
Yuda sudah dibawa kerumah sakit, alhamdullilah selamat namun keadaannya sangat keritis.
Tusukan yang diberikan oleh Liam ada di telapak tangan , otot tangan,punggung serta sampai ada yang mengenai kakinya namun tak terlalu dalam seperti dulu sampai bisa merusak organnya.
Dokter masih memeriksanya semuanya takutnya nanti Yuda akan lumpuh karena ada pula tulang kakinya yang patah.
Yang ini lebih parah dari yang sebelumnya sungguh ayah Yuda sangat menyesal tak bisa menjaga lagi anaknya ini seharusnya kemarin dia melarang Yuda untuk pergi kuliah dan diam saja dirumah pasti kejadian penculikan ini tak akan terjadi.
Ingin dia melaporkan kepolisi tentang kejadian ini namun nanti pasti akan berdampak keanaknya pula karena anaknga yang memulai semuanya.
Yuda sudah dipindahkan keruangannya dia sedang dirawat oleh seorang suster yang sangat ramah sekali, tubuh Yuda sedang dibersihkan oleh suster itu, banyak sekali selang-selang yang menempel pada tubuh anaknya itu.
"Bapak yang sabar ya, selalu berdoa ya pak " ucap suster itu
"Baik suster terimakasih sus "
"Iya pak, saya permisi dulu ya " pamit suster itu masih dengan senyumnya manis itu.
Dia adalah Asa Devika suster yang memang terkenal ramah dan baik hati kesetiap pasien yang dia rawat.
Sudah cantik dan baik pula sudah paket lengkap memang jika nanti yang menjadi kekasih suster Asa pasti beruntung sekali.
Ayah Yuda lalu menghampiri anaknya itu dan duduk dikursi yang sudah disediakan, dia menangis meratapi nasib anaknya ini kenapa bisa senekat itu padahal dia sudah menasehatinya berulang kali namun ternyata Yuda sangat keras kepala tak mendengarkan nasehatnya selama ini.
"Na bangun lah, ayah tak mau kehilangan mu na " sambil terus menerus meneteskan air matanya itu.
Namun secara tiba-tiba tangannya Yuda perlahan-lahan bergerak dan kedua matanya terbuka namun tertutup kembali.
Ayah Yuda yang melihatnya langsung memencet tombol yang ada disebelah ranjang anaknya itu.
__ADS_1
Datanglah dokter Arnold serta suster Asa "dok tadi Yuda menggerakan tanganya serta membuka matanya namun tertutup kembali " ucap ayah Yuda
"Baik pak saya periksa dulu ya" jawab dokter
Perlahan dokter memeriksa Yuda dan perlahan Yuda membuka kembali matanya itu namun seperti tadi tertutup kembali "perlahan saja Yuda matanya dibuka" ucap dokter.
Dengan perlahan suster Asa berdiri di dekat kepala Yuda agar menghalanginya dari silaunya cahaya yang masuk kedalam ruangan.
Perlahan dibukanya matanya itu yang dilihat pertama oleh Yuda wajah Zeline apakah benar ini Zeline.
"Zeline " sambil mengerakan tangannya kearah Asa.
Asa yang ditunjuk binggung kenapa Zeline, perlahan sustes Asa memegang tangan Yuda namun Yuda malah mengenggamnya dengan sangat erat "Line jangan tingalin aku lagi ya " dengan suara yang sangat serak.
Perlahan suster asa mengambil air minum yang terletak tak jauh dari tempatnya dengan tangan yang satunya lagi yang tak dipegang oleh Yuda.
Dinaikannya kasur itu perlahan oleh dokter Arnold dan suster Asa membantunya untuk minum.
Ayah Yuda lantas menghampiri anaknya itu beserta suster Asa " na lepaskan tangan suster Asa dia bukan Zeline na "
"Tidak ayah ini Zeline, aku sudah bilangkan bahwa Zeline akan jadi miliku ini lihat nyatanya sekarang Zeline ada disisiku "
Asa yang mendengar nama Zeline terus saja disebut seperti mengenal nama itu, seperti familiar untuknya.
