Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Asa tertusuk


__ADS_3

Yuda yang melihat telfonya dimatikan segera menyimpan ponselnya, ada apa dengan Asa ini kenapa sekarang malah jadi meminta cerai. Dia nenelfon bukan karena ingin bercerai namun memperbaiki semuanya.


Agar Asa kembali lagi kedalam pelukannya bukan malah makin menjauh, padahal dirinya sama sekali tak marah pada Asa, dirinya memafkan Asa dengan tulus. Sebenarnya apa kurangnya dirinya sampai seperti ini kisah cintanya dan hidupnya.


Yuda segera kembali bangun untuk melatih kakinya, ayahnya sudah menyiapkan sebuah sangahan dari besi untuk dirinya perpegangan dan belajar untuk berjalan sendiri dirumah, karena memang dirinya yang ingin, tak mau dibantu oleh siapa pun


Dirinya segaja melakukannya sendiri agar dirinya lebih percaya diri kalau dirinya ini mampu untuk bisa berjalan sendiri tanpa bantuan siapa pun.


Bahkan sekarang sudah mulai ada kemajuan kakinya sudah tak terlalu berat untuk diajak jalan, sebentar lagi dirinya akan menjemput sang istri pulang.


"Tuan, permisi tuan "diluar terdengar suara bibi yang memanggilnya.


"Iya bi kenapa masuk saja gak dikunci kok pintunya"


Cklek pintu terbuka dan menampilkan bibi sambil membawa makanan untuk Yuda.


"Ini tuan dimanakan dulu makanan siangnya agar makin kuat belajar jalannya "


"Baik bi kemarikan "


Yuda segera melahapnya dengan semangat, dirinya ingin segera sembuh, jadi jangan sampai kurang makan. Harus selalu terpenuhi energinya ini. Jangan ada kekurangan sedikit pun.


Dalam beberapa menit Yuda sudah menghabiskan makanannya segera menteguk minumnya.


"Sudah habis bi, saya mau latihan lagi, makasih ya bi"


"Tapi tuan baru juga makan masa udah digerakin aja tunggulah beberapa menit biar nasinya turun terlebih dahulu tuan "


"Ngapapa bi, saya ingin cepat-cepat jalan kembali dan bisa melakukan kegiatan seperti biasa lagi bi, saya harus menyelesaikan kuliah saya juga yang sudah tertunda lama dan juga menjemput istri saja sendiri tanpa bantuan orang lain"


Yuda segera memegang besi itu dan dirinya sekarang sudah berdiri perlahan-lahan berjalan namun ditengah-tengah tiba-tiba terjatuh.


"Ya allah tuan sini saya bantu "

__ADS_1


"Gak usah bi, biarin saja bangkit sendiri, bibi keluar aja kerja lagi aja ya, saya gak apa-apa kok, gak usah bibi khawatirin saya ya "


"Beneran tuan gak papa, saya takut tuan kenapa-napa lagi"


"Beneran gak papa bi, saya kuat kok jadi bibi tenang saja ya"


Setelah bibi benar-bener keluar, segera Yuda berpegangan pada besi itu dan sekuat tenaga untuk berdiri dan akhirnya berhasil. Yuda sampai tersenyum senang dengan peningkatanya.


Akhirnya bisa juga dirinya berdiri sendiri, tak menyangka dirinya akan bisa melakukan ini semuanya sendirian tanpa bantuan siapa-siapa.


***


Sedangkan Asa lupa sekarang dirinya ini bukan dibandung tapi dijakarta. Asa sekarang sudah tersasar apalagi hujan deras sekali.


Asa segera meneduh dahulu dihalte sendirian tak ada satu pun orang, namun tiba-tiba ada yang datang bapak-bapak bersetelan preman duduk dipinggir Asa.


"Sendirian aja nih neng, gak takut emang sendirian disini "


"Eh s eneng gak ngejawa saya nanya nih neng, jangan diem terus kaya gak bisa ngomong aja kamu ini ya "


Ada apa sih sebenarnya dengan bapak-bapak ini, dirinya tak melakukan apa-apa, apa yang sebenarnya dirinya mau dariku.


