Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Hanya memastikan


__ADS_3

"Mas Kenapa begitu cepat ya orang-orang yang dekat dengan kita meninggalkan kita begitu saja"


"Namanya juga hidup sayang, kita tidak akan tahu kapan kita akan pergi meninggalkan orang-orang yang kita cintai."


"Iyaa mas kau bener sekali, jadi kita harus selalu menjaga orang terdekat dan tersayang kita agar saat kita meninggal kita takkan menyesal"


" Ya sudah sayang ayo kita pulang, kasihan Lucas ditinggal dari tadi malam . Om juga udah tenang kan udah dikuburin kita sekarang pulang ya"


"Iya mas "


Mereka berdua segera masuk kedalam mobil meninggalakan pemakaman yang penuh tangis.


"Tuh lihat Kalau Mamih meninggal gimana kalian harus cepet-cepet kasih Mamih cucu "ucap mamih Jo


"Biisa ngga sih kita nggak bicarakan itu disini mih, ini lagi berduka loh mih " jawab Jo dengan kesal


"Ya makanya kasih mamih cucu "


"Sabar mih . Ya udah kalau mamih emang pengen terus punya cucu Jo sama Riyan akan ambil anak adopsi biar mamih seneng puas "


"Gak gitu juga Jo, mamih pengen anak yang keluar dari rahim kamu bukan akan adopsi "


" Ya udah kalau mamih mau kayak gitu, mamih sabar semua itu butuh proses juga, nggak mungkin tiba-tiba hamil semuanya butuh perjuangan. Kenapa sih mamih nggak bisa sabar , Zeline aja dulu lama kok nggak langsung , kalau mamih kaya gini terus yang ada Jo makin stress tahu, stop Jo gak mau disuruh terus punya anak, kalau udah saatnya Jo pasti sama Riyan punya anak kok, mamih itu selalu saja tak tau situasi "


Jo segera pergi dengan suaminya Riyan "mamih hanya ingin melihatmu mempunyai anak saja Jo, maafkan mamih "


**


"Ayo mih kita pulang " ucap Syifa pada mamihnya


"Tidak kalian tinggal kan mamih, mamih akan pulang nanti, mamih ingin bersama dulu dengan papih mu "


"Tapi mih ini akan malam mih "

__ADS_1


"Tidak Syifaa, cepat kau pergi saja tinggalkan mamih disini kau pulang bersama suami mu, mamih baik baik saja dan mamih akan pulang nanti "


"Sudah sayang ayo pulang, apakah kau tak kasian dengan dede bayi yang ada didalam perut mu "


"Tapi mamih bagaimana "


"Biar Tora yang jaga, lihat kau disana ada Tora, mamih akan baik baik saja "


Syifa segera memegang bahu mamihnya "mamih aku pulang ya "


Mamihnya hanya mengangguk saja dan Syifa segera pergi dengan suaminya, selama masuk kedalam mobil, Syifa tak henti hentinya melihat kearah mamihnya yang duduk bersimpuh dimakan papihnya.


"Pih kenapa papih tinggalin mamih sendirian, kenapa harus seperti ini. Papih bukannya janji gak akan tinggalin mamih sendirian. Kenapa secepat ini "


"Mamih belum siap ditinggal kan oleh papih, kenapa secapat ini pih kenapa"


Setelah puas mencurahkan semuanya mamih Syifa segera bangkit dan masuk kedalam mobil yang sudah disediakan Tora dan pulang kerumahnya. Karena hujan sudah mulai turun dan membasahi semuanya


**


Syifa segera memegang tangan Andre dan menatap mata Andre dengan memelas "apakah paman bisa temani aku disini, maksudku paman tak usah tidur di kamar tamu paman tidurlah disini bersamaku, paman adalah suamiku dan berhak atas apapun yang ada dalam diriku "


"Apakah kau yakin "


"Tentu aku yakin, paman disini lah tidur dengan ku, aku akan senang dan aku akan sangat terjaga bila ada paman disampngku "


Andre menahan rasa senangnya " yasudah ayo tidur "


Syifa menurut dan segera membaringkan tubuhnya, disusul oleh Andre yang berbaring disisi Syifa "apakah boleh aku memeluk mu "


Syifa tanpa banyak bicara segera memeluk Andre dan menutup matanya untuk segera tidur. Namun Andre sama sekali tak bisa tidur, hatinya sangat senang dan bahagia sekali pokoknya tak bisa dideskripsikan dengan apa apa.


