Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Menunggu dia


__ADS_3

Syifa dan Andre sudah ada di rumah sakit, bahkan sudah ada di ruangan Mila dia melihat keadaan Mila yang masih diperban wajahnya dan masih tak sadarkan diri.


Di sana ada Pak Tedi dan juga Ibrahim suaminya serta Naura anak dari Ibrahim dan juga Milla, anak itu hanya diam sambil memeluk ibunya yang belum sadarkan diri juga.


"Nona Syifa dan Pak Andre kalian kemari"ucapan pak Tedi


"Iya Pak saya kemari, saya sangat merasa bersalah atas kelakuan saya kemarin kalau saya tidak menuduh yang tidak-tidak tentang Mila mungkin semua ini tidak akan terjadi Pak, Milla tidak akan kecelakaan seperti ini dan Pak Ibrahim mohon maaf atas tindakan saya yang pergi ke rumah Anda dan membuat anda marah "


Ibrahim segera maju dan berhadapan langsung dengan Andre, menepuk punggungnya sekilas dan mencoba sedikit tersenyum pada Andre.


"Semua ini bukan salahmu, ini memang kesalahanku aku melukai Milla bukan karena kau yang datang ke rumah, sungguh ini bukan kesalahanmu kau bisa tenang dengan istrimu semuanya baik-baik saja dan aku akan menjaga Mila dengan baik. Aku pastikan Mila tidak akan melakukan lagi kesalahan pada keluargamu, Mila tidak akan meneror lagi kalian dan Milla tidak akan mengejar-ngejar lagi dirimu, aku berjanji itu padamu Milla tak akan kembali berulah "


"Baiklah aku sangat berterima kasih kau mau membuat Mila berubah dan tidak mengejarku lagi, serta mengganggu keluargaku lagi, sungguh aku minta maaf atas kata-kataku kemarin. Mungkin saja kau tersulut oleh kata-kataku kan aku sungguh minta maaf atas semua apa yang aku lakukan, jika pada akhirnya akan begini aku tak akan datang kerumah kalian "


"Tidak Sudah aku bilang ini bukan kesalahanmu Pak Andre, ini kesalahanku sebagai suami yang lalai menjaganya dan selalu memberikan kebebasan untuknya ,aku kurang keras padanya dan mungkin ini sebuah pelajaran untuk Mila agar dia sadar dan lebih menghormatiku dan menyayangi anak nya sendiri sudah sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri"


Pak Tedi langsung maju dan mengambil kerah baju Ibrahim, sungguh dirinya marah dengan kata kata menantunya yang mengatakan kalau ini adalah pelajaran untuk anaknya, enak saja, dirinya membesarkan Milla dengan susah payah namun laki laki ini malah menyakitinya.


"Apa maksudmu ini sebuah pelajaran untuk Milla. Jika sebuah pelajaran kau tidak akan menyiksa istrimu seperti ini sampai dia koma dan mengalami kejadian ini membuat wajahnya rusak sampai dia harus dioperasi plastik. Memangnya kau tidak bisa memberi sedikit pemahaman pada istrimu tidak usah dengan kekerasan, kata kata saha sudah cukup jangan seperti ini, kau dengar kata kata ku kan "


"Ayah tau sendiri kan kalau anakmu itu tidak bisa dinasehati dengan kata-kata saja, dia saja berani mencekikku memukulku suaminya, mana ada suami yang mau diperlakukan seperti itu. Aku sudah bilang kan Ayah kalau ada di posisiku bagaimana, aku sudah mengatakan itu rasakan dulu apa yang aku raskaan, baru ayah boleh berkomentar, lepaskan tangan mu dari pakaianki "


Ibrahim langsung melepaskan pegangan tangan Ayah mertuanya di pakaiannya , dan merapihkan kembali pakaiannya yang menjadi kusut ulah ayah mertuanya.


Jangan bertengkar seperti ini Pak Tedi pak Ibrahim lebih baik bicarakan dengan baik-baik lagi, dengan hati yang tenang jangan ada pertengkaran seperti ini, kasihan dengan Milla yang sedang koma, dia pasti mendengar semua pertengkaran kalian lebih baik kalian tenangkan diri masing-masing dan berjaga bergantian jangan bersama-sama seperti ini agar tak menimbulkan perkelahian " ucap Andre agar mereka tak Bertengkar lagi masalahnya ini di rumah sakit masa sih bertengkar nggak enak kan sama yang lain.


