
Liam yang marah karena istrinya seperti tak mempercayai dan meragukan cintanya lantas pergi dari rumah tanpa berpamitan kepada orang rumah selama perjalan Liam merokok terus menerus.
Sengaja dia pergi tak ingin dia melampiaskan kemarahannya ini pada istrinya. Bagaimana kalau nanti dia malah melukai istrinya itu jadi lebih baik pergi saja.
Liam masuk kesebuah tempat yang sepi dia ingin sekali melampiaskan amarahnya ini kepada seseorang. Liam diam saja di pojokan sambil menyalakan rokoknya tak lama datang seorang perempuan menghampirinya.
Liam diam saja saat perempuan itu memengang tangannya sambil mengusap-ngusapnya agar Liam tergoda, segera Liam membawa perempuan itu kedalam mobilnya.
Agar perempuan itu mau diajaknya Liam mengandengannya dan saat sampai didekat mobilnya segera Liam membuka kan pintu depan dan dengan senang hati perempuan itu duduk.
Dia sangat beruntung mendapatkan target laki-laki yang tampan dan tak perlu lama-lama merayunya.
Laki-laki itu langsung membawanya pergi, kalau setiap hari mendapatkan laki-laki tampan seperti ini pasti dia akan senang sekali.
Nanti setelah puas bermain-main dengan laki-laki ini dan memberikan obat bius yang selalu dia bawa dia akan merampok semua uangnya.
Pasti laki-laki ini banyak uangnya mana mungkin kan laki-laki setampan ini tak memiliki uang.
Memang semua laki-laki sangat mudah sekali di takluk kan olehnya, pesonanya memang yang paling bagus dan terbaik tak akan ada yang bisa menolak pesonanya ini.
Selama perjalanan perempuan itu terus saja mengoda Liam namun Liam tak bergening sama sekali.
Sampai juga disebuah rumah dan itu rumah Liam segera Liam membukakan pintu mobilnya.
Lalu mengulurkan tanganya dengan senang hati perempuan itu menjabat tangan Liam dan bergandengan masuk kedalam Rumah.
"Wah ini rumah siapa "tanya perempuan itu.
"Rumahku sayang, apa kau senang " jawab Liam dengan seringai jahatnya.
Tanpa perempuan itu sadari sebelah tangan Liam sedang memegang pisau kecil yang memang suka dia bawa kemana-mana.
Perempuan itu mengaguk menjawab pertanyaan Liam tadi, lalu menghadap kearah Liam dan membelai wajah Liam saat perempuan itu sudah memejamkan matanya karena dia berfikir Liam akan menciumnya.
__ADS_1
Namun salah Liam menusuk leher perempuan itu, mata perempuan itu langsung terbuka saat merasakan sakit yang tak bisa dia deskripsikan.
Tanganya lalu perpindah memegang pisau yang ada dilehernya dia melotot melihat Liam.
Lalu perempuan itu ambruk dan Liam mengusurnya dengan cara menarik kakinya untuk dibawa ke tempat eksekusinya.
Liam segera mendudukan perempuan itu dikursi kesayangannya, kursi kematian.
Ini untuk pertama kali lagi Liam akan bersenang-senang jadi dia harus memanfaatkan kesempatan ini lagi.
Ditalinya kaki dan tagan perempuan itu dengan sangat erat dia tak memperdulikan jika nantinya perempuan ini akan kesakitan yang terpenting amarahnya ini tersalurkan dan dia tak melukai istri tercintanya. Toh nanti perempuan ini akan meninggal juga kan.
Liam lalu mengambil semua perkakasnya sudah banyak yang karatan.
Liam segera mengasahnya terlebih dahulu agar lebih tajam lagi.
Perempuan itu tiba-tiba saja sadar dan meminta tolong "tolong lepaskan aku, tolong jangan bunuh aku, aku tak pernah mempunyai masalah dengan mu tapi kenapa kau melakukan ini padaku " ucap perempuan itu dengan lemah.
"Salah mu sendiri merayu ku, ya jadi nikmati saja saat-saat terakhir mu ini nona penggoda " jawab Liam dengan membawa kampaknya yang sudah tajam itu.
