Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
semua beres


__ADS_3

Liam sekarang sudah memulai aksinya, dirinya sudah ada dikamar mayat dan membuka satu persatu mayat yang ada disini, ternyata ada dipaling pojok mayat itu.


"Kau sungguh menyusahkan sekali wanita sialan, harusnya aku sudah tenang tak ada gangguan dari mu, kau ini hidup saja mnyusahkan bakan sudah mati pun sama menyusahkan sekali"


Liam mengangkatnya, lalu memasukannya kedalam koper besar yang sudah dirinya bawa. Kenapa disini tak ada orang karena dia sudah mematikan listriknya jadilah mati lampu. Mereka sibuk dengan kabel dan dia sibuk dengan mayat.


Dengan tenang Liam mengusur koper itu keluar tanpa ada rasa takut atau pun apa, dirinya memasukan koper itu kedalam bagasi dan kembali masuk untuk mencari laki laki itu, laki laki yang sudah berani mendengar pembicaraannya.


Dia tau sekarang laki laki itu masih ada disini dengan perlahan Liam masuk kesebuah ruangan yang ada laki laki itu.


"Apa kabar "tanya Liam mengagetkan orang itu.


"Siapa kau, ada yang bisa aku bantu"


Dengan tanpa basa basi Liam memukul kepala orang itu mengunakan pemukul bisbol yang dirinya bawa tadi.


Setelah benar benar pingsan, Liam mengusur orang itu tanpa belas kasih, atau pun iba sedikit pun.


Setelah sampai depan mobilnya Liam segera memasukannya juga kebagasi dan pergi dari rumah sakit ini, dengan senyum senangnya, tak ada kendala sendikit pun dalam misinya ini.


Semuanya bejalan dengan aman Liam pergi sambil bersiul senang, entah kenapa kalau melakukan hal ini sangat menyenangkan sekali, tapi dirinya juga ingat pada istrinya dan merasa bersalah.


Akhirnya sampai juga. Liam mengusur koper yang didalamnya ada perempuan itu dulu dan membukannya lalu, membaringkannya di susuk dengan laki laki yang pingsan tadi.


Liam memberdirikan orang itu mengikatnya dengan kuat dan membiarkannya begitu saja dan dirinya duduk disebuah kursi sambil menatap laki laki itu.


Tak lama orang itu bangun dan melihat sekitar yang temaran "dimana aku, dimana ini kenapa aku diikat seperti ini " ucap pria itu dengan panik dan takut terjadi sesuatu.


"Kau mau tau ini dimana"


Laki laki itu langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Liam dengan was was.


"Siapa kau, apa mau mu, kenapa kau kurung aku. Aku tak punya salah padamu, lalu kenapa aku sampai di ikat seperti ini, tolong lepaskan aku , aku tak punya salah padamu"


"Satu satu, kau begitu banyak memberikan pertanyaan, baik akan kujawab, pertama aku malaikat maut mu, kedua kenapa aku mengurungmu karena kau tau siapa aku dan kau sudah lancang mendengarkan percakapan sahabatku, yang ketiga aku ini bermain denganmu apa boleh "


"Aku kan sudah berjaji pada temanmu untuk tak bicara, lalu kenapa kau menculiku, aku sungguh sungguh akan menutup mulutku, tolong lepaskan, tolong jangan seperti ini aku mohon, kasihani aku"


"Tak bisa, kau sudah terlalu lancang untung mendengar percakapan orang lain. Apakah kau tak diajarkan untuk sopan" Liam bangkit dan mengambil sebuah belati.


"Apa yang kau lakukan. Tolong jangan, jangan luka aku "


Namun Liam sama sekali tak mendengarnya, hanya acuh dan berjalan terus menerus kearah laki laki itu dan berhenti disebelah kanannya.


"Ini pelajaran untuk orang lancang yang berani menguping pembicaraan orang lain, sungguh tak sopan kau" bless belati itu masuk kedalam telingga laki laki itu.


