Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Memilih kembali


__ADS_3

Milla sudah beres di oprasi dan sekarang langsung dipindahkan keruangannya, Ibrahim masih memakai pakaian yang sama dan anaknya Naura pun masih ada dirumah sakit tak mau pulang, padahal sang kakek sudah mengajaknya pulang tapi tidak mau.


Mereka bertiga langsung masuk kedalam ruangan Milla "kau Ibrahim pulanglah terlebih dahulu bawakan pakain Milla dan juga anak mu, dan ganti pakaian mu itu, banyak darah bisa bisa orang orang disini takut padamu "


"Baik ayah, aku titip Naura aku akan pergi pulang dulu "


"Pulanglah "


Ibrahim langsung pergi dengan badan yang lesu, masih binggung apa yang harus dirinya lakukan, apakah kabur saja, tapi jika kabur bagaimana dengan anaknya Naura, pasti istrinya tak akan mau mengurus Naura.


Masih memikirkan antara kabur atau tidak, itu saja yang harus dirinya putuskan sekarang, memang dirinya seperti pengecut , kabur dari masalah.


Ibrahim langsung masuk kedalam mobil dan melajukannya kearah rumahnya, dia menjalankannya dengan sangat pelan bahkan membuat mobil yang dibelakangnya kesal karena dirinya.


Namun Ibrahim tak menghiraukannya dia tak peduli orang orang mau marah padanya, yang terpenting sekarang adalah dirinya yang ingin tenang dan seperti ini.


**


Liam masih mondar mandir tak karuan menunggu Tora didalam sana "kenapa begitu lama, apa yang terjadi disana " Liam mengintip di jendela dan melihat Tora yang masih di obati.


Sedangkan Airin, dia mengusap perutnya, anaknya bergerak gerak tak bisa diam, dia seperti tahu kalau ayahnya sedang dalam bahaya.


"Kenapa kamu Airin "


"Entahlah bu, anak ku terus saja bergerak gerak dan rasanya gilu sekali, dari tadi tak bisa diam "


"Apakah kau mau memeriksakannya "


"Tidak bu, aku tidak mau sudah aku baik baik saja "


"Ini minumlah dulu air "


Airin mengambilnya air itu dan meminumnya lalu menyimpannya kembali.


"Kenapa Tora tidak keluar keluar bu, apakah terjadi sesuatu dengannya, aku sungguh sangat khawatir bu, "


"Kau tenang saja pasti semuanya akan baik-baik saja Tira orang yang kuat, pasti dia bisa melewatinya "


"Aku takut bu "


Tiba tiba pintu terbuka dan tempat tidur Tora segera didorong menuju kamar inapnya, Liam langsung mengekor tanpa memperdulikan istri Tora dan ibu mertuanya.


"Jadi bagaimana dok keadaan Tora " tanya Liam saat sudah ada diruangan Tora.


"Sebentar lagi Tora akan sadar pak,dai tertidur karena obat bius, namun dia mengalami patah tulang, dan mengalami kelumpuhan, namun tidak permanen "


"Baik dok terimakasih atas informasinya "


"Sama sama tuan "


Liam langsung keluar dan meninggalkan ruangan Tora, Liam ingin menenangkan fikirannya dulu, agar lebih rileks saja.


Liam memesan kopi satu dan ponselnya bergetar ternyata dari sang istri.

__ADS_1


"Hallo syang kenapa"


"Kamu kemana aja sih mas kok gak ada kabari, aku jadi khawatir kan sama kamunya, gimana keadaan Tora apa dia baik-baik aja, apa lukanya gak terlalu parah mas "


"Maaf sayang bukannya aku gak mau kabarin kamu, aku tadi bingung banget dan serba salah Tora baru aja keluar dari ruang gawat darurat dia sekarang udah dipindahin ke ruangannya dan kakinya patah dan akan mengalami kelumpuhan tapi gak permanen sayang dan akan sembuh lagi seperti semula"


