
Pagi ini Ibrahim datang kerumah sakit bersama sang anak yang ingin bertemu dengan ibunya, dengan perlahan Ibrahim membuka pintu dan Milla yang menyangka itu Andre sampai tersenyum senang.
Namun saat melihat itu bukan Andre tapi Ibrahim, Milla langsung membalikan badannya dan melihat kearah yang lain, sungguh sangat menyebalkan sekali kan.
"Mau apa kamu Ibrahim kemari, apakah kamu masih berani datang kemari, apakah kamu mau aku laporkan kepolisi jangan kesini, aku tak mau kau kesini lagi, pergilah dari hadapan ku, aku tak mau ada diri mu disini "
"Aku kemari karena Naura ingin melihatmu, kalau dia tidak mau ke sini aku pun tidak akan ke sini. Jadi kau tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa silakan kau ingin melaporkanku kepolisi asal kau urus Naura dengan baik, seperti aku mengurusnya dulu jangan siksa dia apa lagi marahi dia seperti apa yang selalu kau lakukan padanya"
Naura yang tak tau apa apa segera berlari kearah mamahnya dan melihat wajah mamahnya yang berbeda, kenapa berbeda.
"Mamah ini bukan mamah kenapa wajah mamah berbeda "
"Naura ini Mama ini gara-gara Ayah kamu wajah mama jadi berubah seperti ini. Mintalah kau pertanggung jawaban pada Ayahmu itu, kalau saja wajah mama tidak disiram olehnya mungkin tidak akan berubah seperti ini, tanyakan semuanya pada ayah tersayangmu itu jangan bertanya pada mama"
Naura menatap ayahnya lalu menatap kembali mamahnya, tersenyum samar dan memegang tangan mamahnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menyalahkan wajah mama yang berbeda , yang penting ini Mama bukan orang lain. Aku senang bisa melihat mama membuka kedua bola mata Mama berbicara lagi padaku, aku senang sekali nanti berarti mama sudah bisa kan mengantarkan Naura sekolah lagi seperti biasa, Mama sudah baik-baik saja kan aku tidak akan mempermasalahkan wajah mama yang berubah, malahan makin cantik Naura makin sayang sama Mama, sayang banget deh aku sama mamah, kapan mamah pulang kerumah , aku udah kanget banget sama mamah "
"Kamu ini gimana sih jadi anak seharusnya kamu tuh benci sama Ayah kamu, gara-gara Ayah kamu muka mama jadi berubah kayak gini. Mamah aja belum pulang dari rumah sakit kamu udah bilang mau dianterin sekolah aja, Mama ini harus banyak istirahat Jadi kamu jangan aneh-aneh deh minta ke mama untuk anterin kamu sekolah. Seharusnya kamu tuh urus Mama, mama lagi sakit kayak gini bukannya diminta ini itu nggak salah harusnya Mama yang minta ini itu sama kamu"
" Ya udah deh ya udah Mama mau apa dari Naura, nanti kalau Naura punya uang Naura beliin deh apa yang Mama mau Ayo dong cepet bilang"
"Mama mau kamu benci sama Ayah kamu, karena ayah kamu udah buat muka mama rusak kayak gini. Kamu harus benci banget sama Ayah kamu. Apa kamu bisa membenci Ayah kamu itu demi Mama nggak akan pernah bisa kan "
Naura melihat pada ayahnya, selama ini ayahnya yang mengurus dirinya, apapun yang dirinya mau ayahnya yang kabulkan, saat mamahnya tak mau dengannya ayahnya yang membuat mamahnya mau mengantarkan sekolahnya.
Ibrahim yang melihat anaknya memegang tangannya dan tersenyum padanya sangat senang sekali, bahkan rasa senangnya tak terhingga.
"Maaf Mamah bukannya Naura nggak sayang sama Mama. Tapi kalau nggak ada Ayah Naura nggak akan bisa jadi apa-apa. Naura akan selalu dibenci sama mama sampai kapanpun kalau nggak ada Ayah, jadi Naura sampai kapanpun tidak akan pernah membenci Ayah"
"Se salah-salahnya Ayah Naura tidak akan pernah membencinya Mungkin Naura memang masih kecil tidak tahu apa-apa, tapi dalam hati Naura hanya Ayah lah sosok pelindung yang paling Naura butuhkan dan yang memang selalu ada untuk Naura selama ini, mungkin Naura masih anak kecil ingusan yang tidak tahu apa-apa tapi hati Naura memilih Ayah. Maafkan Naura mah Naura tidak bisa membenci Ayah Naura sendiri"
__ADS_1
Milla yang marah melemparkan bantalnya dan mengamuk membabi buta.
" Ya sudah kalau begitu kalian berdua pergi dari sini, jangan pernah temui aku dann kau Naura jangan pernah menganggap aku sebagai ibumu lagi. Jangan pernah kau membawa bawa aku dalam hidupmu lagi, jangan kau minta diantarkan sekolah lagi padaku, aku tidak akan pernah sudi untuk melakukan itu lagi, Jadi kalian berdua cepat pergi dari ruanganku dan jangan pernah ada yang datang lagi kemari, kau dan kau bukan lagi anakku ataupun suamiku jadi lebih baik kalian berdua pergi jangan ganggu hidupku lagi sampai kapanpun"
Naura segera menarik tangan ayahnya keluar dari ruangan ibunya dan berjalan menjauh dari sana, Ibarahim langsung membawa anaknua duduk terlebih dahulu dan mengusap rambutnya.
"Apakah kau yakin mengatakan itu. Apakah kau yakin tidak mau bersama ibumu lagi. Bukankah dirimu sangat ingin bersama ibumu Mila. Kenapa kau memilih Ayahmu yang sudah membuat ibumu seperti itu. Apakah kau masih menganggapku ini sebagai ayahmu setelah apa yang aku lakukan pada Ibumu. Apakah kau yakin suatu saat kau tidak akan menyesal telah memilih aku ayahmu seorang laki-laki yang tak pernah dianggap oleh istrinya dan telah menyakitinya "
Naura mendongakan kepalanya dan menatap mata ayahnya " Naura sudah memilih dan Naura sudah memikirkannya dari dulu , setelah Mamah kecelakaan Naura sudah berpikir mungkin mamah nanti akan mengatakan sesuatu hal yang membuat Naura harus memilih antara ayah dan mama, dan Naura sudah memilih kalau Naura ingin bersama ayah saja mungkin tanpa mamah pun, Naura akan lebih bahagia bersama ayah karena jika bersama mama belum tentu Naura akan sebahagia ini "
Ibrahim yang senang memeluk sang anak dan memangkunya untuk segera pulang "terimakasih nak, terimaksih ayah sangat senang, kau tak membenci ayah "
"Ehh ada cucu kakek, ayo kita masuk ke ruangan Mamah Yuk, pasti mau ketemu sama mama ya, ayo sini sama kakek di pangku ayo ayo, sama udah lama Naura nggak ke sini pasti Mama juga kangen sama Naura, ayo syaang kita keruangan mamah yu, kakek dah lama gak pangku kamu "
Naura mengelengkan kepalanya "Naura mau pulang sama ayah, Naura sudah memilih, jadi Naura mau pulang, kakek sehat sehat ya jaga mamah juga kita pulang dadah kakek "
__ADS_1
Ibrahim langsung meninggalkan mertuanya dengan kebinggugan yang dibuat oleh Naura "maksud Naura apa sudab memilih apa maksudnya, ada apa ini, apa yang sebenarnya tidak aku ketahui apa ini "