"Sadar lah na jangan seperti ini, kamu harus merelakan semuanya Zeline sudah dimiliki oleh orang lain, kamu jangan egois seperti ini na, jika Allah tidak menakdirkan Zeline untuk mu, kamu harus iklas na, nanti pasti Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik dari Zeline. Sekarang lepaskan tangan suster Asa Yud "
"Tidak ayah, aku tak mau kehilangan kembali Zeline "ucap Yuda semakin mempererat pegangganya itu ditangan suster Asa.
Suster Asa sangat kesakitan karena pegangan itu sampai mencengkram tangannya "Yud tolong lepaskan dulu ya tangan aku " minta suster Asa.
__ADS_1
Yuda hanya mengeleng saja "aku tak akan kemana-mana ko Yud, aku akan duduk disisimu " bujuk suster Asa kembali.
Perlahan Yuda melepaskan tangan suster Asa dan membiarkan sustee Asa untuk duduk di kursi yang ada didekat Yuda.
"Sekarang kamu tidur ya Yud, aku temani" dengan sabarnya suster Asa mengusap-usap kening Yuda sampai tertidur dengan pulasnya.
Dengan sangat pelan-pelan sekali suster Asa bangkit dan mendekati ayahnya Yuda yang sedang melamun "pak " panggil suster Asa sambil menepuk pundak ayahnya Yuda.
"Eh suster maaf saja melamun, maafkan anak saya ya suster "
"Iya tak apa pak, mohon maaf jika saya lancang, Yuda kenapa ya pak memanggil-manggil nama Zeline apa dia kekasihnya " tanya suster Asa dengan sopan karena dia binggung dengan keadaan ini.
"Bukan sus, Zeline bukan kekasihnya namun sahabat Yuda, namun Yuda memeliki rasa yang lebih dari sekedar sahabat sus dan dia dengan segala cara melakukan hal apapun untuk mendapatkan Zeline dari calon suaminya sus" cerita ayahnya Yuda entah kenapa ayahnya Yuda mau menceritakannya, ayah Yuda yakin pasti suster Asa bisa menjaga rahasia ini.
"Oh seperti itu pak, namun kenapa Yuda malah menganggap saya sebagai Zeline pak " ini sungguh menjadi tanda tanya untuk suster Asa.
Memang dia mempunyai sodara yang sangat mirip sekali wajahnya dengannya malahan kadang orang-orang menganggap mereka kembar namun kami berdua tak seumuran beda 2 tahun.
Sodaranya itu sekarang masih kuliah dan memang akan menikah sebentar lagi, apa orang yang dimaksud Yuda adalah sodaranya itu anak bibinya, namanya pun sama Zeline.
Namun tiba-tiba ada yang memangilnya ternyata itu suster Sinta " suster Asa ayo cepat bantu ada pasien kecelakaan sus " minta suster sinta.
Lantas suster Asa pamit kepada ayahnya Yuda dan bergegas pergi untuk membantu suster-suster yang lain.
Saat suster Asa datang pasien sudah dimasukkan keruanga UGD bergegas suster Asa masuk dan membantu dokter Iren untuk menangani pasien itu.
Selesai juga, sungguh lelah sekali dia, suster Asa akan istirahat terlebih dahulu dan nanti akan menelfon sodaranya yang diculik entah oleh siapa dan akan menanyakan kabarnya sekarang bagaimana.
Sungguh dia sangat khawatir dengan sodaranya itu sudah dua kali dia diculik dan alhamdullilah selalu selamat, dia sangat menyayangi sodaranya itu.
__ADS_1
Suster Asa lantas membuka bekal makannya lalu memakannya dengan tenang, memang sekarang bukan waktunya istirahat namun dia sama sekali belum makan karena tadi dia membantu terlebih dahulu Yuda tidur.
Nanti saat pemeriksaan Yuda kembali, suster Asa akan menanyakan seperti apa wajah perempuan itu, apa itu Zeline sodaranya atau bukan.