"Mau kemana sih kamu neng buru buru banget, gak akan saya apa-apa juga sini ikut saya mendingan "


"Jangan ikuti saya, bapak tuh mau apa sebenarnya, mau uang atau mau apa kamu ini pak, jangan ikuti saya. Saya mau pulang "


"Udahlah neng ayo ikut saya disini dingin nanti dengan saya hangat dan nyaman. Ayolah jangan menolak sayang "


"Gak sudi saya, bapak ini gak inget anak dan istri dirumah yah. Beraninya mau bawa saya. Memang saya perempuan apaan sampai harus ikut dengan bapak "


Bapak-bapak itu dengan cepat menarik tangan Asa. Asa lalu menggigit tangan bapak-bapak itu dan Asa malah terjatuh karena terdorong sangat kuat oleh bapak itu.


"Dibaikin malah ngelunjak ya, mending gue bunuh aja ya lo ini, dasar perempuan gak berguna"

__ADS_1


Bapak-bapak itu sudah mengeluarkan pisau kecil dan akan menusuk Asa dan pisau itu segera mengarah ke dada Asa.


"akhhh " teriak Asa.


Yuda yang sekarang sedang minum teh, tiba-tiba gelasnya terjatuh dan dirinya langsung ingat pada sang istri hatinya mulai tak enak. Gelisah tak menentu.


Segera Yuda mendorong kursi rodanya untuk segera mengambil ponselnya yang ada dikamarnya dan segera memencet nomor Asa namun sama sekali tak diangkat.


"Ayolah sayang angkat jangan membuatku khawatir seperti ini "


Namun percuma tak sama sekali jawaban dari Asa, Yuda semakin binggung apa yang harus dirinya lakukan. Apa yang terjadi dengan Asa sampai-sampai dirinya seperti ini.


Yuda kembali mendorong kursi rodanya keluar untuk menemui supirnya dan mengantar dirinya untuk bertemu dengan Asa. Dia akan menyusulnya sekarang juga tak peduli dengan keadaannya.


Baru juga sampai pintu utama dirinya sudah ditahan oleh ayahnya yang baru saja pulang kerja.


"Mau kemana kau nak, ini sudah hampir malam jangan pergi kemana-mana dulu ya "


"Aku akan menyusul Asa yah, tolong ayah jangan menghalangiku "


"Kau belum sembuh, jangan gegabah ingin pergi begitu saja"


"aku merasa ada yang terjadi dengan Asa, dari tadi aku hubungi namun sama sekali tak Asa angkat yah, aku harus kesana menemui Asa "


"Jangan ayah melarangmu untuk pergi, jika kau sudah sembuh ayah akan mengizinkannya namun lihat dirimu ini masih lemah dan tak bisa berjalan kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana, ayah gak mau kehilangan kamu nak. "


"Aku tak peduli apa yang akan terjadi sama aku , yang penting aku sekarang nolongin Asa dan juga ketemu sama dia itu aja yah gak lebih kok, jadi sekarang Ayah jangan halang-halangin aku lagi tolong yah"


"Gak bisa" segera ayah Yuda mendorong kursi roda Yuda dan memasukannya kedalam kamarnya. Menutup pintunya dan juga menguncinnya dengan rapat.


"Buka ayah buka " teriak Yuda sambil mengedor ngedor pintunya.


"Maafkan ayah Yud, ini demi kebaikan kamu "

__ADS_1


Ayah Yuda segera menyuruh penjaga untuk segera menjaga di depan pintu kamar Yuda, dan juga didepan kaya nya juga. takutnya nanti Yuda melakukan hal diluar nalar dan itu bisa membahayakannya.


Bukannya dirinya tak menghawatirkan Asa tapi dirinya lebih mementingkan keselamatan anaknya dahulu. Itu yang terpenting bagi hidupnya. Bukan orang lain. Disana Asa masih punya keluarga dan banyak yang membantunya namun Yuda tak ada hanya dirinya saja yang dipunya oleh Yuda anaknya, dan sebaliknya.


__ADS_2