Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Pakain dinas baru ya


__ADS_3

"Kamu belanja apa saja sayang, ibu kasih kamu apa "


"Aku belanja banyak barang mas, ada pakaian kamu, Lucas dan aku juga banyak lagi deh mas, aku juga beli baju dinas, ibu tadi kasih aku pakaian sama kalung berlian juga "


"Oh ya kamu beli baju dinas yang kayak gimana, aku rasa aku udah banyak banget beliin kamu baca dinas mau lihat dong pilihan kamu gimana" sambil tersenyum nakal


"Emm ada deh, kamu mau lihat tapi tutup matanya, aku bakal pakai sekarang "


"Iya aku tutup mata sayang " Liam langsung menutup kedua matanya dan menunggu istrinya memakai pakaiannya.


Zeline yang melihat suaminya sudah menutup kedua bola matanya segera membuka semua pakaiannya dan mengantinya dengan yang baru, pakaian dinasnya yang baru.


Zeline segera mendekati suaminya dan duduk dipangkuannya lalu mengalungkan tangannya dileher sang suami, Liam langsung membuka kedua bola matanya dan menatap sang istri yang cantik dan sangat mengoda.


"Emm bagus juga sayang, tapi hanya boleh aku saja yang melihatnya pintar juga ya istriku memilih pakaian dinasnya, aku suka " sambil memelintir ****** sang istri


Karena model pakaian dinas sang istri sangat seksi dan lagi istrinya tak memakai bra, jadi ya menonjol dan membuat sesuatu yang ada didalam celanya ingin segera bertempur dengan sarang sang istri.


Liam segera membaringkan sang istri dan membuka seluruh pakaiannya, menatap wajah istrinya, mencium kening, lalu kedua bola mata istrinya yang terpejam, berpindah pada hidung lalu terakhir pada bibir sang istri yang mengoda.


Memainkan bibir itu cukup lama dengan tangan yang tak diam menjelajahi sekitar dada sang istri, karena pakain dinas sang istri yang sulit dibuka, Liam malah menyobekannya.


Zeline melepaskan tautan bibirnya bersama sang suami "mass kenapa di sobek kan baru beli "


"Tak apa sayang aku akan membelikannya lagi, sobek satu akan datang lagi seribu pakaian yang sama "


Kembali Liam ******* dan menyesap bibir itu dan melakukan kegiatan suami istri dimalam yang dingin dan hanya ditemani oleh malam yang gelap, dan suasana yang mendukung.


Dan hanya ada suara cecapan dan ******* yang keluar dari bibir mereka, memenuhi kamar itu, serta suara penyatuan mereka.


**


Pagi pagi sekali Liam sudah bangun dan melihat sang istri yang masih tertidur, dia sangat lelah mungkin bekas kemarin, penyatuan mereka berdua yang panjang dan menghabiskan waktu pula. Mereka berdua baru tertidur jam 3 subuh.


Liam langsung mencium kening sang istri lalu pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri, dirinya harus bekerja sekarang, tak mengambil cuti lagi.


Liam keluar dari kamar mandi, memakai pakaian kerjanya, lalu keluar dari kamar dan menghampiri bi Sari yang sudah menyiapkan makanan, bahkan Tora dan keluarganya sudah ada disana.


Liam langsung mengambil sarapan sang istri, yang pasti istrinya hanya memakan buah apel dan segelas teh hijau, selalu saja itu tak ada bosannya. Liam langsung pergi kekamar sang istri lagi dan menyimpan sarapannya dinakas.


"Aku pergi dulu ya sayang, kau istirahat yang nyenyak ya, persiapkan dirimu untuk pertempuran nanti malam "


Liam mengecup bibir sang istri dan menutup pintu dengan perlahan, dan kembali kemeja makan, Bi Sari langsung melayani tuannya dan Liam langsung memakannya.