"Ahhh sakit, kau jahat sekali jahat sakit sekali ya tuhan. tolong aku tolong"


Liam hanya tertawa dan kembali duduk mengambil pistolnya dan menembakannya ketubuh laki laki itu dor yang pertama mengenai dadanya.


"Ternyata seru juga ya melakukan ini, aku serasa sedang bermain tembak tembak an, jadi teringat masa kecilku"


"Tolong lepaskan, tolong ampuni saya, saya masih ingin hidup tolong, jangan lakukan ini"


Namun Liam malah kembali menembakan pinstolnya itu dan yang kedua mengenai kakinya dan membuat laki laki itu tekulai lemas.


"Sudahlah aku bosan dengan mu" dor dor dor dor Liam menembak kepala laki laki itu sebanyak empat kali dan membuat orang itu langsung mati.


Diambilnya perempuan yang sudah dirinya bunuh itu, lalu di potong potongnya tubuh itu dan dimasukan kedalam keranjang, sekarang tinggal laki laki itu, Liam melakukan yang saja juga.


Membawanya keluar rumah dan mengeluarkan peliharaannya anjing yang selalu Liam kurung dilempar lemparkannya tubuh itu untuk segera dimakan oleh anjingnya.


**


Sedangkan dirumah sakit Andre sedang mendumal gara gara kelakuan sahabatnya yang gila.


"Sialan Liam, ini yang dia bilang kalau gue jangan kaget, jadi gelap gulita gini, keterlaluan tuh anak harus gue marahin nih "


Saat sedang asyik asyiknya ngedumel tiba tiba pintu ruangannya terbuka, Andre yang takut memojokan badannya dan menunggu orang itu menghampirinya.


"pak " tiba tiba ada yang memanggilnya dan menyalakan senter kearah wajahnya.


"Akhhh sus ngapain sih nakut nakutin aja, gimana kalau saya jantungan terus mati, saya belum nikah sus "


"Maaf pak, maaf tadi senternya mati, bapak tidak apa apa kan, ini sedang diperbaiki dulu, kabelnya ada yang lepas pak "


"Saya gak apa apa sus. Lama gak ini sus"


"Sebentar lagi nyala pak, nah nyalakan pak "

__ADS_1


"Iya sus "


"Yaudah saya permisi ya pak "


Andre hanya mengangguk dan memainkan ponselnya kembali, sahabatnya sunggu terlalu, melakukan misinya namun juga membuat pasien yang lain terancam.


Tak lama pintunya terbuka lagi dan menampakan biang keroknya yang datang dengan wajah datarnya.


Dengan kesal Andre melempar bandal kearah Liam "kenapa sih lo Andre "


"Lo yang kenapa, ini mati lampu rumah sakit, gimana kalau ada apa apa, dasar ya lo nyebelin Liam, pengen gue cekek ya lo "


"Kan gue udah bilang lo jangan kaget, bakal ada kejutan nah ini kejutannya gimana baguskan gue, tadinya mau beli kue buat lo, jadi pas datang kaya kejutan gitu, tapi gak jadi habisin uang aja"


"Bukan bagus lo bisa ngebunuh semua orang yang ada disini, dasar ya keterlalua Liam, dasar lo pelit Liam kalau niat beli ya beliin aja"


"Udahlah biarin yang berlalu biarkan berlalu, gue mandi dulu ah "


"Yaudah sana mandi badan lo bau amis bau anyir "


Liam menangapinya hanya dengan senyuman saja dan masuk kedalam kamar mandi. Namun ada lagi yang membuka pintu ruangannya.


"Siapa lagi sih " guman Andre.


Ternyata yang datang Jo dan juga pacarnya Riyan, Jo hanya tersenyum pada Andre..


Riyan dengan perlahan menghampiri Andre dan duduk dikursi tunggu.


