
Siska dengan cepat segera bangkit dan pergi mengikiti bosnya untuk masuk kedalam ruangannya. Tak peduli dengan teman teman yang mentertawakannya karena dihempaskan begitu saja oleh Liam.
Yang terpenting adalah pak Liam sudah mengajaknya kedalam ruangannya, yang pasti akan terjadi sesuatu yang panas nantinya. Lihat saja sebentar lagi dirinya akan menjadi pemilik perusahan ini.
Jo yang melihat semua itu segera bangkit takut sahabatnya dikhianati oleh suaminya. Andre dengan sigap segera menarik tangan Jo dan mengelengkan kepalanya
"Tapi pak dosen bawa cewe keruangannya gak bisa didiemin nih, aku laporin ke Zeline kalau pak dosen macem macem, aku gak mau sahabat aku sakit hati, kamu jangan tahan aku, aku mau labrak mereka berdua terus fidion mereka terus kirim ke Zeline biar tau kelakuan suaminya gimana "
"Jangan, apa kamu gila, sudah duduk duduk, kau nanti juga besok tak akan melihat perempuan itu dan kau akan disuruh untuk menghilangkan absenannya, jadi tenang lah, jangan bicara aku pusing mendengar suara yang tak bagus, seperti kenalpot bajai saja "
"Hah maksudnya apa, kamu juga suaranya jelek seperti suara monyet"
"Kau sudah tau kan kalau Liam itu orang nya seperti apa, dia sangat mencintai sahabatmu, mana mungkin dia akan menduakan Zeline, jadi kau tak perlu takut. makan lagi bakso mu atau nanti aku akan mengabiskan semua baksomu itu " .
"Lalu sekarang aku harus diam saja gitu, jangan dong aku membeli bakso ini dengan penuh perjuangan jadi jangan macem macem"
"Ya lebih baik kau diam, apa mau aku suapi makan baksonya biar lebih romantis gitu"
"Tidak, aku tak sudi disuami olehmu "
"Kurang ajar kau Jo, awas ya kau "
Jo hanya menjulurkan lidahnya saja, lalu segera menyantap makanannya yang sempat tertunda. Melihat makanan pak dosen nganggur begitu saja Jo segera mengambilnya dan memakannya juga.
Andre yang melihatnya sampai geleng geleng kepala karena kelakuan temannya Zeline yang rakus.
Liam segera membuka pintunya dan Siska segera masuk, segaja membuka kancingnya kembali, agar memperlihatkan keelokan tubuhnya.
Liam pun sama segera membuka jasnya dan melipat tangan pakainnya sedikir keartas. Siska yang sudah siap sudah duduk dengan sangat mengoda.
Liam segera berbalik dan cleb, Liam melemparkan sebuah pulpen pas kearah salah satu bola mata Siska.
Siska yang baru sadar segera memegang pulpen itu dan berteriak histerisss "akhhh " Siska segera bangkit dan membuka pintu ruangan itu namun tekunci.
Liam segera menghampiri Siska dan itu membuat Siska takut sekali dan makin cepat untuk segera membuka pintu.
Namun semua itu hanya percuma saja, Liam menjambak rambut itu sampai Siska mendongak dan melihat wajah Liam.
"Berani sekali kau duduk dipangkuan ku" Liam segera menyedotkan kepala Siska kepintu dan membuat pulpen masuk seluruhnya kedalam mata Siska.
"Ahh sakit pak, sakit tolong lepaskan saya "
"Tak akan semudah itu saya melepaskan mu, jadi terimalah semua akibatnya karena kau sudah berani duduk dipangkuan saya. Yang boleh duduk dipangkuan saya hanya istri saya dan anak saya saja. Tak boleh orang lain, kamu sungguh lancang "
"Ampun pak saya gak akan melakukannya lagi, saya tak sengaja tolong ampuni saya pak "
"Ya saya tau kau tak akan melakukannya lagi, karena sebentar lagi kau akan menemui ajalmu "
Liam dengan tega menarik rambut itu dan mengusurnya tanpa ada rasa kasihan sedikit pun. Membuka pintu rahasia yang hanya dirinya dan juga Andre tau.
