
Setelah selesai menelfon anak kesayangan itu segera dia menangis memikirkan setiap kata yang anaknya lontarkan tadi kenapa anaknya itu sampai bilang bahwa dia orang sakit kembali ada apa sebenarnya dengan anaknya itu.
Kembali dibuka setiap album foto-foto anaknya semasa remaja yang ceria tanpa ada kejangalanya sama sekali tentang keaneahan anaknya. Dia sangat pandai menyembunyikan jati dirinya namun sepintar-pintarnya akan terbongkar juga kan dirinya tau kan.
Segera setelas melihat wajah anaknya yang tampan disimpannya kembali album itu dan mengusap air matanya itu, dia tak mau sampai suaminya tahu dan membuat dirinya akan menghawatirkannya.
Akan dia cari tahu ada apa dengan anaknya itu. Dia tak mungkin diam diri seperti ini sedangkan anaknya disana sedang disakiti siapa sebenarnya yang membuat anaknya sakit hati seperti ini.
Memang anaknya itu sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Namun baginya tetap Liam adalah anak kecil yang sekalu manja pada dirinya yang selalu merengek bila tidak dibelikan mainan. Rasanya dirinya belum puas untuk mengasuh anaknya itu.
Segera dia menelfon anak buah kepercayaannya untuk segera menyelidiki semuanya tanpa ketahuan oleh anaknya. Agar dirinya tahu semuanya, anaknya pasti akan selalu menyembunyikannya sampai kapan pun dan tak akan memberitahunya dengan mudah. Jadi dirinya harus bergerak sendiri.
"Hallo segera lah kamu pergi kebandung dan selidiki tentang permasalahan apa yang sedang anakku alami " langsung to the poin saja dirinya ini.
"Baik nyoya, saya laksanakan semua tugas dari nyonya " jawab orang disembrang.
Setelah mendapat jawabannya segera dia mematikan telfonnya dan kembali merenungkan semuanya dan mengigat kembali anaknya itu. Segera bangkit berjalan kearah jendela menatap tanaman yang dia tanam.
"Ibu pasti akan tahu semuanya nak " ucapnya berbicara sendiri.
Hatinya akan selalu tahu jika anaknya sedang ada masalah batinya sudah terikat kuat dengan anaknya itu meskipun dia bukan darah dagingnya, namun semua itu tak menghalanginya untuk tau tentang keresahan yang anaknya rasakan.
Setelah mengadopsi Liam dia sudah yakin bahwa dia akan selalu terikat dengan anaknya ini, dimanapun anaknya berada dia akan selalu merasakannya. Jadi jangan aneh jika nanti dirinya akan selalu menelfon anaknya kalau hatinya sedang tidak enak karena disitu anaknya juga sedang sakit.
Dia ingin segera anaknya kembali kesini agar dirinya bisa mengawasinya lagi dan melihatnya setiap hari agar dirinya tak khawatir lagi dengan anaknya itu.
__ADS_1
***
Sedangkan di rumah Yuda, Yuda sedang muntah-muntah, pusing. Asa segera membantu memijat tengkuk Yuda segera Asa memberikan minyak angin di dada Yuda dan memberikannya juga daerah hidungnya
"Aduh neng ada apa sama tuan teh " ucap bibinya
"Entah lah bi kanya masuk angin " ucap Asa sambil pura-pura panik.
Segera Asa membawa Yuda kembali ketempat tidur dan membaringkannya dengan perhan-lahan mengusap kening Yuda "jangan tinggalkan aku Sa " ucap Yuda dengan suara lemah.
"Ya aku tak akan meninggalkanmu sekarang kamu tidur ya "
Yuda hanya mengangguk dan mengenggam tangan Asa dengan erat, takut-takut Asa akan pergi dari hadapannya dan Asa hanya menatap wajah Yuda yang pucat seperti mayat hidup.
"Neng maafkan bibi ya, dulu pernah bibi menyangka kalau neng teh mau jahat sama tuan muda " ucap bibi sambil menatap Asa.
