
Andre langsung maju dan duduk ditempat pak Tedi tadi dan langsung menyuapinya, "makasih Andre kamu udah datang kesini aku seneng banget tau, sampai sampai aku gak bisa berkata kata, kamu dateng kemari dan mau suapi aku, aku seneng banget deh "
Andre hanya megagguk saja dan kembali menyuapi Milla, selama makan Milla tak henti hentinya memegang tangan Andre, dan bercerita banyak hal, sampai sampai Andre mengantuk mendengar ocehan Milla.
"Kamu tau Ibrahim jahat tau udah buat aku kayak gini, aku tuh udah muak banget sama dia tau, aku udah kesl banget, rasa rasanya aku udah pengen udahan aja aku cape sama dia, apakah kamu mulai sekarang mau lindungi aku Andre "
Kembali Andre tak menjawab dia hanya diam saja, "Andre jawab jangan diem aja kamu ini kenapa sih diem aja, aku lagi cerita loh sama kamu, seharusnya kamu jawab tangepin bukannya diem aja "
Mila langsung turum dari tempat tidur dan langsung memeluk Andre dari samping"saat berada disampingmu, aku sangat bahagia dan merasa terlindungi Andre aku senang sekali "
Namun tiba tiba saja ada yang menarik tangan Milla dan membuatnya mau tak mau melepaskan pelukannya pada Andre.
"Nona Syifa mengapa kau sangat kasar, Milla sedang sakit nona, " sambil membantu anaknya berdiri
"Aku kasar lalu anak mu apa, dia tak tau diri memeluk suami orang dan aku istrinya ada disini, aku sudah berbaik hatikan membiarkan suamiku menyuapi anak mu, aku masih mengizinkanya namun ini sudah keterlaluan, anak mu ini sudah mengambil kesempatam dari suamiku, aku sudah sangat muak mrlihatnya aku tak suka kau tau itu, jangan membuat aku marah dan malah mencakar cakar wajah anak mu"
"Milla sedang sakit nona mengertilah, jangan marah, setelah Milla sembuh dia tak akan seperti itu lagi"
"Memangnya kalau ada yang sakit harus memeluk suami orang ya, bapak fikir saja mana ada istri yang mau suaminya dipeluk perempuan lain, jadi kalau mau seperti itu bapak cari saja suami orang lain yang istrinya mengizikan suaminya dipeluk oleh anak kesayangan bapak ini,"
Syifa langsung menarik suaminya dan pergi dari ruangan Milla, Andre sungguh merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi tadi, kenapa dirinya tadi ta bergerak atau melawan, malah diam saja seperti itu, Andre terus saj mengikuti langkah istrinya yang lebar.
"Sayang sayang maafkan aku sayang maafkan aku, aku tadi belum sadar dan masih kaget sayang, jangan seperti itu sayang, jangan seperti ini, sungguh aku minta maaf sayang "
"Kau fikir saja memangnya ada istri yang rella suaminya dipeluk oleh perempuan lain, tidak akan ada , jadi pantas bila aku seperti ini, kau ini hanya diam saja, kau nyaman seperti itu kenapa kau tak menikahi Milla saja "
"Iya aku tau, aku tau, aku minta maaf, aku kaget sayang, jadi aku belum bisa merespon semuanya "
"Aku ingin pulang sekarang juga, aku ingin pulang, jika kau tak ingin pulang baik lah aku akan pulang sendiri, "
__ADS_1
Syifa makin mempercepat langkahnya dan meniggalkan suaminya yang menyebalkan dibelakang.
"Sayang jangan marah "
Syifa langsung masuk kedalam mobil dan diam menunggu suaminya naik, Andre segera menatap wajah sang istri dan mengusapnya, namun istrinya langsung menepisnya, Andre dengan pasrah melajukan mobilnya dan pulang kerumah.
**
"Ayah lihat Syifa begitu kasar aku hanya ingin memeluk Andre saja, apa salah "
"Tentu salah itu adalah suami orang lain kau tak pantas melakukan itu, maka jangan lakukan itu kembali ya, "
"Tapi ayah, aku sangat nyaman berada disamping Andre biarkan aku bersamanya, biarkan aku selalu ada bersanya "
"Ayah sudah bilang dia sudah beristri jadi kamu jangan macem macem Milla, jangan kamu membuat rumah tangga orang lain menjadi hancur, ayo minum obat dulu "
"Sudah ayah bilang dia sudah punya istri apakah harus ayah tulis di kening mu agar kau mengerti "
"Sampai kapan pun aku tak akan mau minum obat sebelum Andre yang memberikannya aku tak peduli Andre sudah mempuyai istri atau belum yang aku mau hanyalah Andre ayah "
"Baiklah maka kau siap siap saja mati, ayah tak akan peduli lagi dengan mu "
Ayah Milla langsung pergi dari ruangan sang anak, dan menutup pintunya cukup kencang, biarkan anak keras kepalanya itu disana diruangannya sendiri biarkan dia merenungkan semuanya. Seharusnya tak boleh seperti itu.
**
"Sayang maafkan aku jangan marah seperti itu tolong sayang mengertilah "
"Apa yang perlu aku mengerti paman, apa ? Apakah aku harus rela melihat suamiku sendiri dipeluk oleh wanita lain apakah harus seperti itu paman, "
__ADS_1
"Bukan yang itu sayang, mengertilah tadi aku kaget dan tak sempat menghindar maafkan aku sayang jangan seperti itu, jangan marah "
"Entahlah aku akan memikirkannya dulu "
Saat Syifa akan masuk kedalam kamar tiba tiba saja ponsel sang suami berdering, dengan cepat Syifa mengambilnya, ternyata itu dari pak tedi.
"Hallo pak maaf saya menganggu bapak lagi, Milla tak mau minum obat, dia ingin bapak yang memberikannya, apa bapak bisa kemari lagi tanpa sepegetahuan nona Syifa, setelah itu saya tak akan meminta apa apa lagi pak, bagaimana pak "
"Baru saja suami saya pulang anda sudah meminta suami saya untuk kembali kerumah sakit dan pergi tanpa berbicara pada saya, bapak sudah mengajaran hal yang tidak baik pada suami saya, bapak urus saja anak bapak yang manja itu, hubungi suaminya suruh dia yang memberikan obat, jangan menyuruh suami orang lain"
"Maafka saya nona, tapi anak saya sedang sakit "
"Bodo amat mau anak bapak sakit sekarat atau apapun saya tak akan mengizinkan suami saya kemana mana, jadi jika bapak berani menghubungi suami saya lagi selain masalah pekerjaan, saya tak akan segan segan memecat bapak tanpa pesangon sedikit pun, saya tak akan main main pak, mungkin bapak waktu itu kepercayaan papih saya, namun sekarang tidak lagi "
Syifa langsung mematikan sambungannya dan memberikan ponselnya pada sang suami "sayang"
Syifa membalikan badannya lalu kembali berjalan dan meninggalkan sang suami, menyebalkan sekali kan.
**
"Bagaimana ayah, pasti Andre maukan yah, bagaimana mau kan"
"Sudahlah kamu jangan berharap besar pada suami orang, sudah ayah tak suka kamu seperti itu, tolong jangan membuat ayah malu nak, sudahi semua ini "
"Aku tak akan makan obat, aku tak akan mau, aku benci ayah aku benci semuanya, aku kesal pada ayah"
"Terserah kau saja, ayah sudah menelfon Andre dia tak mau jangan memaksa lagi kalau tidak pekerjaan ku taruhannya"
.
__ADS_1