Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Memberitahu semuanya


__ADS_3

Asa sudah membeli buburnya dan sudah menaburkan jamurnya didalam buburnya dan meminta pada mangnya untuk isian-isiannya dipisahkan saja. Agar lebih leluasakan dirinya mengaduk buburnya.


Doakan ya aku berhasil membuat Yuda perlahan-lahan meninggoy, agar tak ada laki-laki brengsek lagi dimuka bumi ini dan dunia akan aman oleh laki-laki seperti itu.


Dengan riang Asa berjalan kerumah Yuda ya karena memang sebentar lagi dirinya ini sampai. Segera Asa membuka gerbangnya dan setelah pintu dibuka Asa segera masuk dan melihat Yuda yang sedang melamun.


"Hey jangan melamun aja, ayo kita makan bubur, aku sudah membelikannya untuk mu " ucap Asa dengan riang.


Lalu mendorong kursi roda Yuda untuk duduk di meja makan, Asa segera menyajikan buburnya dihadapan Yuda segera Yuda melahap buburnya itu tanpa ada curiga sedikit pun,. Yuda sangat lahap memakan bubur itu sampai habis tandas tak tersisa sedikit pun.


Asa yang melihatnya senang sekali, rencananya berhasil tinggal menunggu reaksinya saja bagaimana nantinya. Buburnya juga sama sudah habis karena perutnya ini sudah sangat kelaran dan sekarang dirinya masih lapar, tapi gengsi nanti disangkanya dia perempuan tukang makan baru aja makan udah mau makan lagi.


Semoga saja pembantunya itu tak curiga lagi, karena pembantunya itu cukup pintar untuk seorang nenek tua yang sudah rentan. Otaknya masih berfungsi dengan baik.


Harus selalu berhati-hati dirinya ini menghadapi benalu yang satu ini, dia tak mau kalau harus sampai mencelakai nenek tua itu, dua hanya ingin nyawa Yuda saja tak ada yang lain.


***


Setelah sarapan Zeline, Liam serta orang tua Zeline duduk sambil membahas bagaimana bulan madu mereka.


"Line papah Yuda 1 bulan yang lalu kesini untuk meminta maaf pada mu tapi kamu tak ada katanya Yuda lumpuh " celutuk ayahnya yang memang baru ingat tentang kedatangan ayah Yuda.


"Lalu ayah dan ibu bicara apa " tanya Zeline dengan tenang, memang dirinya masih marah dan kesal pada Yuda namun sebisa mungkin dirinya harus bisa memafkan Yuda agar hidupnya tenang bersama suaminya.


"Ayah dan ibu tak memberi maaf sama sekali pada Yuda, Line. Sampai kapan pun ayah tak akan mau memafkan kesalahan yang dilakukan oleh Yuda itu sangat fatal sekali apalagi jika kamu sampai menikah dengan Yuda dengan orang yang menculik mu dan ingin membunuhmu ayah tak akan ridho, untungnya kamu sudah menemukan jodohmu Liam laki-laki baik " ucap Ayah Zeline sambil menatap menantunya.


Liam menjadi serba salah bahkan dia lebih bejad dari Yuda dia seorang pembunuh, dia dulu juga pernah menculik Zeline dan akan membunuh Zeline juga, lalu apa bedanya dirinya ini dengan Yuda.

__ADS_1


Liam sudah bertekad akan membongkar indentitasnya kepada kedua mertuanya dia tak mau kalau mertuanya itu tau dari orang lain, mending langsung saja dari dirinya. Masa bodo nanti mertuanya akan menerimanya atau tidak yang penting dirinya akan jujur dan tak akan menutupi apa-apa lagi.


"Bu, yah Liam mau jujur sesuatu tentang diri Liam yang sebenarnya " ucap Liam sambil menatap satu persatu wajah mereka.


"Sebenarnya Liam juga dulu yang menculik Zeline " ucap Liam ingin melihat reaksi mertuanya namun mereka hanya diam dengan wajah syoknya.