"Ya ampun mas kok bisa sampai gitu sih. Kenapa sih itu Tora, kenapa bisa kecelakaan gak biasanya banget. Padahal kan dia tuh selalu hati-hati kalau nyetir , Tora selalu fokus kalau nyetir gak pernah dia ngelamun atau apa gitu. Ini baru pertama kali loh Tora kayak gini"


"Iya dia kayak gini karena di rumah dia udah bertengkar sama istrinya terus pergi gitu aja, ya mungkin dia kepikiran terus tentang pertengkarannya dan istrinya. Aku pun gak tahu mereka bertengkar apa tapi itu salah satu pemicu kenapa Tora bisa kecelakaan "


"Terus istrinya gimana apa dia udah ke sana dan lihat keadaan suaminya, apa kamu udah hubungi dia "


"Udah malahan dia udah ada di sini sama ibunya juga, aku juga karena kesel marahin dia kenapa sih gak bisa tahan suaminya sendiri dan buat Tora malah kecelakaan seperti ini"


"Maas kita gak pernah tahu kapan kita mati kapan kita mendapatkan sial, mungkin ini udah kehendak Allah dan kita gak bisa nyalahin istrinya gitu aja,"


"Iya Mas tahu ini bukan salah istrinya sepenuhnya, tapi kan pemicu dari kecelakaan Tora itu istrinya, kalau aja mereka gak berantem gak akan kayak gini sayang semuanya pasti akan baik-baik aja, dia itu salah satu orang terpenting dalam hidup aku selain kamu"


"Iya mas aku tahu Tora itu sangat berarti buat kamu tapi mau gimana lagi ini udah ujian yang harus istrinya terima supaya dia sadar, kalau bertengkar dengan suaminya itu gak baik dan malah mengakibatkan Tora kecelakaan l, mungkin ini sebagai salah satu pelajaran buat istrinya agar tidak melakukan kesalahan yang sama dan lebih mendekatkan lagi dirinya pada suaminya "


"Mungkin aku pun tidak tahu sayang kenapa kamu belum tidur juga apa kamu gak bisa tidur"


"Mana bisa aku tidur mas, kamu aja gak ada hubungin aku gak ngasih kabar. Aku di sini jadi khawatir mas kamu ini gimana sih"


"Iya maaf maaf Mas yang salah udah sekarang kamu tidur ya jangan banyak pikiran istirahat yang cukup biar kamu cepat sembuh dan bisa jalan lagi"


"Aku udah bisa jalan mas tapi kamu terus ngeyel aku harus pakai kursi roda terus, kaki aku udah baik-baik aja mas cuman sedikit nyeri aja aku bisa tahan kok"


"Gak bisa kamu harus pakai kursi roda terus. Pokoknya sampai kaki kamu benar-benar enggak sakit baru kamu boleh gak pakai itu kursi roda"


"Iya sayang Iya nanti aku akan selalu mengabarimu sekarang kau tidurlah"


"Iya Mas aku tidur"


Setelah sambungan teleponnya terputus bersama sang istri, Liam langsung pergi dari kantin dan akan kembali ke ruangan Tora, Liam berjalan dengan perlahan dan masih memikirkan bagaimana keadaan Tora. Apakah dia akan baik-baik saja atau tidak.


Saat masuk ke dalam ruangan Tora ternyata istrinya juga ibunya sudah tertidur di sana, Liam yang masih ingin menunggu Tora duduk di hadapannya.


"Kenapa kau begitu ceroboh Tora. Kenapa kau bisa kecelakaan seperti ini . Apakah kau sudah tidak mau hidup kalau memang iya sudah tidak mau hidup kau bilang padaku biar aku akhiri Saja hidupmu itu, kau sungguh ceroboh baru kali ini aku melihat kau seceroboh ini, bisa kecelakaan dan ditabrak oleh truk, harusnya saat aku tahu kau sudah menikah dengan perempuan itu, seharusnya aku menyuruhmu untuk menceraikannya dari pada kau malah menjadi seperti ini."


Tanpa Liam sadari Airin mendengarkan kata kata Liam, namun dia tak berani untuk menjawab semua perkataan Liam.


