
Riyan yang memang pulang malam segera keluar dari dalam ruangannya, saat sedang berjalan kearah mobilnya tiba tiba ada yang memangilnya.
"Riyan "
"Eh iya Chiko kenapa "
"Ini tolong anterin Dini dong, kasian gak ada yang nganterin gue harus temenin Lala ni kasian dia dirumah sendirian. Ayolah bantu gue sekali ini aja, biasanya Dini gue yang anterin tapi ini darurat banget "
"Tapi gue gak bisa "
"Ayolah Yan, cuman anterin aja kok, Jo pasti gak akan marah kalau marah biar gue nanti yang jelasin lo tenang aja ya"
Sebelum menjawab Riyan menghembuskan dahulu nafasnya, lalu menggukan kepalanya.
Dini yang senang segera berlari kearah Riyan dan melambaikan tangannya kearah Chiko. Mereka berdua sekarang sudah ada didalam mobil, hanya keheningan saja.
Namun tiba tiba Dini memegang tangan Riyan yang sedang menyetir. Riyan yang refleks segera melepaskannya.
"Ada apa Din "
"Kenapa sih kamu diem aja pak. Apa bapak takut ketauan lagi istri bapak, santai dong pak santai jangan tegang"
"Engga kok saya gak takut sama istri saya, seharusnya istri saya yang takut sama suaminya, masa iya suami tunduk sama istri gak banget deh "
"Nah gitu dong pak, harus berani jangan jadi pengecut, mending kita cari makan dulu yu pak, laper ni pak"
"Hemm cari makan kemana nih, kebetulan saya juga belum makan nih sama lapar "
"Yaudah deh ayo ketempat aku sering makan aja ya, tempatnya cocok deh buat kita "
"Ok deh, kamu tunjukin arahnya aja ya "
"Iya pak "
Riyan dengan gampangnya bisa tergoda lagi oleh perempuan itu, tanpa memikirkan orang yang dirumah orang yang sedang menunggunya.
Apa yang sebenarnya ingin ditujukan Riyan, kepada perempuan ini, kenapa harus setuju jika tadi awal menolak saat diminta untuk mengantarnya.
**
Jo yang dari tadi sudah menunggu suaminya sampai mengantuk, malahan dirinya sudah menyiapkan makanan untuknya. Namun orang yang ditunggu tunggu gak ada.
"ist Riyan kemana sih, aku kan udah masak, padahal aku mau baik baik aja nih hubungan tapi Riyan malah gak pulang pulang, telfon aja deh "
Riyan yang mendapati telfon dari istrinya segera melihat Dini yang sedang memilih milih makanan.
"Kenapa pak, angkat aja aku bakalan diam, gak akan bicara sedikit pun pak"
Riyan segera memencet tombol hijau "hallo sayang kenapa "
"Kamu dimana, kenapa belum pulang aku udah masak buat kamu , gak biasanya kamu pulang malem kaya gini Yan"
"Aduh maaf sayang. Aku lupa ngabarin kamu. Aku masih ada metting nih di luar dan sekarang aku lagi makan nih sama temen temen yang lain, kamu tidur duluan aja ya nanti aku pasti sempetin buat makan masakan kamu ya sayang, pokoknya nanti pagi kamu akan lihat kalau masakan kamu udah habis aku makan semuannya yah"
"Ok aku tunggu ke pulangan kamu ke rumah mas, jangan macam macam naluri perempuan itu sangat kuat meski aku tak bersama kamu 24 jam, jadi jangan main main sama perempuan "
Sambungan pun terputus, Riyan bernafas lega karena Jo tak mencurigainya untung saja Dini pun diam saja dari tadi tak banyak bicara.
Andre yang duduk tak jauh dari tempat duduknya Riyan dan juga Dini hanya diam memperhatikan tanpa mau mendekatinya sama sekali. Awalnya dirinya menyangka salah lihat, namun setelah mendengar suarannya dan membawa bawa nama Jo dirinya sadar kalua itu memang bedar Riyan suami Jo.
"Dre kamu kenapa " tanya temannya Mila
Mila adalah teman sekolahnya dulu, dan temannya juga Liam, mereka berdua tadi tak sengaja bertemu dan akhirnya jadi makan bersama dan juga ngobrol membicarakan masa lalu mereka yang menyenangkan.
"Engga kok Mil, dimakan lagi dong Mil "
"Iya Dre, gimana nih kabarnya Liam laki laki terdingin disekolah kita itu dah lama gak denger kabarnya tuh "
__ADS_1
"Dia udah nikah sekarang, malahan udah punya anak "
"Wah wah bisa juga ya Liam punya pasangan, aku kira dia gak akan punya pasangan tapi hebat sih perempuan yang bisa naklukin hatinya Liam dan beruntung juga perempuan itu dapetin Liam, Liam itu kan dari dulu anti banget sama perempuan, malahan kalau dideketin malah marah kan"
"Iya bener banget, gimana kamu sendiri udah nikah belum Mil"
"Udah tapi pernikahan aku gagal dan aku belum ada niat untuk menikah lagi takut ah, takut kejadian lagi kaya yang dulu "
"Ya fikirannya jangan gitu dong, harus positif siapa tau kamu akan mendapatkan yang lebih dari suami kamu yang dulu, jangan negatif dong fikirannya "
"Hemm iya Juga, yaudah makan yu makan sampai lupakan sama makanannya kalau udah ngobrolin masa lalu"
"Iya ayo "
Mereka mengakhiri obrolannya dan fokus memakan makanan mereka, dengan Andre yang masih mengintip intip kemesraan Riyan dan juga perempuan itu, sungguh tak habis fikir dengan Riyan, yang berani beraninya menghianati adiknya awas aja, akan habis dia nanti.