Tuh kan bener tebakannya nenek tua ini sudah mencurigainya "kenapa seperti itu bi, memang aku pernah melukai Yuda " jawab Asa dengan wajah sedihnya sambil menghadap kearah nenek tua itu.
"Tidak neng tidak hanya bibi takut saja entah lah mungkin hanya perasaan bibi saja " dengan wajah paniknya takut Asa tersinggung dengan dirinya.
"Baiklah tak apa bi, aku tahu aku kan orang baru jadi bibi juga akan waswas dengan diriku yang memang bukan siapa-siapa yang tiba-tiba datang untuk menjaga Yuda " ucap Asa sambil tersenyum dan kembali mengalihkan kembali tatapannya kearah Yuda.
Tak ada lagi pembicaraan hanya hening dan suara dengkuran halus Yuda yang terdengar.
Asa tak bergeming sama sekali melamun saja sambil memikirkan nasibnya bagaimana ini kenapa tangannya malah digenggam erat seperti ini lalu bagaiaman dia bisa pulang kalau begini.
__ADS_1
Sedangkan nenek tua sudah pergi entah kemana, benarkan apa katanya nenek itu memang sangat licik.
Strateginya salah deh, malah sekarang dirinya harus terjebal seperti ini digenggam terus menus oleh Yuda tangannya ini.
Dasar Asa oon kenapa coba malah buat diri sendiri terjebak sama Yuda dikamar berduan lagi, elah salah nih seharusnya dia cari obat aja yang bisa biat Yuda lumpuh terus menurus dan membuatnya tak bisa berjalan selama-lamanya bukannya malah membuatnya harus terkurung dengan Yuda dan mengurusnya semalaman seperti ini.
Apalagi ayahnya Yuda sedang diluar kota da tak akan pulang, lalu bagaimana nasibnya ini masa Iya dia harus menginap dan semalaman menunggu orang sakit ini sendirian sial-sial nasibnya.
Pusing ah memikirkan semuanya yang tak berjalan dengan lancar dan malah menjadi seperti ini. Perlahan Asa melepaskan tangannya dari genggaman Yuda. Menutup jendela kamar yang memang sebentar lagi akan malam.
Asa hanya diam menatap keindahan kota dari atas kamar Yuda sambil memikirkan kembali cara yang lain untuk membuat misinya berhasil, ini baru awal dia berbuat jahat pada orang lain jadi seperti ini tak berjalan dengan mulus.
Kalau saja tak ada masalah ini dia tak akan menjadi orang jahat dan licik seperti ini kepada Yuda. jika saja dahulu Yuda lebih dulu bertemu dengannya mungkin tak akan seperti ini dan mungkin saja Yuda menyukainya bukan adiknya dan tak membahayakan diri adiknya.
Segera dirinya menutup jendela dan menyalakan semua lampu kamar Yuda dan menutup pintunya tak lupa. "Sa kemarilah " ucap Yuda yang tiba-tiba bangun.
Dengan malas-malasan Asa segera mendekati Yuda "kemarilah Sa berbaring di sampingku "
"Tapi aku tak bisa Yud, disini saja aku duduk atau nanti aku tidur dikursi saja sambil menunggumu" bantah Asa.
"Sebentar saja Sa, aku tak akan berbuat apa-apa sama kamu " ucap Yuda sekali lagi membujuk Asa.
Asa yang tak mau membuat kerusuhan akhirnya menurut dan duduk di sisi Yuda dan Yuda segera menarik tangan Asa untuk berbaring , Asa sudah memberontak namun Asa sama sekali tak bisa melawannya dan pada akhirnya Asa diam tak memberontak lagi membiarkan Yuda memeluknya.
Nanti deh setelah Yuda tertidur kembali dirinya akan melepaskannya dengan perlahan-lahan dan kabur dari laki-laki brengsek ini belum juga sah udah ngajak tidur kalau ga sakit udah gue hajar ni laki.
__ADS_1