**


Ibrahim sudah ada di rumah dia mengemasi pakaiannya semua barang-barangnya. Dia sudah memutuskan kalau dirinya akan pergi saja meninggalkan anaknya dan juga istrinya.


Dia yakin kalau istrinya pasti akan melaporkannya ke kantor Polisi setelah dia sadar, dari pada di penjara lebih baik pergi saja dari kehidupan mereka untuk masalah Naura itu gampang, setelah ada waktu dan Mira sedikit melunak baru dia akan mengambil Naura.


"Maafkan ayah Naura ayah mengambil keputusan ini. Ayah tidak mau sampai di penjara ayah pergi untuk sementara dan nanti ayah akan menjemputmu lagi. Naura kau baik-baik bersama ibumu bukankah itu yang kau mau, selalu ada di samping ibumu. Ayah tidak mungkin membawamu pergi ke sana kemari Ayah pasti akan menjadi buronan dan dicari oleh polisi, ayah tidak mau membawamu, Ayah tidak mau mentalmu rusak gara-gara Ayah, maafkan ayah juga yang telah main kekerasan pada Ibumu Ayah sungguh menyesal dan ayah akan pergi untuk sementara waktu "


Setelah mengungkapkan isi hatinya Ibrahim segera masuk lagi ke dalam mobilnya dan pergi begitu saj,a meninggalkan rumah yang terbuka tanpa dikunci sedikit pun.


Bahkan Ibrahim memakai baju yang tertutup sekali memakai masker jaket dan juga kacamata hitam, agar tidak ada orang yang mengenalinya apalagi Ayah mertuanya sudah mengatakan akan melaporkannya ke polisi.

__ADS_1


Saat dirinya melihat polisi Ibrahim langsung membelokkan mobilnya dengan cepat dia menjadi sangat takut kalau polisi itu sedang mencarinya.


Ibrahim memberhentikan mobilnya di sebuah gang, dia turun dan melihat sepertinya ada tempat makan. Dirinya belum makan sama sekali tadi hanya menyuapi anaknya saja.


Saat turun Ibrahim celingak celinguk, takut ada orang yang mengenalnya bisa gagal kan pelariannya, lalu Ibrahim membuka ponselnya dulu apakah ada berita tentang dirinya yang dicari oleh polisi atau tidak, tapi ternyata tidak ada.


Ibrahim lalu masuk ke dalam tempat makan itu dan memesan beberapa makanan dan juga minuman, selama menunggu makanan dan minumannya datang Ibrahim hanya menundukkan kepalanya saja.


Tak lama kemudian makanannya datang Ibrahim memakannya dengan sangat lahap karena memang lapar sekali.


Namun tiba-tiba ada yang menepuk bahunya Ibrahim, seketika membuat dirinya berhenti makan,? saat dirinya menengok itu adalah temannya di kantor


"Ibrahim kau habis dari mana jauh-jauh ke daerah sini aku tak pernah melihat kau kemari sebelumnya"


Ibrahim celingak celinguk terlebih dahulu lalu membuka kupluknya dan kacamatanya.


"Aku hanya sedang main-main saja ke sini. Lalu aku ingat belum makan, makanya aku ke sini dulu kau tinggal di sini"


"Tentu rumahku tak jauh dari sini, kau bukannya tau akn rumah ku. Bagaimana kabar Istri dan anakmu apa mereka baik-baik saja Ibrahim .Aku sudah lama tidak mengunjungimu"


"Mereka baik-baik saja mereka sehat dan ya baik baik tentu baik"


"Ada apa denganmu sepertinya kau sangat gugup sekali. Apa ada apa terjadi sesuatu "


"Tidak tidak terjadi apa-apa, aku baik-baik saja hanya saja aku aku sedikit kebingungan"


"Kebingungan tentang apa. Ada apa sebenarnya denganmu .Ayo coba kau ceritakan padaku aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun itu. Jadi kau percaya kan dengan ku, ayo ceritakan semuanya"


"Apakah kau yakin tidak akan berbicara pada siapapun itu"


