
Singkat cerita Tora sudah pulang dan sang istri yang mengurusnya , Tora tak banyak bicara sama sekali ingin melihat perubaha sang istri apa benar benar berubah atau hanya untuk mengelabuinya saja.
Karena tidak mungkin kan bisa berubah dengan cepat seperti ini, meski sang istri sudah bilang tak akan memikirkan tentang karir dan mas depannya tetap saja rasa takut itu selalu muncul dan menghantuinya.
"Kamu mau jalan jalan atau mau dikamar aja "
"Aku pengen jalan jalan tapi kamu gak usah dorong gak apa apa aku bisa sendiri "
"Kenapa gitu terus aku gunanya apa, aku kan udah bilang aku akan berubah, aku akan urus kamu dan anak kita nanti"
"Iya aku tau kamu udah janji tapi aku belum percaya seutuhnya sama kamu "
"Kenapa apa lagi yang harus aku buktikan apa sih, kurangnya aku udah buktiin kan sama kamu aku masih disini, aku ada disamping kamu "
"Ya mungkin kamu sekarang ada disamping aku tapi gak tau kan nanti, bisa aja kamu pergi tinggalin aku, "
"Fikiran kamu tuh yah gitu aja kapan kamu percaya sama aku "
Setelah megatakaan itu Airin segera pergi dan meninggalkan suaminya yang masih ada diruang tamu, dan sangat kebetulan Airin berpapasan dengan ibunya.
"Airin kamu kenapa"
Airin mengusap air matanya dan menarik sang ibu kekamar "bu sepertinya aku percuma deh, liat aja bahkan Tora gak percaya kalau aku bisa berubah dan emang bener bener mau sama dia, maksud aku, aku pilih dia bu, kenapa sih bu aku jadi serba salah gini, apa sih salahnya aku bu, apa yang harus aku buktikan lagi, apa bu "
"Yang sabar Tora butuh waktu dia pasti masih takut, takut kalau kamu mengelabuinya saja yang sabar pasti semuanya akan baik baik saja, "
"Sampai kapan bu, sampai kapan aku harus tunggu dia berubah aku cape bu kalau gitu terus, apa aku harus berubah dan kembali lagi pada tujuan awalku bu "
"Jangan nak, jangan nanti malah Tora anggap kamu memang perempuan tukang bohong ibu tidak mau itu sampai terjadi, jadi jangan ya nak "
"Aku akan fikirkan lagi bu "
"Jangan memilih kesalahan yang pernah ibu ambil, ibu akan memasak dulu, kamu istirahat saja dulu ya, nanti juga Tora tak akan seperti itu lagi"
Setelah sang ibu pergi Airin hanya membaringkan tubuhnya dan memikirkan kembali tentang keputusannya, setelah melihat prilaku Tora yang seperti itu membuat dirinya menjadi ragu.
Apakah harus bertahan dengan suami sirinya atau harus mundur dan pada pilihan awal lagi, mengejar cita citanya.
Mengejar apa yang dirinya inginkan selama ini,
"Kenapa aku jadi pusing dengan pilihan ku sendiri, dengan sikap yang diberikan Tora padaku, aku sungguh ragu dan tak bisa berfikir apa apa lagi"
**
Akhirya Milla sudah sadar dan sekarang saatnya perban diwajahnya dibuka, saat melihat wajah suaminya Milla hanya cemberut saja tak mau bicara sedikit pun, atau pun memandangnya saja dirinya enggan.
__ADS_1
"Ibu yang rileks ya sekarang kita buka "
"Iya dok"
Segera dokter itu membuka perbanya dengan perlahan, jantung Milla sudah dag dig dug, takut oprasi plastiknya ini gagal dan membuat wajahnya tak cantik lagi, perban sudah selesai dibuka, suster langsung memberikan kaca pada Milla.
Respon yang Milla berikan hanya diam tak berbicara apa apa, lalu melihat pada ayahnya, Milla mengelengkan kepalanya dan menangis.
"Tidak ini buka wajahku, tidak ini benar benar bukan wajahku, ayah kenapa ini bisa begini aku tak terima ayah aku tak mau, aku ingin wajahku yang dulu, aku tidak mau "
Sang ayah langsung menghampiri anaknya dan dipeluknya sang anak "ini pun cantik sayang jangan menangis ya "
"Tidak ayah, tidak mau ini bukan wajahku, aku tidak mau ini semua gara gara Ibrahim, kau Ibrahim harus membayar semua ini, kalau saja kau tak menyiramkan kopi dan juga menyiksaku semua ini tak akan terjadi, ini semua gara gara kau Ibrahim aku tak menerimanya dan sampai kapan pun aku tak akan menerimanya " sambil menunjuk sang suami.
Milla yang sudah megamuk sudah bangkit akan menyerang sang suami namun sang ayah langsung menahannya.
"Ayah lepaskan aku ingin sekali mencekik laki laki itu dan membunuhnya, biarkan aku melakukanya ayah, biarkan, aku sudah muak dengan laki laki itu, kenapa ayah tak melaporkannya pada polisi kenapa ayah"
Namun suster langsung menyuntikan obat penenang dan Milla seketika menjadi lemas dan dokter dan yang lainnya membantu Milla untuk berbaring kembali dan tatapan matanya tak pernah lepas menatap terus menerus pada suaminya.