"Nyonya kemana tuan " tanya ibu Airin


"Masih tidur "


"Oh begitu ya, padahal gak baik loh tuan istri jam segini masih tidur, masa suami berangkat kerja dia gak anterin dan gak sarapan bareng sih "


Liam langsung meminum kopinya dan langsung bangkit "bi saya pergi dulu, kalau istri saya tanya, saya udah berangkat ya, nanti temani nyonya ya bi "


"Baik tuan "


Bi Sari segera mengikuti tuannya untuk mengantarnya sampai keluar rumah, karena memang ada yang perlu dia sampaikan.


"Kenapa bi, sepertinya ada yang ingin bibi sampaikan "


"Begini tuan bibi itu kemarin sempat berdebat dengan ibu mertuanya Tora, dia menyuruh anaknya Airin untuk menjadi istri kedua Tuan. Saya hanya ingin memberitahu ini pada Tuan hati-hati dengan perempuan itu dan anaknya, sepertinya mereka ingin melakukan sesuatu pada rumah tangga kalian berdua, "


"Hemm baik bi, selalu awasi mereka ya, dan kalau ada apa apa sampaikan padaku, dan ingat istriku jangan sampai tau biar aku yang membereskannya ya bi "


"Baik tuan saya akan melaksanakan semuanya "

__ADS_1


"Baiklah saya pergi "


"Iya tuan "


Setelah Liam pergi, Bi Sari langsung masuk kedalam rumah dan ternyata mereka sudah beres makan, Airin sedang membereskan piring.


"Nona tidak usah biarkan saya saja " ucap Bi Sari mengambil alih.


"Gak apa apa bi, biarin Airin membantu bibi beresin rumah "


"Tapi Tora masa istri sedang hamil besar disuruh beberes "


"Gak apa apa bi "


Tora langsung pergi, dia berjalan perlahan keluar rumah, entahlah apa yang akan Tora lakukan.


Tiba tiba saja Lucas berlari dan memeluk kaki bi Sari "eh ada tuan muda, dari mana tuan muda "


"Aku dali lumah Omah sama opah, mamih mana bibi "


"Ibu kamu mah kebo masih tidur jam segini " celetuk ibunya Airin


"Udah gak usah didengerin nenek sihir itu, mending kita jalan jalan yu "


"Ayo bi ayo, omah juga pengen kasih hadiah buat bibi ayo "


Lucas menarik bi Sari dan ibu Airin langsung mencibir, enak sekali dirinya dibilang nenek sihir, awas saja pembantu itu akan habis olehnya. Ibu Airin langsung mengikuti kemana akan pergi dan mengintip Bi Sari yang sedang berbicara dengan nyonya besar.


"Iya nyonya memanggil saya "


"Iya bibi sini duduk deh "


Bi Sari segera duduk dan berhadapan langsung dengan nyonya besarnya.


"Wah makasih nyonya, bagus sekali gelangnya, makasih banyak nyonya masih ya "


"Iya bi sama sama, dimana menantu saya bi "


"Nyonya masih tidur nyonya, apa ingin saya bangunkan "


"Jangan pasti Zeline lagi cape, gak apa biarin aja dia tidur bi kasian ah "


"Iya nyonya, mau dibikin apa, "


"Saya mau teh aja ya "


"Yaudah tunggu sebentar nyonya "


Ibu Liam hanya menganggukan kepalanya dan membuka majalah yang ada dimeja sedangkan sang cucu sedang anteng memainkan robot robotannya.


Tiba tiba saja ibu Airin duduk dan tersenyum pada ibunya Liam, ibunya Liam langsung menyimpan majalahnya dan menatap ibu Airin dengan tidak ramah.


