
Liam yang mendengar suara teriakan, langsung bangun dan pergi keluar rumah. Menyuruh Tora kemari berhadapan dengannya langsung.
Tora dengan cepat berlari dan menghadap pada tuannya "diruang bawah tanah ada siapa Tora "
" Tuan ada 1 orang lagi yang akan menyusup ke sini. Sepertinya dia adalah temannya orang yang ada di dalam sana. Aku sudah memasukkannya ke sana pula agar bergabung dengan temannya yang sedang sekarat"
"Apa laki-laki itu sudah mati maksudku orang yang tadi aku siksa apa dia masih hidup "
"Tadi sih dia masih hidup dan sekarat tuan tapi sepertinya sekarang sudah mati karena teriakan temannya terdengar olehku pula pasti dia sudah mati. Apakah anda ingin melihat temanya."
"Tidak perlu kau awasi saja mereka jangan sampai temannya itu kabur. Nanti sore akan aku habisi dia kau jangan sampai kehilangan dia kalau tidak kau taruhannya Tora"
"Baik-baik tuan saa akan melaksanakan tugas tuan dengan sangat baik saya permisi dulu"
Liam hanya mengangguk dan pergi lagi ke atas untuk masuk ke dalam kamarnya lagi bisa bisa nanti istrinya curiga dan akan marah lagi padanya gara-gara masalah ini tidak itu jangan sampai terjadi.
**
Liam membuka kedua bola matanya, dia sedang tidur dengan nyenyak nyenyak nya malah di ganggu oleh anaknya yang loncat loncat diatas tempat tidur.
"Papih ayo bangun nanti mamih malah, ayo cepat cepat "
"5 menit lagi ya syaang "
"Tidak bisa papih ayo cepat cepat, aku sudah lelah sepelti ini "
Liam segera mengkap sang anak memeluknya dengan erat dan menciumi pipinya dengan gemas.
"Tidak papih aku sudah wangi jangan ciumi aku, tidak aya tidak"
"Tidak papih gemas dengan mu, ayo ayo sini akan papih beri ciuman terus menerus "
"Ya ampun mas kamu belum siap juga, ayo dong mas siap siap sebentar lagi kamu telat loh "
"Iya sayang sekarang mandi "
Lucas yang sudah lepas dari dekapan papihnya malah tertawa dan pergi keluar kamar dengan riang bersama mamihnya.
Liam yang masih malas malasan segera berjalan kearah kamar mandi dan masuk kesana untuk melakukan rutinitas paginya.
**
"Makanlah " perintah Tora yang memberi makanan pada Ali.
Ali yang merasa marah pada Tora segera membanting piring itu dan menatap Tora dengan sangar.
"Aku tak butuh makanan dari kalian, aku ingin pergi dari sini lepaskan aku, kalian tega membunuh sahabatku kalian biadab, kaliam tak punya hati, sudah menghabisi dia dengan tega seperti ini, kenapa harus seperti ini "
"Salah siapa itu,salah temanmu sendiri kenapa dia ingin memperkosa nona Syifa, ini adalah akibatnya makanya jangan bermain-main dengan keluarga ini, kalau tak ingin nyawa kalian melayang maka nikmati saja apa yang telah kalian lakukan dan ini adalah balasannya. Masa bodoh kalau kau tidak mau makan, aku tak peduli kau siap-siap saja nanti tuanku akan menemuimu dan membuatmu menyusul sahabat mu itu tenang saja kalian akan bertemu lagi"
__ADS_1
Tora menutup pintunya dengan keras dan meninggalkan Ali sendirian, Ali yang mendengar kalau dirinya akan menjadi korban selanjutnya dia menjadi risau dia mondar-mandir mencari cara untuk segera keluar dari sini, tapi tidak ada celah sedikitpun apa yang harus dirinya rencanakan.
Tiba-tiba saja Ali melihat ada kaca yang tertutup oleh barang , Ali mengalihkan barang itu dan di sana ada kaca, Ali mencoba membuka gemboknya menggunakan kawat seadanya dan berhasil membuka ngembok itu.
