
Setelah Liam pulang, Zeline cepat-cepat pergi kekamarnya, entah kenapa jantungnya berdetak tak karuan seperti ini, seperti dulu dia sedang bersama Abimanyu, kenapa dia mau-maunya dicium oleh psikopat itu dan dia hanya diam saja.
Mengigat kembali Abimanyu rasanya sakit sekali seperti dia sedang menghianati Abi saja, saat tadi dia sedang berduan dengan Liam, tapi dia harus bisa melawan itu semua harus, Zeline tak mau kalau harus terpuruk terus menerus dengan masalalu biarkan Abimanyu ada dalah hatinya yang paling dalam.
Sudah lah mening tidur dulu besok kan ada kelas pagi-pagi harus fit lagi biar semangat belajarnya dan cepat lulus.
****
Pagi pun datang cepat-cepat Zeline pergi kekamar mandi untuk melakukan rutinitasnya setiap hari, sudah selesai dia menyisir rambutnya dan tak lupa poni kesayangannya harus selalu rapi, dan ya sudah rapih penambilannya ini, cepat-cepat turun kebawah untuk sarapan.
Alangkah kagetnya Zeline melihat lelaki itu Liam sudah duduk dengan manis bersama kedua orang tuanya memakai pakaian serba hitam seperti ingin melayat saja tu orang.
__ADS_1
"Line sini, cepat sarapan Liam sudah dari tadi tunggu kamu cepat " tegur ibunya itu.
Zeline pun mengangguk kan kepalanya dan bergegas untuk sarapan, setelah selesan Zeline dan Liam berpamitan untuk pergi kekantor.
Sepanjang perjalan Liam hanya diam sambil memegang tangan Zeline, dan Zeline pun hanya diam takut jika nanti dia melawan akan habis dia nanti.
Sampai juga mereka dikampus , tadinya Zeline minta untuk turun di gerbang takut-takut nanti anak-anak yang lain memikirkan yang tidak-tidak tapi apa daya Zeline tak bisa melakukan apa-apa. Liam tak mengubris sama sekali dan terus saja melajukan mobilnya itu ke parkiran.
Mobil sudah berhenti tak ada satupun yang keluar dari mobil dan dengan perhatian Liam membuka sabuk pengaman sang kekasih di belainya pipi kekasihnya itu dan ditatap dengan lekat " sayang kau tak perlu takut jika teman-temanmu berkata apapun padamu tentang hubungan kita, berbicaralah padaku jika ada yang berani menyakitu mu, tak boleh ada yang ditutupi ya " ucap Liam sambil masih menatap lekat wajah sang kekasih.
" Bagus lah, ayo kita turun " ucap Liam sambil mengecup pipi Zeline dan keluar dari mobil bersama sama, Liam sama sekali tak melepas tautan tanggannya dari Zeline, anak-anak yang melihat Zeline di gandeng oleh dosen dingin itu tapi tampan berbisik-bisik membicarakan mereka.
Zeline yang tak mau terjadi apa-apa dengan teman-temanya itu tidak memperdulikannya, jika nanti dia murung atau menundukan kepalanya pasti Liam akan berfikir yang tidak-tidak dan langsung membantai teman-temanya, Zeline yang memikirkan itu bergidik merinding takut hal itu benar-benar terjadi.
Zeline tidak menyadari kalau dia sudah sampai didepan kelasnya dan Liam pun menegurnya " apa yang kamu fikirkan sayang"
__ADS_1
Zeline pun terperanjat dan langsung menggelengkan kepala dan pamit untuk masuk kekelasnya, saat Zeline sudah duduk ditempatnya, Liam langsung pergi keruangannya.
Jovanka yang melihatnya sangat kaget Zeline digandeng oleh dosenya meskipun dia sudah tau bahwa Zeline dipaksa untuk menjadi pacarnya dosenya itu.
"Line kamu gapapa kan " ucap Jo yang kwatir dengan Zeline.
"Engga Jo tenang aja, kemarin dia datang kerumah Jo dan gamarah sama sekali, tadi pagi juga dia jemput aku Jo sikapnya itu berubah-ubah jo ga nentu " cerita Zeline.
" Yaudah gpp kamu taklukin aja tu dosen itu, siapa tau jodoh kan " ucap Jo sambil cekikikan.
" Ih Jo ko gitu sih, tapi tadi anak- anak liatin aku loh sama Liam mereka tuh bisik-bisik gitu aku gatau apa yang mereka omongin"
" udah ga usah dengerin omongan orang" nasehat jo.
" iya sih Jo ,yaudah aku coba terima aja jalan hidup ku ini Jo , aku pun kalau harus lari lagi dari Liam ga mungkin " ucap Zeline.
__ADS_1