Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Alasan ibu


__ADS_3

"Puas kamu liat Asa sekarang jauhi paman, apa sudah puas kamu meghancurkan semuanya Syifa gimana rasanya, apa enak sampai kau tega berbuat seperti itu pada paman " tanya Andre dengan marah.


"Aku cuman gak mau kehilangan paman aja, apakah itu salah, apakah sekarang aku yang salah, aku cuman mau pertahanin paman aja , apa salahnya sih "


"Tapi gak gini carannya Syifa, kamu ini sungguh kekanak-kanakan, eh emang bener kan kamu anak kecil ya sampai paman lupa, kalau kamu mau pertahanin paman gak gini carannya tau gak Syifa paman kecewa dengan apa yang kamu lakukan "


"Salah paman sendiri sikapnya berubah sama aku, makannya aku marah sama kak Asa, aku juga kecewa sama kok kaya paman, aku kecewa karena cintaku gak pernah paman anggap "


"Paman berubah bukan karena ada Asa, paman gak mau kamu terus berharap sama paman, paman tuh gak mau kamu sakit hati, jadi lebih baik paman yang menjauh, dan kamu jangan ganggu paman lagi sama kak Asa "


"Terus selama ini paman sedikit pun gak bisa hargain perasaan aku sama paman, aku ngejar-ngejar paman, ngemis ngemis itu gak ada harganya ya dimata paman "


"Bukannya gak bisa, paman cuman gak nyaman sama kamu "


"Apa yang buat paman gak nyaman sama aku "


"Karena sikap kamu yang kekanak-kanakan "


"Cuman itu "


"Ya itu, jadi sekarang paman minta kamu harus bisa ngejelasin semuanya ke Asa tentang kita, paman gak mau jadi berantakan kaya gini, sebelum kamu bisa membuat paman dan kak Asa kembali baik-baik lagi paman gak akan pernah maafin kamu "


Andre segera keluar meninggalkan Syifa sendirian "akhhh kenapa sih malah jadi gini, gak adil banget " setelah meluapkan semua amarahnya Syifa ikut keluar pulang kerumahnya tanpa menghiraukan air hujan yang mengenai tubuhnya.


Syifa segera masuk kedalam rumah dan berbelok kekamarnya malahan bertemu dengan mamihnya.


"Syifa kamu kenapa ujan ujanan "


Namun Syifa sama sekali tak menjawab mamihnya pergi kedalam kamarnya, lalu menutup pintunya dan tak lupa menguncinya juga.


"Ada pa dengan itu, jadi khawatir "


Segera dirinya membuka ponselnya dan menghubungi Nabil sahabat anaknya, karena kalau dirinya yang berbicara kepada Syifa tak akan jujur pasti selalu disembunyikan.


"Hallo tante ada apa "


"Halo Nabil, apa tante ganggu kamu "


"Engga kok tan, ada apa "

__ADS_1


"Begini Nabil, tadi Syifa pulang ujan ujannan, dan sama sekali gak jawab kata kata dari tante, boleh tante minta tolong sama kamu tanyain ada apa sama Syifa. Tante gak mau sampai terjadi sesuatu dengan dia, apakah kamu bisa Nabil "


"Tentu saja Nabil akan membantu tante "


"Terimasih ya Nabil "


"Iya sama sama tante "


Dirinya sedikit tenang, akhirnya ada yang mau mau membantu dirinya. Memang dirinya ini tak dekat dengan anaknya ya karena sibuk bekerja. Dan pada akhirnya begini anaknya tak bisa terbuka dan menceritakan semua keluh kesahnya pada dirinya ini. Sungguh menyesal karena tak bisa menjadi ibu yang baik.


**


Tok tok tok "bu apa Liam boleh masuk "


"Masuklah na pintu tidak dikunci" Liam segera masuk kedalam kamar ibunya dan melihat Lucas yang sedang main bersama kakeknya.


