
Asa segera mendorong kursi roda Yuda, yang sudah siap rapi untuk jalan-jalan ketaman belakang rumah mereka. "Bagaimana apa kau senang bisa jalan seperti ini Yud "
"Ya aku senang Sa, senang sekali bisa menghirup kembali udara luar dan menikmati hidupku meski aku harus duduk dikursi roda seperti ini "
"Kamu jangan gitu dong, aku yakin kamu bisa jalan lagi suatu saat nanti, jangan menyerah ya "
"Iya Sa, selagi kamu ada disisiku aku akan selalu semangat demi kesembuhan aku "
"Janagan sembuh karena aku Yud, tapi karena ingin sembuh untuk diri kamu sendiri "
"Kenapa apa kamu mau ninggalin aku gitu, kamu mau kemana Sa. Aku gamau kamu ninggalin aku. Aku sayang sama kamu aku cinta kamu. Apa kamu sampai sekarang belum sayang sama aku " tanya Yuda .
"Engga aku ga akan ninggalin kamu, aku butuh waktu Yud, buat merasakan semuanya. Kamu bisa nunggu kan "
"Aku akan tunggu itu, meski akan memakan waktu cukup lama. Aku akan selalu menunggu kamu tak peduli jika nanti dunia menolak ku, aku masih akan selalu mengejarmu dan membuat kamu jatuh cinta sama aku "
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua Asa hanya fokus mendorong kursi roda Yuda. Binggung dengan semua keadaan yang harus dihadapi sendiri. Mungkin jika ada orang yang mau mendengarnya dirinya akan senang. Namun pasti itu mustahil.
***
Makanan Zeline sudah sampai, malahan sekarang dia sedang melahapnya satu persatu habis makannannya itu. Liam hanya menatapnya tak percaya, istrinya ini doyan atau lapar atau kesurupan apa anak yang dikandung istrinya itu hulk.
Sampai makannya banyak kaya gini. Bisanya ga pernah loh istrinya makan sebanyak ini. Kalau makan aja suka susah. Tapi tak apa jika ini membuat itu senang dia tak masalah uangnya habis hanya untuk makan istrinya saja.
Liam sama sekali tak makan, hanya menatap istrinya yang makan dengan lahap dan tanpa beban sedikit pun "mas sayang, beneran kamu ga mau makan "tanya Zeline setelah menelan makanannya.
"Engga sayang, kamu makan aja ya, aku liat kamu aja udah kenyang. Habisin-habisin sayang jangan malu, nanti kalau masih lapar pesen lagi ya yang banyak "
"Hehehe iya deh mas, nanti pesen lagi ya kalau perut aku masih nampung makanan ini "
"Haha iya iya sayang, makan ya. Biar kamu sehat anak kita juga sehat "
Zeline segera memakan makannya lagi. suaminya ini padahal ini enak kenapa coba tak mau. Dia ajakan sampai pesen banyak gini. Sungguh ini makanan yang paling nikmat.
__ADS_1
Setelah habis semua Zeline segera menyenderka tubunya sambil mengusap-ngusap perutnya yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan.
"Kenyang sayang, apa ada lagi yang mau kamu pesen "
"Emm engga deh mas, nanti aja makan dirumah aku kenyang. Udah yu pulang mas aku mau bobo ngantuk "
"Yaudah kamu disini dulu aku mau bayar dulu kekasir "
"Iya iya mas, awas jangan genit ya. Nanti aku pukul kamu pake sendok "
"Iya sayang, aku kan genitnya sama kamu aja "
Liam segera pergi meninggalkan istrinya sendirian untuk membayarnya.
Setelah selesai Liam segera kembali lagi kearah istrinya "ayo sayang pulang "
"Ayo sayang " Zeline segera bangkit dan menerima tangan suaminya lalu mengandengnya.
Mereka berdua segera pergi dan berjalan-jalan dahulu ditaman ini sambil menikmari es krim yang dibeli Liam tadi. Karena istrinya mau itu. Katanya penutupnya.