Namun dengan perlahan lahan Andre menutup kedua bola matanya sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


Andre yang baru saja tertidur, entah kenapa merasa sedang diperhatikan oleh seseorang dengan perlahan lahan Andre membukan kembali bola matanya dan alangkah kagetnya saat melihat wajah Syifa ada dihadapannya.


"Ada apa dengan mu Syifa, apa ada yang terjadi paman sampai kaget, kenapa apa kau lapar "


"Tidak " Syifa segera duduk dan berandar ketempat tidurnya di susul oleh Andre.


"Lalu kenapa, kenapa kau bangun "


"Aku hanya takut saja paman juga akan meninggalkan ku, aku takut paman pergi seperti Nabil dan juga papih, aku hanya tak ingin ditinggalkan lagi, aku tidak mau "


Andre segera memegang tangan Syifa dan mengecupnya "dengarkan paman Syifa, paman ada disini bersama mu, kau jangan khawatir ya. Kita akan selalu bersama sama tak akan ada yang bisa memisahkan kita ya "


"Tapi aku takut paman, makannya aku tadi mengecek nafas mu, takut takut nanti kau begitu saja meninggalkan ku "


"Iya paman tau, tapi paman masih ada kan disampingmu, jadi tenang saja ya, sekarang kau sambung tidur mu itu, jangan memikirkan yang tidak tidak ya "


"Baiklah aku akan tidur paman "


Andre merentangan tangannya dan Syifa langsung masuk kedalam pelukan suaminya, menikmati pelukan hangat dari suaminya, sama seperti saat dipeluk Nabil, hanya saja yang memeluknya beda orang bukan Nabil lagi.


Tapi dirinya bersyukur masih ada laki laki baik seperti pamannya ini, kalau tidak entahlah apa yang akan terjadi pada dirinya.


Pamannya ini selalu ada saat dirinya sedang terpuruk seperti ini tak meninggalkan dirinya sedetik pun, pamannya dengan sabar menghadapinya dan menjaganya tak ada kata lelah dalam diri pamannya ini.


Beruntung sekali ya dirinya mendapatakan paman Andre, laki laki yang dulu tak mengharapkan dirinya sama sekali namun sekarang menjadi suaminya sendiri.


**


"Sayang apakah kau tak keterlaluan pada mamih berbicara seperti itu, maksudku dengan kata kata yang kau ucapkan tadi sore itu pada mamih mu, apa dia tak akan sakit hati sayang dengan kata katamu "


"Ya aku tak ada maksud untuk mengatakan itu, tapi aku sudah sangat steres ditanya kapan punya anak, kapan kasih cucu aku cape Yan, dan aku udah pusing mau jawab apa lagi, kalau gak dijawab mamih pasti akan terus neror aku, apa silitnya sih menunggyu aku juga pasti bakal kasih dia cucu tapi bukan sekarang nanti juga ada waktunya "


"Iya sayang maafkan aku, sudah sekarang kau segera tidur sudah malam, kau pasti sangat lelah "

__ADS_1


Jo segera menarik selimbutnya lalu membelakangi sang suami, Riyan dengan cepat memeluk Jo dari belakang, tanpa Riyan sadari Jo sama sekali tak tidur dia hanya diam menatap kosong kearah tembok, memikirkan semua perkataan mamihnya yang membuat dirinya sangat pusing sekali.


Dan sebaliknya Riyan juga sama dia tak tidur hanya diam sambil memeluk istrinya.


__ADS_2