"Andre gue kesini mau minta maaf sama lo, maaf sikap gue yang tadi pagi sungguh sangat menyebalkan "


"Gak usah minta maaf Riyan, gue ngerti kok, kalau gue ada diposisi lo pasti gitu, tapi lo tenang aja gue sama Jo gak ada hubungan apa apa, gue udah anggap Jo sebagai adik gue, jadi lo jangan khawatir ya, gue perhatian sama Jo bukan karena sayang sebagai lawan jenis, tapi sebagai kakak sayang pada adiknya, "


"Jo tu orangnya asik dan gak baperan makannya gue suka lebih nyambung aja sama dia, tapi lo tenang aja ya gue gak akan jadi orang ketiga kok "


"Iya Dre sekali lagi maaf ya "


Andre segera menganggukan kepalanya, Jo yang duduk dikursi satunya melihat ada pemukul bisbol terus ada palu, gergaji, paku dan yang lainnya.


"Kak lo mau bangun rumah ya dirumah sakit ini "


Andre segera melongoknya "bukan gue yang mau bangun rumah tapi Liam, "


"Hah kenapa disini kak bangunnya "


"Kenapa bawa bawa nama gue " tanya Liam yang tiba tiba muncul dari dalam kamar mandi.


"Eh pak dosen, engga kok, ini kak Andre mau bangun rumah katanya disini "


Liam hanya mengankat bahunya saja dan menuju tempat tidur Andre duduk disana lalu segera berbaring "napa lo disini Liam, sempit tau ih "


"Ngantuk gue, lo sana tidur dilantai "


"Heh sebenernya siapa yang sakit lo tuh suka ngaco deh Liam ah"


"Eh yaudah kita pamit dulu ya, " ucap Riyan yang tak enak


"Baru juga bentar, hati hati ya dijalannya kalian "


Mereka berdua segera keluar dan meninggalkan Andre dan juga Liam berduaan.


"Cepet lo tidur di bawah Dre "


"Tega baget ya lo Liam sama gue, engga pokoknya ogah "


Dan akhirnya mereka berdua malah depat tak karuan dan membuat ruangan itu bising sekali dengan ocehan ocehan mereka yang tak berfaedah.


**


Nabil segera memakaikan pakain Syifa meskipun Syifa terus meronta kepanasan. Nabil segera membopong Syifa untuk segera masuk kedalam rumah. Sungguh besiki sekali Syifa saat dibawa ke rumah mereka tak mau diam dan meronta ronta.


"Nabil aku kepanasan, tolong buka buka pakaianku "


Nabil dengan kesal membaringkan Syifa di kamarnya dan akan pergi namun Syifa malah memegang tangannya dengan muka yang memelas serta sayu.


"Temani aku Nabil. Tolong aku, aku sudah tidak kuat, tolong aku jangan buat aku seperti ini tersiksa"


"Aku harus melakukan apa Syifa apa "


Syifa dengan cepat membuka seluruh pakaiannya dan membuat Nabil segera berbalik dan menghembuskan nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"Syifa aku adalah laki laki normal jangan mengangguku, tolong kenakana kembali pakaianmu "


"Tolong sentuh aku Nabil. Aku sudah tidak kuat ini panas sekali dan hanya dengan sentuhan mu ini akan reda "


"Gak bisa Syifa kita belum menikah "


"Ya sudah kalau tak mau aku akan meminta bantuan pada orang lain "


Nabil memantapkan hatinya. Mematikan lampu dan segera mendekati Syifa. Sedikit menindihnya dan mentapa kedua bola mata Syifa yang sudah penuh dengan gairah.


"Apakah kau yakin, memberikan kesucianmu padaku. Apakah kau tak akan menyesal, "


"Aku yakin Nabil. Aku yakin tolong aku, aku sudah sangat tidak kuat lagi. Ini menyiksaku," dengan nafas yang terengah.


Dengan perlahan lahan Nabil mendekatkan bibirnya dan memangkut bibir Syifa dengan hati hati dan pada akhirnya terjadi juga pergulatan mereka untuk yang pertama kalinya, Syifa melepas keperawanannya kepada sahabatnya sekaligus tunangannya.


**


Andre yang sedang tertidur nyenyak tiba tiba terbangun dan menatap Liam yang tidur disampingnya, ya pada akhirnya mereka memutuskan untuk tidur berdua saja dari pada debat dan tidur dibawah.


