
Jo sekarang sedang ada dikamar dengan Riyan yang mengedip ngedipkan sebelah matanya, Jo yang aneh dengan kelakuan suami barunya mengeserkan duduknya, dan Riyan mendekati Jo.
"Sayang ayo kita bikin anak "
"Hah bikin anak, emmm huaahhh aku ngantuk, bobo yu bobo baby "
Jo segera membaringkan tubuhnya dan menutup kedua matanya, namun badannya merasa berat sekali, saat Jo membuka kedua matanya, wajah suaminya ada didepannya.
"Akhhh " teriak Jo sambil mendorong suaminya sampai terjengkang.
Jo segera bangkit dan dengan waswas diam melihat gerak gerik suaminya.
"Kamu kenapa Jo, sakit tau kamu dorong, kamu kenapa apa salah aku, kenapa kamu dorong aku coba Jo, kitakan mau bikin anak sayang "
"Tapi baby ahhhhh" teriak Jo sambil berlari menghindari suminya yang mengejar di belakang, bahkan sampai naik keatas tempat tidur dan main kejar kejaran seperti tom and Jarry.
"Baby apa kamu gak cape, udah dong baby"
"Engga aku gak akan berhenti sampai dapetin kamu, cepet sini sayang Jojo "
"Gak gak mau " mereka berdua kembali berlari lagi dan berteriak teriak didalam kamar mereka berdua.
Jo dengan segera masuk kekamar mandi dan menguncinya, "aman aman, jangan sampai Riyan punya kunci cadangannya"
"Sayang kenapa kamu masuk kamar mandi, sayang jangan gini dong, cacing aku udah gerak gerak nih "
"Engga engga, aku gak mau, baby, aku gak mau aku ngantuk"
"Yaudah bobonya disini sama aku, masa didalam sana sih sayang, "
"Gak apa apa aku sering ko bobo disini jadi kamu gak usah khawatir sana sana bobo aja kamu"
Dengan lesu Riyan pergi kearah tepat tidurnya dan membaringkan tubuhnya yang loyo dan tak ada tenaga sedikit pun
"Padahal udah nonton cara carannya tapi malah ditinggalin dan lebih bobo di kamar mandi "
Riyan segera mencium keteknya, badanya lalu mengerutkam keningnya "gak bau kok, lalu kenapa Jo gak mau "
Riyan yang sudah mengantuk akhinya tidur saja, sudah lelah menunggu istrinya yang tak keluar keluar dari tadi.
Jo yang masih didalam engan keluar hanya diam saja di pojokan "apa Riyan sudah tidur ya"
Dengan perlahan Jo membuka pintunya dan melonggok keluar dan syukurlah sudah tidur dengan perlahan lahan Jo keluar dan duduk di tempat tidur.
Membaringkan tubuhnya namun jauh jauhan, dengan was was Jo memejamkan matanya untuk tidur masa iya tidur dikamar mandi enak aja.
***
Zeline yang masih menunggu suaminya dikamar, sudah siap dengan pakian dinas malamnya, namun sudah jam 9 malam belum juga kekamar. Dengan tergesa gesa Zeline menyusul keruangan kerja suaminya.
Tok tok tok Zeline mengetuk pintu ruangan suaminya sambil berpose manja namun tak di buka, dengan kesal Zeline membukannya, alahkah kagetnya disana ada teman Liam.
"Akhh ya tuhan "sambil membanting kembali pintu ruangan suaminya dengan tergesa gesa kembali Zeline mengusap dadanya..
"Is malu banget, kenapa sih ada temennya mas Liam, kok aku gak tau ya, kalau ada temennya mas Liam disini, harus ditaro dimana nih muka aku " dengan kesal Zeline menutup wajahnya dan membaringkan badannya dan menarik selimbutnya.
"Itu istri lo Liam " tanya Chiko
"Iya Chiko, sorry ya istri gue emang kadang suka kaya gitu, maaf banget "
Sungguh Liam tak menyangka istrinya akan menyusulnya, bodohnya dirinya tak memberitahu istrinya kalau diruangannya ada temannya. Dengan wajah tak tenang Liam mencoba menengkannya.
