Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Harus oprasi


__ADS_3

Ibrahim mengembuskan nafasnya, menyalakan rokok dan diam diluar rumah, entahlah tadi dirinya kenapa, kesetanan mungkin menyiksa istrinya.


Ibrahim yang sadar segera pergi lagi kedalam rumah dan melihat istrinya yang sedang di gusur oleh sang anak.


Tanpa banyak bicara Ibrahim mengangkat tubuh istrinya "ayah mau dibawa kemana mamah, jangan sakiti mamah lagi "


"Maafkan ayah nak, aya akan membawannya kerumah sakit, ayo bantu ayah membuka pintu "


Dengan cepat Naura mengusap air matanya dan berlari kearah mobil membuka pintu dan masuk kedalam, Ibrahim memasukan istirnya dan masuk kedalam mobil untuk menyetir dan Naura segera menopang kepala mamahnya.


"Mamah yang sabar ya kita akan kerumah sakit mamah yang kuat "


Ibrahim melihat kearah belakang dan melihat sang anak sangat menyayangi ibunya, Ibrahim merasa makin bersalah karena telah memukul Milla sampai seperti itu, Ibrahim makin cepat melajukan mobilnya.


"Maafkan aku Milla maafkan aku, tolong maafkan aku, aku sungguh menyesal Milla maafkan aku " mereka sudah sampai rumah sakit, Ibrahim segera memangku istrinya.


"Dokter suster tolong bantu istri saya, tolong dok tolong sus "


Suster yang mendengar terikan segera menghampirinya dan menuntun Ibrahim untuk membaringkan Milla di tempat tidur lalu suster itu mendoronhnya.


Ibrahim pun ikut mendorongnya dan saat akan masuk, suster langsung memberhentikannya "tolong bapak tunggu diluar "


Ibrahim mengusap wajahnya dan menghampiri anaknya yang kembali menangis, Ibrahim memangkunya dan menciumi kening anaknya "yang sabar ya nak, yang sabar ayah minta maaf ayah minta maaf atas semua ini, ayah tak sengaja ayah khilaf maafkan ayah "


Tiba tiba saja ponselnya Ibrahim berdering dengan cepat dia mengambil ponselnya dan mengangkat telfon dari ayah mertuanya "hallo ayah "


"Dimana kamu Ibrahim, dimana Mira "


"Mira ada dirumah sakit "


"Kenapa bisa masuk rumah sakit ada apa ini, ayah butuh penjelasan ayah akan kesana "


Sambungan pun langsung terputus, Ibrahim mendudukan anaknya dan ikut duduk juga lalu memukul mukul kepalanya "ayah jangan kenapa ayah menyakiti diri sendiri, ayah jangan seperti ini, jangan memukuli kepala mu itu sangat sakit jangan ayah jangan, aku mohon jangan seperti ini, jangan membuat aku takut ayah, jangan membuat aku takut lagi dengan ayah, ayah sudah melukai mamah, jangan ayah melukai diri sendiri juga jangan ayah "


Ibrahim segera memberhentikan asiknya dan menatap sang anak "ayah sangat menyesal Naura, ayah kesetanan ayah tak bisa berfikir kembali, ayah menyesal bagaimana ini dengan ibu mu, ayah sungguh tak bermaksud melakukan itu, ayah sungguh minta maaf, kamu jangan membenci ayah, tolong maafkan ayah, tolong jangan membenci ayah nak "


"Aku tak akan membenci ayah, aku tak akan mungkin melakukan itu ayah, kau tetap ayahku dan sampai kapan pun akan seperti itu, jangan tinggalkan aku ayah, dan ayah jangan kasar kembali aku tak suka, aku tak suka ayah "


Tiba tiba saja pakaian Ibrahim ada yang menarik ternyata itu ayah mertunya "apa yang kau lakukan pada anak ku, kenapa bisa seperti ini, apa yang kau lakukan Ibrahim, aku sudah bilang kan kalau kau tak sanggup lagi dengan Mila kembalikan dia padaku, jangan kau sakiti seperti ini, kenapa kau melakukan ini Ibrahim kenapa, apa salah anak ku apa Ibrahim"


Ibrahim langsung melepaskan tangan ayah mertuanya, "ayah duduk dulu, akan aku jelaskan maafkan aku ayah, ini dirumah sakit jangan membuat keributan ayah, nanti kita akan di usir lalu bagaimana dengan Milla nanti "


Pak Tedi segera duduk dan menatap Ibrahim dengan tajam, namun Ibrahim sama sekali tak takut dia menatap kembali mata itu dan menghembuskan nafasnya.