Setelah masuk Liam segera melepaskan cekalan itu sambil mendorong tubuh itu sampai tersungkur, mengunci pintunya lagi, lalu mengusur lagi Siska yang sudah sangat histeris.
Liam mendudukan Siska di sebuah kursi menalinya dengan cukup kuat, Liam berjalan kearah lemari dan mengambil perkakasnya. Mengambil palu dan juga paku besar..
"Apa yang akan bapak lakukan, tolong lepaskan saya tolong "
"Shut diam, jika kau berisik terus akan lama prosesnya, jadi lebih baik diam dan duduk dengan tenang, ini semua tak akan sakit jadi kamu tak usah takut, saya hanya mempercepat kematian mu saja tak lebih jadi tenang. Jangan berteriak berisik "
Liam dengan cepat memaku satu persatu tangan itu tanpa menghiraukan sedikit pun teriakan Siska.
Setelah selesai, Liam mengambil pisau kecil menancapkannga kearah leher Siska, sampai Siska tak bisa berteriak kembali, bahkan Liam menancapkannya beberapa kali.
Setelah melihat Siska tak bernyawa Liam segera pergi keluar dari tempat rahasianya, didalam ruangannya sudah ada Jo dan Andre yang duduk dikursi sambil menatap pakaian Liam yang banyak dengan darah segar.
Mereka berdua hanya bisa menatap Liam tanpa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
"Sedang apa kalian disini "
"Kita lagi nunggu lo yang lagi olahraga " Jawab Andre sambil menyenggol Jo.
"Olahraga apa Andre "
"Olahraga melenyapkan orang Liam, kau ini pura pura tak ingat padahal baru melakukanya "
"Awas jangan sampai ada yang mengadu pada istriku, kalau saja istri ku sampai tau berarti diantara kalian berdua yang sudah mengadukannya, kalau itu terjadi kalian habis "
"Siap pak laksanakan 86 saya Jovanka pamit undur diri " Jo dengan segera keluar dari ruangan dosennya dengan wajah tegangnya. Menahan takut karena kelakuak suami sahabatnga.
"Andre beresen mayatnya, biasa bakar dan jangan sampai ada jejak sedikit pun, lalu kau bungkan temannya yang tadi duduk bersama perempuan sialan itu dan berikan keluarganya uang "
"Ya Liam, aku akan bereskan sekarang, kalau nanti takut bau, kau berekaskan pekerjaannku ya Liam "
"Kau menyuruhku "
"Yakan aku ada tugas darimu, "
"Baiklah "
Andre segera masuk dan melihat bagaimana wanita itu mati "Liam Liam kau ini, sungguh keterlaluan perempuan secantik ini kau bunuh begitu saja. Tapi bodo amat lah "
Segera Andre mengambil plastik sampah yang besar dan membungkus jasad itu, untuk nanti dirinya bawa dan dibakar dirumah Liam yang pernah menyekap Zeline dahulu.
Liam segera pergi kekamar mandi membersihkan wajahnya yang terkena darah lalu segera kembali duduk dan mengambil bingkai foto yang didalamnya ada sosok istrinya yang sedang tersenyum riang.
"Maafkan aku sayang, aku melakukan ini agar tak ada masalah didalam rumah tangga kita, aku melakukan semuanya untuk keharmonisan keluarga kita dan aku tak mau membuatmu cemburu. Aku akan selalu menyayangimu sayang" Liam segera mencium foto itu lalu segera membereskan pekerjaannya karena sudah tak sabar ingin ketemu dengan istri dan anaknya.