Ayah Milla segera mengusur sang menantu dan menyuruhnya keluar "lebih baik kamu jangan ada disini yang ada anak saya akan lebih sakit, ini semua ulah kamu, membuat anak saya menjadi sedih dan tak menerima atas kehidupannya, jadi lebih baik kamu pergi dari sini, jangan ada disini lagi atau aku akan melaporkan mu kekantor polisi "
"Baiklah aku akan pergi, namun bila Naura ingin bertemu dengan ibunya aku akan membawanya, permisi "
Ibrahim langsung pergi meninggalkan rumah sakit dan mertuanya kembali masuk kedalam ruangan inap Milla.
"Baik dok, akan saya usahakan "
"Saya permisi dulu "
Setelah dokter pergi, ayah Milla pak Tedi mengusap rambut anaknya "kamu yang sabar ya nak, wajahmu yang ini pun cantik kenapa kamu harus menolaknya, kamu seharusnya bersyukur tuhan masih memberikan kamu hidup jadi kamu yang sabar ya sayang "
Milla hanya bisa menangis dan mengalihkan pandangannya dari ayahnya, dirinya masih tadiriknya
**
"Sayang apakah sekarang kita perlu melihat kembali keadaan Milla karena aku belum bisa yakin kalau dia baik baik saja sebelum melihatnya langsung, bagaimana apakah kau mau sayang menemaniku kesana lagi, hanya untuk memastikan kalau Milla sudah tak apa apa "
"Ayo paman kalau itu bisa membuatmu tenang aku mau, kapan kita akan pergi paman apakah sekarang "
"Boleh sayang, karena kan nanti malam kita harus datang keacara ulang tahun Zeline "
"Oh iya paman aku sampai lupa yaudah yu paman kita pergi sekarang "
"Nabil gimana sayang "
__ADS_1
"Kan ada bi Nia udah yu nanti keburu bangun paman "
"Yaudah yu sayang kita pergi sekarang "
Mereka berdua menuju mobil sebenarnya Syifa enggan melakukan itu, maksudnya tak mau suaminya terus menerus melihat keberadaan Milla, tapi mau bagaimana lagi suaminya selalu meras bersalah atas kejadian yang Milla alami, jadi mau tidak mau dirinya harus menurutinya dari pada nanti sang suami meras besalah terus menerus kan.
Selama perjalanan pun mereka tak membuka pembicaraan sama sekali, namun tiba tiba Andre memegang tangan sang istri.
"Kamu kenapa sayang, kenapa kamu jemberut terus, apakah kamu tak mau kesana, apa perlu kita pulang lagi kerumah "
"Tidak paman aku baik baik saja, memang tak ada yang perlu kita bicarakan lagi kan, jadi apa lagi paman, "
"Ya jika kamu tak mau kesana mari kita pulang lagi sayang kerumah, bagaimana "
"Tidak paman kita pergi saja kerumah sakit aku tak mau membuat paman khawatir dan makin banyak fikiran kita pergi saja kesana paman, agar fikiran paman tak tertuju terus menerus pada mba Milla, lebih baik kita pergi kesana saja "
"Baiklah sayang maafkan paman, paman sama sekali tak ada maksud untuk selalu memikirkan Milla, paman hanya takut saja, paman hanya merasa bersalah saja, tak ada maksud apa apa sayang tak ada sungguh "
"Iya aku baik baik saja paman, tenang saja aku tak akan berfikiran kemana mana paman "
Andre mengusap kepala istrinya dan kembali fokus menyetir, memang ada rasa bersalah pada sang istri juga karena dirinya selalu memikirkan tentang Milla, dan itu pasti membuat sang istri cemburu namun tak ditampakan saja.
Mereka berdua akhirnya sampai dan merek berdua segera turun dari dalam mobil, Andre langsung mengandeng sang istri dan masuk kedalam.
Andre langsug menuju keruangan Milla, tak lama kemudian mereka sudah ada didepan kamar Milla, Andre mengetuk pintunya dan langsung membuka pintunya, saat melihat siapa yang datang Milla langsung tersenyum senang.
"Andre kamu kesini, kamu mau tenggokin aku "
"Iya Mill, pak Tedi "
"Pak Andre nona Syifa makasih kalian sudah mau datang kemari lagi, "
"Iya pak kami hanya ingin melihat bagaimana keadaan Milla makannya kami kemari"
Andre melihat wajah Milla sangat berbeda sekali, kalau saja dirinya tak kemari mungkin dirinya tak akan tau tentang wajah ini.
"Ya sudah Milla kamu makan dulu ya, ayah suapi "
"Engga aku pengen di suapi Andre "
"Milla kamu jangan aneh aneh ya "
"Yaudah aku gak akan mau makan, ayah aja yang makan aku gak mau"
Ayah Milla menghembuskan nafasnya dan menengok kearah Andre, "pak apakah anda bersedia, Mila tak boleh banyak fikiran, nona tolong"
__ADS_1
Andre langsung menatap sang istri, Syifa menganggukan kepala dan langsung beralih menatap kearah lain, lalu duduk dikursi yang tak jauh dai jangkauanya.