"Bagaimana masih sedih gak, seneng kan " tanya Asa sambil mengenggam tangan Yuda.
"Tentu aku sangat senang, apalagi berdua seperti ini dengan mu. Menatap wajahnya yang indah dan cantik ini. Rasanya aku tak rela jika ada lelaki yang menatap istriku "
"Aku pun senang, lalu aku harus bagaimana apa aku harus diam dirumah terus "
"Tentu tidak namun, kemana-mana kamu harus selalu bersama ku. Tak boleh sendirian. Kelak saat sembuh aku akan menjadi suami yang baik buat kamu dan menjadi ayah yang baik buat anak kita "
Asa hanya bisa tersenyum, sungguh ini berat untuknya. Yuda yang banyak impian indah sedangkan dirinya sangat penuh dendam pada suaminya sendiri.
Apakah harus disudahi saja dendamnya ini, tapi gak bisa, kesalahan Yuda sangat fatal dan tak bisa dimaafkan. Sangat sulit untuk menentukan yang mana harus dirinya pilih.
Dirinya melakoni ini dengan sangat menikmatinya, sampai-sampai dirinya terbuai oleh Yuda yang lemah lembut menghadapinya.
__ADS_1
Saat Asa mengalihkan pandangannya alangkah kagetnya saat melihat, Zeline dan suaminya ada disebelah tempat duduknya tak jauh berada didekatnya.
Bagaimana ini. Bagaimana kalau Zeline mengetahuinya. Kalau dirinya sudah menikah dengan Yuda. Apa Zeline akan marah padanya.
Dengan cepat Asa membuang wajahnya kearah lain, mengerai rambutnya. Yuda segera mengedarkan pandangannya ada apa, kenapa istrinya mengalihkan pandangannya dengan wajah pucat.
"Kamu kenapa sayang " tanya Yuda sambik memegang wajah Asa agar menghadapnya.
"Emm engga kok Yud, aku cuman sedikit pusing"
"Kenapa kamu, kamu sakit. kenapa ga bilang. Kalau sakit kan kita ga usah pergi Sa , kamu tuh jangan maksain lihat wajah kamu pucat gini " khawatir Yuda.
"Tadi gapapa Yud, tapi sekarang sedikut pusing Yud, udah gapapa kamu jangan khawatir ya aku gapapa kok "
"Jangan khawatir gimana kamu pucat gini sayang, jangan suka ngelak deh "
"Udah Yud tenang, aku baik " Asa segera melepaskan tangan Yuda dan membalikan tubunya membelakangi Zeline dan Liam.
**
"Mas liat deh banyak anak kecil, nanti kita juga sama ya kaya mereka bakal kaya gini nemin anak-anak kita main "
"Iya dong sayang, kita nanti kaya gitu. Tapi aku nanti buat aja dirumah, biar istri kesayangan aku ga keluar rumah diam aja dirumah sama anak-anak "
"Ih kok gitu tapi kan seru kaya gini mas, main sama yang lain "
"Engga ah, aku maunya kamu dirumah aja. Nanti banyak buaya yang natap istri cantik aku ini aku ga terima ya "
"Huuh kamu posesif ya mas "
"Gapapa aku kaya gini sama kamu aja sayang " sambil memeluk istrinya dan mencium kepala istrinya dengan sayang. Zeline yang tersenyum bahagia.
Berterimakasih pada Allah karena diberikan suami yang mencintainya dengan tulus. Semoga saja fikirannya yang waktu itu menganggap suaminya ada hubungan lain dengan Nina itu tak benar.
__ADS_1
Memang dirinya masih engan untuk menanyakan wanita itu, tak mau mendengar jawaba suaminya. takut nanti tidak sesuai dengan fikirannya. Namun dirinya percaya suaminya tak akan mungkin melakukan hal yang dapat menyakiti hatinya.
Dirinya sudah tepat memilih Kak Liam menjadi suaminya, menjadi imamnya.