Sedangkan Jo diruangannya sedang mengigil takut" Line kamu kenapa bisa punya suami sesadia dan sedingin itu sih, jadi takut nih aku "
***
Sekarang Zeline, ibu, bi Sarah dan juga bi Sari ada diruang tamu ingin membahas tentang usulan yang menjadi pengasuh Lucas.
"Iya mah tapi aku maunya bi Sari aja yang bantu aku buat jaga Lucas, aku udah percaya sama bi Sari dan Lucas juga udah nyaman sama bi Sari, jadi bi Sarah didapur aja, gak papa Lucas sama bi Sari aja"
"Kenapa gak bi Sarah aja, kan bi Sarah sudah lebih berpengalaman jadi dia lebih tau Line, bi Sarah jugakan orang kepercayaan ibu jadi kamu gak usah khawatir kalau sama bi Sarah"
"Tapi Zeline maunya sama bi Sari bu, kita udah sering ngobrol dan banyak deh pokoknya, lagian sama ajakan sama bi Sari juga, aku liat bi Sari bisa kok jagain Lucas saat lagi mandi aku lagi mas Liam, bisa kok sama aja bu "
"Udahlah sama bi Sarah aja kasain diakan, pengen urus Lucas dulu juga ibu di bantu sama bi Sarah waktu ngurus Liam "
"Udah bu biarin aja, Zeline kan udah nyaman sama bi Sari, jadi gak papa Liam setuju setuju aja kalau bi Sari yang jagain Lucas, kan ibu sama Zeline beda, ibu lebih nyaman dengan bi Sarah, sedangkan Zeline lebih nyaman dengan bi Sari jadi biarkan saja bu, kan sama saja gak perlu bi Sarah juga, hargai keputusan Zeline, dia lebih tau siapa yang berhak untuk menjafa anaknya " ucap Liam yang tiba-tiba saja sudah ada dihadapan mereka semua.
Liam segera duduk disamping istrinya mengambil Lucas yang sedang dipangku oleh Zeline.
"Ini sudah keputusan Liam, bi Sari yang akan membantu Zeline mengasuh Lucas anak kami, gak ada bantahan atau pun protes dari ibu "
Setelah mengatakan itu Liam segera mengandeng istrinya meninggalkan ibunya yang pasti akan menentangnya.
"Bi Sari ayo, tolong jaga Lucas " ucap Liam saat akan menaiki tangga.
Bi Sari segera mengangguk, permisi dahulu pada bi Sarah dna nyonya besar.
Liam membaringkan anaknya dan membalikan badannya kearah bi Sari "sekarang bibi yang membantu mengurus Lucas, bibi tidur saja disini agar tak bulak balik "
"Baik tuan "
Liam segera mengandeng tangan istrinya untuk masuk kedalam kamar meninggalkan bi Sari berdua dengan Lucas, bi Sari tak lupa mengunci pintu kamar itu takut terjadi sesuatu.
Zeline yang sudah ada didalam kamar segera membantu membukakan pakaian suaminya namun Zeline melihat bercak merah merah di kemeja suaminya, apa ini tak hanya satu bahkan banyak.
"Mas ini darah " tanya Zeline sambik mengerjitkan dahinya.
__ADS_1
"Oh ini bukan sayang ,ini tadi tinta spidol, tadi saat aku mengisinya aku tak sengaja mengenai pakaianku ini "
"Ku kira darah mas "
"Bukan sayanh aku mandi dulu ya "
"Iya mas "
Namun Zeline tak percaya begitu saja dia mencium bau dipakaian suaminya, ini bau anjir darah. Darah apa sebenarnya ini. Pasti terjadi sesuatu.
Zeline segera mengubungi sahabatnya Jo "Hallo ada Line "
"Dikantor terjadi sesuatu gak "
Deg tiba detak jantung Jo perpacu dengan sangat kencang dia masih ingat tentang kata kata bosnya, yang jangan memberi tau Zeline, aduh kenapa coba Zeline malah nanya dengan dirinya.