"Maafkan keluarga saya Pak Andre nona Syifa keluarga saya memang seperti ini, hancur dan saya juga salah menikahkan anak saya pada laki-laki ini .Jadi maafkan atas kelakuan kami berdua yang tadi membuat kalian tidak nyaman berada disini, sungguh saya sangat minta maaf pak Nona, "


Pak Tedi duduk dekat dengan anaknya dan mengusap tangannya dengan perlahan, lalu beralih menatap wajah anaknya yang masih diperban dan pasti nanti saat dibuka akan sangat berbeda semoga saja anaknua tak akan kaget dengan wajahnya yang berubah.


"Milla kau lihat ada Pak Andre dan Nona Syifa kemari, dia ingin menengokmu kau segera sadar, kita bangun lagi keluarga kita ya kau yang seperti ini tidur terus menerus bagunlah nak Ayah sungguh tak bisa hidup tanpamu, maafkan ayah sudah salah menikah kan mu dengan laki-laki ini dan tak memikirkan perasaanmu kedepannya maafkan ayah ya, ayah seharusnya menikahkan mu dengan laki laki yang kau cintai "


Ibrahim yang kesal segera pergi meninggalkan ruangan itu sambil mamangku Naura pergi dari sana, kalau dirinya tak pergi yang ada dirinya akan marah pada ayah mertuanya dan akan bertengar disana juga.


Sungguh dirinya marah atas apa yang dilontarkan oleh ayah mertuanya kalau dirinya ini tak pantas untuk Milla, dasar tua bangka yang bisannya mengatur dan memberi kesimpulan yang tak baik.


"Paman kok aku jadi gak enak gini ya, lihat deh suaminya Mbak Mila pergi tiba-tiba gitu, apa kita pulang aja kayaknya suasananya udah gak kondusif deh, aku jadi takut paman ah, ini kan masalah keluarga yang seharusnya kita gak boleh tau "bisik Syifa pada suaminya


"Tapi kita baru sebentar, masa kita langsung pulang itu lebih gak enak lagi Sayang ,sebentar lagi deh kita tunggu pak Tedi selesai bicara sama Mila yang lagi koma, nanti setelah berbincang-bincang sedikit kita pulang ya sebentar lagi ya sayang"


"Iya paman aku malu kalau seperti ini, mereka sedang bertengkar lalu kita ada di tengah-tengah perdebatan mereka, itu sungguh memalukan rasa-rasanya kita seperti wasit saja"


"Ka memang selalu ada-ada saja, memangnya kita ini pemain bola sudah-sudah siamlah Sayang nanti kalau kedengeran sama Pak Tedi kan lebih tidak enak lagi ya kan, kita hanya perlu diam dan tak ikut campur kita lihat saja, kita berpura pura tak dengar dan tak tau saja"


"Maafkan saya menjadi mengabaikan kalian berdua. Ayo duduk disana pak, nona "


Syifa dan Andre hanya menganggukan kepalanya dan duduk di kursi panjang yang ada di sana. Pak Tedi mengusap kepalanya dan menarik nafasnya dengan pasar, mereka berdua tadi sampai kaget saat pak Tedi berbicara, kan mereka sedang bisik bisik tetangga.

__ADS_1


"Saya menjadi bingung tuan , apa yang harus saya lakukan apakah benar untuk memisahkan mereka berdua, atau membiarkan mereka bersatu lagi, saya sungguh kasian dengan keadaan anak saya yang seperti ini"


"Sepertinya itu keputusan Milla? dan juga Ibrahim Bapak kan sudah tidak bertanggung jawab lagi atasnya lagi, semua tanggung jawab sudah ditanggung oleh suaminya Ibrahim, jadi lebih baik Pak Tedi diam saja dan tunggu keputusan dari Pak Ibrahim , itu sih pendapatku ya pak, bukannya aku merasa benar dan membela pak Ibrahim, karena seorang wanita jika sudah menikah itu akan menjadi tanggung jawab suaminya, jadi biarkan mereka berdua yang menentukan kebaikan rumah tangganya "


