Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Kalau saja


__ADS_3

Nabil baru ingat dia baru saja meninggalkan sesuatu barang penting ya di pertemanannya , dengan cepat Nabil masuk lagi dan saat ia membuka pintu. Pintunya terkunci.


Segera Nabilmengambil kunci cadangan dan masuk, ternyata di dalam memang sudah tidak ada siapa-siapa jadi Syifa kemana.


"Dia ke mana, tadikan lagi makan, sekarang tiba-tiba sudah tak ada saja, kemana tu anak perginua cepet banget"


Nabil segera masuk dan mengecek semua buku-bukunya dan melihat-lihat di meja belajar yang menunpuk, tapi tak ada. Oh iya dia baru ingat kalau makalahnya itu ada di dalam kamar Syifa.


Bergegas mengambil mengecek makalah itu, namun tiba-tiba ada sebuah benda yang membuatnya sangat penasaran saat Nabil mengambilnya "ini tespek Apakah Syifa hamil"


Yang Nabil tau cuman tespek, namun dia tak tahu tentang garis 2 itu, segera mengecek di Google dan membaca apa itu garis 2, saat itu tiba-tiba saja tubuh Nabil lemas dia tak bisa berpikir apa apa.


"Apa secepat itu Syifa bisa hamil, padahal kan cuma satu kali aku lakuin sama dia "


Namun dirinya sudah berjanji akan bertanggung jawab pada Syifa, dengan cepat Nabil menelpon Syifa. Namun tak ada satupun Panggil yang terjawab.


"Kamu ke mana si Syifa,kamu tuh lagi hamil kenaapa sih pergi pergi kayak gini dan kenapa juga kamu nggak bilang sama aku "


Segera Nabil mengecek di mana lokasi Syifa dan akhirnya ketahuan, memang sengaja Nabil melakukan itu agar jika ada apa-apa dia bisa melacak di mana keberadaan Syifa.


Nabil yang kaget melihat keberadaan Syifa segera bergegas pergi dan akan menyusul Syifa.


"Apa kenapa dia masuk ke rumah sakit aborsi, appa yang dia lakukan apa dia akan menggugurkan anak ku, tak habis pikir apa sih yang ada dipikiran Syifa itu "


Nabil di jalan menjalankan dengan ugal-ugalan tak menghiraukan semua caci maki dan umpatan dari setiap orang yang Nabil klakson, dia nggak mau kalau sampai kehilangan anaknya, Kenapa juga Syifa bisa melakukan hal yang seharusnya tak dilakukan.


Sedangkan Syifa sedang menunggu bagiannya dipanggil. Tak lama kemudian namanya dipanggil dengan tangan yang dingin dan berkeringat, Syifa berjalan dengan perlahan lalu masuk pintu pun tertutup.


Nabil yang sudah sampai bergegas turun berlari masuk kedalam rumah sakit dan mencari di mana ruangan aborsi lalu dia bertemu dengan seorang suster "Suster saya ingin menanyakan pasien bernama Syif, dia melakukan aborsi di sini apakah saya boleh tahu di mana ruangannya"


" Mohon maaf tuan siapanya nona Shifa ya "


"Saya calon suaminya sus, cepet dimana ruangan Syifa sekarang"

__ADS_1


"Oh Nona Shifa sedang diperiksa dan akan segera melaksanakan aborsi tuan ,dia ada di ruangan nomor 4 di sebelah kanan paling pojok tuan "


"Terima kasih"


Nabil segera berlari dengan kencang membuka pintu nomor 4, Syifa sedang berbaring akan segera melakukan tindakan yang sangat membuat dirinya marah. Dengan nafas yang terengah-engah Nabil segera menggusur Syifa dan keluar dari tempat itu .


Shiva yang ketahuan hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menangis, tak tahu harus berbicara apa pada Nabil. Di dalam mobil Nabil memukul-mukul stir melampiaskan semua kemarahannya dia tak mau sampai dirinya harus melampiaskan semuanya pada Syifa dia nggak mau.