"Kapan Chiko lo balik ke jakarta kok gue gak tau sih, kesini sama istri lo "
"Baru aja pas minggu kemarin, soalnya gue ada kerjaan sama temen gue nih, dan penting banget yang mengharuskan gue disini, iya gue sama dia "
"Ok, lo gimana sama istri lo udah baik baik aja "
"Ya gitu aja, engga baik baik juga, gue masih belum terima, beneran gue gak akan terima keadaan dia sampai kapan pun"
"Iya gue tau, tapikan lo dulu ngebet banget pengen nikah sana istri lo itu "
"Iya tapi saat gue udah tau dia gak kasih perawannya buat gue, gue gak bisa terima dan gak akan pernah bisa sampai kapan pun, udah dulu ya gue pulang, temui gih istri lo kasian "
"Ya udah gue gak bisa ngomentarin tentang kehidupan lo, itu udah pilihan lo, tapi jangan keterlaluan lo sama dia , hati hati ya dijalannya "
Chiko segera keluar dari ruangan Liam, Liam dengan tergesa gesa segera pergi dari ruangannya dan pergi kekamarnya, saat pintu dibuka kamar gelap gulita.
"Sayang kamu dimana " sambil menyelakan lampunya.
__ADS_1
Dan istrinya sedang berbaring ditempat tidur, dengan segera Liam menghampiri istrinya dan memegang tangannya, namun Zeline segera memasukan tangannya kedalam selimbut.
Liam langsung saja membaringkan badannya memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya "sayang jangan marah dong, maaf aku gak bilang sama kamu kalau ada temen aku "
Dengan cepat Zeline membalikan badannya dan kepalanya kejedot dengan wajah Liam saat berbalik tadi, namun Zeline sama sekali tak kesakitan.
"Syaanggg aku beneran minta maaf sama kamu " ucap Liam kembali.
"Tapi aku malu mas, aku memakai pakaian seperti ini, ku kira hanya kau saja disana, jahat kau mas, mau ditaruh dimana wajahku ini mas, aku sungguh malu "
"Iya maafkan aku sayang, maaf ya, jangan marah dong, supaya kamu gak marah kamu mau apa dari aku "
"Aku mau kamu pagi pagi kamu yang masak, buat kita semua, buat aku, buat kak Andre dan juga buat mas juga"
"Tapi sayang aku ta terlalu pandai memasak "
"Yasudah tak akan dimaafkan " Zeline segera membalikan lagi badannya dan membelakangi suaminya.
"Sayang pamali lo, tidur membelakangi suami "
Tanpa banyak bicara Zeline membalikan badannya dan tidur tanpa menghiraukan rengekan istrinya.
**
Syifa tiba tiba saja ingin muntah, sedang asyik asyiknya menonton film malah pengen muntah, dengan tergesa gesa masuk kekamar mandinya, memuntahkan suatu cairan bening.
"Ada apa dengan ku ini "
Bruk pintu kamarnya terbuka dan saat Syifa mengecek ada Nabil yang sedang telungkup, melihat kearahnya, seperti yang tak terjadi apa apa, Nabil bangkit dan segera menghampiri Syifa dan menyuruhnya untuk segera duduk.
"Kamu kenapa Nabil, tadi jatuh apa sakit "
"Aku gak apa apa, hah siapa emang yang jatuh, engga kok aku gak jatuh sayang, tadi cuman pura pura aja telungkup biar gak keliatan sama kamu gitu " bohong Nabil sambil cengegesan.
Syifa mengerutkan keningnya, menatap Nabil dari bawah sampai keatas "apaan sih kamu ini, aku gak apa apa, beneran deh aku gak jatuh, kamu kenapa muntah "
"Gak tau Nabil kayanya aku masuk angin deh, jadi muntah muntah kaya tadi "
"Udah berapa hari kamu muntah muntahnya Syifa "
"Baru aja hari ini Nabil, aku juga binggung kenapa ya itu, padahal baik baik aja loh aku "
"Engga ah, aku maunya makan Nabil, aku lapar banget ".
