Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Curi curi


__ADS_3

"Nah ini makanannya udah siap nyonya tuan, "


"Makasih ya Bi Sari, sini duduk bi " ucap ibunya Liam


Ya mereka satu keluarga berkumpul, ayah ibunya ada disini, tentu juga cucu satu satunya.


"Sebentar nyonya besar saya mau ambil sayur dulu "


"Udah bibi duduk aja biar Liam aja yang ambil ya "


"Baik tuan, terimakasih "


Liam bangkit sambil menarik tangan istrinya untuk mengikutinya.


"Apa mas kok tarik tarik aku sih, "


"Sini cobain dulu sayurnya "


Liam menyendoknya dan meniup niupnya, saat Zeline sudah membuka mulutnya Liam malah memberikan bibirnya, dan terjadilah kecupan kecupan tanpa suara.


Zeline pun yang terbuai mengikuti permainan sang suami, namun mata Zeline tertuju pada ibu Liam yang melihat, buru buru Zeline mendorong bahu suaminya.


"Ihh kamu mas, liat ibu liat malu tau "


"Gak apaa apa, kita kan udah sah, udah nikah, ibu juga itu fokus lagi kok ambilin nasi, udah gak apa apa "


"Kamu mah tadi katanya suruh cicipi sayur, tapi malah kasih bibir kamu gimana sih "


"Modus sayang, ayo "


Liam terlebih dahulu pergi dan menyajikan sayur, masih melihat istrinya yang berdiri, Liam kembali bangkit dan membawannya duduk kembali dikursinya.


Saat melihat ibu mertunya Zeline menjadi malu dan tersenyum kaku, aduh bisa bisa tertangkap basah kaya gini, sepertinya hidupnya selalu saja tertangkap basah oleh siapa pun itu.


"Tenang Line, ayo makan jangan diem terus "tegur ibu mertuanya


"Iya bu "


Zeline yang kesal karena suaminya mentertawakannya hanya bisa memukul kakinya dan segera melahap makanannya.


**

__ADS_1


Syifa yang jenuh didalam kamar keluar dan menengok kearah kiri kanan, ternyata suaminya tak ada, karena lapar dan pasti suaminya pun lapar Syifa bergegas pergi membuka kulkas dan mengambil sayuran, daging ayam dan sebagainya.


Menyimpannya dimeja lalu memotong motongnya dan menyalakan kompor, memasukan minyak dan mendiamkannya sebentar.


Setelah yakin Syifa memasukannya dan sesekali bersenandung, semoga saja makanannya enak, tidak mungkin kan harus suaminya terus yang memasak kasian.


Andre yang baru keluar dari dalam ruangan kerjanya menongok sang isti yang sedang memasak, dengan mengendap endap Andre menghampirinya.


"Sayang lagi apa "


"Akhh kamu ngagetin aya ya "


"Ets hati hati syaang, hati hati maaf ya maaf perut kamu gak kebentur apa apa kan "


"Engga paman , perut aku baik baik aja, kamu ini ya lain kali jangan kagetin aku lagi, gimana kalau jantung aku copot coba "


"Iya iya, sini paman bantu ya masaknya, "


Syifa memberikan spatulanya dan hanya menatap suaminya yang sedang mengaduk ngaduk makanannya, namun tiba tangannya terkena pinggiran wajan.


Syifa yang kaget segera mengambil tangan suaminya dan meniup niupnya "kenapa paman tidak hati hati, kalau melakukan apa apa itu harus hati hati "


Syifa terus saja meniup niupnya dan Andre yang merasa senang hanya diam sambil senyum senyim sendiri, Syifa mencium bekas merah itu dan mendongakan kepalanya.


"Sudah paman diam saja, biar aku yang memasak ayo paman mundur aku bisa ya, biarkan aku belajar paman agar bisa melayanimu dengan baik dan bisa mengurus mu dengan tangan tanganku sendiri "


Andre mundur, masih menatap istrinya, sedangkan Syifa masih tersenyum dan malu atas kejadian tadi, dimana dia mencium paman Andrenya terlebih dulu, apa dirinya ini tidak terlihat agresif, pasti tidak kan, itu wajarkan karena mereka suami istri.


