
Riyan sudah ada dirungan IGD dan Choki segera menelfon nomor yang Liam berikan tadi, namun tidak diangkat angkat, namun tak lama kemudian ada yang mengangkatnya juga.
"Siapa ini malam-malam mengganggu saja. Ada perlu apa malam-malam menelpon kediaman saya"
"Halo Bu maafkan saya apa, saya bisa berbicara dengan Jovanka"
"Malam-malam seperti ini anak saya sudah tidur, bicara saja pada saya nanti saya yang akan menyampaikannya langsung"
"Riyan masuk rumah sakit tante. Saya mau ngabarin ini sama Jovanka"
"Begitu ya. Ya sudah anak saya tidak ada urusan lagi dengan Riyan kamu telepon saja selingkuhannya Lisa, biarkan dia yang mengurus karena anak saya tidak ada lagi sangkut pautnya dengan laki-laki itu, dan saya pun tidak akan pernah mengizinkan anak saya untuk mengurus laki-laki brengsek itu, lebih baik kau telepon saja selingkuhannya biarkan dia yang mengurus"
Sambungan pun langsung dimatikan, Choki menjadi binggung siapa lagi Lisa, apa Lisa temen mereka kuliah dulu "Riyan selingkuh sama Lisa. Masa sih bukannya Lisa punya suami ya. Kok jadi pusing sih terus gue harus hubungi siapa"
Choki membuka sosial medianya, dan mencoba mencari akun Lisa, siapa tau memang benar Lisa temannya dulu saat kuliahkan, hanya coba coba saja.
Choki segera menghubunginya dan memberikan pesan saja lewat DM Instagram.
Sorry nih nganggu malem malem, lo masih inget kan sama gue, Choki temen lo saat kuliah, lo bisa dateng gak kerumah sakit, Riyan ada dirumah sakit nih, bisa ya tolong kesini gue binggung harus hubungin siapa lagi..
Setelah memberikan pesan itu Choki hanya bisa duduk dan tak bisa melakukan apa apa lagi, ya mau telfon siapa lagi, hubungin siapa lagi karena tak ada yang bisa dihubungi lagi.
Namun dirinya masih tak percaya kalau Lisa dan Riyan selingkuh, apakah benar Lisa yang ini atau bukan sih.
Tiba tiba ada suara notifikasi, Choki mengeluarkan ponselnya ternyata itu balasan dari Lisa.
Dirumah sakit mana, gue kesena sekarang
Choki sebelum membalas hanya tersenyum kecil saja dan menghembuskan nafasnya "gila mereka berdua "
Dirumah sakit mawar, cepetan ya dateng
Choki kembali lagi menyimpan ponselnya " gila Riyan selingkuhin Istrinya yang dulu gue kejar-kejar, apa sih sebenarnya kurangnya Jovanka, gila sampai selingkuh kayak gini, gue nggak nyangka temen gue bakal selingkuh kayak gini dulu aja dia tahan sama Dini, lalu sama Lisa kenapa dia nggak bisa, bener-bener deh Riyan gak habis pikir gue sama dia, kenapa bisa kayak gitu keterlaluan banget dia "
**
Liam yang sudah sampai langsung masuk kedalam ruangan control dan duduk disebelah Tora, sampai samapi Tora kaget karena kedatangan bosnya itu begitu tiba tiba dan mengagetkannya seperti hantu tuannya ini.
"Jika kalian terus saja begini dan diam tidak melakukan apa yang aku suruh, aku akan mempercepat waktu kalian dan kepala kalian berdua akan meledak begitu saja, jadi cepat bangun dan jangan memperlambat waktu aku tidak suka itu"
__ADS_1
Riri dan juga Gavin yang mendengar suara Liam segera tersadar " Riri ayo cepat turun. Apakah kau tidak mendengar ucapan dari laki-laki itu , apakah kau ingin kita berdua mati di sini lebih baik kau berikan nyawamu itu padaku cepat"
"Tidak aku tidak mau, lebih baik kita mati saja berdua kak, dari pada harus aku yang mati "
"Aku tak sudi "
Gavin mengambil kayu yang sudah durinya lancipkan dan melemparkannya kearah sang adik, namun tidak kena, bahkan Riri sampai mepet mepet dan tak mau sampai terkena kayu runcing itu dari kakaknya.
"Jangan seperti ini kak, tolong kasiani Riri kak, Riri tidak mau mati Riri tidak mau "
"Memangnya siapa yang mau mati tak ada yang mau mati "
Gavin kembali melempar kayu itu dan mengenai lengan sang adik, Riri yang tak seimbang terjatuh saat akan kabur tidak bisa dadanya sakit, Gavin yang senang menghapiri sang adik dan langsung mencabut kayu itu dan kembali menancapkan kearah jantung adiknya.
Lalu kembali menancapkan kayu yang lain yang dirinya buat dan akhirnya adiknya mati " Yes aku menang aku menang aku bisa keluar aku bisa menghirup udara bebas, dan aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang lagi aku bisa keluar. Ayo Liam aku sudah memenangkan ini semua. Aku ingin keluar sekarang sesuai janjimu yang berhasil membunuh dia akan keluar dari sini ayo"
Sebelum berbicara Liam melihat ibunya Gavin yang menangis histeris "diam kau berisik "
Namun ibunya Gavin makin makin menangis histeris anak bungsunya mati dan dirinya menyaksikannya langsung.