"Engga kok, dikantor baik-baik aja berjalan dengan lancar, kamu tenang aja gak usah khawatir, aman kalau ada Jo, aku pasti kasih tau kamu kalau sesuatu "
"Tapi ini di pakaian mas Liam ada darah Jo, darah apa ya "
"Darah? tinta mungkin kamu salah liat Line, yaudah udah dulu ya ini ada Riyan ni bay Line "
Tanpa mendengarkan jawaban dari Zeline Jo langsung mematikannya begitu saja, berbarengan dengan keluarnya sang suami.
"Kamu kenapa sayang " tanya Liam sambil memakai pakaiannya
"Engga kok mas "
Zeline segera mendudukan bokongnya disusul oleh Liam yang langsung menidurkan istrinya dan dirinya sendikit menindih tubuh sang istri.
"Mas berat tau badan kamu "
"Masa sih sayang engga ah "
"Mas kenapa tinta itu baunya anjir seperti darah kamu tak berbohongkan dengan ku "
"Tidak sayang, aku sama sekali tak berbohong padamu, mungkin saja sudah lama "
"Baiklah "
"Kamu tadi dengan ibu membahas apa lagi sayang selain Lucas"
"Tak ada hanya itu saja, sepertinya bi Sarah mengadu pada ibu mas, ada apa dengan dia sepertinya ingin sekali mengurus anak kita, sampai sampai menyuruh ibu untuk membujukku "
"Tenang sayang, sedikit demi sedikit aku akan menyelidikinya, jadi kamu tenang saja ya, aku juga penasaran ada apa sebenarnya, apa yang akan direncanakan oleh bi Sarah "
"Benarkan apa kataku, kalau bi Sarah mencurigakan, apa mas tak bisa langsung memecat bi Sarah saja, aku sungguh takut terjadi sesuatu kepada anak kita mas "
"Kita tak bisa gegabah sayang langsung memecat begitu saja bi Sarah, harus ada alasanya yang pasti dan ibu juga pasti tidak akan terima, sekarang mendingan kita istirahat sayang, kamu jangan fikirkan itu biar aku yang memikirkan semuanya "
"Tapikan ini masih siang mas, mas udah bobo lagi sih, baru aja jam 7 kamu ini udah ajak bobo "
"Gak papa sayang, aku pengen peluk kamu terus " Liam segera membenahi tidur sang istri dan menyelimuti badan mereka berdua. Lalu saling memeluk memberikan kehangatan.
**
"Tuhkan bu, nyonya Zeline tuh gak suka sama saya, makannya nolak saya terus "
"Jangan gitu bi, gak mungkin Zeline gak suka sama bibi, mungkin benar kata Liam kalau Zeline lebih cocok dengan bi Sari, bibi gak perlu khawatir kan Lucas juga diurus oleh sodara bibi bukan oleh orang lain "
"Iya juga nyonya, tapikan saya ingin ikut andil juga dalam mengurus den Lucas, kan Sari baru nyonya, masa udah langsung dipercaya gitu aja, saya aja kan dikasih kepercayaan butuh sampai 5 tahun nyonya, masa ini Sari baru beberapa hari udah dikasih kepercayaan aja "
"Sudah lah bi, mungkin Zeline lebih enak dan gak canggung sama bi Sari, bibi kan enak masak aja jadi gak usah kerepotan harus bangun malem malem kalau Lucas bangunkan, bibi bisa tidur dengan nyenyak dan gak terlalu besar tanggung jawabnya"
"Bibi jangan kecil hati, saya kan sama Zeline beda jadi ya beda pemikiran juga, saya gak mau kalau harus maksa anak saya, nanti malah gak nyaman Zelinenya dan minta pulang sama anak saya, jadi bibi tolong ngertiin aja, saya pulang dulu, bibi jangan lupa kunci pintu dan cek jendela "
__ADS_1
"Baik nyonya " setelah ibunya Zeline pergi, bi Sarah pergi kekamarnya dengan rasa marah yang memuncak.