
Zeline yang sedang makan dikantin tiba-tiba merasakan mual, ingin segera dikeluarkan dari dalam mulutnya.
Dengan tergesa-gesa Zeline berlari sambil membekap mulutnya "Line mau kemana kamu kenapa " teriak Jo yang khawatir sambil menyusul Zeline pula.
Zeline dengan tergesa-gesa segera membuka pintu dan menuju wastafel memuntahkan cairan berwarna putih namun membuatnya sangat pusing.
"Line kamu kenapa " tanya Jo yang baru sampai dihadapan Zeline.
Zeline yang ingin menjawab tiba-tiba saja kembali memuntahkan cairan itu. Jo yang khawatir segera memijat-mijat tengkuk Zeline.
Setelah Zeline mengeluarkannya segera dirinya membasuh mulutnya dan menyenderkan tubuhnya ketembok " aku pusing banget Jo, gatau kenapa "
"Kamu sakit Line, yaudah yu kerumah sakit aja, aku khawatir sama kamu "
"Engga deh Jo, bisa tolong telfonin suami aku "
"Iya deh sebentar ya Line "
"Hemm "
Jo terus saja menelfon pak dosen namun tak ada satupun panggilan yang dijawab "gimana Jo "
"Ga dijawab Line, udah sama aku aja ya kita periksa kerumah sakit. Aku takut kamu nanti kenapa-napa"
"Yaudah anter aku keruangan suamiku aja "
"Engga Line, aku ga tega liat kamu kaya gini mending kita langsung kerumah sakit ya. Nanti disana aku bantu telfonin lagi pak dosen"
Dengan lemas Zeline hanya menganggukan kepalanya. Dengan perlahan Jo memapah Zeline untuk segera keluar kampus.
Namun baru saja mereka akan menyetop taksi, tak jauh disana sudah terparkir mobil Riyan pacar Jo. Jo sebenarnya ingin kabur namun bagaimana dengan Zeline tak mungkin kan dirinya meninggalkannya begitu saja.
Dirinya masih waras dan tak akan mungkin lari hanya karena melihat pacarnya yang selingkuh, harus segera dieksekusi laki-laki seperti ini.
"Ya ampun ada apa dengan Zeline, sayang " tanya Riyan sambil menghampiri dua wanita itu.
"Bukan urusanmu, awas sana. Berani sekali kau menyebutku sebagai sayang.. Sana kau ucapkan saja pada selingkuhanmu. Aku ingin putus darimu bajingan "
__ADS_1
"kamu salah faham sayang "
"Ahh persetanan dengan salah faham, apa yang aku lihat berarti itu adalah yang sebenarnya "
"Sudah-sudah jangan bertengkar, aku akan pergi kerumah sakit sendiri saja " ucap Zeline menengahi mereka berdua. Dirinya ini sudah pusing ditambah pusing lagi dengan dua sejoli yang bertengkar ini.
"Jangan dong Line, hey lo mantan ayo anterin kita rumah sakit " teriak Jo pada Riyan meskipun engan untuk masuk kedalam mobilnya Riyan namun demi keselamatan Zeline apapun akan dirinya lakukan.
"Baik sini biar aku bantu memapah Zeline"
Segera mereka berdua memasukan Zeline kedalam mobil didudukan di jok belakang. Jo pun sama duduk dikursi belakang tanpa menghiraukan tatapan Riyan yang seperti anak kecil. Dulu dia bisa luluh dengan tatapan itu namun sekarang tidak lagi.
Zeline yang pusing segera menyenderkan kepalanya dibahu Jo "kamu tidur aja ya Line " pinta Jo yang sudah sangat khawatir dengan sahabatnya.
Zeline hanya menganguk saja. Sedangkan Riyan pusing harus mulai dari mana dulu, situasinya sedang tak pas. Bisa-bisa dirinya akan diterkam oleh Jo.
Selama perjalan pula Jo sudah menghubungi suami sahabatnya ini namun tak ada satupun panggilan yang dijawab oleh pak dosen. Kemana coba pak dosen ini. Tiba-tiba menghilang seperti hantu.