***
Riyan yang baru pulang segera masuk kedalam rumah dan malah melihat istrinya yang sedang tertidur dikursi "ya ampun sayang kenapa kamu tidur disini coba, padahal tunggu aja dikamar gak usah kaya gini, nyiksa nyiksa diri sendiri aja kamu ini"
Riyan dengan perlahan lahan mengangkat istrinya dan membawanya masuk kedalam kamar membaringkannya di tempat tidur.
"Yang nyenyak ya sayang tidurnya, aku turun kebawah dulu buat nyicipin masakan kamu, maaf ya aku udah bohongin kamu, aku gak1 bermaksud apa apa kok sayang, aku hanya perlu teman berbicara itu saja sayang"
Riyan membuka dahulu jasnya dan pergi dari kamarnya untuk turun kebawah, Jo yang memang sudah terbangun membuka kedua matannya, bangkit mengambil jas suaminya dan menghirup aroma yang menempel dijas suaminya.
"Hemm ternyata kamu masih mau main main sama aku ya mas, apa yang kamu maksud dengan kamu yang bilang tadi udah bohongin aku, apa kamu tadi gak pergi meeting dan ini dijas kamu wangi siapa yang nempel"
Jo segera melempar jas itu dan mengambil ponsel Riyan yang tergeletak begitu saja.
Namun tiba tiba ponsel itu berdering dan itu telfon dari Dini dengan cepat Jo mengangkatnya.
"Apakah perlu seorang wanita jombo sepertimu menghubungi suamiku, apakah kau tidak tau malu malam malam menelfon suami orang " Jo langsung saja pada intinya kesal dirinya ini.
"Eh maaf bu, saya menelfon pak Riyan ingin menayakan hal penting tentang pekerjaan karena besok ada metting, apa bisa ibu berikan ponselnya pada pak Riyan"
"Maaf bu kalau bicara jangan asal nuduh ya, kalau merasa terganggu bicara baik baik bu saya juga akan mengerti, jangan seperti ini jangan ibu sangkut pautkan masalah tadi siang dengan sekarang"
"Bagaimana saya mau bicara baik baik dengan wanita pengoda seperti kamu yang ada kamu ngelunjak lagi, siapa bilang saya masih menyangkut pautkan masalah tadi, sama sekali tidak"
Namun Dini tak menjawabnya langsung mematikannya saja. Jo yang kesal segera menyimpannya lagi dan kembali lagi tidur takut nanti suaminya segera datang kemari. Dan ketaun kalau dirinya habis memarahi calon pacarnya.
**
Pagi pagi sekali Andre menemui Zeline yang sedang ada didapur membantu bi Sari menyiapkan sarapan. Itu sudah rutinitas paginya tenang saja Lucas bersama papihnya tak mungkin dirinya ini meninggalkan anaknya sendirian.
"Line kesini sebentar deh kakak mau bicara ini penting banget"
"Iya kenapa kak Andre, sebentar ya"
Zeline dengan perlahan lahan berjalan kearah kak Andre dan segera duduk berhadapan dengan kak Andre.
"Line aku kemarin liat suaminya Jo lagi berduan sama cewe, tapi kakak juga gak tau siapa itu, kakak baru pertama liat deh cewenya "
"Hah emang kakak kemarin kemana bisa ngeliat kak Yan apa kakak yakin"
"Kemarin kakak lagi makan di suatu cafe dan kakak gak sengaja liat suami Jo lagi berduan sama perempuan dan cukup akrab sampai sampai pegangan tangan, tadinya kakak mau tegur tapi kayanya belum saatnya deh. kakak juga awalnya gak yakin tapi waktu di liat liat lagi itu emang beneran suaminya Jo"
"Terus Jo udah kakak kasih tau "
"Belum sih, kakak gak mau kalau nanti Jo sakit hati masalahnya kan mereka baru nikah gitu Line, kakak gak mah nantinya dituduh sebagai perusak rumah tangga orang lain "
"Yaudah nanti aku akan coba bicara dulu sama kak Yan, aku bakal tanyain kedia baik baik, tapi kakak tenang aja aku gak akan bawa bawa nama kakak kok "
"Sip deh Line kalau gitu, kalau bener emang dia selingkuh liat aja kakak gak akan tinggal diem "
"Iya kak, aku lanjut masak ya "
__ADS_1
Andre segera menganguk dan pergi lagi kedalam kamarnya, belum mandi nih bau jigong.