"Yaudah ayo, aku kan kesini mau ngajak kamu makan, ayo cepet aku udah pesen banyak makanan "
"Yey makan " Syifa segera bergegas pergi kesana dan meninggakan Nabil sendirian dikamar. Tanpa banyak bicara lagi Nabil pergi ke tempat ruang tv.
Saat dirinya baru juga duduk, Syifa sudah memakan, makanannya, dengan lahap, saat Nabil akan mengambil jatahnya, Syifa memegang tangannya dan mengelengkan kepalanya.
"Kenapa Syifa, aku kan sama pengen makan "
"Kamh pesen lagi aja, aku kayanya kelaparan banget deh jadi gak cukup deh kalau satu porsi aja "
"Hah beneran kamu ini bakan habis Syifa, ini tuh banyak banget lo, biasanya kamu makannya dikit deh perasaan aku"
"Iya aku tau, tapi aku lapar, jadi kamu diam ya, sana sana kamu pesen lagi aja "
Nabil akhirnya hanya bisa menelan ludah saja dan melihat betapa lahapnya Syifa makan.
"Syifa itu liat ada monyet terbang " ucap Nabil sambil menunjuk kearah kananya.
"Mana "
Nabil segera mengambil kentang dan memakannya, sedangkan Syifa sedang fokua celingak celingguk
"Ist gak ada juga "
"Ada kok, kamunya aja yang gak liat "
Tanpa banyak bicara lagi, Syifa kembali memakan, makanannya itu tanpa menghiraukan kembali Nabil yang sangat menyebalkan.
Syifa akhirnya selesai makan dan menyenderkan badannya ke arah kursi.
"Bagaimana Syifa, apakah kau kenyang "
"Tidak aku masih lapar Nabil "
"Doyan atau lapar "
__ADS_1
"Dua duanya Nabil, tapi udah ah nanti lagi aja makannya aku kekamar dulu ya dadah Nabil "
Setelah ditinggalkan oleh Syifa kekamar Nabil hanya bisa menatap bekas makanan yang ludes tak tersisa, mengapa Syifa menjadi rakus seperti ini ya.
Tanpa memikirkan itu lagi, Nabil menbereskannya dan mencuci piring kotor, setelah selesai bergegas pergi kekamarnya dan membaringkan badannya yang sudah lelah tanpa memikirkan lagi tentang dirinya yang belum makan sedikit pun.
**
"Mas kamu dari mana aja,, jam segini baru pulang, aku nunggu kamu loh dari tadi " tanya istrinya Chiko yang bernama Lala.
Namun Chiko terus saja berjalan tanpa menghiraukan perkataan sang istri, terus saja berjalan dan masuk kedalam kamar mandi.
Lala dengan sabar menunggu suaminya keluar dari kamar mandi dan saat itu Lala kembali bangkit dan menghampiri suaminya.
"Mas"
"Apa lagi sih, beriskik banget, baru juga pulang kerumah udah direcokin aja, ada apa sih sama kamu"
"Aku tuh cuman nanya mas, kamu dari mana tapi kamu kenapa malah kaya gitu "
"Denger ya, lo gak usah tau gue kemana dan lagi apa urus aja diri lo sendiri "
"Mas aku ini istri kamu, kenapa kamu kaya gitu sama aku, kita tuh udah 5 taun berumah tangga, tapi kenapa sikap kamu gak berubah rubah mas, masi kaya gini sama aku"
"Kamu denger ya, aku gak akan pernah berubah buat kamu, aku tuh nyesel udah nikah sama kamu, perempuan yang gak perawan bekas orang lain, kalau gak karna ibu aku sakit, gak sudi aku masih bertahan sama kamu "
"Aku kan udah minta maaf sama kamu mas, tapi kenapa kenapa kamu kaya gitu, buka hati kamu buat aku lagi "
"Ya aku bilang gak bisa ya gak bisa, kenapa sih ngeyel banget kamu ini, aku tuh cape ya sama kelakuan kamu yang kaya gini, jadi stop nangis nangis dan mohon mohon kaya gini aku muak tau muak sama kamu yang cengeng seperti ini"
Dengan marah Chiko menutup pintunya dengan keras dan pergi meninggalkan Lala sendirian dengan tangisnya yang sudah mengema didalam kamar.
