
Syifa segera menemui mamihnya "mih sekarang aku mau kuliah sama Nabil aja ya, gapapa kan"
"Kenapa sayang, katanya kamu mau kuliah disini, pengen deket-deket sama paman mu itu , kenapa sekarang berubah fikiran dengan cepat"
"Sekarang aku berubah difikiran mih, aku ingin bersama Nabil, menghabiskan waktu kami berdua kembali, mungkin saja disana akan lebih menyenangkan mih, dan lebih banyak teman lagi, siaap taukan aku dapet jodoh disana"
"Ada apa sayang. Apa kamu ada masalah sama paman mu itu, ayo cerita sama mamih jangan ada yang disembunyiin"
"Gak ada mih, aku sama paman Andre baik- baik aja kok. Aku cuman pengen lebih mandiri aja biar aku lebih dewasa mih dan gak tergantung sama mamih dan papih, untuk kuliah mamih dan papih gak usah terlalu fikirin, aku kan udah punya usah sendiri jadi aku pengen semuanya aku yang bayar ya gak papa kan mih"
"Tapi sayang, mamih sama papih gak bisa lepas tangan gitu aja, mending kamu sekarang fokus kuliah untuk usahamu biar mamih dahulu yang teruskan ya, jangan dua duanya kamu kerjakan, pasti akan lelah nantinya sayang. Kamu kan masih tanggung jawab mamih dan papih jadi kamu gak usah fikirin biayayanya ya sayang"
"Gak mih. Aku pengen belajar mandiri dan bertanggung jawab, mamih tenang aja aku gak akan ganggu pelajaran aku kok , aku akan membagi waktu kuliah dan bekerja ya mih"
"Baiklah tapi jika ada apa-apa kamu harus bilang sama mamih. Jangan ada yang disembunyi-sembunyiin mamih gak suka ya, mamih harus tau apapun tentang kamu sayang"
"Iya mih. Nanti kalau perlu bantuan aku akan bilang sama mamih. Mamih nanti jangan terlalu khawatir disana ada Nabil dan Nabil juga yang bakal jemput aku. Sekarang telfon dulu Nabil ya mih akunya, biar cepet cepet kuliah akunya udah gak sabar nih"
"Iya nak. Tapi kamu gak papakan, mamih khawatur banget sama kamu, muka kamu juga pucet banget sayang. Mata kamy juga sembab apa kamu habis nangis sayang "
"Aku gak papa mih, aku baik baik aja, mataku ini kembayakan tidur dan untuk aku pucat aku kan habis hujan hujanan mih, jadi gak perlu ada yang dikhawatirin mih dari aku " Syifa sebisa mungkin memberikan senyum terbaiknya pada mamihnya agar mamihnya tak curiga sama sekali pada dirinya, kalau mamihnya sampai tau dia menangis oleh paman Andre bisa mati paman Andre diomelin mamih habis-habisan.
Syifa segera mengambil ponselnya tak lupa menutup pintunya dan mengunci pula pintunya langsung saja memghubungi Nabil.
"Kamu kemana aja, aku telfon dari tadi tapi gak nyaut, kirain mati gantung diri karena cintanya ditolak terus"
"Maaf Nabil , jahat banget sih kamu, kamu mau aku mati."