"Iya tapi kan aku masih Ayahnya aku masih berhak atas anak ku, anak ku diperlakukan seperti itu seharusnya aku lapor polisi saja y,a tapi aku kasihan dengan Naura takut dia tidak mempunyai ayah dan malah membenci ayahnya nanti dan juga membenciku, apa lagi ibunya tak menyayangiku"


"Iya kasihan Naura lebih baik pak Tedi pikirkan dulu terlebih dahulu. Bagaimana keadaan cucu Bapak jika nanti ditinggalkan ayahnya, bapak lihat sendiri kan Pak Ibrahim mengurus Naura dengan sangat baik bahkan Naura sangat tergantung padanya, jangan sampai Bapak memisahkan ayah dan anak itu mungkin untuk masalah Mila dan juga Ibrahim bisa dibicarakan lagi secara kekeluargaan tak usah membawa-bawa polisi dulu "


"Baiklah Pak Andre saya akan memikirkan semuanya semoga saja apa yang saya ambil , keputusan yang saya ambil baik untuk keluarga saya dan anak saya, dan saya juga mau minta izin padamu untuk tidak masuk beberapa hari untuk menjaga anakku ini di sini, aku belum bisa meninggalkan dia berdua dengan Ibrahim, aku tidak mau sampai semua ini terulang kembali dan membuat Mira terluka kembali. "


"Iya Pak tenang saja Bapak tidak usah takut saya akan memecat bapak, saya mengizinkan bapak untuk cuti terlebih dahulu, selama ini Bapak tidak pernah cuti kan, jadi saya setuju, saya dan istri saya membawakan buah-buahan untuk di sini maaf pak kami hanya membawa itu saja "


"Terima kasih Pak Andre Nona terima kasih, tak apa pak ini saja sudah cukup, ini cukup pak"


"Ya sudah saya dan istri saya pamit pulang dulu ya soalnya Nabil ditinggal di rumah bersama bi Nia takutnya dua rewel karena tak ada ibunya, nanti kapan kapan kami akan kemari lahi ya pak"


"Baiklah Pak Nona hati-hati di jalannya, terimakasih atas kunjungannya sungguh saya senang sekali"


Andre dan Syifa mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan Mila untuk pulang ke rumah, setelah keluar dari ruangan Milla, Syifa mempererat pegangan pada suaminya.


"Gimana sekarang paman udah enakan gak apa masih kepikiran tentang Mbak Mila, ayo cepat paman katakan sesuatu padaku jangan diam saja paman,"


"Agak sedikit tenang sih sayang , karena kan memang awalnya karena aku yang berbicara dan menegur mereka berdua aku masih merasa kalau semua itu gara gara aku sayang, aku masih sedikit kefikiran tentang semua ini, tentang kejadian ini"


"Sudah sudah kamu jangan memikirkan itu paman yang terpenting kamu udah minta maaf udah kita pulang ya, jangan banyak fikiran terus aah gak baik loh "


**


Sekarang Ibrahim dan anaknya sudah ada di kantin, dan duduk dimeja paling pojok, itu keinginan sang anak katanya biar bisa melihat taman.


"Kamu mau makan apa nak, ayo kita makan dulu nanti kita temui Mamahmu lagi ya, mau apa ayah yang akan memesankannya untuk anak ayah yang cantik ini "


"Naura tidak mau apa-apa Ayah, Naura ingin mamah bisa kembali seperti semula, mamah bisa berbicara lagi dengan Naura meskipun Mamah selalu membentak Naura, namun Naura tidak suka saat melihat Mamah tertidur begitu lama dan wajahnya diperban seperti itu. Ada apa sebenarnya dengan mama ayah. Kenapa harus di kasih perban mukanya dan juga badan Mamah juga biru-biru Apa itu bekas Ayah yang memukulnya "