"Baiklah baiklah kau cari jalan keluar sekarang juga, waktumu hanya 10 menit jika sampai kau telat kau akan mati seperti adik mu "
"Ya sudah jika kau tidak mau melakukan apa yang aku minta berarti kau siap mati di sana bersama adikmu begitu kan, aku tidak rugi ini adalah permainanku maka aku bebaskan ingin memberikan apapun jika kau memang ingin lepas maka lakukan waktu dimulai dari sekarang"
Gavin yang tak mau menyia nyiakan waktunya langsung mecari jalan keluar Ibu Gavin sudah mengebrak gebrak besinya.
"Kalian berdua dasar pembunuh, tidak punya hati kalian berdua aku sudah memohon-mohon pada kalian untuk tidak melakukan itu pada anak-anakku, tapi kenapa kalian ini begitu keras dan melakukannya. Apakah kalian tega melihat kakak nya sendiri membunuh adiknya kalian tega dasar kalian orang-orang tidak punya hati"
"Gavin yang membunuh bukan kita berdua. Jadi kau marahi saja anakmu itu Gavin. Kenapa dia berani membunuh adiknya sendiri, aku kan hanya ingin melihat apakah mereka berdua akan saling membunuh atau tidak, tapi akhirnya mereka kan saling bunuh berarti memang anakmu Gavin tidak menyayangi adiknya selama ini"
"Kau yang telah perintah kan anaku melakukan itu, Gavin tidak akan membunuh adiknya , ini semua gara-gara kau laki-laki yang tidak punya hati nurani sama sekali, kamu jahat sekali jahat sekali "
Tiba-tiba saja mereka melihat di dalam monitor kalau kepala Gavin sudah meledak ibunya Gavin makin histeris dia langsung pingsan begitu saja, melihat kedua anaknya meninggal di hadapannya dan dirinya sendiri yang menyaksikan.
"Permainan akhirnya usai pekerjaan kita sudah selesai Tora, kau bereskan semua mayat-mayat Gavin dan juga adiknya, kubur terserah kau mau menguburnya di mana yang terpenting jangan ada tanda bukti seperti biasa, dan kau nanti bawa ibunya Gavin ini ke panti jomponya Jil, aku sudah menelpon Jil dan akan menitipkan seorang ya nenek-nenek rentan di sana lebih baik kita tidak usah membunuh dia, karena aku tidak akan sanggup untuk membunuh seorang perempuan tua kalau dia tidak jahat padaku"
"Baik Tuan laksanakan hari ini saya akan membereskan semuanya, tapi untuk mengantar ibunya Gavin mungkin nanti pagi saya mengantarkannya ke panti jompo Jill"
"Baiklah terserah dirimu saja yang terpenting aku ingin semua ini selesai, "
__ADS_1
"Baik tuan "
Sedangkan Liam dia langsung pulang saja, karena takut sang istri terbangun dan mencarinya, takutnya dia berfikir yang tidak tidak lagi..
**
Zeline yang terbangun karena kelaparan melihat ke arah sampingnya tidak ada siapa siapa, ke mana suaminya pergi.
"Mas Liam kok nggak ada di kamar, ke mana ya ngapain juga dia malam-malam keluar rumah lapar banget pengen makan"
Saat Zeline melihat ke arah nakas dirinya melihat ada buah-buahan roti dan juga air minum, Zeline tersenyum dan sekejap dia melupakan di mana suaminya, dengan cepat Zeline segera memakan buah apel dan ya moodnya kembali dan merasa senang saja akhirnya perutnya bisa terisi meskipun hanya dengan buah-buahan saja tapi itu enak sekali.
Tiba tiba saja pintu kamar dibuka dan datang suaminya " kamu tuh pergi ke mana sih nas malam-malam kayak gini"
"Lihat aku bawa mie ayam kesukaan kamu mau nggak"
Zeline langsung bangkit dan berlari ke arah suaminya dengan mata yang berbinar"kamu ini ya, kamu itu lagi mengandung, jangan lari-larian kayak gitu gimana kalau ada apa-apa coba sayang "
"Maaf Mas aku senang kamu bawain aku mie ayam, aku udah lama kan aku nggak beli mie ayam. Makasih ya kamu beli juga kan buat kamu"
"Iya dong sayang aku beli, sebentar aku bawa alat makan dulu ya "
"Iya mas "
Liam langsung keluar sambil mengusap dadannya " Untung aja tadi ingat beli mie ayam. Kalau enggak habis ditanya-tanya dari mana, sama siapa, kapan pergi, mau apa pergi, apa alasannya pergi ketemu siapa, Kenapa harus pergi malam-malam. Emangnya nggak ada waktu siang emangnya nggak ada waktu pagi. Untung aja mie ayam kau telah menyelamatkan nyawaku, agar tidak diusir dari kamar dan di musuhi selama 1 hari untung saja"
Setelah mengambil alat makan Liam kembali lagi kekamar dan mengambil mie ayam itu untuk ditirinya sajikan.
"Yang aku pedas kan Mas"
"Iya pedas tapi nggak terlalu pedas. Aku kan udah bilang kamu jangan terlalu banyak makan pedas ya nanti sakit perut oke. Yang penting kan aku udah beliin kamu mie ayam dan juga udah dikasih pedas"
"Iya deh mas yang penting kan mie ayam nggak papa kok"
"Ya udah sekarang makan. Mas mau ganti baju dulu ya sebentar aja nanti kita makan sama-sama ya"
"Iya mas "
Zeline membuka ponselnya dan dia melihat kalau dirinya memberikan nomor telfon Jo pada suaminya, dirinya rasa dirinya tak pernah pengirim deh.
__ADS_1
"Kapan yah aku kirim kayak gini, kok aku gak sadar sih, tapi untung aja deh sana mas Liam "