
Yuda sedang melihat kesekitar, banyak sekali penjaga dirumahnya ini, benar-benar ayahnya ini tega sekali pada dirinya.
"Lalu harus kabur lewat mana, kalau penjaganya banyak seperti ini, kalau saja kakiku ini baik-baik saja pasti ini semua gak akan terjadi"
Yuda segera berdiri mencoba dengan perlahan, lalu berpegangan pada tembok dan mengedor pintu kamarnya untuk yang kedua kalinya.
"Yah buka pintunya, tolong buka pintunya jangan seperti ini kenapa ayah melakukan ini pada Yuda, Yuda ingin keluae yah, pengen ketemu sama Asa "
"Ayahhh buka, ayahhh ayahhhh " teriak Yuda dengan sekuat tenaga
Bibi yang memang kebutulan lewat dan mendengar suara majikannya yang berteriak segera menemui tuan besar untuk memberi tahu tentang keadaan Yuda.
"Tuan, tuan itu tuan muda tuan " sambil ngos ngosan
"Ada apa dengan kamu ini, atur nafasmu dulu jangan terburu-buru seperti itu "
"Baik tuan, baik, tuan coba tuan lihat tuan Yuda teriak-teriak pengen keluar aduh saya khawatir banget sama tuan muda takut terjadi apa -apa nantinya, bagaimana kalau tuan muda bunuh diri "
"Udah bibi tenang aja, nanti juga dia cape sendiri, biarin dia bi, saya ngelakuin ini buat kebaikannya juga, jadi biarkan dia ya bi jangan sampai bibi buka pintunya, sekarang dia ingin menyusul Asa sedangan keadaan seperti itu, sungguh tak masuk akan sekali, kalau dia baik-baik saja aku tak akan melarangnya bi, tapi lihatlah keadaanya yang belum pulih sama sekali "
"Baik tuan baik saya gak akan membuka pintunya sampai tuan yang membukanya sendiri, saya gak akan membantah semua perintah tuan"
"Baguslah, patuhi semua kata-kata saya ya "
"Baik tuan "
__ADS_1
Dikamar bahkan Yuda sudah tak tahan dan akhirnya terduduk dengan keadaan yang sudah pasrah, karena percuma dirinya akan berteriak bagaimana pun tak akan didengar oleh ayahnya ini.
Yuda kembali mengambil ponselnya, kembali dirinya menghubungi Asa, menghubungi istrinya namun kenapa tak dingakat terus. Yuda terus saja menelfonnya. Namun seketika dirinya punya ide.
Dipasangnya kartu baru lalu dirinya akan menggunakannya siapa tau oleh nomor baru Asa akan mengangkatnya.
Dan benar diangkat juga "hallo dengan siapa ini "
"Hallo Sa, ini aku Yuda, kenapa kamu gak angkat telfon aku hah kenapa, aku disini khawatir sama kamu, kamu disana gak apa-apakan gak terjadi sesuatu kan Sa, kamu gak terlukakan "
"Aku gak apa-apa jadi udah yah jangan ganggu aku lagi udah sampai disini aja ya kamu telfon telfon aku lagi"
"Alhamdullilah Sa, tolong jangan dimatikan dahulu telfonya"
"Memangnya ada perlu apa lagi sih sebenernya kamu Yud sama aku, udah gak ada lagi yang perlu kita bicarain ya, aku udah bosen dengar kata-kata kamu itu "
"Entahlah aku gak tau, yang pasti aku gak akan pernah pulang lagi Yud, aku udah bilangkan kita cerai kamu ngertikan kata cerai atau perlu aku jelasin apa itu cerai sama kamu , aku gak peduli mau ayah marah atau engga juga karena aku gak akan kembali lagi kesana kerumah kamu itu."
"Aku udah bilang ya, aku gak mau cerai, aku gak mau sampai kita berpisah, kamu kenapa sih pengen banget cerai sama aku gebet banget, apa kamu udah punya pengantinya makannya kamu pengen ceria dari aku terus menerus hah"
"Ya karena aku udah gak pantes sama kamu bukannya karena udah ada yang lain, fikiran kamu tuh terlalu dangkal ya sama aku, kamu tuh orang baik, sedangkan aku orang jahat, jadi udah yah please jangan bikin aku malah makim berat buat tinggalin kamu. "
"Dengerin, aku juga dulu bukan manusia baik, tapi setelah ada kamu, aku sekarang bisa berubahkan dan kamu juga bisa tanpa pergi. Kita bangun kembali hubungan kita sama-sama. Kita perbaiki sama-sama ya dari nol lagi kita jangan bahas-bahas lagi masalah yang dulu kita lupain semuanya "
"Gak bisa Yud , aku udah gak pantes sama kamu, aku udah bilang aku mau cerai dari kamu, lebih baik sekarang kamu belajar untuk lupain aku, bukan untuk memperbaiki semua masalah ini sama-sama, belum tentukan kedepannya akan baik "
__ADS_1
"Gak akan, aku akan pergi kesana susul kamu, jadi kamu nanti jangan kaget kalau tiba-tiba aku ada dirumah Zeline, aku tau kamu sekarang lagi ada disana bersama kedua orang tua Zeline juga"
Tiba-tiba sudah mati sambungan itu, Asa segera melempar ponselnya dengan kesal. Dan tanpa Asa sadari ada yang menutup pintunya. Ada yang mendengar semua ucapan Asa. Orang itu segera pergi dengan senyum yang mengembang, akhirnya tau juga rahasia terbesar Asa.
Asa segera menarik nafasnya dengan kesal "Yuda kenapa sih kamu ini ngotot terus sama hubungan kita yang gak akan ada ujungnya sampai kapan pun gak akan baik, yang terbaik adalah berpisah "
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah, beri aku petunjuk agar aku bisa menghadapinya dengan kepala dingin, dan menyelesaikannya dengan baik-baik, aku tau aku yang salah karena telah berbuat jahat pada Yuda tapi tolong ya Allah beri aku jalan untuk menyelesaikan semuanya "
Asa segera mengambil ponselnya, mengahapus semau yang berhubungan dengan Yuda, sekarang dirinya harus mundur, lebih baik mencintai tanpa memiliki dari pada memiliki tapi sakit.
**
Bibi yang memang khawatir dengan Yuda segera mengetuk pintunya "tuan apa tuan baik-baik saja "
"Tuan "
"Ya bi saya baik-baik saja, ada apa bi. Apa bibi akan membantu saja kabur, kalau tidak jangan menganggu saya, saya ingin sendirian "
"Tidak tuan, mana mungkin saya membantah perintah tuan besar saya hanya khawatir saja dengan tuan, tuan tidak akan melakukan bunuh dirikan didalam"
"Bibi ini mana mungkin saya melakukan itu, saya gak akan mungkin bunuh diri, jadi bibi tenang saja. Kalau tak mau membantu membuka pintu kamar saya ya udah bibi jangan ganggu "
"Iya tuan, tapi ingat ya tuan jangan sampai bunuh diri, sayangi nyawamu sendiri ya tuan "
"Iya bi, iya bawel banget, saya pasti mikir kok kalau mau bunuh diri"
__ADS_1
Yuda segera bangkit dari duduknya dibawah ubin, mencoba sekali lagi untuk kembali berjalan tanpa bantuan apa-apa dan ternyata berhasil meski sedikit sempoyongan namun Yuda sekuat tenaga mengapai tempat tidurnya, dan pada saat sampai Yuda roboh, namun dirinya sangat senang akhirnya berhasil juga.