Zeline didapur sampai kefikiran masa iya kak Yan kembali berulah, apa dia tak kapok dengan kejadian yang dulu, sampai sampai Jo ninggalin dia lama banget, masa iya terulang kembali sekarang.
**
Zeline yang sudah siap akan pergi kekantor kak Yan, segera turun dari kamar dan masuk kedalam mobil, dirinya sengaja tak meberi tau siapa siapa, agar Jo tak tau juga nantinya. Takutnya nanti mas Liam keceplosan lagi bilang sama Jo bisa gawatkan nanti.
Saat sudah sampai dikantor kak Yan, Zeline segera turun dan berjalan kearah ruangan Kak Yan, staff disini sudah tau siapa dirinya jadi tak ada yang bertanya tanya lagi.
Zeline segera mengetuk pintunya namun tak ada sahutan dengan perlahan Zeline membuka pintu ruangan kak Yan, dan alangkah kagetnya saat melihat kak Yan sedang memangku seorang perempuan.
"Oh jadi seperti ini ya kak Yan dibekalang Jo, bekerja sambil memangku perempuan apa tak pegal, apa tak risih dan apakah tak malu, bagaimana kalau Jo yang melihatnya pasti Jo akan menceraikan kakak sekarang juga" ucap Zeline sampai mengagetkan mereka berdua.
Dini segera bangkit dan akan pergi namun "kau diam siapa namamu hah, oh ya tak penting untuk ku diam kau duduk lagi lah tak usah malu dengan ku "
Namun Dini hanya diam mematung dan malah kembali menatap Zeline.
"Line kakak bisa jelasin, kamu jangan salah faham ini gak seperti yang kamu lihat, jangan bilang sama Jo, kamu tau kan kakak dapetin Jo itu sulit banget "
"Iya aku tau terus kakak kenapa dibelakang Jo lakuin hal yang ga pantes, kalau memang Kakak belum siap menikah dengan Jo, kenapa harus menikah, kalau kakak memang masih ingin bebas jangan menikah "
"Kakak udah siapa makannya kakak nikahin Jo , kamu Din keluar saya mau bicara bedua dengan Zeline "
"Sebentar kak " Zeline segera berjalan kearah Dini dan sekarang sudah berhadapan dengan perempuan itu.
Zeline dengan sengaja menginjak kaki Dini lalu menampar pipinya "jangan berani beraninya kau menghancurkan hati sahabatku atau kau akan tau akibatnya jika bermain main dengan ku dan menyakiti sahabatku "
Dini tak banyak bicara langsung pergi sambil membanting pintu tanpa malu oleh siapa pun.
"Jadi apa yang mau kaka katakan apa yang aku yang harus dengar "
"Kamu tenang dulu dong, jangan emosi dengerin kakak dulu baik baik ya, kakak bakal ceritain semuanya."
Zeline dengan patuh segera duduk dengan wajah masamnya enggan menatap kak Yan.
"Jadi gini "
Flashback
Dini tiba tiba masuk dan kembali menghampiri Riyan, tersenyum dengan senang dan seperti biasa dia akan memegang tangan Yan terlebih dahulu.
"Apa yang kamu lakukan, apa lagi "
"Bapak jangan galak galak kaya istri bapak aja galak banget, kemarin malem aku nelfon sama bapak tapi yang angkat istri galak bapak, dia marah marah sama aku, apa bapak gak mau gitu marahin dia lagi "
"Hah ngapain kamu nelfon saya, terus kamu bicara apa aja sama istri saya "
"Tenang saya gak bilang apa apa, saya hanya bilang kalau saya ada keperluan pekerjaan eh malah marah marah, saya kan mau tau kabar bapak gimana apa udah sampai, terus baik baik aja, saya niat nya baik kok pak, gak ada niat jahat sedikit pun tapi istri bapak nyerocos aja gak ada remnya, maki maki saya lah. bicara ini lah bicara itu lah pokoknya istri bapak keterlaluan banget "
"Ya wajar lah, kamu gak sopan hubungin suami orang malem malem, gak ada kerjaan banget sih kamu, denger ya kamu jangan seolah olah kita ini punya hubungan, kamu ini kenapa sih, saya baik sama kamu karena kamu adalah asisten teman saya gak lebih, tapi kenapa kamu malah anggapnya kita ini punya hubungan yang spesial "
"Terus selama ini bapak baik sama saya karena bukan karena cinta sama saya gitu "
"Enggalah saya cuman sayang dan cinta sama istri saya seorang "
Dini tanpa banyak Bicara duduk dipangkuan Riyan "apa ini turun kamu Din gak sopan ya "
"Gak saya gak mau pak saya gak mau pokoknya "
"Nah gitu Line ceritanya, percaya sama kakak, kakak gak mungkin gitu aja selingkuh sama perempuan lain "
"Entahlah aku binggung kak, aku pulang ya " Zeline segera bangkit dan berjalan kearah pintu namun.
"Line kakak mohon "
Namun Zeline tak mengiyakan atau tidak dia langsung melengos pergi.
__ADS_1