Andre segera bangkit dan duduk dikursi, "kenapa tiba tiba aku jadi ingat pada Syifa ada apa dengan dia"


Dengan tergesa gesa Andre menghubungi Syifa namun sama sekali tak diangkat, panggilannya sungguh tak berati bagi Syifa.


"**** kemana sih kamu Syifa, paman khawatir banget sama kamu " upat Andre.


Liam yang terganggu membuka kedua matanya dan menatap Andre yang sedang gelisah.


"Kenapa sih lu Andre, bukannya tidur malah duduk duduk gak jelas kaya gitu, cepetan sini balik sini "


"Gue lagi khawatir Liam "


"Khawatir sama siapa sih "


"Sama Syifa, gue merasa ada yang terjadi sama Syifa, gue udah telfon dia tapi gak diangkat sama sekali, kemana coba dia "


"Udahlah kan disana ada Nabil, gue yakin Syifa akan aman dengan Nabil, lo jangan khawatir deh "


"Tapi tetep aja gue khawatir banget, takut terjadi apa apa sama dia, gue takut banget tau "


"Udahlah mungkin itu cumab perasaan lo aja, sekarang lo tidur lagi biar cepet sembuh dan nanti pulang kerumah, cepetan "


Andre dengan patuh kembali lagi ketempat tidur tak mau membantah temannya yang seorang pembunuh nanti takutnya malah dirinya yang akan dihabisi.


Andre membaringakan tubuhnya namun tidak tidur hanya mentap langit langit kamarnya. "Syifa kalau aja paman gak di rawat kaya gini pasti paman susul kamu kesana "


Sekali lagi Andre mencoba menghubungi Syifa namun sama saja tak ada jawaban..


**


Nabil mencium kening Syifa dengan dalam, melihat tubuh Syifa yang penuh dengan tanda merah atas perbuatannya, sekarang Syifa sudah tertidur pulas.


"Kenapa sih lo suka mau aja kalau diajak sama temen, pada akhirnya ginikan Syifa"


Nabil yang kesal karena mendengar dering ponsel Syifa segera mengambilnya nomor tak dikenal dengan cepat Nabil mengangkatnya.


"Siapa " tanya Nabil.


"Syifa dimana, ini gue Andre "


"Oh ini om, Syifa lagi tidur ada perlu apa lagi om sama calon istri saya, "


"Saya cuman mau tanya keadaannya, dia gimana sekarang, apa baik baik saja kan tak terjadi apa apa dengan dia "


"Dia baik om. Om gak usah khawatir, dia akan baik baik saja disini bersama saya, saya akan menjaga dia dengan baik jadi om gak usah khawatir sama sekali "


Panggilan langsung diputuskan sepihak oleh Nabil "Syifa kenapa sih om om itu ganggu lo terus apa dia gak bosen " tanya Nabil pada Syifa yang sedang tidur.


"Gue kaya orang gila ya tanya sama orang yang lagi tidur " Nabil yang kedinginan segera memeluk tubuh itu dengan erat menyalurkan kasih sayangnya pada Syifa.


**


"Gimana lo udah lega sekarang "tanya Liam dengan mata yang tertutup.


"Belum karena yang jawab bukan Syifa malah anak tengil itu, gue maunya Syifa bukan dia "


"Udahlah lo jangan gitu, sama aja kan, inget sekarang Syifa udah gak sendirian lagi, dia udah punya pasangan lo jangan rusak hubungan orang lain "


Andre hanya bisa menghebuskan nafasnya dan membelakangi Liam, sungguh sangat sulit dirinya untuk melupakan sosok Syifa, yang baik dan pantang menyerah untuk mendapatkannya.

__ADS_1


Sekarang ingin mendapatkan kembali Syifa sangat sulit sekali dan mungkin saja tak akan bisa dirinya gapai begitu saja.


Atau mungkin sampai kapan pun Syifa tak akan kembali kedalam pelukannya.


__ADS_2