"Bu aku bawa dulu ya Lucasnya, Zeline juga pengen main sama anaknya gak papakan apa ibu gak marah "


"Boleh sayang, kamu mau tau gak alesan ibu selalu bawa Lucas dan gak biarin sama ibunya "


"Apa bu "


"Nanti kalau Zeline sudah sembuh sepenuhnya, ibu gak akan ikut camput tentang pengurusan Lucas, biarkan dia belajar. Itu saja niat ibu tak lebih nak "


"Terimakasih bu, ibu sudah sangat perhatian pada Zeline "


"Itu memang sudah kewajiban ibu untuk selalu membantu kalian anak anak ibu. Sekarang kamu bawa Lucas bertemu dengan ibunya "


Liam hanya mengangguk saja lalu memangku anaknya dengan hati-hati, Zeline yang ada diluar segera pergi meninggalkan kamar ibu mertuanya, dirinya sengaja tadi mengikuti suaminya untuk mengetahui semuanya.


Ternyata ibunya mempunyai niat yang baik padanya, berarti selama ini dirinya salah sangka pada ibunya itu, nanti pokoknya harus minta maaf. Tanpa segaja Zeline dan kakaknya bertubrukan.


"Lah kok kakak basah gini dari mana kak, bukannya naik mobil ya "


"Emm tadi keujanan waktu mau naik mobil, nanti kita bisa ngobrol sebentar Line "


"Boleh kakak mau bicara apa, sekarang aja "


"Ayo ikut kakak "

__ADS_1


Asa segera menutup pintunya lalu segera menganti pakaiannya dan Zeline hanya diam duduk menunggu.


Setelah selesai Asa segera menghampiri Zeline duduk berhadapan dan menatap serius pada adiknya.


"Kakak tuh kenapa sih, aku jadi takut tau gak, tatapan kakak tuh menyeramkan"


"Emm Syifa sama Andre mereka pacaran ya "


"Engga kok, setau aku gak pacaran mereka cuman ya sering bareng bareng aja "


"Terus tuh Syifa kenapa posesif banget sama Andre, sampai marah marah sama kakak "


"Ohh itu, ya karena Syifa suka sama Andre dan selama ini Syifa tu ngejar-ngejar Andre terus tapi ya tau sendiri lah Andrenya malah ngehindar dan gak suka sama Syifa ya alesannya karena umur Syifa dan sikap kekanak-kanakannya"


"Oh pantesan, dia tuh sewot banget sama kakak, kakak tu kaya musuhnya dia aja, padahal kan kakak cuman pengen berteman gak ada niat buat rebut Andre dari Syifa"


"Ya kakak yang sabar aja ngehadapinya, mungkin Syifa gak mau kehilang Andre, Syifa tuh sayang banget sana Andre, kadang kasian sama Syifa yang ngejar-ngejar tanpa ada kepastian "


"S Andre juga seharusnya jangan gitu sikapnya tu sama Syifa bener bener kasar tau, kakak aja kurang suka sama sikap dia ke Syifa "


"Yaudah kakak nasehati aja Andrenya siapa tau dia bisa berubah kalau kakak yang nasehati "


"Emm iya iya deh nanti kakak coba siapa tau aja kan bisa berubah "


"Aku kekamar dulu ya kak, mau main sama baby Lucas dulu "


"Iya iya ibu baru nih "


"Heheheh kakak bisa aja deh "


Zeline segera berlari kekamarnya sudah tak sabar ingin bertemu dengan anaknya yang tampan.


"Nah itu mamihnya datang, dari mana mamih kok gak ada dikamar kita cari mamih loh"


"Maaf papih, maaf Lucas mamih tadi ke kamarnya kak Asa dulu "


"Yaudah gapapa sini dong mamih, ini Lucas ada disini sekarang mau main sama mamih "


Zeline segera menghampiri Lucas, lalu bermain dengan anaknya, Liam hanya bisa menatap dengan senang, istrinya akhirnya bisa tersenyum dengan bahagia kembali.

__ADS_1


__ADS_2