"Maaf Nyonya saya tiba-tiba langsung duduk perkenal kan saya mertuanya Tora nama saya__"


"Iya saya udah tau " sela ibunya Liam


"Oh iya baik nyonya "


"Sampai kapan kamu dirumah anak saya "


"Eh nyonya maksudnya "


"Ya gak akan mungkin lah kamu terus-terus diam di rumah anak saya dan menantu saya, kamu juga pastikan akan pulang ke rumah kamu, kapan itu waktunya saya cuman gak mau aja di rumah anak saya ada orang asing selain pekerja di sini"

__ADS_1


"Em itu gimana Tora saja nyonya, mungkin setelah Airin melahirkan kami akan pulang "


"Berapa bulan anak mu "


"8 bulan nyonya "


"Baiklah berarti kau hanya satu bulan ya disini"


"Emm iya mungkin nyonya entah sampai Tora sembuh mungkin ya "


Ibu Liam hanya mengangguk anggukan kepalanya dan mengambil teh yang di berikan bi Sari, lalu meminumnya dengan perlahan tanpa mengiraukan ibunya Airin itu, ibu Liam langsung mengambil majalah dan melihat lihatnya kembali.


**


Sedangkan Zeline langsung terbangun, dia melihat jam yang ternyata sudah jam 8 pagi, suaminya sudah pergi bekerja pasti, saat Zeline melihat kearah nakaa dia melihat ada sarapannya, Zeline langsung tersenyum pasti ini ulah suaminya.


Zeline langsung meminum teh yang sudah dingin tapi itu lebih enak, memakan apelnya dengan cepat dan masuk kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya.


Saat sudah selesai mandi Zeline melihat pantulan dirinya dikaca dan dilehernya banyak bercak merah ulah dari suaminya "mas Liam kebiasaan deh suka ninggalin bekas, "


Zeline keluar dari kamar mandi memakai dres yang kerah lehernya agak panjang dan membiarkan rambutnya terurai begitu saja. Memakai pelembab bedak dan yang lainnya.


Setelah semuanya sempurna Zeline segera turun kebawah dan melihat Airin yang sedang berjalan jalan, Zeline hanya tersenyum saja dan langsung keruang tamu, ternyata ada ibu mertuanya dan juga ibunya Airin.


"Ehh nyonya baru bangun, kenapa bangun jam segini gak baik loh nyonya, nanti rezekinya di patok sama ayam, terus suaminya nanti direbut sama orang loh "


"Kamu gak usah terlalu mengomentari menantu saya, mau dia bangun siang, mau bangun dia sore, bangun pagi atau gak keluar kamar pun seharian kamu gak usah ikut campur, kamu gak tahu kan apa yang dilakuin menantu saya dan juga anak saya, jadi kamu gak usah terlalu banyak komentari hidup orang deh, urus aja diri kamu sendiri dan tenang saja anak saya bukan orang seperti itu, dia akan cukup dengan satu perempuan dan tidak akan mungkin menyakiti menantu saya " marah ibunya Liam


Ibu Airin langsung membuang mukannya lalu memaksakan diri untuk tersenyum dan tidak tersinggung dengan ucapan ibu ibu yang ada dihadapannya.


"Bukan begitu nyonya besar, tapi kan gak baik orang yang sudah bersuami bangun siang kayak gini. Iya memang saya tidak tahu mereka melakukan apa tapi kan setidaknya suami kerja itu diantarkan toh sampai depan rumah saja atau dilayani saat makan pagi "


"Itu mungkin hanya dalam keluargamu saja, di keluarga kami tidak mengharuskan seorang istri terus-menerus melayani suaminya kita berbeda. Kalau kau mau kau urus aja suamimu melayani dia seperti apa kata-katamu, jangan ikut campur tentang rumah tangga orang lain, anak ku saja tidak keberatan kok kalau istrinya tidak melayani sehari saja, tapi kau yang orang asing terus saja mengomentari hidup anakku dan menantuku jika kau seperti itu terus mending kau pulang saja jangan ada di sini, rumah tanggaku tak perlu orang seperti mu "


Ibu Liam segera bangkit dan menghampiri sang menantu "ayo sayang antar ibu menegok anaknya Syifa "


"Iya ayo bu, pasti ibu akan senang saat melihat Nabil dia manis sekali "


"Ayo nak, kalau kita disini terus yang ada kita bisa gila "


Mereka segera pergi keluar rumah, tidak lupa Lucas dibawa serta dan bi Sari juga ikut pergi bersama nyonya nyonya nya.