"Udah Nabil udah Kenapa kamu kayak gini, kenapa kamu sakitin diri kamu sendiri "


"Terus aku harus gimana, apa aku harus pukul kamu gitu0 aku aku harus marah marah sama kamu gitu. Kenapa kamu lakuin itu, kalo memang dari awal kamu nggak mau punya anak dari aku, kenapa kamu nggak pernah dengerin kata-kata aku yang nggak boleh pergi sama Kim"


Shifa tidak bisa menjawab dia hanya menangis menumpahkan rasa bersalahnya, Ia baru sadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah.


" jawab jawab bukannya menangis aku butuh jawaban bukan untuk mendengar tangisan mu, apa maksudmu melakukan ini semua "


"Manfaat aku maafkan aku Nabil, aku takut aku takut aku belum siap buat punya anak, dan aku juga bingung mau bilang apa sama Mami dan aku juga bingung gimana cara bilangnya, sama kamu juga kalau nanti aku bilang, sama kamu dan kamu nggak mau tanggung jawab aku harus gimana"


"Dari awal aku udah bilang sama kamu kalau aku akan tanggung jawab Apapun yang terjadi Syifa aku yang akan tanggung jawab, aku yang akan menjelaskan semuanya kepada orang tua kita, kau tak usah fikirin itu. Kenapa kamu lakuin hal bodoh kayak gini, kalai aja aku telat datang ke sini dan aku tadi nggak ketinggalan makalah ,mungkin kamu udah bunuh anak aku Syifa dan aku enggak akan tahu kalau aku selama ini punya anak dari kamu "


"Kalau emang kamu belum siap ya udah nggak apa-apa biar aku aja yang ngurus sendiri anak ini, setelah lahir aku akan mengambil anak ini aku yang akan urus dia sendirian, aku nggak akan ganggy kamu dan aku akan bilang sama anak ini kalau ibunya gak ada, kamu tenang aja aku bisa urus diri sendiri tanpa kamu "


"Bukan begitu Nabil Aku juga sayang sama anak ini"


"Sayang kamu sayang ya, kalau kamu Sayang enggak mungkin kamu pengen gugurin anak ini. Kalau kamu memang sayang enggak akan mungkin kamu berfikir akan menggugurkan anak ini"


Tanpa banyak bicara lagi Nabil segera melajukan mobilnga, membiarkan syifa yang menangis, sungguh dirinya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Syifa.


Setelah sampai di apartemen Nabil segera masuk, dan Syifa mengikuti Nabil dari belakang saat sudah masuk Nabil langsung pergi ke kamarnya, membanting pintunya dengan keras. Syifa yang kaget hanya bisa diam dan menangis tiba-tiba saja tubuhnya lemas dan terduduk begitu saja di depan pintu kamar Nabil.


Ini adalah kali pertama Nabil marah padanya, ternyata saat Nabil marah menakutkan juga "maafkan Ibu sayang Ibu jahat ya udah berpikir pengen bunuh kamu seharusnya ibu gak ngelakuin itu " sambil mengelus perut yang masih belum menonjol.


Nabil yang ada di dalam kamar tak terasa air matanya mengalir begitu saja "ya Tuhan mengapa Syifa bisa melakukan ini, apa sebenarnya salah anak itu" entah kenapa dirinya sangat kecewa dan sedih marah ah pokoknya semuanya tercampur aduk Syifa sudah tak bisa dipercaya lagi.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku Syifa, Aku kan udah bilang kalau aku akan tanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan, tapi kamu malah mengambil keputusan kamu sendiri kecewa Syif Aku sama kami "


Nabil yang ingin menyegarkan dirinya, segera masuk ke dalam kamar mandi, rasanya beban di kepalanya semakin menumpuk saja, sekarang harus memikirkan cara bagaimana berbicara dengan Mami papi dan orang tuanya bahwa dirinya telah menghamili Syifa.


