
"Sayang kamu dari mana Lucas sudah pulang, kok gak kasih tau aku sih kalau jagoan ku sudah pulang sayang, sekarang tidur lagi ya "
"Iya mas dia tidur mas, kasian dia kecapean tapi masih mau ikut aku, bi bawa Lucas kekamar ya terus bibi tungguin juga ya Lucasnnya "
"Iya Nyonya Siap pasti saya tungguin kok"
Setelah kepergian bi Sari dan juga anaknya ke dalam kamar Zeline segera menuntun suaminya untuk duduk di ruang tamu.
"Kenapa Sayang ada apa kamu habis dari mana sih, kok gak bilang sama aku sayang, dari mana kamu "
"Aku habis ketemu sama Jill, kamu tahu kan aku udah bilang waktu itu sama kamu tapi ada yang aneh loh ada seorang ibu-ibu bernama Bu Wati waktu lihat wajah Lucas, dia nangis kenapa coba anehkan katanya wajah Lucas mengingatkannya kepada seorang laki-laki yang jahat padanya, siapa sih Mas kamu nggak macam-macam kan sama orang lain atau apa gitu kamu lakuin apa"
"Bu Wati? Siapa dia nggak deh Mas nggak punya urusan sama siapa-siapa. Emangnya kenapa kamu tanya gitu Mas kan selalu bilang apa-apa sama kamu. Kenapa gak Jillnya aja yang main ke sini. Kenapa harus kamu yang ke sana Sayang"
"Beneran kan kamu nggak bohong cuman buat tutup-tutupin aja gitu supaya aku nggak tahu apa-apa kamu nggak bohong sama aku kan mas "
"Kenapa aku harus bohong sayang buat apa aku bohong nggak kok sini mau dipeluk nggak sama aku sayang "
Zeline langsung memeluk suaminya dan berpikir mungkin hanya kebetulan saja wajah anaknya ada yang mirip dengan seseorang, tidak boleh berfikir yang aneh-aneh tidak boleh menuduh kembali suaminya jangan sampai.
"Iya deh aku percaya sama kamu mas, tapi bener ya kamu jangan bohongin aku, karena bu Wati itu histeris banget waktu lihat muka Lucas katanya tuh emang bener sama kayak orang yang udah nyakitin anaknya, emang siapa sih anaknya"
"Mas juga nggak tahu siapa yang kamu sebut udah nggak usah banyak pikirin masalah orang lain yang perlu kita pikirin adalah diri kita sendiri, nggak usah banyak pikiran Sayang aku nggak suka ya kamu banyak pikiran kayak gini, kamu kan lagi mengandung jadi nggak boleh stress dan banyak pikiran aku udah pulang nih siang-siang kita mau jalan-jalan ke mana"
__ADS_1
"Tapi kan Lucasnnya baru tidur mas kita nggak boleh dong tinggalin dia, gak deh jangan tinggalin Lucas kasian "
"Lucas juga baru pulang sayang nggak boleh pergi-pergi nanti kalau dia sakit gimana, nggak apa-apa sama bi Sari aja kamu mau pergi ke mana"
"Aku pikirin dulu deh Mas soalnya aku belum ada tujuan sama sekali"
"Ok dehh sayang"
Liam kembali mempererat pelukannya pada sang istri. Kenapa istrinya ini bisa pergi ke panti jompo Jill dirinya kira akan bertemu di rumahnya Jil, ternyata di sana.
Untung saja tidak terbongkar kan apa yang telah dirinya lakukan pada ibunya Gavin dan juga kedua anaknya, semuanya akan gagal bila istrinya kembali lagi ke sana dan Bu Wati berbicara sesuatu pada Jill, harus melakukan sesuatu tapi apa yang harus dirinya lakukan.
***
Saat akan membuka pintu kamar Riyan, Jo mengambil nafasnya lalu menghembuskannya perlahan dan masuk kedalam kamar, ternyata ada Choki disana, Riyan yang sedang makan langsung memberhentikan makannya dan tersenyum pada Jo.
"Akhirnya kamu dateng kesini, sayang makasih udah datang kesini "
"Jangan panggil anak saya sayang sayang karena kalian itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jangan berani mengatakan itu lagi pada anak saya "
Jo tampa banyak bicara langsung memberikan amplop itu dan Jack yang mengerti ini adalah masalah keluarga langsung keluar saja, karena dirinya tak mau ikut campur.
"Amplop apa ini "
__ADS_1
"Buka saja nanti juga kau akan tahu saat sudah membuka amplop itu dan tanda tangan dengan cepat saja ya agar semuanya cepat selesai"
Riyan langsung membuka amplopnya dan membaca semuanya, lalu dengan kasar Riyan meremasnya dan langsung melempar surat cerai itu.
"Kenapa kau mengambil keputusan seperti ini sendiri, tanpa berbicara dahulu padaku Jovanka, aku ini suamimu seharusnya kau berbicara denganku terlebih dahulu kita diskusikan semuanya, aku tidak akan pernah menceraikan"
"Aku sudah bilang jan waktu itu kalau aku mau cerai Aku tidak mau melanjutkan rumah tangga ini cukup apa yang pernah aku rasakan tidak mau aku rasakan kembali, lebih baik kita bercerai saja dari pada melanjutkan rumah tangga ini tidak akan pernah mungkin baik, kau juga harus menerima semuanya karena kau yang telah membuat salah aku tidak mau terkurung dalam rumah tangga yang penuh kebohongan dan penuh perselingkuhan, kau tenang saja aku sudah bilang aku akan mempertemukan kau dengan anakmu. Aku tidak akan menghalang-halangimu untuk bertemu dengannya "
"Tetap saja aku tidak akan menandatangani surat cerai itu, sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya karena aku tidak mau bercerai denganmu. Aku sama sekali tidak mau aku ingin rumah tangga kita sampai tua tidak seperti ini Jovanka seperti apa yang telah kita ucapkan dulu kalau kita akan selalu bersama sama "
"Iya aku tahu itu dulu sebelum kau selingkuh dan menghianatiku, itu dulu sekali jadi sekarang sudah berbeda kan kau sudah menghianati semua perjanjian-perjanjian yang kita buat, jadi jalan tengahnya adalah perceraian saja aku tidak mau berurusan lagi dengan dirimu nanti kita berurusan akan soal anak saja"
"Silakan aku sudah bilang sampai kapanpun aku tidak akan memberikan tanda tanganku di atas kertas itu, aku tidak akan pernah melakukannya"
"Baiklah itu akan menjadi urusan papih ku nantinya kau berurusan saja dengan papihku dan juga pengacaranya, karena menurutku semuanya sudah beres. Aku dan kau sudah tidak ada hubungan apa-apa sudah tidak ada hubungan suami istri, hanya hubungan persoalan anak saja, aku sudah melepaskan semuanya dan aku sudah yakin kalau aku mampu hidup tanpamu dan aku bisa hidup dengan anakku berdua saja"
Jovanka akan pergi namun Riyan sudah memegang tangan Jovanka, otomatis langkah Jovanka pun berhenti.
"Lepaskan tangan anak ku "
" Tolong ibu jangan ikut campur terus urusan rumah tanggaku"
Ibu Jo yang kesal langsung menampar pipi Riyan, kemarahannya ini sudah di ubun ubun.
__ADS_1
"Riyaann " teriak seseorang