Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Baru ingat dia Psikopat


__ADS_3

Asa sekarang sedang ada dikamar, memikirkan bagaimana alasan yang pas untuk mengelabui Yuda. Agar tak mau ikut kerumah sakit untuk menebus obatnya. obat bohongannya.


"Ayo Sa kita pergi kerumah sakit, sambil aku juga mau bicara sama dokter tentang kesembuhanku yang lambat ini "


Sebenarnya Asa sudah mengabarkan pada dokter bahwa Yuda sudah sembuh. Dan dirinya selama ini memberikan obat untuk hewan pada Yuda agar tetap lumpuh dan tak bisa berjalan kembali.


"Sa kok malah begong ayo "


"Emm biar aku aja yang kerumah sakit sendirian ya Yud, kamu dirumah aja "


"Kenapa Sa, apa kamu malu bawa aku yang cacat ini. Aku juga gak mau kaya gini Sa "


"Bukan begitu Yud, aku hanya tak mau kamu kelelahan. Aku mau kamu istirahat yang cukup "


"Selalu itu alasannya Sa, aku sudah istirahat dengan cukup, kenapa apa ada yang kamu sembunyikan dari aku "


"Engga kok Yud, ga ada yang aku sembunyiin dari kamu, aku cuman gamau kamu kecapean Yud " Asa segera jongkok dan memegang kedua tangan Yuda.


"Nanti sore kita jalan-jalan ya. Biarin aku sendiri yang ambil obatnya. Kamu harus banyak istirahat dan gak banyak fikiran "


"Yaudah kalau gitu, aku tunggu nanti sore ya Sa, kamu jangan mampir kemana-mana lagi ya aku tunggu kepulangan kamu "


Yuda segera mencium kening Asa. Asa lalu mengambil tangan Yuda dan menyaliminya. Lalu pergi kerumah sakit sendirian.


Setelah sampai Asa segera masuk kedalam apotik membeli obat yang selalu dirinya beli. Lalu menyimpannya dengan aman. Sekarang harus kemana ya masa iya sebentar banget.


"Apa kerumah Zeline aja ya " Asa segera mengeluarkan ponselnya dan menelfon Zeline namun tak ada jawaban sama sekali. Sudah beberapa kali Asa menghubunginya namun tak ada jawaban.


Dengan lesu Asa memasukan kembali ponselnya. Duduk diam dikursi luar apotik. Binggung harus pergi kemana. Tapi lebih baik pulang saja dari pada luntang lantung seperti ini. Seperti yang tak punya rumah saja.


***

__ADS_1


Zeline yang baru bangun segera celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya namun tak ada, tapi ada sebuah note. Zeline segera mengambilnya "Sayang aku masih ada kelas, segeralah makan aku mencintaimu "


Zeline yang membacanya hanya tersenyum-senyum saja, membuka bubur yang dibeli suaminya. Lalu perlahan memakannya dengan lahap, perutnya ini sangat lapar sekali.


Tadi sudah keluar banyak sekali dan sekarang harus di isi kembali agar kembali kuat untuk menjaga anaknya ini.


"Kamu didalam sehat-sehat ya " ucap Zeline sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Setelah beres makan Zeline segera membereskan mejanya dan mengelilingi meja suaminya dan terpampang bingkai foto pernikahan mereka berdua.


Saat Zeline mendengar suara pintu kunci diputar Zeline segera berlari kecil kearah belakang pintu. Pasti itu suaminya.


Liam segera membuka pintunya alangkah kagetnya dia saat tak melihat istrinya di sofa. Kemana dia, dengan tergesa-gesa Liam mencari istrinya. Zeline yang ada dibelakang mengendap-endap mengikuti langkah suaminya lalu memeluknya dari belakang.


"Kamu lagi cari siapa sayang " tanya Zeline dengan sedikit terkikik.


Liam yang lega itu istrinya yang memeluknya, langsung memutar tubuhnya dan memeluk istrinya sambil mengecupi kepalanya. Kalau saja tadi istrinya tak bicara mungkin sudah dirinya banting.