**


"Sayang ayo kita makan diluar aja ya, kan bi neneng gak masak"


"Hemm ayo Yan kau lapar , bi neneng itu keterlalua, aku bilang terserah itu ya terserah gitu mau makan apa, bukan berarti gak masak kaya gini kan, kesel kesel deh "


"Udah ayo sekarang pergi jangan ngambek terus ayo ayo "


Riyan segera membawa istrinya masuk mobil dan membawanya kesebuah restoran yang memang disukai istrinya.


Mereka berdua segera turun dan memesan tak lama kemudian makanan datang, senyum Jo kembali bangkit dia mengambil salah satu makanan dan mencobanya.


"Emm ini sangat enak baby, coba kau cicipi buka mulut mu "

__ADS_1


Riyan membuka mulutnya dan mengigitnya, setelah menyuapi suaminya Jo kembali melahapnya.


Riyan yang melihat sesuatu di samping bibir istrinya segera mengusapnya.


"Sayang kau ini, umur mu sudah berapa taun makan masih belepotan "


"Hehehe aku suka sama makanan ini, jadi aku ingin segera menghabiskannya dan memakan lagi yang lain begitu baby kau ini tak tau kalau aku ini sedang bersemangat "


"Baiklah baiklah aku mengerti aku akan diam dan hanya menatapmu makan "


"Tidak dong baby, kamu juga harus makan ayo makan makan "


Riyan mengangguk dan melahap makannanya dengan hati senang karena istrinya sudah senang pula.


Mereka berdua sekarang berjalan jalan menikmati pemandangan malam yang indah, Jo memfoto setiap pemandangan indah dan sesekali memoto suaminya.


"Sayang dulu kau ingat tidak pernah menutup mataku dan menuntunku menuruni tanga, apakah kau ingin mencobanya bagaimana rasanya "


"Tidak aku tidak mau cukup kau saja yanh jatuh gara gara aku melakukan kekonyolan itu "


"Ayolah disana ada tangga, ayo sesekali sayang hanya kali ini saja aku memaksamu ayo sayang ayo sekali ini sjaa ya, "


"Emm baiklah kalau jatuh apakah akan bertanggung jawab dan mengobatiku "


"Tentu aku suami mu, aku pasti akan bertanggung jawab dan mengobatimu lebih dari dokter sayang, ayo ayo disana ada tanga, tenang aku akan memegangmu "


Akhirnya Jo menganguk dan segera menutup matanya saat mereka berdua sudah ada didepakat tanggga, Jo yang akan melangkahkan kakinya kebawah tiba tiba mengelengkan kepalanya.


"Sungguh aku takut baby, aku tidak mau aku takut jatuh aku gak mau ah "


"Aku bakal pegang kamu kok beneran, aku gak akan lepasin kamu jadi ayo jangan takut sekali kali "


Jo mengangguk dan melangkah berlahan, Riyan masih setia memegangnya sambil mundur mundur dan saat sudah sampai tengah tengah Riyan tiba tiba melepaskan pegangannya dan Jo dengan cepat memeluk suaminya, tentu saja Riyan pula memeluknya, tak melepaskan sepenuhnya.


Mereka saling pandang tak ada satu pun yang bicara, Riyan makin mempererat pelukannnya dan memjamkan kedua bola matanya memangut bibir istrinya disaksikan oleh malam yang indah.


Jo yang sadar ini bukan dirumah melepaskannya dan memukul tangan suaminya "kau hanya alasan kebawah sini modus dasar mesum "


Jo naik dan meninggalkan suaminya "syaang syaang bukan gitu jangan marah sayang, tunggu aku jangan tinggalkan aku sayang"


Namun Jo yang berjalan didepan acuh tak acuh dan terus berjalan meninggalkan suaminya, suami menyebalkannya itu, awas saja akan dirinya balas kelakuan suaminya.

__ADS_1


Masalahnya ini diluar ditempat umim, apakah suaminya tak malu kalau ada yang melihat dasar Riyan mesum.


__ADS_2