
"Hey hey hey di mana kau berada jangan mengumpat seperti ini, jangan menakut-nakutiku keluarlah kau wahai laki-laki tuli jangan seperti ini, kenapa kamu membawaku ke tempat yang banyak kaca seperti ini, jangan macam-macam ya aku tidak suka di macam-macam mi seperti ini jadi lebih baik kau keluar jangan seperti ini bermain-main denganku"
"Aku bukan perempuan yang ingin bermain-main denganmu aku hanya minta uang padamu aku haus ingin minum. Kenapa sangat sulit hanya memberikan uang saja tapi malah mengajak aku main-main ke dalam sini"
Liam yang ada di balik kaca itu hanya diam saja mendengarkan ocehan perempuan itu, lihat saja apa yang dia akan lakukan dia memakai sarung tangannya yang selalu saja dia bawa.
Untuk berjaga-jaga bila terjadi seperti ini untuk menghilangkan sidik jarinya, agar tidak diketahui oleh polisi kalau-kalau mayatnya nanti ditemukan, karena tidak mungkin dirinya membawa mayatnya sedangkan sang istri ada bersamanya.
Liam berjalan keluar dan perempuan itu tak melihat Liam, saat mata mereka bertabrakan, perempuan itu segera berbalik dang mengacungkan pisaunya.
"Menjauh kau jangan mendekatiku jauh-jauh apa sebenarnya yang kau inginkan Jauh, aku tidak mau ada didekat mu ayo jauh jauh, sana hus hus "
"Bukannya kau tadi mencariku lalu setelah aku ada di hadapanmu kenapa kau berteriak dan mengacungkan pisau padaku. Ada apa aku tidak akan melakukan apa-apa padamu tapi kau malah ingin melukaiku, kenapa aku tak punya salah padamu "
Perempuan itu kaget saat mendengar Liam. berbicara dia mundur dan sudah tak bisa mundur lagi ke mana-mana, tubuhnya berdempetan dengan kaca dan tanpa rasa kasihan dia menendang perut perempuan itu sampai kaca itu pecah.
Liam berjongkok dan menatap perempuan itu dengan seringayannya yang menyeramkan, dan membuat siapa saja yang melihatnya takut kecuali istrinya dia tak akan takut.
"Jika ingin meminta kepada seseorang berbicara baik-baik jangan seperti itu. Apakah kau tidak punya sopan santun, jika kau berkata baik-baik aku pasti akan memberikanmu minum atau sekedar uang tapi kau sudah tidak sopan dan kau membawa pisau, ayo tusuk aku bukannya itu yang kau ma"
perempuan itu bersusah payah segera bangkit namun tubuhnya sangat sakit dan dipenuhi dengan kaca-kaca yang menusuk diriny.
Liam mengambil kaca paling besar dan di bolak-balikan saja"mungkin kau akan habis di sini karena kau tidak sopan padaku dan membuatku marah "
__ADS_1
Liam langsung saja menusukkan kaca itu ke dada perempuan itu tepat di dadanya sampai-sampai perempuan itu tak bisa melakukan apa-apa.
Karena perlakuan Liam yang sangat cepat dan tak terbaca apa yang akan dia lakukan. Liam mengambil pisau perempuan itu membalikkan tangan perempuan itu dan menusukkannya ke arah nadinya.
"Selamat kau bersenang-senang di tempatmu yang baru, aku senang kau menyerahkan diri untukku bunuh, aku sangat senang. Tidurlah yang nyenyak dan nanti pagi akan banyak yang menemukan mu. Selamat tinggal"
Liam langsung keluar dari gedung itu dan tak lupa dia melihat sekitar dulu, namun aman tidak ada siapa-siapa jadi dirinya kabur saja dari sini dan tadi juga dirinya sudah mengecek kalau ruangan itu tidak ada cctv-nya sama sekali jadi ya aman sekali lah untuk membunuh orang di sana di tempat itu tanpa rasa takut dan gangguan.
Liam langsung membuka sarung tangannya dan masih membawa air minum untuk sang istri dan juga cemilan lain.
Liam langsung mengetuk pintu, dan klik Zeline membukanya, Liam langsung masuk dan tersenyum pada sang istri.
"Mas kenapa lama apa di sana penuh atau terjadi sesuatu hampir menghabiskan waktu setengah jam lo mas, kamu gak apa apa kan, tidak terjadi apa apa kan mas, aku sungguh sungguh khawatir dengan mu mas "
"Iya gak apa apa mas yang terpenting kamu baik baik saja dan tak kenapa napa, aku sungguh khawatir dengan mu, tadinya aku akan menyusul mu tapi tak jadi, kau sudah datang"
"Pokoknya sampai kapan pun kalau kamu nunggu lama jangan keluar, kamu cukup tunggu aku aja, aku akan balik lagi aku gak akan kemana mana sayang, pokonya inget itu jangan kemana mana, kamu diem aja didalam mobil, aku gak mau kamu sampai kenapa napa percaya sama aku ya "
"Tapi mas "
"Tidak sayang kau harus berjanji, kau harus berjanji kalau kau tak akan melakukan itu, pokonya kau harus diam jika terjadi seperti ini "
"Baiklah "
__ADS_1
Liam hanya mengangguk saja dan langsung mengendarai mobilnya, Zeline yang masih menatap sang suami, melihat ada bercak merah di pipinya, Zeline segera memberihkannya namun dia tak melihat luka di pipi sang suami.
Zeline mencium bercak merah itu dan benar ini darah "ada apa sayang di pipiku "
"Tidak ada mas, tak ada apa apa, disana bersih tak ada apa apa mas, bersih dan sangat bersih tak ada noda apa apa, mas"
"Yang benar sayang, tak ada noda apa apa kan , bersihkan "
"Tak ada mas bersih dan tak ada apa apa beneran kamu lanjut aja nyetirnya."
Ada yang mencurigakan sepertinya ada yang dilakukan oleh suamiku. Apakah dia sudah membunuh seorang tapi mana mungkin dia melakukan di tempat ramai seperti ini.
Dia kan sudah berjanji padaku tidak akan melakukan itu lagi. Mana mungkin dia membunuh orang lagi, Zeline sadar kau harus percaya pada suamimu jangan sampai kau menuduh-nuduh yang tidak-tidak tanpa ada bukti.
Jangan sampai aku menuduhnya, aku harus yakin suamiku tidak mungkin membunuh orang lagi, tidak mungkin mas Liam melakukan itu ya aku percaya Mas Liam tidak melakukan itu.
Dia tidak mungkin membohongiku aku harus percaya padanya jangan sampai kejadian dahulu terulang lagi dengan aku yang gegabah dan menuduh Mas Liam yang tidak tidak.
Zeline langsung mengalihkan pandangnya dan menatap kearah lain, dirinya tak mau menuduh yang aneh aneh lagi pada suaminya, kasian kan dia dituduh terus.
Dan Liam yang melihat gerak gerik sang istri sampai takut, takut sang istri curiga padanya, dari tatapannya saja sudah terlihat kalau sang istri ini curiga.
Sebisa mungkin dirinya harus bisa membuat alasan alasan yang masuk akal, dan tak membuat istrinya makin curiga, dirinya tau tadi yang dilap sang istri adalah darah yang menciprat dari perempuan itu.
__ADS_1