Ibrahim menundukan kepalanya lalu memegang tangan anaknya " maafkan ayah yang sudah membuat ibumu seperti ini, jika kau membenci ayah, ayah tidak apa-apa kok Ayah menerima semuanya tapi jangan lupakan Ayah ya nak, jangan sampai itu terjadi karena ayah tak akan bisa hidup kalau kau melupakan ayah"


"Aku tidak akan mungkin melupakan Ayah aku menyayangi ayah. Kau adalah laki-laki hebat yang aku punya aku tidak mungkin melakukan itu , apakah Ayah khilaf sampai memukul mamah, apakah begitu ayah, akalu aya tak sengaja aku akan memaafkan ayah"


"Iya Ayah tak sengaja maafkan ayah ya, ayah tidak akan melakukan itu pada Mama lagi sekarang makan ya agar kau bisa menunggui Mamamu lagi di sana, ya makan yang banyak"


"Baiklah ayah aku akan memakan apa yang ayah pesan, aku menunggu mu ayah "


"Baiklah ayah akan memasan dulu, kamu disini dulu ya tunggu ayah "


"Baik ayah "


Ibrahim pergi akan memesan makanan namun dia melihat Liam dan juga seorang perempuan, Ibrahim segera mendekati mereka "tuan Liam " Liam mengalihkan pandangannya dan dengan cepat menguncah makananya.

__ADS_1


"Pak Ibrahim kau bersama siapa disini, bagaimana keadaan Milla apakah dia sudah baik baik saja "


"Aku bersama anakku di sini ingin makan, Milla masih sama tuan dan kau ini istrinya kenapa kalian berada disini apa ada keluarga yang sakit "


"Iya dia istriku ,Tora orang kepercayaanku dia tabrakan makannya kami ada di sini dan menjaganya juga, semoga Milla cepat sembuh ya pak"


"Tora apakah laki-laki yang besar tinggi benarkah itu, iya terimakasih atas doanya tuan "


"Iya itu kau pernah bertemu dengannya"


"Aku rasa kemarin aku bertemu dengannya dan dia menasehatiku ya kami bertemu. Aku turut berduka atas kecelakaan yang terjadi pada orang kepercayaanmu nanti kapan-kapan aku akan menengoknya ya, ada di ruangan mana dia "


"Ada di lantai 3 nomor 54 Ibrahim"


"Baiklah saya permisi dulu ya tuan. Saya mau pesan makanan dulu untuk anak saya "


"Ya silakan Pak Ibrahim"


"Itu suaminya Mila mas, perempuan yang suka mengejar ngejar kak Andre kan"


"Iya itu suaminya Mila"


"Suaminya tapi sepertinya dia lebih di atas dari Mila ya dan itu apakah memang anak mereka berdua atau bawaan dari suaminya "


"Tidak itu anak Mila dan Pak Ibrahim memang Mila menikah dengan orang yang lebih dewasa darinya mereka itu dijodohkan oleh pak Tedi, dan Milla tak mencintainya makannya dia mengejar ngejar Andre"


"Oh begitu ya , ya sudah kau habiskan makanmu nanti kita ke atas lagi lihat keadaan Tora. Apakah dia sudah bangun, karena lama sekali dia tak bangun-bangun "


"Iya Sayang tunggu dulu sebentar lagi aku akan menghabiskannya"


**


"Ini makanan dari siapa Airin "


"Ini dari nyonya Zeline tadi dia ke sini dah memberikan kita makanan"


"Lalu sekarang nyonya dimana kenapa tidak ada di sini, kenapa kau tidak menyuruhnya untuk diam di sini, kenapa kau membiarkannya begitu saja kau ini bagaimana sih Airin "


"Tidak ibu katanya di ingin makan di kantin bersama tuan, sekalian katanya bawa sarapan untuk tuan dan juga untuk kita, aku sudah menyuruhnya disini tapi dia tak mau "


"Baiklah nanti ibu akan berterima kasih pada nya. nyonya baik sekali bertolak belakang dengan suaminya "


"Iya ibu, mari kita makan, "


"Iya sayang ayo kita makan "


Mereka berdua melahap makanan itu dan sesekali menegok kearah Tora takut takut Tora bangun tapi belum juga siuman. Semoga saja sebentar lagi akan sadar.

__ADS_1


__ADS_2