***
Liam yang sudah puas menyaksikan tubuh Nina yang terbakar sampai hangus segera pergi masih dengan tawanya yang mengema diseluruh ruangan.
Setelah selesai menyesap rokoknya sampai habis, Liam kembali lagi kekamar mandi melihat jasad Nina yang sudah tak berbentuk lagi. Liam segera mengambil sekop dan membersihkan semua kekacauan ini. Dan membuang tubuh serta barang-barang Nina kedalam lubang yang sudah dirinya persiapkan. Tak lupa menguburnya kembali.
"Selamat tinggal ******, nikmatilah perjalananmu menuju neraka semoga menyenangkan "
Sungguh melelahkan sekali. Liam segera membersihkan dirinya takut ketahuan istrinya. Masuk kedalam mobil dan mengecek ponselnya. banyak panggilan dari sahabatnya istrinya.
Apa yang terjadi, apa ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya. Liam segera memencet no Jo namun tak diangkat "sial kenapa tak diangkat" sambil memukul setirnya.
**
Jo yang sudah sampai dirumah sakit segera memapah Zeline kedalam rumah sakit, dan menjelaskan semua yang dialami Zeline pada suster yang tadi membantu Zeline. Zeline segera dibawa oleh suster itu.
"Suster terus saya gimana " tanya Jo yang tak mau bersebelahan dengan mantanya
"Nona tunggu dulu disini ya, biar temannya diperiksa dahulu oleh dokter "
__ADS_1
"Bukan teman tapi sahabat sus, tapi dokternnya jangan laki-laki ya nanti takut dokternya dimakam sama suaminya "
"Iya-iya nono sahabatnya tunggu disini ya. Baiklah sebisah mungkin dokternya perempuan "
"Iya harus diusahakannya ya sus, kalau ingin selamat nyawanya"
"Iya nona "
Zeline sekarang sudah tak ada lagi dihadapannya lagi, hanya tinggal hening yang meyelimuti Jo.
"Sayang aku ingin berbicara ayo kemarilah " bujuk Riyan
"Apalagi yang perlu dibicarakan tak ada. Semua sudah selesai "
"Belum sayang, kau salah faham aku mohon " dengan wajah memelas dan kedua mata yang berkaca-kaca.
Saat Jo akan menjawab ponselnya berdering, segera Jo mengambilnya dan mengangkat panggilan itu.
"Ada apa dengan istriku Jo " ucap seseorang disebrang sana.
"Hallo pak dosen, tadi Zeline mual dan muntah muntah serta pusing jadi aku membawanya kerumah sakit "
"Baiklah rumah sakit mana Jo "
Segera Jo memberitahukan alamatnya dan panggilan terputus. Jo yang masih cemas dengan keadaan Zeline segera duduk menunggu tanpa mengiraukan ocehan Riyan.
"Sayang " ucap Riyan yang tak menyerah sama sekali.
"Apakah kau tak melihat kondisi sekarang sedang bagaimana, aku sedang khawatir dengan Zeline sahabatku. Jangan kau tambah lagi tolong diamlah dan duduk manis jangan banyak bicara, aku lelah dengan semua ini. Aku lelah denganmu yang hanya memberikanku harapan yang tidak pasti" ucap Jo yang berusaha menahan tangisnya.
Riyan segera menuruti perkatan Jo, lalu diam termenung sambil menundukan kepalanya. Susah sekali untuk menjelaskan pada pacarnya ini. Harus dengan apa lagi dirinya menjelaskan semua ini. Apa harus dengan kekerasan tapi itu tak mungkin yang ada pacarnya akan membencinya selamanya.
***
Liam yang mendengar istrinya masuk rumah sakit segera melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan tanpa mengiraukan kendaraan-kendaraan yang lain. Yang dari tadi mengelaksoninya.
Yang terpenting sekarang adalah istrinya "sialan kenapa harus merah segara " umpat Liam yang kesal karena tak keburu dan terjebak lampu merah. Padahal sebentar lagi akan segera sampai dirinya ini.
__ADS_1
"Sialan gara-gara perempuan itu aku jadi tak bisa mengawasi kembali keadaan istriku" teriak Liam frustasi.