
Pagi pagi sekali Zeline sudah bangun dengan sang anak yang sudah rapih dan tak lupa suaminya pun sudah rapih, sekarang dirinya sedang menyiapkan bekal untuk mereka berdua, entah kenapa sang anak tiba tiba ingin ikut papihnya.
Zeline segera memberikan bekalnya itu pada sang suami "ini mas jangan lupa ya makan, awas disana Lucas jangan nakal ya "
"Iya mamih gak akan kok "
"Tenang sayang Lucas sama aku akan baik baik aja"
"Iya iya mas, aku cuman takut dia malah jadi ganggu kamu gitu "
"Gak akan sayang, kita berangkat dulu ya "
"Iya hati hati mas "
Setelah berpamitan mobil itu langsung melaju pergi meninggalkan rumah, sedangkan Zeline akan masuk kedalam rumah, sekilas dirinya melihat Airin yang sedang mengendong sang anak.
Namun Zeline tak menghiraukannya sama sekali dirinya langsung saja masuk kedalam rumah dan menutup pintunya.
Airin yang melihat Zeline yang berbeda hanya bisa tersenyum kecut dan melihat suaminya menghampirinya, tiba tiba saja Tora mencium keningnya dan juga sang anak.
Airin awalnya tegang, namun rileks kembali dan menatap suaminya "Airin aku sudah memasak untuk mu, kau segeralah makan ya, jangan telat makan aku akan bekerja dulu, kalau ada apa apa kau teriak saja ya, aku ada digerbang sana paling pojok "
Airin hanya mengangguk saja dan Tora pun langsung pergi, tiba tiba saja senyum malu malu Airin keluar, dia tak menyangka suaminya yang kasar bisa seperti ini, bisa baik padannya.
**
Dirumah Jo, mamihnya dan Jo malah perang dingin, sekarang Jo dan suami tak makan dimeja makan namun di kamar dan juga, ibunya Jo juga sama gak makan di meja makan namun ditaman sendirian.
"Sayang kok malah jadi perang dingin sih sama mami udahlah kita ngalah ya"
"Gak bisa Yan kalau aku terus ngalah yang ada Mami makin aneh-aneh aja sama aku, ngelarang ini ngelarang itu pokoknya aku gak mau deh nanti dia makin ngatur-ngatur rumah tangga kita, kamu tahu sendiri kan Mami kalau udah kita yang duluan minta maaf dia akan balik lagi ke awal ke sifatnya yang awal ingin mengatur rumah tangga kita, udah kata aku juga yuk pindah rumah aja aku gak mau di sini"
"Boleh kita pindah rumah tapi kamu juga harus baik-baik dulu dong sama Mami kamu, emangnya dengan kita pindah rumah Mami kamu gak bakal atur kamu sama aja kan kita mau satu rumah ataupun beda rumah tapi tetap Mami kamu pasti akan atur kamu, ini cucu pertamanya jadi mungkin dia khawatir takut kamu kenapa-napa"
"Iya aku tahu ini anak pertama cucu pertama tapi setidaknya bolehlah aku bekerja hanya beberapa bulan lagi, aku juga kan kalau di rumah jenuh Yan, aku juga kan gak mungkin diam aja aku tuh ya pengen agak bebas aja, aku juga di kantor gak banyak kok kerjaannya, aku gak naik turun tangga kok ada lift dan pak dosen juga gak pernah kasih kerjaan ke aku yang banyak banget yang numpuk banget, karena sekarang tuh bukan aku aja asistennya"
"Ada tambahan lagi asistennya siapa"
"Tora anak buahnya dia juga ikut bantu kata pak dosen sih biar aku gak terlalu banyak kerjaannya "
"Ya udah deh syukur Sayang ayo cepet abisin makannya nanti aku antar kamu ke kantor ya biar Mami kamu tuh gak bicara terus"
Jo mengangguk dan segera mempercepat makannya, agar tak telat sih, karena dijalanan pasti akan sangat macet sekali.
**
"Sayang kamu dengar ya, diem duduk disini jangan kemana mana, duduk anteng, papikan udah bawain mainan yang banyak buat kamu "
"Iya papih Lucas diam, lucas tak akan nakal papih bekerja saja ya "
"Baiklah "
Tiba tiba pintu terbuka ternyata itu Jo "loh loh ada Lucas, Lucas juga sekarang udah mulai kerja ya "
"Hallo tante Jo, iya Lucas mau ikut papih kelja "
"Bagus sayang, yaudah tante kerja dulu ya "
Lucas menganganggukan kepalanya dan kembali fokus bermain robot robotan.
"Pak pagi ini kita akan ada meeting "
"Baikalh ayo Jo segera siapakan dokumennya "
"Baik pak "
__ADS_1
"Sayang kamu gak apa apa kan diem disini, papih sebentar kok, kamu jangan kemana mana ya, papih beneran gak akan lama "
"Iya papih "
"Apa Lucas berani sendiri "
"Berani papih "
"Yaudah sebentar ya nak, ayo Jo "
Jovankan mengangguk dan segera mengikuti Liam, sebelumnya dia sudah melambaikan tangan pada Lucas, dan Lucas langsung melambaikan tangan ya Pula, dia anteng sendirian dan takut.
