Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Makin tampan


__ADS_3

Zeline yang baru bangun segera melihat kearah samping, siaminya tidak ada, dia kemana dia kan sedang sakit, tanpa cuci muka terlebih dahulu Zeline langsung pergi keluar dari kamar untuk mencari suaminya.


Dan saat melihat suaminya yang sedang berolahraga Zeline bernafas lega, untung saja ada suaminya dia kira suaminya dibawa kerumah sakit tanpa sepengetahuannya.


"Mass sini mass " teriak Zeline.


Liam yang mendengar teriak istrinya berlari kecil dan mengecup kening istrinya "ada apa sayang, kenapa "


"Kau bukannya sedang sakit, lalu kenapa melakukan olahraga bagaimana kalau nanti pingsan, aku tak mau sampai terjadi sesuatu padamu, kenapa sih kau tidak bisa diam sama sekali "


"Sayangg dengarkan aku, aku baik dan lihatlah aku tidak apa apa, jadi kau jangan khawatir, aku tak mau terus berbaring ditempat tidur makannya aku lebih baik olahraga saja kan itu sehat sayangku "


"Iya tapi tak sekarang juga kali, kau ini ya selalu saja menjawab "


"Sudah sudah sayangg, kau pasti belum mandi, ayo cepat mandi dan berdandanlah, ayo cepat sayangg, nanti kita akan pergi jalan jalan "


"Tidak kau masih sakit dan harus dirumah tidak ada jalan jalan dan tidak ada yang namanya bekerja, kau harus diam dirumah, jangan kemana mana "


"Baiklah aku akan menurut, sekarang kau mandi ya, aku akan menyelesaikan dahulu olahraga pagi ku "


"Baiklah "


Dengan lesu Zeline masuk kedalam rumah, sedangkan Liam dia kembali berlari kecil melakukan olahraga ringan.


**


Andre pagi pagi sekali sudah ada diruang kerjannya bersama sang istri yang katanya ingin menonton film dilaptop, memang hari ini hari libur, tapi tetap saja pekerjaan menumpuk.


Syifa yang sedang fokus fokusnya menonton tiba tiba matanya teralih pada suaminya yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya, kenapa paman Andre makin kesini makin tampan, sampai sampai aku makin makin terpesona.


Saat suaminya melihat kearahnya Syifa segera mengalihkan pandangannya lagi kearah laptop, pura pura kalau dirinya tak melihat apa apa.


Namun saat akan menengok kearah suaminya lagi malah sudah ada dihadapannya "akhhh "


"Kenapa kau berteriak Syifa "

__ADS_1


"Paman kau mengagetkan saja, tiba tiba ada disini untung saja aku tak apa apa "


"Bukannya dari tadi kau curi curi pandang pada suami mu ini, jadi aku mendekatimu agar kau bisa lebih nyaman menatap ku terus menerus "


"Ihh yang ada aku makin tak fokus menoton filmnya sudah sudah paman kembalilah kembali bekerja, aku akan menoton lagi "


"Tidak aku ingin disini menatap mu saja, begini lebih baik "


"Paman jangan, aku tau pekerjaan paman banyak, ayo aku bawa paman ketempat duduk paman "


Syifa dengan susah payah berdiri dan mengadeng suaminya dan mendudukannya kembali dikursi kerjannya.


"Yang fokus ya paman bekerjannya aku pun akan fokus menoton film "


"Awas nanti kau curi curi pandang lagi "


"Tidak akan " dengan ketus.


Syifa kembali duduk dan membelakangi suaminya "ada yang takut tergoda nih sampi hadep sana "


"Baiklah baiklah ada yang tidak mau mengaku nihh "


Syifa yang kesal karena terus saja di goda segera bangkit dan masuk kedalam kamarnya. Namun saat dirinya melihat kearah jendela samar samar melihat orang berbaju hitam berdiri tak jauh dari arahnya.