"Hehehe maaf cayang, aku hanya ingin mengagetkan mu saja"


"Ist sudah mulai nakal ya " sambil menyentil telinga istrinya.


"Apa sudah dimakan buburnya sayang " tanya Liam lagi.


"Sudah, sekarang apakah sudah boleh pulang pak dosen, aku ingin berburu makanan yang lezat lezat,aku lapar kembali pak dosen "


"Sudah sayang, ayo kita berburu, apapun yang kamu mau kita beli ya" Liam segera melepaskan pelukan mereka lalu menarik istrinya untuk segera keluar dan masuk kedalam mobil mereka.


"Silahkan masuk tuan putri "ucap Liam sambil membukakan pintu mobilnya.


"Terimakasih pengawal " jawab Zeline dengan sedikit kekehan.

__ADS_1


Setelah Liam menutup pintunya segera Liam naik kedalam mobil dan mengendarainya. Namun saat didepan gerbang mereka melihat Jo yang sedang ditarik oleh Riyan. Sedangkan Jo meronta-ronta tak mau dibawa oleh Riyan


"Mas itu Jo kenapa " tanya Zeline yang khawatir.


"Sebentar aku turun dulu ya sayang, kamu diam disini " ucap Liam sambil turun dan mengampiri Jo dan Riyan.


"Lepasin Yan, kita udah ga ada lagi yang perlu di bicarain, jadi udah aku mau pulang " ucap Jo memohon tangannya sudah sakit bahkan merah karena cekalan Riyan yang sangat erat.


"Gak bisa, semuanya belum selesai Jo, kita harus bicara. Kamu jangan memutuskan sepihak kaya gini. Aku gamau kita putus, jadi sekarang kita perlu bicara dari awal lagi "


"Gak mau Yan, udah aku mau pulang aku cape. Kamu tau kan kalau aku udah bilang putus ya putus kamu intropeksi diri deh, perbaiki diri kamu dulu. Aku gamau kalau harus aku aja yang jaga hati buat kamu sedangkan kamu bebas "


"Aku jaga hati aku kok, ini tuh masalah kecil, harus berapa kali aku bilang ini masalah kecil kamu ngertikan apa yang aku ucapin, Jo gak harus aku ngulangin kata-kata aku lagi"


"Aku ngerti tamu yang gak ngerti perkataan aku, udahlah aku cape please jangan nganggu aku lagi "


Tiba-tiba Liam sudah ada dihadapan mereka berdua. "Ada apa ini " ucap Liam sambil mencekal tangan Jo yang sebelahnya.


"Tolong anda jangan ikut campur masalah saya dengan pacar saya , kamu itu gak tau apa-apa" ucap Riyan dengan nada intimindasi


"Eh udah putus ya jangan ngaku-ngaku kamu itu " teriak Jo.


"Saya tidak ingin ikut campur, hanya saja saya ingin menolong mahasiswi saya dan sahabat istri saya, yang sedang diperlakukan dengan tidak baik ditarik-tarik seperti apa saja. Kalau ingin bicara jangan seperti ini " jawab Liam dengan wajah datarnya.


"Ya sudah saya hanya ingin berbicara dengan Jo, emang dari tadi ada yang salah saat saya bicara sama Jo, engga kan saya baik-baik ngajak Jo bicara " ucap Riyan dengan Nada marahnya.


"Silahkan saya tak melarang anda unduk berbicara dengan Jo, asal kamu jangan kasar seperti ini. Hormati dia seperti kamu menghormati ibumu " sambil melepaskan cekalan Riyan pada Jo.


Jo yang mempunyai kesempatan segera lari ngacir kedalam mobilnya dan tak lupa berterimakasih kepada dosenya.


Riyan menatap marah pada Liam, namun Liam lebih seram lagi menatap Riyan. Sampai Riyan bergidik ngeri, lalu memutuskan pergi tanpa berbicara apa-apa lagi pada Liam.

__ADS_1


Dirinya baru ingat Liam adalah seorang psikopat bagamana kalau dirinya menjadi korban Liam coba. Dirinya masih ingin hidup dan memperjuangkan Jo.


__ADS_2