"Kenapa sih mas, kenapa kamu gak bisa maafin aku, aku tuh udah berubah gak kaya yang dulu, aku bertahan karena ingin bahagia sama kamu, tapi malah kaya gini kamu gak kasih sedikit pun kesempatan buat aku "
Lala segera mengusap air matanya berjalan kearah tempat tidur dan berbaring miring, dia yakin suaminya tak akan mungkin kembali tidur disini. Jadi bebas saja lah dirinya ini. Mau tidur bagaimana pun.
Chiko duduk sendirian diruang tamu lalu membaringkan badannya dikursi dan tertidur, engan untuk tidur bersama istrinya yang berisik, serta dirinya jijik untuk memegang tubuh istrinya itu.
Namun Chiko kembali terbangun dan sama sekali tak bisa tidur, kakinya sangat pegal bila ditekuk seperti ini, lebih baik tidur kamar tamu saja.
Saat sudah ada dikamar tamu Chiko membuka ponselnya dan melihat lihat sosial media, dan terhenti di postingan Riyan temannya, yang juga dirinya akan bekerja sama dengan perusahaan Riyan.
Dia tak datang kepernikahan Riyan karena ya ada beberapa urusan yang mengharuskannya untuk mengeceknya sendiri kesana tanpa asistennya.
"Cantik juga istrinya Riyan, sepertinya aku tertarik dengan perempuan ini, hemm sepertinya aku harus mendapatkannya"
Dengan senyum merekah Chiko terus saja menatap wajah Jo dan mebaringkan badannya, mencari sosial mendia Jo dan melihat semua foto foto Jo sambik tersenyum senang
***
Syifa tiba tiba terbangun, celingak celinguk, lalu bangkit dan pergi keluar kamar, tujuannya adalah kamar Nabil, etah kenapa rasanya ingin sekali dipeluk oleh Nabil.
Dengan perlahan Syifa membuka pintu kamarnya dan melihat Nabil yang sedang duduk dimeja belajarnya, saat melihat Syifa Nabil hanya melihatnya sekilas.
Syifa yang kesal di acuhkan segera menghampiri Nabil dan memeluk Nabil dari belakang, menyapirkan tangannya dileher Nabil.
"Ada apa Syifa, aku sedang mengerjakan tugasku, aku lupa belum mengerjakannya,"
"Aku mau peluk kamu nih dan dipeluk juga sama kamu"
"Ada apa gerangan nih, kenapa tiba tiba kamu pengen aku meluk kamu "
"Ya pengen aja, apa gak boleh peluk kamu "
"Ya bukan gitu, gak biasannya aja, sejak kapan kamu manja sama aku kaya gini pengen peluk peluk "
"Ya sejak sekaranglah Nabil, ayo cepetena beresin tugasnya jangan kelamaan, ayolah "
"Sebentar lagi Syifa, kau duduklah terlebih dahulu ya biar aku membereskan semua tugasku ini, lalu nanti aku peluk ya Syifa "
"Tapi pengennya sekarang, aku pengen sekarang peluk kamunya Nabil, ayolah jangan seperti ini "
"Baikah baik, sebentar " Nabil segera membereskan semua bukunya dan alat alatnya juga beralih menatap Syifa yang senang dan sangat gembira.
Syifa segera berbaring di susul oleh Nabil dan mereka langsung berpelukan dengan Nabil yang setia mengusap kepala Syifa agar segera tertidur dengan cepat.
Dan akhrinya tertidur juga, Syifa segera menopang dagunya sambil menatap Syifa, ada apa denganmu Syifa, kenapa kau aneh sekali, aku sungguh binggung sekali dengan semua ini.
Sikapmu tiba tiba manja padaku, tak seperti biasanya, manja mu ini sangat berbeda denangan yang biasanya, Nabil perlahan bangkit dan menuju kursi dihadapannya, lalu segera berbaring di tempat tidur dan memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Tak mungkin kan dirinya akan tidur satu ranjang, tak mau sampai terulang kembali kejadian yang waktu itu.