**
Gavin yang masih tertidur ditumpukan orang orang mati itu segera bangkit dan pindah ketempat tidurnya membawa salah satu mayat perempuan yang dari semalam dirinya selalu peluk.
Gavin membenahi rambut perempuan itu, dan membersihkan wajahnya, lalu memegang tangan perempuan itu dan menciumnya.
"Selamat pagi, apakah tidur mu nyenyak, bagaimana malam tadi kau tidur dengan ku, aku memeluk mu dengan erat bagaimana hangat kan pelukan ku, suami saat saat kita keluar aku pasti akan membiayai mu dan memberikan makanan yang banyak untuk mu "
"Kau tahu baru kali ini aku tidur nyenyak saat ditemani olehmu dan juga teman-temanmu ini, waktu aku sendirian aku tak pernah nyenyak aku kesepian dan ya sangat sunyi sekali di sini, tak ada suara apapun tapi semenjak ada kalian aku jadi sangat senang akhirnya aku mempunyai teman"
"Tunggu aku menyimpan makann untuk kita "
Gavin segera mengambil makanan itu dan juga minumnya, lalu segera memekannya dan sesekali menyuapi perempuan itu "ayo kunyah makan aku tau kau pun pasti lapar seperti aku, ayo dari pada kau tak akan diberi makan oleh Liam dia, dia itu jahat makannya kau harus segera makan ayo makan makana yang banyak, ayo makan "
Namun ya namanya juga sudah meninggal mana mungkin bisa makan, Gavin yang marah segera menurunkan perempuan itu dan cemberut.
"Aku marah padamu kau sama sekali tidak menghargai aku yang telah menyembunyikan makanan ini untuk kita berdua. Seharusnya kamu makan bukannya mendiamkannya saja di dalam mulutmu. Kau jahat ya aku sudah sayang padamu aku sudah percaya padamu kalau kau akan menjadi teman hidupku, tapi kau malah seperti itu , kau tak menjawab semua perkataanku .Aku sedih tau "
Namun lagi lagi suasana hati Gavin kembali berubah dia kembali memangku perempuan itu lagi dan memeluknya kembali dengan sangat erat.
"Jangan tinggalkan aku ya, kau tetap disampingku, jangan kemana mana ok, diam disini maka aku akan selalu bersama mu, aku tak akan mengkhianati mu sedikit pun kau tenang saja ya "
**
Zeline segera mengangkatnya "Hallo siang tante "
"Hallo siang Line, Line kamu bisa bantu tante "
"Bantu apa tante "
"Bisa tidak kau beritahu Jo untuk keluar dari pekerjaannya dia kan sedang mengandung, tante hanya takut dia kenapa-napa seharusnya dia tuh diam di rumah jangan kemana-mana tiduran saja jangan kemana-mana, kenapa sih dia itu susah sekali diberitahu udah Tante bilangin jangan bekerja untuk apa dia punya suami kalau dia masih bekerja. Memangnya suaminya itu tidak bisa menafkahinya, padahal tante saja dulu waktu hamil olehnya tante sama sekali tidak bekerja tante diam di rumah , suaminya tante selalu melarang tante, dan tante menurutinya, namun Jo ini kenapa sangat sulit "
"Nanti coba deh Zeline bicara sama Jovanka siapa tahu dia mau ya dengarin kata-kata Zeline "
"Ya udah pokoknya tante minta tolong ya sama kamu bicara sama Jovanka pokoknya tante tuh pengennya dia tuh diam di rumah gak kemana-mana, gak kerja gak mikirin apa-apa udah kan ada suaminya yang kerja dia gak usah repot-repot juga cari uang kalau masih gak cukup uang suaminya kan ada uang Papinya uang tante kayak orang gak punya aja dia tuh ya harus bekerja segala"
"Emm iya deh tante nanti Zeline coba bicara sama Jo "
"Yaudah makasih ya Line semoga berhasil tante matiin ya "
"Iya tan "
Zeline langsung meyimpan ponselnya dan menatap ke Bi Sari " bi nanti bungkus ya kuenya bungkusnya, aku mau bawa kekantornya mas Liam, jangan lupa bibi juga sisain buat disini, buat bibi sama yang lainnya ya, saya mau siap siap dulu "
"Siap nyonya "
***
"Kenapa ya papih lama banget, aku udah bosan disini, kemana papih sebenarnya sih, meetingnya dimana sih, Lucas udah bosan pengen sama mamih aja, papih gak pulang pulang "
Lucas segera bangkit dari tempat duduknya, dirinya celingkak celinguk lalu melihat kearah luar dan tak ada siapa siapa, namun karena dirinya bosan akhirnya Lucas keluar menjelajahi lantai papihnua bekerja, berjalan jalan.
Banyak karyawan yang sedang bekerja melongo melihat kearah Lucas ada anak kecil disini, yang sedang lari larian, mereka yang baru ingat kalau itu adalah anak tuanya akan mengejarkanya namun Lucas sudah tak ada entah pergi kemana.