Dengan perlahan-lahan Ali berlari meninggalkan rumah besar ini, tapi dia malah berlari ke arah belakang rumah yang di belakangnya adalah hutan semua yang masih kawasan Liam.
Liam yang akan berangkat kerja tak sengaja melihat ada orang berlari ke arah hutan, segera Liam masuk mobil tanpa menunggu anak dan istrinya yang masih didalam,
Tora yang akan mengejar Ali diurungkan niatnya dia masuk kedalam rumah untuk menemui nyonya nya, agar tak tau tentang masalah ini, dirinya akan mengalihkan sedikit perhatian nyonya dan anaknya itu.
"Nyonya sini biar saya saja yang memawa tas tuan, dia tadi berpesan kepada nyonya dan tuan muda untuk pergi jalan jalan, atau belanja, saya sudah menyiapkan mobilnya, Hamzah sudah menyiapkan mobilnya "
Zeline yang binggung mengernyitkan dahinya "tapi aku ingin menemui suamiku dulu Tora "
"Tuan sudah berangkat ada meeting dan saya disuruh tuan untuk memberikan tasnya pada tuan, nyonya segeralah pergi, kalau tidak saya yang akan dimarahi "
"Baiklah saya akan mengambil tas dulu "
Tora mengangguk dan menunggu nyonyanya, tak lama Zeline datang dan Tora segera keluar juga, membukaan pintu untuk nyonya dan anaknya, setelah itu selesai sungguh dirinya tenang. Tuannya akan aman.
Liam melajukan mobilnya dengan kencang ke arah belakang hutan rumahnya, tak butuh waktu lama dia sudah menemukan orang itu malah Liam dengan sengaja mensejajarkannya.
Ali yang mempunyai harapan tersenyum senang, ada sebuah mobil yang lewat kearahnya "tuan tolong saya tuan, saya akan dibunuh oleh tuan rumah itu .Tolong selamatkan saya tuan "
Liam hanya bisa tersenyum dan menyeringai ke arah laki-laki itu "siapa yang ingin membunuhmu seperti apa orangnya"
"Dia berbadan besar dan sangat seram sekali tuan tolong saya, tolong antarkan saya ke kota, saya ingin keluar dari sini "
Dengan percaya Ali mengangguk dan langsung duduk disebelah Liam. Liam memutarkan kembali mobilnya untuk pulang kerumahnya, Ali yang bingung menatap Liam.
"Kenapa tuan lewat sini "
"Ini adalah jalan satu satunya pulang kerumah mu, jadi tenang aku bukan orang jahat kok, jadi jangan takut denganku ya,"
Ali mengangguk saja, namun saat melihat didepannya ada Tora dia kaget dan menundukan kepalanya "tuan itu orang yang akan membunuhku "
dan Liam pas sekali memberhentikan mobilnya dihadapan Tora, Tora dengan cepat mengusur Ali keluar dari dalam mobil sampai Ali kaget.
"Tuan tolong aku tuan "
"Bawa dia kembali ke ruang bawah tanah Tora, jangan sampai lepas lagi apakah istriku sudah kau amankan "
"Sudah tuan Liam nyonya sudah saya suruh untuk belanja tuan tenang saja "
Ali yang mendengar kalau Tora menyebut tuannya itu adalah tuan Liam berarti yang menolongnya adalah psychopath itu, ternyata aku malah masuk ke kandang harimau lagi dasar Ali kau ini bodoh sekali rutuknya dalam hati.
Tora segera membawa Ali Kembali ke tempat itu dan melemparnya dengan sangat keras, sampai meja yang ada di sana rubuh tertimba tubuh Ali.
Ali terbatuk-batuk karena dadanya terasa sesak sekali "Kau berani sekali kabur. Jadi bagaimana saat kau pergi malah kau diselamatkan oleh orang yang akan membunuhmu. Apakah kau senang Ali"
__ADS_1
"Kalian semua dasar gila, lepaskan aku dari sini, lepaskan aku biadab "
Liam segera masuk dan melihat Ali yang menatapnya dengan sinis "Ternyata Kau orang jahatnya, kau berkata kau tidak jahat Ternyata kau orangnya" sambung Ali saat melihat Liam masuk.