Ibu Airin memukul kursi dan melihat anaknya yang sudah duduk disampingnya " apa yang dikatakan oleh nyonya besar itu benar Bu. Lebih Baik Ibu tidak usah ikut campur tentang rumah tangga Nyonya Zeline dan Tuan Liam. Ibu di sini kan hanya menumpang kita di sini hanya beberapa bulan saja. Ibu jangan terlalu ikut campur lah. Ibu lihat sendiri kan mereka tidak suka dengan sikap ibu yang seperti ini, ke mana ibuku yang dulu kenapa ibu menjadi seperti ini"


"Ibu melakukan ini untuk masa depanmu, kamu ini gimana sih bukannya dukung ibu, kamu tuh harus jadi orang kaya gak papa kata ibu juga jadi istri kedua pasti tuannya itu punya kelemahan gak mungkin seorang laki-laki akan tahan dengan satu perempuan saja "


"Udah Bu cukup, aku aja gak mau jadi istri kedua, aku gak mau ya nyakitin perempuan lainnya, aku udah punya suami Bu. Jadi ibu stop buat bikin tuan kesel sama ibu dan aku yakin Tuan gak akan pernah suka sama aku, lihat aja Bu aku kalau dibandingkan dengan nyonya jauh sekali. Ibu tidak lihat Nyonya begitu cantik dan aku hanyalah perempuan biasa-biasa saja mana bisa disandingkan dengan orang secantik itu. Ibu jangan menghayal sudah lupakan semua itu "


"Nggak kok di mata Ibu kamu paling cantik, anak ibu yang paling cantik dia gak ada apa-apanya "


"Iya mungkin di mata Ibu kayak gitu, di mata orang lain beda lagi aku disandingkan dengan nyonya yang ada aku seperti pembantunya saja, jadi ibu jangan aneh-aneh deh aku udah punya suami. Aku udah punya Tora jadi Ibu jangan macam-macam ya, bikin ulah di sini ini bukan wilayah kita ini bukan rumah kita dan kita di sini cuma numpang Bu jadi sewajarnya saja bersikap seperti orang yang memang menumpang di rumah ini jangan seperti ini bu, "


"Entahlah kamu bodoh Ibu ingin membuatmu bahagia, tapi kau sendiri tidak mau dibahagiakan tidak apa-apa menjadi istri kedua pun, asalkan kau banyak uang itu akan membuatmu cantik seperti dia seperti perempuan itu "


"Menjadi kaya menjadi istri kedua belum tentu akan bahagia Bu, aku bukan perempuan perebut suami orang jadi Bu stop bilang seperti itu, apa mungkin Ibu dulu menikah dengan ayah merebutnya dari perempuan lain ya, apa begitu Bu sampai ibu ditinggalkan oleh ayah karena Ibu egois bukan karena ibu yang sibuk bekerja dan ayah selingkuh, "


"Kau ini kenapa menjadi membawa bawa masa lalu ibu, ini sudah tak benar, kamu mulai berani dengan ibu Airin mana katanya kamu akan menurut pada ibu, akan mendengarkan apa kata ibu tapi mana, kamu sama sekali tak mendengarkan lagi kata kata ibu "


"Mungkin jika ibu memberi nasihat sesuatu yang baik aku akan menurutinya aku akan mengikutinya, tapi tidak dengan yang satu ini aku tidak akan menuruti apa mau Ibu, aku tidak akan mengulang apa yang pernah Ibu lakukan menjadi istri kedua"


"Ibu bukan istri kedua " teriak ibu Airin.


Namun Airin tak menjawabnnya langsung pergi meninggalkan sang ibu yang menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2