"Iya aku tidak akan mengatakan apapun pada siapapun itu aku janji padamu "


"Baiklah aku akan menceritakan semuanya padamu, kau tahu kan bagaimana sikap istriku padaku selama ini, kau tahu kan bagaimana dia memperlakukan aku dan tak mencintaiku bahkan tak menerima anaknya sendiri"


"Iya aku tahu semua itu aku tahu istrimu memang seperti itu, Ada apa dengannya. Apakah kau melakukan kekerasan padanya karena kau marah padanya"


"Iya aku melakukan kekerasan padanya, bahkan sekarang dia harus melakukan operasi plastik. Apakah menurut mu aku keterlaluan, aku sangat marah padanya entahlah mungkin aku kesetanan dia selalu ngelunjak padaku, jika kau ada di posisiku bagaimana melihat istrimu menjamu seorang laki-laki dengan sangat ramah dan laki-laki itulah yang dicintai istri mu. Bagaimana rasanya aku sangat marah saat melihat itu dah entah apa yang merasukiku tiba-tiba saja aku mengambil kopi yang dia buatkan untuk laki-laki itu dan menyiramkan pada wajahnya, "


"Saat dia mencekikku karena dia kesal dan dia menyangka aku telah mengusir laki-laki, itu aku melemparnya dan dari sana aku langsung memukulnya dengan brutal sampai dia masuk rumah sakit, ya sekarang dia dirawat di sana. Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana ini ayah mertuaku bahkan akan melaporkan ke kantor polisi dan aku juga yakin saat Mila bangun dia akan melaporkanku"jelas Ibrahim dengan sangat panjang.


"Kenapa istrimu sangat keterlaluan sekali aku mengerti semuanya kau wajar melakukan itu, karena kesal 6 tahun kau dipermainkan oleh perempuan itu, kalau aku yang ada di posisimu mungkin aku sudah menceraikannya dan membunuhnya, tapi apakah kau melarikan diri"


"Iya aku kabur dan akan melarikan diri aku sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi, jadi jalan utama yang harus aku pilih yaitu pergi meninggalkan anakku dan juga Milla"


"Apakah kau yakin akan meninggalkan Naura dia masih kecil dan masih butuh kasih sayang l, sedangkan ibunya sama sekali tak menyayanginya, kau pikir-pikir dulu sebelum mengambil tindakan seperti ini belum tentu kau mengambil keputusan ini kau akan tenang"


"Tapi bagaimana kalau aku di penjara aku belum siap dan aku tidak mau sampai di penjara, aku sungguh tidak mau apa yang harus aku lakukan sekarang ini jalan satu-satunya aku kabur dari semua masalah ini "


"Karena kau sudah membuat masalah kau jangan lari dari masalahmu itu, lebih baik kau hadapi saja mau bagaimanapun nanti keadaannya kau harus hadapi, jangan lari seperti ini, yang ada kau akan terlihat seperti pengecut, itu sih saranku lebih baik kau pulang dan temui anakmu, kau harus ingat itu adalah anakmu Naura jangan fikirkan istrimu. Jika perlu saat istrimu sudah bangun lebih baik kalian bercerai saja hiduplah bersama Naura berdua "


"Kalau aku di penjara bagaimana tetap saja kan aku tidak akan bisa hidup bersama Naura berdua"


"Itu urusan belakangan yang sekarang perlu kau ingat adalah anakmu, jangan sampai suatu saat anakmu tidak akan menerimamu lagi dan membencimu sampai kapanpun, kau jangan sampai membuat anakmu merasa kau adalah laki-laki pengecut dan tak bisa bertanggung jawab .Jangan membuat anakmu malah berpikiran semua laki-laki sama sepertimu, anakmu perempuan dia akan dewasa dan dia akan menikah juga kan, jadi jangan membuat dia menjadi membenci seorang laki-laki karena kau"

__ADS_1


Teman Ibrahim langsung pergi setelah memberi nasihat pada Ibrahim, Ibrahim bingung harus memilih apa sekarang.


__ADS_2