"Makanya kau jangan percaya dengan orang lain, harusnya kau teguh saja dengan pikiranmu kalau kau akan selamat dengan sendirinya, tidak meminta bantuan pada orang lain. Jadi rasakan sekarang akibatnya salah sendiri "
"Tora cepat kau ikat dia dan suruh dia mengaku siapa bosnya Kalau tidak mau mengaku kau setrum saja dia "
"Baik tuaan "
Ali memberontak tidak mau diikat namun Tora yang memang sungguh kuat, dia membantingnya dan membuat Ali tak bisa bergerak kembali.
Mengikat tangannya beserta kakinya, Liam duduk mengangkat salah satu kakinya dan menatap Ali dengan senyum manisnya "jadi Siapa bosmu"
Aku tidak akan memberitahu siapa bosku tidak akan sampai aku mati "
"Bailah aku sudah bertanya dengan baik baik, jika kau ingin mati aku akan mengabulkannya. Toea keluar Biar aku ngurus dia"
"Siap tuan saya akan berjaga di luar , takut takut nyonya kembali kerumah "
Liam tak menjawabnya dia hanya fokus menatap Ali dan mengeluarkan salah satu pisau kesayangannya, pisau kecil yang sangat tajam dan dan bisa mengoyak tubuh siapapun.
Liam segera bangkit dan menggoreskan pisaunya ke arah pipi Ali, namun tentunya tidak hanya sekedar menggores Liam menggoreskannya sambil menekan pisau itu sampai-sampai pisau itu masuk ke dalam mulut Ali.
Ali yang tidak bisa menahan nya sudah menangis "Kenapa kau menangis, kau kan laki-laki seharusnya kau kuat "
"Tolong lepaskan saya tuan saya punya keluarga dan saya mempunyai bayi"
"Ya makanya kamu bilang sama saya siapa bos kamu , saya akan melepaskan kamu dengan mudah. Apa susahnya kau berkata siapa bosmu, "
"Saya tidak bisa berkata siapa bos saya, saya sudah berjanji pada dia saya tidak akan berkata kepada siapa pun siapa bos saya tuan "
" Ya sudah kalau kau tidak mau mengatakannya nyawamu taruhannya di sini "
Tanpa mau ada negosiasi lagi Liam mengambil gergaji mesinnya, menyalakannya dan tanpa rasa bersalah dia membagi dua tubuh Ali sekaligus.
Sampai darah darahnya menciprat pada kemeja putihnya, namun Liam yang belum puas dia memotong-motong tubuh Ali menjadi kecil-kecil dan hanya menyisakan kepalanya saja yang masih utuh.
Bergelinding kearahnya tanpa rasa mual atau pun jiji Liam menendang kepala itu, dan pergi dari ruangan itu dengan penuh darah.
"Tora bereskan itu jangan sampai tertinggal sedikit pun darah ataupun dagingnya, kau buang mereka kalau tidak kau berikan pada anjing-anjing ku saja, jangan sampai kau meninggalkan jejak Sedikit "
"Baik tuan saya akan melaksanakan apa yang tuan perintahkan"
"Baik saya tunggu kabar baik dari kamu, jangan sampai istri saya tahu "
Liam masuk ke dalam rumah dan melihat bi Sari yang sedang menatapnya dengan takut, tanpa banyak bicara Liam pergi ke atas, namun dia baru ingat kalau bi Sari adalah bawahan paling setia pada istrinya.
Liam kembali turun dan menghampiri bi Sari. "Bi Sari jangan bilang pada Zeline apa yang terjadi hari ini, bi Sari hanya perlu Tutup mulut Jangan bicara apa apa "
__ADS_1
Bi Sari hanya bisa menganggukan kepalanya saja dan Liam setelah yakin pergi meninggalkan bi Sari sendirian disana. Semoga saja bi Sari mendengarkan perintahnya itu.