"Aku sungguh minta maaf ayah, aku sungguh tak tau kenapa aku tiba tiba saja melakukan ini, tapi Milla sudah sangat keterlaluan ayah, dia mencekik ku, menghinaku dan selalu sama memikirkan Andre, Andre tadi ada kerumah untuk menegur Milla yang katanya melakukan penyerangan pada istrinya, serta dia memintaku agar menjaga Milla, agar dia tak menggangu terus rumah tangannya, coba ayah yang ada di posisiku pasti akan melakukan ini "


"Milla sungguh keterlaluan ayah, aku suaminya tapi tak seperti suami, aku hanya dia anggap atm berjalan saja, bahkan aku meminta dia untuk menyayangi anaknya saja tak mau harus ada perjanjian dulu diantara kami baru dia mau menyayangi Naura, aku sungguh lelah ayah, aku lelah kalau seperti ini terus aku sudah bertahan dengannya 6 tahun, tapi tak ada perubahan sedikit pun "


Ayah Milla mengusap air matanya yang akan keluar "maafkan anak ayah, ayah mengerti dan ayah tau rasannya tak di hargai istri, ayah tau, tolong maafkan Milla dia tak bisa menjadi istri yang baik untuk mu dan malah menyusahkan mu saja, sekarang keputusan ada padamu, kamu ingin terus bersamanya atau menceraikannya ayah tak akan melarangnya. "


Ibrahim beralih melihat Naura yang hanya diam menunduk tak mengerti apa yang sedang ayah dan kakeknya sedang bicarakan, " Aku tidak akan mungkin bisa melepaskan Mira karena Naura sangat membutuhkannya. Naura butuh sosok ibu dan dia sangat menyayangi Milla ,aku tidak mungkin memisahkan mereka begitu saja meskipun kami nantinya bercerai pasti Mila tidak akan mau menengok anaknya untuk sebentar saja . Aku memikirkan anakku yah bagaimana nasib anak ku ayah, bagaimana dengan dia "


Pak Tedi melihat kearah cucunya dan tak bisa mengatakan apa apa, benar apa kata Ibrahim ada Naura yang masih butuh kasih sayang ibunya, bahkan bukan butuh lagi memang sangat membutuhkan sekali.


"Ayah tunggu disini dan Naura aku akan membelikam kalian makan "


Ibrahim langsung pergi dan meninggalkan dua orang itu, sedangkan pak Tedi langsung memangku sang cucunya dan menagis sambil memeluk cucunya" maafkan ibu mu nak, maafkan dia, maafkan dia yang keras kepala dan tak sayang padamu, maafkan ibu mu nak maafkan dia "


Tak lama kemudian Ibrahim datang dan membawa beberapa makanan dan menyimpannya disana "ayah makan dulu, dan Maura ayo makan kau belum makan "

__ADS_1


"Tidak ayah, aku tak bisa makan "


"Apakah Naura ingin mamah cepat sembuh"


"Tentu aku ingin mamah cepat sembuh, aku ingin mamah seperti semula lagi, aku ingin mamah bisa mengantar aku sekolah lagi "


"Baiklah kalau begitu kau makan, jika ingin mamah seperti semula lagi maka kau harus makan ya, ayah akan menyuapi mu"


Naura mengangukan kepalanya dan menunggu ayahnya menyuapkan makanan padannya, "yang banyak ya sayang makannya, yang banyak "


Naura mengangguk dan mengunyahnya dengan cepat, memang dirinya sangat lapar dari tadi pagi belum makan karena kata mamahnya jangan dulu makan nanti katanya makannya, dan sekarang jadinya sangat kelaparan dirinya ini, "


Dan tinggal satu suapan lagi, semuanya habis tandas tak tersisa,


**


Liam yang memang sedang mengatar istrinya kontrol kerumah sakit dia melihat ada rekan kerjanya sedang memberi minum anak kecil, Liam segera mendorong kursi roda istrinya kearah orang itu.