"Kamu ada masalah apa, sampai mamih kamu nelfon aku dan cerita kalau kamu pulang-pulang basah kuyup, jangan bilang karena om om itu "
__ADS_1
"Kapan mamih telfon kamu Nabil, kok aku gak tau "
"Baru aja dong dong, kamu tuh jangan bikin khawatir mamih kamu, sekarang ayo cerita kamu kenapa "
"Aku sudah memutuskan untuk mundur dan berhenti mencintai paman Andre, aku sekarang sadar tak seharusnya aku mengejar paman Andre dan membiarkan hati aku sendiri sakit, ternyata berjuang sendiri itu menyakitkan, aku dulu berfikir itu wajar dan akan mendapatkan hasil yang sangat membahagiakan bagiku namun ternyata itu hanyalah angan anganku saja "
"Nah baru sadar hah, kenapa gak dari dulu sih Syifa kamu sadarnya, udah lama baru sadar. "
"Iya iya maaf, aku baru nyadar sekarang tenyata mencintai tak harus memiliki, aku juga pengen kamu besok udah ada disini aku pengen cepet-cepet pergi dan meninggalkan semua kesakitan yang aku rasakan sekarang, aku ingin melepaskannya dengan iklas dan lapang dada "
"Iya aku akan jemput besok, lihat saja tanpa kamu sadari aku akan ada didepanmu jadi bersabarlah sayangku. Aku akan menjemputna dan aku jamin kau akan melupakan semua rasa sakit yang pernah kamu rasakan, aku akan mengobatinya dengan perlahan-lahan sampai kau tak sadar bahwa hatimu sudah tak berharap lagi pada laki-laki itu pada om om itu "
"Baiklah aku tunggu kedatangan mu sahabat. Aku berharap saat aku membuka mata kau ada dihadapanku jika tak ada kau akan ku makan bulat bulat seperti tahu bulat "
"Udah ah jangan lebay-lebay Syifa, aku geli dengernya, kayanya enak tuh tahu bulat, dah lama nih gak makan tahu bulat"
Setelah mematikan sambungan dari Nabil, masuk juga pangilan dari paman Andre dan Syifa hanya menatapnya saja lalu membiarkan ponselnya berdering sendirian tanpa menghiraukan sedikit pun.
Sekuat tenaga dirinya tak ingin menjawap telfon dari paman Andre, biar dia rasakan apa yang dirinya rasakan dulu.
***
Zeline tiba-tiba bangun karena Lucas menangis dengan mata yang masih mengantuk Zeline segera bangkit lalu menimang anaknya. "Kenapa kamu menangis sayang, sini mamih cek dulu ya apa kamu pup"
Zeline lalu membuka celana anaknya dan benar saja anaknya pup "ayo sayang kita ganti dulu ya, pasti kamu udah gak enak "
Zeline segera mempersiapkan semuanya dengan perlahan-lahan membersihkannya dan Liam yang terbangun karena tangis anaknya, segera mengahampiri istrinya.
"Ada apa sayang, kenapa dengan Lucas "
__ADS_1
"Dia pup mas "
"Oh yaudah sini aku bantuin "
Akhirnya popok Lucas terpasang dengan sempurna Zeline kembali menimang anaknya dan menyusuinya dengan lahap Lucas meminumnya.
"Enak banget ya jadi Lucas "
"Hah emang enaknya dimana sih mas ".
"Ya enak segala diurusin dia tiap hari minum susu kamu, terus aku kapan sayang "
"Ist kamu ini keterlaluan ya, kamu kan udah sering jadi sekarang gantian "
"Gak mau, aku juga mau mimi, boleh ya disebelahnya satu lagikan nganggur, jadi biar bermanfaat dan air susunya gak keminum mending sama aku "
"Engga mas, nanti kalau kamu yang minum, bisa bisa air susu ini habis kering dimunum oleh bayi raksasa seperti kamu "
"Gak akan sayang, aku sisain deh ya yah ayolah "
"Pokoknya gak boleh, nanti Lucas minum apa "
"Gapapa nanti Lucas minum susu yang lain aja, yang ini cuman buat aku aja "
"Gak mau, pokoknya Lucas harus minum punya aku aja, kamu harus berbagi dong mas, kan gak lama "
"Hemm iya deh ita berbagi, awas ya nanti Lucas kalau sudah besar masih mau air susu mamihmu " setelah mengancam anaknya Liam segera pergi ketempat tidur.
Lalu tidur telungkup sambil pantatnya naik keatas, Zeline hanya bisa tertawa dengan kelakuan suaminya yang kadang-kadang lucu dan kadang-kadang menyebalkan.
__ADS_1