"Jika kau mempunyai suami kenapa kau melakukan hal menjijikan seperti itu, seharusnya kau menghargai suami mu dan menjaga hatinya " Liam semakin geram dengan penuturan perempuan itu ternyata dia sudah berumah tangga.
Diayunkannya kampak yang baru saja dia asah kekedua kaki perempuan itu dan kaki itu langsung terpisah dengan tubuh perempuan itu.
"Akhhh hikhik kenapa kau tega sekali " ucap perempuan itu merasakan kesakitan yang lebih parah dari tadi.
"Aku tak suka perempuan yang menghianati suaminya jadi kau tanggung saja derita mu ini"
Lalu Liam mengarahkan pisaunya itu kearah wajah perempuan itu dan menikamnya beberapa kali sampai perempuan itu tak bernyawa sama sekali.
Liam belum puas jika seperti itu saja lalu dia ayunkan kembali pisaunya itu untuk mengoyak perut perempuan itu darah sudah banyak menciprati wajah dan badan Liam.
Namun dia tak menghiraukannya sama sekali, saat perutnya sudah benar-benar hancur Liam lantas berhenti dan melihat mayat perempuan itu.
__ADS_1
Lumayan untuk pertama kalinya lagi dia memulai aksinya dia sudah puas dan amarahnya sudah mulai berkurang pada istrinya itu.
Ibu,ayah, Andre dan keluarga yang lainnya sudah pulang jadi Liam lebih leluasa jika ingin membunuh kembali. Untung saja kan mereka sudah pulang kalau tidak dia harus melakukan pembunuhannya dimana coba.
Sebelum melakukan penghilangan jejak Liam sangat haus sekali dia pergi kedapur dan menegak air didalam botol yang ada didalam kulkasnya.
Nanti dia akan membeli rumah baru untuk dia tinggali dengan istrinya itu.
Dia tak akan membawa Zeline tinggal disini karena disini sangat sepi dan terpencil dia tak mau nanti kalau sampai terjadi sesuatu kepada istrinya bila dia pergi mengajar atau kemana gitu pergi yang mengharuskan istrinya diam dirumah sendirian.
Dia juga akan menyewa seorang pembantu untuk membantu istrinya agar ada teman dan meringankan pekerjaannya.
Sebenarnya dia tak ingin Zeline melakukan pekerjaan rumah tapi pasti istrinya itu tidak mau.
Karena dia menikahi Zeline bukan untuk dijadikannya seperti pembantu tapi menjadi pendamping hidupnya yang selalu ada disisinya.
Sudah lah dia nanti akan mewujudkan semua itu yang sekarang harus dia urus adalah mayat itu.
Liam segera pergi ketempat eksekusinya, lalu memasuk kan semua badan perempuan itu kedalah karung besar dipanggulnya mayat itu dan dibawa kehalaman belakangnya.
Diambilnya minyak tanah lalu dinyalakannya bensin olehnya , perempuan itu terbakar dengan cepat.
Sembari menunggu api itu padam Liam membereskan semua peralatannya dan membesihkan darah-darah yang merceceran dilantai tadi.
Sungguh merepotkan sekali, darahnya ini sangat banyak sampai lantai ruang tamunya banyak darah.
Huff selesai juga, kita lihat apa apinya sudah padam namun ternyata belum semuanya terbakar, Liam segera mengambil rokoknya di celanya dan mencundutnya.
Diambilnya handphone di dalam saku celananya yang satunya lagi ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari istrinya.
Pasti istrinya itu akan mencarinya dan tujuan utamanya pasti rumah ini.
Liam sangat panik lalu dia cepat-cepat mengubur api itu dengan tanah dan untungnya lagi mayat itu sudah terbakar dengan sempurna.
__ADS_1
Setelah semuanya aman dan bersih kembali, Liam bergegas pulang takut nanti istrinya tiba-tiba benar ada dihadapnya, tanpa terlebih dahulu membersihkan darah yang menempel pada tubuhnya.
Masa bodo lah dengan darah ini dia tak peduli.