Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Mau kabur


__ADS_3

Pagi hari tiba, Andre melongok kearah istrinya "sayang apakah kau baik baik saja, apa perlu kita periksa hidungmu "


"Tidak usah aku baik baik saja paman, segeralah bersiap, aku aku sudah menyiapkan semuanya, aku harus menyusui dahulu Nabil, "


Andre menarik tangan istrinya dan Syifa yang belum siap malah masuk dalam pelukan suaminya.


"Maafkan paman sungguh paman tidak bermasud seperti itu, paman marah karena kamu tidak berbicara pada paman tentang Milla yang datang ke rumah, kenapa seperti itu pamankan sudah bilang kalau ada apa-apa bilang sama paman jangan sungkan-sungkan kamu menganggap paman suami kamu kan"


"Tentu aku menganggap mu sebagai suamiku paman tapi aku tidak mau membebani mu, dengan semua apa yang Mila lakukan aku bisa menghadapinya sendiri, tidak usah menyusahkan paman yang sedang bekerja di kantor belum lagi masalah orang yang selalu menerror ku, sekarang masalah Milla, aku bisa melakukannya sendiri aku bisa paman bisa menghadapinya tak usah khawatir "


"Tetap saja paman khawatir Milla itu bukan orang yang gampang untuk diajak bicara paman sangat mengenal dia"


"Sudah paman lepaskan, kasian Nabil belum aku kasih susu "


Syifa melepaskan pelukan suaminya, pergi kearah kamar sang anak yang mulai menangis.


**


Airin duduk dengan was was, Tora tak ada disini, tapi kakinya dirantai, memang dirinya dibebaskan untuk berjalan kemana saja tapi tetap saja memakai rantai kakinya tak bebas untuk pergi kemana mana.


"Aku harus mencari kuncinya "


Airin celingak celinguk, tak ada siapa siapa, Airin berjalan dengan perlahan agar tak menimbulkan suara, bahkan sangat pelan masuk kekamar yang berbeda beda dan juga sudah mengeledah setiap pakaian yang digunakan Tora yang ada sakunya.


"Dimana kenapa tidak ada "


"Kau sedang mencari ini "


Airin yang mendengar suara Tora membalikan badannya dan menyandarkan dirinya kearah lemari, ditangan Tora ada kunci yang dia acungkan


"Tidak aku tidak mencari apa-apa aku sedang membereskan barang-barang mu saja, apakah tidak boleh, aku tidak ada kerjaan lain jadi aku ingin mencuci nya"


"Kau membuka lemari ku dengan banyak baju yang sudah bersih dan kau ingin mencucinya. Apakah itu masuk akal untuk ku "


Airin tak bisa menjawab diam saja, menundukan kepalanya dan Tora sudah ada dihadapannya memegang dagunya dan membuat dirinya mendongakan kepalanya.


"Aku tahu kau ingin kaburkan dariku makanya melakukan ini, jangan macam-macam denganku atau kau akan tau akibatnya Aku tidak akan main-main dengan apa yang aku katakan"

__ADS_1


"Sekali lagi aku tahu kau mencoba untuk kabur aku akan membunuh ibumu. Aku tidak akan merasa bersalah bahkan aku akan membunuhnya di hadapanmu" sambil melepaskan cengramannya pada dagu Airin.


Tora kembali keluar dari kamar, dan entah pergi kemana, sedangkan Airin terduduk lemas, mengapa malah jadi ibunya yang jadi taruhan, harus bagaimana ini.


**


"Sayang ayo aku akan mengantarkan mu "


"Baiklah " jawab Jo dengan seadannya


"Apakah kau masih marah "


"Tidak aku tidak marah padamu aku sudah terbiasa dengan kelakuan mu. Jadi untuk apa aku marah, karna percuma aku marah-marah terus padamu dan akhirnya kau melakukan itu lagi dan lagi "


"Maafkan aku, aku bertemu dengan dia tak melakukan apa apa, kami bertemu tak sengaja "


"Ya aku tahu setiap kau bertemu dengan perempuan pasti semuanya tidak sengaja jadi mari kita pergi bekerja saja"


Jo lebih dulu masuk kedalam mobil, sedangkan Riyan mengusap wajahnya dan harus bicara bagaimana lagi pada istrinya itu.