Syifa yang sudah sedikit kuat segera berdiri berpegangan pada meja makan dan berjalan dengan perlahan untuk menggapai gagang pintunya dan akhirnya terbuka, masuk dan membaringkan tubuhnya yang lemas pusing tak bisa dijelaskan.


Dan tanpa tsubasa dari dia tertidur dengan, dengan air mata yang masih mengalir.


Nabil yang sudah icukup segar, tiba tiba menjadi khawatir dengan Syifa dengan cepat dia kelua,r namun tak ada siapa-siapa.


Nabil segera membuka pintu kamar Syifa. Dan dirinya bisa bernapas lega ternyata Syifa ada di kamar sedang tidur perlahan-lahan Nabil mendekati Syifa mengelus rambutnya.


"Kenapa kamu jadi tega kayak gini Syifa, aku nggak nyangka kamu bisa lakuin ini, aku sekarang harus lakuin apa Syifa".


Saat Nabil akan pergi tiba-tiba saja tangannya dipegang oleh syifa, dengan masih menutup kedua matanya " jangan tinggalin aku Nabil, aku mohon jangan tinggalin aku "


Nabil kembali duduk dan menatap Syifa yang sekarang sudah membuka kedua matanya. Syifa sama sekali tak bisa menatap Nabila secara langsung dia hanya bisa menundukkan kepalanya, rasanya sangat malu melihat Nabil .


"Nabil Maafkan Aku aku tadi syok dan bingung harus lakuin apa dan yang ada fikiran aku cuman itu, aku udah buntu banget tolong maafin aku . Aku juga mau anak ini kamu maafin aku ya "


Tanpa banyak bicara Nabil langsung memeluk Syifa, dirinya tak bisa membiarkan Syifa sendirian, dirinya tak mungkin membiarkan Syufa terus-menerus menangis. Lebih baik mengalah dari pada Syifa menangis seperti ini dia kasihan dengan Syif dan juga anaknya yang ada di dalam perut Syifa.


"Kamu udah maafin aku kan Nabil, sungguh aku minta maaf sama kamu Nabil "


"Udah syifa kamu jangan nangis lagi, kamu jangan minta maaf lagi sama aku . Aku akan maafin kamu kalau kamu janji nggak akan pernah ngelakuin ini lagi, aku mau tanya sekali lagi sama kamu, jadi kamu nggak percaya ya kalau aku bakal tanggung jawab sama kamu "


"Bukan begitu Nabil, Aku bukan nggak percaya kamu bakal tanggung jawab, aku cuma takut kamu belum siap dan enggak bisa terima anak ini, aku takut kamu nolak, Iya aku janji sama kamu Aku janji nggak akan lakuin kesalahan ini aku menyesal dan aku merasa bersalah banget sama anak aku"


" Ya udah aku nggak akan bahas lagi tentang kamu kenapa nggak bilang sama aku, dengan secepatnya aku akan bilang sama mami papi dan orang tua ak, sesegera mungkin kita akan menikah Syifa. Aku tak mau menunda-nunda nya dan aku tak mau kau dihina oleh orang lain dan nantinya malu"


"Tidak Nabil, jangan jangan bilang sama mami papi aku dan orang tua kamu, aku belum siap kita tunda dulu ya. Aku mau kita kayak gini dulu aja yang Nabil Please jangan dulu"


" Kenapa kan lebih cepat lebih baik Syifa, Kenapa kita harus menunggu lagi. perutmu akan semakin membesar Syifa "

__ADS_1


"Tlong untuk yang satu ini jangan dulu, aku belum siap lihat mami dan papi yang kecewa sama aku tolong Nabil"


Nabil tak menjawabnya hanya menatap Syifa, lalu membuang muka dan melamun memikirkan apa yang diminta Syifa. Apakah dia sanggup untuk melakukannya.


__ADS_2