Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Menjebak supaya di izinkan


__ADS_3

Liam sudah membelikan apa yang anak dan istrinya mau, dirinya segera masuk dan tersenyum kearah sang istri yang menunggunya diruang tamu.


Zeline segera menghampiri suaminya, mengambil tasnya dan menyaliminya "mas kamu kok lama "


"Aku tadi borong dulu mainan buat Lucas dia kan mau main sampai menuhi kamarnya, makannya aku mau wujudin "


"Apa gak kebanyakan mas dan nantinya Lucas akan manja "


"Gak akan sayang "


"Ini aku sudah membelikan pesanan mu "


Zeline segera mengambilnya "kenapa cuman 1 mas, kamu mana "


"Aku gak beli dulu sayangku, aku udah kenyang yu kita masuk kamar, kamu makannya dikamar aja yang sayang "


Zeline mengangguk saja, dia sama sekali tak curiga dengan sang suami karena memang sangat bersih, bersih banget ya wangi seperti biasannya, tak ada yang aneh sama sekali dari sang suami.


"Kamu mandi gih mas pake air anget aku tadi udah siapin "


"Iya sayang "


Zeline kembali membantu sang suami membuka jasnya dan segera menyimpannya, lalu setelah itu Liam masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Zeline dia memakan mie nya yang sudah ada didalam mangkok sambil nonton film.


**


Sedangkan Jo yang masih memikirkan tentang kejanggalan tadi masih saja melamun, sang suaminya yang melihatnya segera menepuk bahunya.

__ADS_1


"Yan kamu ngagetin aku aja "


"Aku cuman ngetuk bahu kamu aja kok sayang, kamu kenapa, kenapa ngelamun terus apa lagi yang kamu fikirkan, sudah aku bilangkan jangan banyak fikiran, ada apa cerita sama aku "


"Aku masih aneh aja sama kehilangannya Gavin mas, apa dai diculik atau cuman lagi liburan aja dirumah keluarganya, tapi kalau sampai liburan gak akan mungkin kan di gak bilang, dan gak akan mungkin kan main pergi pergi aja, sedangkan kerjaannya banyak banget numpuk, itu tuh bener bener gak mungkin Yan "


"Ya kamu berfikir positif aja mungkin dia lagi ada urusan dan mengharusnya pergi tanpa bilang sama siapa siapa kamu tunggu aja dia, pasti dia ada gak akan kemana mana deh, percaya deh sama aku, aku yakin kalau s Gavin itu lagi jalan jalan, jadi mending kamu gak usah fikirin dia, jangan tambah beban fikiran kamu sayang, aku tau kamu mungkin khawatir sama temen kamu sendiri, tapi kamu juga harus fikirin kesehatan kamu ya "


"Iya mungkin ya Yan, yaudah deh aku gak akab fikirin lagi, tapi ya firasat aku tuh mengatakan kalau Gavin lagi berurusan sama pak dosen dan sekarang dia mungkin saja sudah mati ditangan pak dosen "


Riyan mendekatkan tubuhnya pada sang istri "bisa jadi sayang itu karena kesalahannya sendiri, mungkin saja benar, ya pasti benar dia berurusan dengan Liam, dan aku sarankan kamu jangan ikut camput ya biarkan itu menjadi urusan mereka berdua dan kamu jangan bahas nama Gavin terus, yang ada dia akan berfikir kalau kamu lagi belaan dia, nanti kamu sendiri lo sayang yang celaka "


Jo hanya mangut mangut saja, benar kata sang suami, iya sangat benar kalau dirinya terus saja membahas Gavin yang ada nyawannya sendiri yang melayang, iya benar jangan sampai dirinya ini ikut campur dalam urusan hal apapun, sayangi nyawamu tiap hari hati hati.


