
Liam masuk dan tak ada siapa siapa didalam sana, Gavin yang melihatnya hanya tertawa tawa saja. Namun Liam hanya membiarkannya saja.
Liam berkeliling mencari keberadaan dua orang itu, saat Liam melihat kearah pendingin esnya yang besar dirinya melihat ada dua orang yang sedang bersembunyi, dengan senyum miringnya, Liam langsung menguncinya dan beralih menatap Gavin.
"Kau gagal menangkap mereka berdua hahaha, kau gagal ya, kasian sekali kau gagal tak bisa menangkap mereka 2 orang lagi gagal kau tanggap hahaha kasian sekali "
"Kata siapa aku gagal, aku sama sekali tak gagal menangkap mereka, jadi kau diam saja jangan banyak bicara karena aku sama sekali tak gagal menangkap mereka, aku hanya ingin tau mereka akan tahan berapa hari didalam sana "
"Tetap saja kau gagal, gagal tak bisa melakukan apa apa kau payah sekali, sangat payah "
Liam yang tak mau meladeni Gavin langsung pergi dari tempat itu, sedangkan Gavin dia kembali fokus menatap kekasih hatinya yang sudah busuk itu.
Namun tak lama kemudian Liam datang kembali dan menatap Gavin yang duduk tak jauh dari besi penghalang, dengan cepat Liam menarik tangan itu dan menusuk nusuknya dengan pisau kecil.
"Ahh sakit apakah kau gila lepaskan tangan ku sakit "
"Kau sudah berani mengatakan hal seperti itu padaku jadi ini adalah hukumannya untuk mu, kau tak berguna dan tak akan pernah berguna sampai kapan pun "
Liam langsung melepaskan tangan itu lalu kembali berjalan kearah luar, lebih baik pulang sebelum sang istri menelfonnya dan curiga padannya, karena hari pun sudah malam, ya cukup malam.
Gavin yang kesakitan membaringkan tubuhnya sambil memegang tangannya yang berdarah darah sekuat tenaga Gavin memegangnya, agar darahnya tak terus mengalir.
"Sakit sekali, aw sakit "
**
__ADS_1
Artur segera melihat kearah kaca kecil dan tak ada siapa siapa, tak ada orang sama sekali, dirinya langsung melambaikan tangannya untuk Sela menghampirinya.
Dengan cepat Sela segera menghampiri Artur, dirinya yakin kalau mereka berdua akan selamat bersembunyi disini , didalam sini "bagaimana apakah sudah tak ada orang itu " bisik Sella
"Sudah sepertinya dia sudah tak ada, ayo kita keluar dari sini, aku sudah tak kuat dingin sekali disini , bisa bisa nanti kita beku lagi"
"Yasudah ayo aku pun sama, aku tak mau kalau harus mati disini " sambil memeluk dirinya sendiri
Saat Artur membukannya pintu sama sekali tak bisa dibuka, Sela langsung menatap Artur "ada ap Artur kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi, apa orang itu muncul kembali "
"Sepertinya kita terkunci disini dan tak akan bisa keluar "
"Apa, apa kau gila, masa kita terkunci disini sih, tidak tidak aku tidak mau terjebak disini, aku tak mau Artur bagaimana ini, aku tidak mau aku tidak mau "
"Sudah kau diam saja, kau tunggu aku disana siapa tau ini hanya macet saja, ya semoga saja hanya macet kau tunggu disana "
Artur terus saja mencoba membuka pintu itu dengan berbagai cara namun sama sekali tak terbuka hasilnya nihil, tak terbuka saat Artur menarik gagangnya dirinya tak sengaja jatuh dan menimba sebuah kresek besar.
Sella langsung berdiri dan membantu Artur untuk berdiri, Artur yang penasaran segera membuka kresek besar itu, saat dibuka Sella langsung berteriak histeris "Artur tutup tutup "
Dengan cepat Artur langsung menutupnya dan menatap Sela yang sekarang malah muntah "kita tak akan aman disini Sell "
Sella langsung menyeka bibirnya dan menatap Artur "bukan tak aman lagi, kita bisa mati kedinginan disini Artur bagaimana ini, aku sudah tak kuat dan dingin sekali, apa lagi banyak mayat yang di mutilasi seperti itu, aku sudah tak kuat"
"Aku sudah mencoba membuka pintu tapi tetap saja tak bisa di kunci, lihat tangan ku sudah sangat sakit, sudah merah merah Sell, pintunya tidak macet memang terkunci dari luar ada yang mengunci pintunya bagaimana ini "
__ADS_1
"Terus kita harus bagaimana, tidak mungkinkan kita ada disini sampai ada orang yang membukanya yang ada kita akan habis dan mati saja "
"Aku tahu Sel tapi harus bagaimana lagi caranya aku sudah mencoba untuk membuka pintu ini, tapi sangat sulit lali kita harus melakukan apalagi kau coba buka aku sudah mencobanya tidak bisa pintunya tidak bisa dibuka"
Sela menghembuskan nafasnnya dan menatap kearah Artur lalu menarik tangannya dan duduk bersama sama di pojokan "aku takut Artur aku takut , aku belum siap mati aku belum siap, aku masih ingin hidup banyak cita citaku yang belum terwujud aku tak mau"
"Aku pun sama Sell mana ada orang yang siap mati tidak ada, apakah kau gila tak ada yang siap mati didunia ini, jadi jangn berbicara seperti itu karena aku pun sama "
"Ya aku tau itu "
Sela menyenderkan kepalanya di bahu Artur sambil menahan dingin yang makin kemari makin dingin, sampai sampai tak bisa ditahan.
Artur langsung memeluk Sela, temannya itu saling memeberi kehangatan meski itu sama sekali tak membuat mereka hangat namun itu lebih baik.
"Kenapa kita bisa mengalami ini Artur kalau saja kita tak pergi kesini mungkin ini tak akan terjadi, mungkin teman teman kita tak akan meninggal dan kita tidak akan ada disituasi seperti ini"
"Sudah terlanjur kita tidak bisa berandai-andai ya mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah takdir kita harus begini ya sudah yang penting kita harus selamat dari sini"
"Hemm tapi bagaimana carannya Artur bagaimana, disini tak ada alat apa pun yang ada hanya mayat saja, tak ada yang bisa digunakan bagaimana ini, aku sama sekali tak bisa berfikir Artur aku tak bisa "
"Entahlah aku masih memikirkannya rasannya aku tak bisa berfikir saat sedang begini, yang ada aku hanya memikirkan bagaimana agar tubuhku hangat dan tak mengigil seperti ini "
Sela menghembuskan nafas kasarnya, Sela makin mempererat pelukannya dan menyembunyikan kepalanya di dada Artur, binggung sekali ada disituasi seperti ini, situasi yang membuatnya tak bisa melakukan apa apa.
Tak tau harus melakukan apa lagi selain itu, dirinya sudah pusing dan buntu sama seperti Artur, sekarang yanga da dalam fikirannya hanya satu takut dibunuh dengan sadis seperti teman temannya yang lain.
__ADS_1
Kalau itu sampai terjadi bagaimana, tidak tidak jangan sampai itu terjadi dirinya harus selamat dan tak boleh mati konyol seperti teman temannya yang lain.