Dirinya saling pandang dengan orang itu, Syifa yang takut menutup hordennya dan langsung masuk kedalam selimbut menyembunyikan dirinya.


Dirinya yakin orang itu pasti akan menerornya lagi, tak akan mungkin orang itu meneror suaminya.


**


Jo yang baru keluar dari dalam kamar malah perang dingin dengan mamihnya, gara gara kemarin malam yang menyangka Jo hamil ternyata tidak hanya masuk angin saja.


"Nyonya Jo, mau makan apa sekarang " tanya bi Neneng


"Terserah "

__ADS_1


Jo segera pergi meninggalkan ruang tamu, bi Neneng yang binggung segera menghampiri nyonya besar"nyonya sekarang mau masak apa "


"Terserah " sambil meninggalkan neneng sendirian.


"Ah semuanya bilang terserah terus neneng harus masak apa, nanti neneng masak makanan tradisional malah dibilang sederhana nanti Neneng masak yang aneh-aneh dibilang nggak enak, terus Neng harus masak apa atuh si nyonya nyonya teh malah terserah terserah terus jadi bingung ah Ya udah deh enggak usah masak aja gitu "


Neneng mengangguk anggukan kepalannya saja lantas pergi meninggalkan ruang tamu.


"Mamih nyebelin emang bikin anak itu cepat, aku sama dia kan beda. Kenapa juga harus cepat-cepat, aku belum dikasih aku pusing bisa-bisa aku bunuh diri ini, karena dibebani dengan anak anak anak"rutuk Jo sambil memetik satu persatu bunga mawar yang ditanamnya mamahnya


"Harusnya tuh mamih itu sabar bukannya minta terus sama aku, aku juga kalau udah dikasih ya alhamdulillah tapi kalau belum ya sabar dulu, aku kan udah ke dokter udah cek dan aku baik-baik aja sama Riyan, tapi kenapa sih mamih gak mau sabar banget "


"Sayang kamu lagi bicara sama siapa, ih ini kamu petikin bunga gimana kalau mamih marah dan ketauan " tanya suaminya yang baru saja datang


"Ya ampun Yan, aku lupa tadi aku saking marahnya sama mamih dan kesel aku malah petikin bunga di sini, gimana dong aduh parah banget ya aku bisa bisa kita perang dunia lagi nih, gimana dong Yan "


"Ya udah ayo kita kabur ayo kita ke kamar aja, takut mamih datang dan omelin kamu lagi habis tuh kamu diomelin sama mamih, gak akan selamat kamu"


"Ya udah ayo ayo Yan, aku nggak mau diomelin sama mamih, aku gak mau telinga aku sampai kebakaran, aku nggak mau aku belum siap ayo" Jo dan suaminya segera berlari terbirit-birit masuk kedalam.


Dan setelah Jo dan Riyan pergi datang Mamih nya yang melihat bunga mawarnya berserakan di tanah" neneng neneng "teriak maminya Jo sampai urat-urat di lehernya terlihat


" Ada apa atuh nyonya neneng lagi cuci piring. Kenapa ini teriak-teriak kaget Neneng teh nyonga"


"Neneng ini siapa yang petikin bunga saya, kenapa bisa bunga mawar saya tercecer kayak gini"


"Saya nggak tahu atuh dari tadi kan Neneng ada di dalam rumah, nyonya tahu sendiri kan Neneng tadi ada dalam sama, mana mungkin neneng bisa langsung ada di taman dan petikin bunga Nyonya atuh"


"Ya udah kamu beresin, Awas aja kalo ada yang petik bunga Saya lagi kamu yang tangung jawab "


"Lah kok nemeng sih yang jadi tanggung jawab , saya kan gak salah apa-apa "


"Bodo pokoknya kamu yang tanggung jawab Neneng saya nggak mau tahu "


"Nasib-nasib begini amat ya, gak salah malah disalahin, aduh ada ada aja deh "

__ADS_1


__ADS_2