**


"Mas apakah kamu yakin gak akan makan dulu, biar aku hangatkan ya makanan "


"Gak usah syaang, aku sudah makan, bagaimana mie ayamnya enak "


"Iya mas enak, kalau kamu laper nanti bangun aku ya mas, oh ya mas ayo sini kita nonton tv, aku lagi nonton film hantu nih sini sini "


Liam segera mengangguk mengambil selimbut, lalu lesehan dibawah bersama sang istri, menyelimutinya dan memeluknya pula.


Mereka menonton Tv dengan sangat serius, namun tiba tiba "sayang "


"Apa mas " dengan mata yang masih fokus kearah tv

__ADS_1


"Aku ingin bertanya sesuatu kamu harus jawab dengan benar dan sejujur jujurnya ya "


"Iya mas apa, coba kamu tanyakan aku akan mendengarkannya dan menjawabnya dengab jujur "


"Kalau misalnya, aku kembali lagi menjadi Liam yang dulu, maksud ku Liam yang selalu haus akan darah manusia kamu gimana "


Zeline segera mengalihkan pandangannya dan menatap suaminya "kenapa apa alasannya kenapa kamu bisa mau lagi menjadi Liam yang dulu, "


"Ini misalkan ya sayang berandai andai, karena aku ingin membela keluargaku, karena aku ingin keluarga ku tentram dan tak ada gangguan dari siapa pun, bagaimana menurut mu sayang "


"Mungkin aku akan setuju bila kamu melakukannya untuk menjaga keluargamu, tapi aku tidak mau kamu membunuhnya"


"Lalu aku harus melakukan apa sayang kalau tidak membunuhnya , itu adalah cara paling baik untuk menghabisi orang yang mengusik kehidupan kita satu keluarga, ya itu cara paling bagus sekali tak ada cara yang lain "


"Emm dimasukan penjara mungkin, aku tidak mau kamu jadi pembunuh lagi mas, aku ingin kamu seperti ini saja tidak berubah dan akan selalu menjadi suamiku yang tersayang, aku tidak mau ada korban berjatuhan lagi mas , kasian mereka kesakitan"


"Untuk hal kasih sayanng aku tak akan mungkin berubah sayangku, cintaku aku sama sekali tak akan berubah, baiklah berarti kalau kepepet kau akan mengizinkannya kan, mengizinkan aku membunuh orang itu karena telah berani mengganggu ketentraman hidup keluarga kita "


"Iya mas tapi kamu jangan sekali kali lagi seperti itu, apa lagi menyakit seseorang tanpa sebuah alasan, mereka punya keluarga dan mereka pasti sedang menunggu keluarganya, jadi kamu jangan membuat mereka sedih, kamu kan sudah berubah jangan kamu hancurkan kembali dengan sikap kamu yang selalu haus akan darah "


Setelah mengatakan itu Zeline kembali lagi fokus menonton Tv, sedangkan Liam menyeringai senang, dirinya menganggap kalau perkataan sang istri adalah sebuah Izin dirinya untuk selalu membunuh orang, terutama Gavin.


Dirinya punya alasan kenapa harus membunuh Gavin, karena dia sudah berani beraninya mengusik hidupnya yang tenang ini. Hidup istrinya yang tenang dan dia sangat berani ingin memiliki sang istri.


Pertanyaan yang sangat menjebak ya, dirinya melakukan itu supaya kalau ketahuan oleh sang istri, bisa mengatakan kalau istrinya sudah mengizinkannya, dan tak akan ada masalah kedepannya, karena sudah bilangkan meski tak secara langsung itu pun.


Liam kembali mempererat pelukannya bersama sang istri, lalu menonton kembali tv dan hanya diam tak bersuara sedikit pun, hanya suara tv mereka saja, Liam mencium pipi sang istri , dan bukannya fokus menonton malah dirinya menoton istrinya.

__ADS_1


Sampai sampai mereka berdua ketiduran dengan posisi duduk dibawah yang beralaskan karpet berbulu, mereka sampai tak sadar dan tidak pindah ketempat tidur.


__ADS_2