"Pak Ibrahim kan, benarkan pak Ibrahim "


"Tuan , tuan ada disini "


"Iya aku harus mengotrol istriku yang sedang sakit dan pak Tedi juga ada disini "


"Tuan iya saya ada disini ada apa dengan istri anda "


"Dia kecelakaan dan sekarang sedang masa pemulihan "


"Semoga cepat sembuh ya "


"Terimaksih pak Tedi, dan kalian sedang apa disini, "


"Milla anaknya pak Tedi adalah istrimu, jadi kau adalah menantunya pam Tedi "


"Iya aku suaminya, "


"Aku baru tahu, maafkan aku ya yang tidak datang saat kalian menikah, sungguh aku minta maaf "


"Tidak apa apa, aku tau kalian jauh dan kau juga sibuk bekerja aku tak masalah, "


"Ada apa dengan Milla kenapa dia bisa masuk rumah sakit "


"Hanya masalah kecil saja, bukan masalah besar "


"Baiklah aku dan istriku pamit terlebih dahulu,, kami pulang terlebih dahulu semoga Milla cepat sembuh ya "


"Iya terimakasih tuan "


Liam langsung mendorong kursi roda istrinya untuk keluar dari rumah sakit, dan setelah sampai didepan mobilnya, Liam langsung memangku sang istri dan Hamzah langsung membukakan pintu belakang.


Setalah itu membuka pintu lainnya untuk Liam setelah semuanya beres Hamzah langsung menyimpan kursi roda nyonya ya dan kembali kekursi penungpang lalu mobil pun melaju.


"Mas apakah kau merasa aneh dengan suaminya Milla "


"Memangnya kenapa sayang "


"Kenapa pakaian suaminya Milla banyak darah dan kau lihat kan tadi diwajahnya pun ada darah, apa terjadi sesuatu yang fatal dengan Milla "


"Entahlah sayang, aku pun merasa ada yang janggal, apa Milla terluka oleh Ibrahim, tapi tak mungkin Ibrahim laki laki baik dan penyayang tidak munhkin kalau Ibrahim menyakiti Milla "

__ADS_1


"Orang baik itu saat marah dia akan melebihi orang yang emosinya sangat tinggi ,jadi kita jangan meremehkan orang sabar dan orang baik karena setelah mereka sangat-sangat marah mereka akan mengeluarkannya semuanya, mas tau sendirikan kalau orang sabar udah marah gimana "


"Ya mas tau sayang, Milla sekalu saja mengejar Andre mungkin dia marah karena istrinya mengejar laki laki lain terus, bisa saja kan Milla ketahuan mengejar Andre oleh Ibrahim dan malah berakhir dirumah sakit "


"Iya benar mas, aku menjadi takut,"


"Aku tak akan pernah memukul mu sayang, aku tak akan melakukan kekerasan dalam rumah tangga, aku akan selalu menjagamu dan memeluk mu sangat erat, bahkan erat sekali "


"Mati dong aku mas "


"Gak akan dong aku akan memberikan mu nafas buatan sayang, aku tak akan membiarkan mu pergi meninggalkan aku, kalau kau mati aku pun mati sayang "


"Mas kau ini ya kalau bicara jika nanti aku lebih dulu meninggalkan mu, kau harus tetap hidup bersama anak anak kita"


"Tidak aku tak akan sanggup yang ada aku akan mati juga, aku tak akan pernah sanggup jangan katakan kata mati lagi sayang, aku tak suka , saat kau nanti pergi meninggalkan ku terlebih dahulu aku pun akan mengikutimu "


Zeline langsung memeluk suaminya dengan erat dan tak melepaskannya sama sekali, Liam pun sama melakukan hal yang sama, memeluk istrinya dengan erat.