__ADS_1
Lucas masuk kedalam lift memencet dengan asal, lalu sampai la dilantai atas, dia binggung kenapa banyak orang, namun dirinya sama sekali tak mengenalnya, karena memang kesehariannya hanya bersama mamihnya saja dan jug Bi Sari, Lucas menjadi takut.
Dia mundur mundur dan menabrak seseorang, Lucas yang takut segera berlari kembali, lalu menabrak lagi orang lain, dan pada akhirnya Lucas menangis "hik hiks mau ke papih, mau ke mamih "
Pak satpam yang melihat anak majikannya menangis segera menghampirinya "tuan kecil kenapa nangis, dimana papihnya "
Lucas masih mengis dan mengelengkan kepalanya "yaudah ikut pam satpam aja ya "
"Gak mau, aku gak mau pengen sama papih aja "
"Ayo pak satpam anterin "
Namun Lucas menggelengkan kepalanya lagi dia ingat apa kata maminya, kalau ada orang asing dirinya tak boleh ikut ke mana-mana harus diam saja.
"Ada apa ini "
Lucas yang mendengar suara itu segera mengalihkan pandangannya " mamih "
Lucas langsung memeluk kaki mamihnya dan Zeline langsung memangkunya.
"Maaf nyonya tadi Tuan kecil tiba-tiba ada di sini makanya saya mau anterin ke Tuan Liam tapi dianya gak mau "
"Ya udah makasih ya pak "
"Iya nyonya saya permisi "
"Sayang kenapa kamu bisa ada disini kenapa kamu bisa ada dibawa sini, papih kemana "
"Papi sama tante Jo lagi meeting Mami .Telus Lucas jenuh pengen main jadi Lukas kelual lali-lalian terus langsung aja deh ke bawah sini. Lucas takut disini banyak olang mamih "
"Kalau ikut sama Papi kerja Lucas harus diam di ruangannya meskipun januh atau bosan Lucas diam aja gak boleh keluar dari ruangan Papi, kalau kenapa-napa kalau Lucas diculik sama orang gimana, kasihan kan Papi nanti cari-cari jauh"
"Heeem maafin Lucas "
"Yaudah kita keruangan papih lagi ya "
Segera mereka naik lift dan tak lama kemudian sampai juga, Zeline menurunkan sang anak dan berjalan kembali kerungan sang suami.
Saat dirinya akan masuk pintu terbuka dengan wajah Liam dan Jo yang panik.
"Sayang kamu ada disini dan Lucas kok bisa ada sama kamu "
"Ya aku mau main aja kesini, dan Lucas ada dibawah tadi "
Liam langsung berjongkok dan menatap anaknya "kenapa Lucas pergi gitu aja "
"Bosan "
"Ya sudah yu masuk kedalam, ayo sayang masuk "
Mereka semua segera masuk lagi dan Zeline membuka kuenya, "ayo cobain Jo mas aku tadi sama bi Sari bikin ini "
Mereka berdua segera mencobannya dan anaknya di suapi oleh papihnya, Zeline mengambil beberapa potong dan menyimpannya di meja Jo.
"Jo aku mau bicara sesuatu sama kamu "
"Apa Line "
"Tadi mami kamu nelpon katanya buat aku bicara sama kamu biar kamu keluar dari kerjaan kamu, kalian tuh ada masalah apa sih , kamu ya udah deh kayaknya turutin aja deh mau Mami kamu dari pada kamu nanti malah berantem sama dia"
"Mamih itu parah banget ya padahal kan aku udah bilang kalau aku gak mau berhenti kerja, kamu tahu kan aku tuh suka jenuh kalau diam terus di rumah. Padahal aku baik-baik aja kerjaan di sini pun sedikit gak terlalu banyak dan gak terlalu buat aku capek, aku baik-baik aja aku bisa jaga bayi ini Mami aku tuh pengennya tuh aku diem di rumah hanya Riyan aja yang kerja, emang Riyan bisa biayain aku semua yang aku mau pasti Riyan bisa biayain. Tapi kan aku tuh pengen kerja pengen mengasah otak aku seberapa jauh sih aku itu"
"Iya aku tahu tapi kan biasanya ya mami kamu tuh pengen yang terbaik buat kamu, dia itu pengen kamu tuh diam di rumah kamu kan lagi mengandung anak pertama jadi mungkin dia khawatir takut kamu terjadi apa-apa makanya dia cerewet kayak gitu"
"Iya dia itu terlalu berlebihan udah deh kalau misalnya nanti dia telepon kamu lagi gak usah diangkat deh, kalau misalnya nanti kamu main ke rumah nanyain kenapa kamu gak diangkat atau gimana kamu cari alasan aja, aku juga udah capek tahu gak sih di rumah diatur-atur terus aku tuh berumah tangga tapi kayak yang gak berubah tangga gitu karena diatur-atur terus sama dia .Aku tuh pengen atur rumah tangga aku sendiri"
__ADS_1
Zeline mengangguk dan menepuk bahunya Jo.