"Kenapa sih malah jadi rumit seperti ini, tak ada habis habisnya rumah tanggaku ini dengan masalah "


**


"Tidak apa nak kami mengerti, tapi ibu sangat senang kalian mengunjungi kami, maaf kami tak mengunjungi rumah kalian, tapi nanti kami akan kesana "


"Apakah ibu dan ayah mau tinggal bersama kami " tawar Liam


"Tidak nak, ayah disini masih banyak pekerjaan, kami juga lebih baik disini saja, kalian disana harus baik baik ya, kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin ,jangan mendahulukan emosi ya, apa lagi sekarang sudah punya Lucas "


"Iya ayah pasti "


Liam langsung memeluk mertunya satu persatu, Zeline pun sama melakukan hal yang sama.


Mereka berpamitan lalu pergi untuk pulang kerumah mereka, karena memang pekerjaan Liam sangat banyak dan menumpuk kasian Jovanka bekerja sendirian.


Selama dimobil Zeline hanya tersenyum saja "kenapa sayang, kenapa kau tersenyum terus "

__ADS_1


"Au hanya merasa senang saja mas. Akhirnya aku bisa bertemu dengan ayah dan ibu seperti apa yang aku mau kamu mewujudkan apa yang aku mau, terima kasih ya Mas ternyata ini kejutan yang kamu bilang ketemu sama orang tua aku"


"Mas yang harusnya minta maaf sama kamu . Mas enggak peka malah harus di kodein dulu sama kamu maaf ya Mas terlalu banyak kerjaan jadi kadang gak tahu fokus dan gak mikirin yang lain"


" Iya aku ngerti Mas kamu kan kerja buat aku dan Lucas juga ,jadi aku ngerti aku tak akan pernah ngeluh selagi kamu memang benar-benar bekerja dan tidak melakukan hal lain, dan juga hanya bekerja untuk kami dan keluarga bukan untuk orang lain "


" Aku bekerja hanya untuk kalian berdua saja kok tak ada yang lain dan tentu untuk ayah dan ibuku pula untuk mereka semua keluarga kita"


Zeline mengangguk dan kembali melihat jalan, jalan yang sejuk jalan yang dulu dirinya lalui untuk sekolah dan bermain bersana Jovanka.


Oh ya sekarang bagaimana ya keadaan Jovanka apakah dia baik baik saja, apa tak ada masalah lain.


**


Jo turun dari mobil, tanpa pamit pada suaminya, atau pun melakukan rutinitas yang lainnya, sudahlah bodo amat kesal dengan laki laki itu yang tak bisa setiap pada satu perempuan.


Apa susahnya sih laki laki setia pada satu perempuan, apa sulitnya sih, apa yang membuat sulit ?


Saat Jo berbelok kearah ruangannya dia malah dikagetkan dengan Gavin yang sudah duduk manis disana.


"Gavin pagi pagi begini kau sudah mengagetkan ku "


"Hehe maafkan aku, aku sangat bersemangat bekerja makannya aku datang pagi pagi seperti ini "


"Aku kira ini hantu "


"Ya jelas tidak aku manusia, jadi bagaimana apakah kau baik baik saja kemarin "


"Tentu aku baik baik saja, lalu apakah kau ingin menanyakan itu saja padaku "


"Tidak kita kan akan bekerja dan yah, ayo kita sarapan dulu "


"Aku sudah makan "


"Temani aku sebentar ayo ayo "


"Baiklah ayo "

__ADS_1


Gavin langsung saja mengadeng Jo, tanpa peduli Jo sudah mempunyai suami.


__ADS_2