"Dasar kau gila, berani beraninya kau meminta nyawa anak ku, kau tak pantas hidup Aryo "


Zeline segera mencari senjata, pistol yang selalu suaminya simpan di kolong tempat tidur anaknya, Zeline yang sudah mendapatkannya segera menodongkanya.


Bi Sari yang sudah memangku Lucas segera masuk kedalam lemari pakaian tuan nyonya nya yang sangat besar duduk disana menunggu, tak lupa bi Sari membawa senjata untuk jaga jaga.


"Sayang, kamu yang tenang ya sayang, "


Sedangkan Jo sudah selesai dengan semua misinya dia sudah mengunci semua balkon dan dari tadi dia juga menghubungi pak dosen namun sama sekali tak ada respon tak diangkat.


Jo bergegas mencari Zeline. Sebelumnya dia masuk kekamar Zeline untuk membawa Lucas namun tak ada. "Lucas dimana " Jo segera mengubrak ngabrik tempat tidur namun tak ada mencari kekamar mandi pun tak ada.


Lalu Jo segera membuka lemari dan didalamnya ada Lucas dan bi Sari "bibi ngapain sini "


"Saya disuruh ngumpet sama nyonnya "


"Baiklah diam disini ya bi, jangan kemana mana saya akan membantu Zeline "


Bi Sari segera mengangguk dan Jo kembali menutup pintu lemarinya, kembali mencari Zeline yang ternyata ada didalam kamar Lucas.


"Line kamu gak apa apa, "


"Aku gak papa Jo, tapi orang ini bagaimana "


"Tenang kita hadapi bersama sama aku tadi sudah menghubungi pak dosen namun tak diangkat sama sekali"


"Aku pun sama sudah menghubunginya namun sama sekali tak ada jawaban Jo "


"Apa aku harus menghubungi Riyan "


"Jangan Jo, jangan aku gak mau terjadi sesuatu nantinya sama kak Yan "


Aryo segera turun kebawah, Jo dan juga Zeline bergegas turun kebawah dan lampu pun padam.


Nafas Zeline sudah tak beraturan, mendapati lampu padam "Dia sungguh cerdik Line "


"Lalu sekarang harus bagaimana Jo, apakah kita akan menemuinya atau mendiamkannya saja seperti itu, aku sungguh sangat binggung, takut tiba tiba dia ada didalam rumah ini "


"Gak akan mungkin Line, kita udah ngunci semua pintu dan aku juga udah buat lubang pintu itu gak akan bisa kebuka dari luar, mendingan kita sekarang cari bi Sari dan ngumpet sama sama, kita terus coba hubungi pak dosen ya,"


Mereka berdua segera berlari dengan penerangan lampu dari ponsel Jo. Jo segera membuka lemari dan syukurnya masih ada disana bi Sarii.


Zeline segera mengambil Lucas dan memeluknya dengan erat, "ayo sekarang kita keruangan mas Liam, disana pasti akan aman untuk kita bersembunyi"


"Tapikan ruangan pak Liam itu kaca semua Line "


"Ya aku tau. Tapi ruangan itu sangat aman, kita bisa mengawasi Aryo, hanya kita yang bisa melihat dia, yang diluar sama sekali tak akan bisa melihat kita Jo, disana juga kedap suara, jadi aman "


Dengan perlahan lahan mereka bertiga bejalan dan masuk keruangan Liam dan segera mengunci pintunya, duduk diam melihat kesekitar.


"Line itu bukannya satpam kamu ya "tanya Jo yang sedang mengintip kearah luar.


Zeline memberikan Lucas pada bi Sari "bibi tidur aja disini sama Lucas, biar aku sama Jo yang awasi sekitar "


"Tapi nyonya "


"Gak apa apa bi. Bibi tiduran aja ya, aku mau liat keadaan dulu "


Zeline menghampiri Jo yang sedang mengintip melihat Aryo sedang menghabisi satpam itu. Tadi pak Herman mencoba untuk melawan lagi tapi malah nyawanya yang melayang.


"Aryo udah bunuh pak Herman Jo "


"Iya Line. Aryo bisa melakukan hal sekeji itu, aku menjadi takut Line, bagaimana ini, bagaimana kalau dia masuk kemari dan menghabisi kita "


"Kamu tenang Jo, gak akan mungkin seperti yang kamu katakan tadi. Aku yakin kita akan selamat, utung saja kau tak menghubungi kak Yan, kalau tidak habis Jo habis "


"Iya bener Line "


Mereka berdua hanya diam menatap bagaimana sadisnya Aryo menghabisi pak Herman, sungguh sangat keji dan tak berperasaan.

__ADS_1


__ADS_2