**


Dokter keluar dari ruangan ICU, Ibrahim dan pak Tedi segera maju dan ingin mendengar apa yang akan dokter katakan "jadi bagaimana dokter keadaan anak saya "


"Anak bapak dia sekarang mengalami koma karena lukannya cukup parah, apa lagi luka diwajahnya harus segera di oprasi karena wajahnya sudah rusak sekali, jadi bagaiman saya ingin meminta persetujuan dari keluarga pasien "


"Baik lakukan yang terbaik untuk istri saya dok "


"Baik kalau begitu bapak tandatangan dahulu disini ya "


Ibrahim segera melakukannya dan setelah selesai langsung memberikannya pada suster yang tadi memberikannya.


Milla segera dibawa keruangan oprasi dan mereka segera mengikutinya, ayahnya yang melihat wajah anaknya tak bisa mengatakan apa apa, rasanya tak sanggup untuk berbicara sepatah kata pun.


Ibrahim tak duduk dia hanya diam didepan pintu oprasi pak Tedi yang sudah cukup kuat segera bangkit dan menarik menantunya agak jauh dari Naura.


"Apa yang kau lakukan pada wajah anak ku, apa yang kau lakukan, apa sebenarnya yang terjadi kenapa menjadi seperti aku bisa melaporkan mu kekantor polisi karen tidakan kekerasan dalam rumah tangga pada anak ku, "


"Silahkan aku akan pasrah jika ayah mau melaporkan aku kekantor polisi aku tak akan menolak dan aku tak akan kabur, namun aku titip Naura sayangi dia seperti aku menyayanginya dan lengakapi semua kebutuhannya, aku hanya titip Naura pada ayah, tolong urus dia seperti aku mengurusnya "


Ibrahim langsung pergi dari hadapan ayah mertuanya, pergi keluar rumah sakit dan menangis disana, dirinya sudah sangat menyesal karena kelakuannya pada sang istri.


Kalau saja tadi dirinya tak kebablasan dan tak marah besar pada Milla mungkin semua ini tak akan terjadi, semuanya akan baik baik saja, tak akan Milla masuk rumah sakit dan melakukan oprasi plastik juga.


"Kenapa aku bisa menjadi seorang penjahat mengapa aku bisa seperti itu, kenapa ini bisa terjadi, kenapa dan kenapa, aku sendiri tak bisa mejawab kenapa aku bisa menyiksa istriku sampai separah itu, bahkan aku tak bisa menjelaskan semuanya pada atah mertuaku "


Ibrahim memegang kepalanya sambil menundukan kepalanya, namun tiba tiba ada yang memberikannya minum.


"Minumlah terlebih dahulu pasti kau akan tenang nantinya "


"Terimasih tuan " Ibrahim meminum minuman itu dan menyimpannya disampingnya.


"Seberat-beratnya masalah kau harus menghadapinya dengan berani, jangan ada kata pergi ataupun menangis laki-laki itu kuat jangan menyerah selalu tegarkan dirimu dan dengan kuat bisa menghadapi masalahmu sendiri. Air mata tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu dan egomu pun sama tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu, Tenangkan dirimu dan cobalah untuk bisa mengendalikan dirimu dan memikirkan bagaimana caranya agar kau bisa kembali tegar dan bisa menghadapi masalahmu sendiri tanpa bantuan orang lain"


"Tapi aku sudah melakukan KDRT pada istriku .Apakah aku masih pantas untuk bisa dimaafkan masalahku ini sangat berat dan aku sulit untuk menghadapinya, menghadapi Ayah Mertuaku menghadapi anakku menghadapi semua orang .Aku harus bagaimana aku tidak bisa berpikir"


"Sudah kubilang tenangkan dirimu dan jangan selimuti dirimu dengan emosi pasti kau akan menemukan jawabannya, bagaimana cara kau memperbaiki semuanya selalu hadapi masalah dengan berani jangan dengan air mata dan jangan dengan emosi "


"Tora ayo cepat "


"Baiklah aku permisi istriku sudah menunggu "

__ADS_1


Ibrahim hanya menganggukan kepalanya dan melihat kepergian laki laki itu bersama istrinya.


__ADS_2