Zeline yang mendengarnya langsung memegang tangan suaminya dia tak mau suaminya dibenci oleh orang tuanya. Namun Liam menggelengkan kepalannya dan mengenggam balik tangan istrinya menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Liam awalnya ingin menjadikan Zeline sebagai target Liam, Liam adalah seorang psikopat yang haus akan darah namun setelah melihat wajah Zeline aku mengurungkan niatku untuk membunuh Zeline dan memutuskan untuk melindunginya dan akhirnya lama kelamaan menjadi mencintainya " sambung Liam lagi.


"Kenapa kau tak bercerita pada ayah Line " ucap ayahnya tanpa mengalihkan pandangannya pada Liam.


Zeline menjadi binggung apa yang harus dia jawab dia takut sangat takut "jawab Zeline " teriak ayah Zeline sampai-sampai Zeline kaget.


"Karena Zeline pun mencintai kak Liam, kak Liam berbeda dengan Yuda mereka tak sama yah, selama berada di sisi kak Liam aku merasa terlindungi yah "


"Tolong ayah jangan bentak Zeline aku yang salah aku " jawab Liam tak mau istrinya ini ketakutan.


"Diam kau pembunuh berani-beraninya kau menikahi anakku, jika aku tahu dari awal bahwa kau orang sakit aku tak akan sudi menikahkan kalian berdua lebih baik Zeline tak usah menikah saja dari pada harus menikah dengan mu " teriak ayah Zeline sambil menunjuk-nunjuk wajah Liam.


Liam dengan sekuat tenaga menahan emosinya agar tak meluap-luap dan bisa mencelaki mertuanya dia harus sabar kan dia sendiri yang mau membongkar tentang identitasnya ini.


"Ya memang Liam sakit namun Liam tak akan pernah menyakit istri Liam sendiri dan keluarga Liam sendiri yah " dengan suara tegasnya.


"Apa yang harus aku pegang dari ucapanmu Liam dan ingat jangan memangil aku lagi dengan sebutan ayah, aku tak sudi" sambil membuang wajahnya.


Zeline yang nendengar pertengkaran ini menangis sambil memeluk tangan suaminya dengan erat ibu Zeline pun sama menangis dengan keadaan ini dia menjadi serba salah harus bagaimana.

__ADS_1


"Kalau saya menyakiti Zeline om boleh bunuh saya " ucap Liam dengan yakin.


"Cih mana mungkin saya percaya, kamu saja sudah banyak membunuh puluhan orang mana mungkin kamu bisa menepati janjimu itu "


"Saya janji om karena saya sangat mencintai istri saya ini " ucap Liam kembali menyakinkan mertuanya.


"Persetanan dengan janji mu itu " segera ayah Zeline menerjang Liam dan memukuli Liam dengan berutal Liam tak melawan sama sekali hanya pasrah menerima setiap pukulan yang diberikan mertuanya.


Zeline sudah histeris melihat suaminya dihajar habis-habisan dan ibunya malah memengangi anaknya tak melerai mereka berdua sama sekali.


Dengan sekuat tenaga Zeline melepaskan cekalan ibunya dan membantu Liam agar tak dihajar lagi oleh ayahnya. Namun kekuatan ayahnya itu sangat kuat sekali.


"Cukup ayah cukup jangan kau bunuh suamiku cukup " ucap Zeline histeris sambil memukul-mukul punggung ayahnya.


Segera ayahnya itu berhenti memukul Liam, Zeline memeluk suaminya yang sudah terduduk dengan banyak luka "sut kamu jangan menangis sayang aku baik-baik saja " ucap Liam sambil membalas pelukan istrinya itu.


"Tidak tidak kakak tidak baik-baik saja, kakak terluka aku tak mau kehilangan kakak " ucap Zeline.


Ayahnya yang geram melihatnya segera menarik Zeline untuk berdiri dan berhadapan langsung dengan dirinya. Menatap kedua manik mata anaknya dengan tajam.


"Sekarang kamu pilih orang tua kamu atau orang sakit ini " sambil menunjuk Liam yang masih duduk.


Zeline masih menangis sambil menundukan kepalanya menatap ayah dan ibunya lalu menatap suaminya yang diam saja.


"Aku tak bisa ayah " ucap Zeline masih dengan tangisnya.


"Kau harus memilih" bentak ayahnya.

__ADS_1


Dia sangat binggung harus siapa yang dirinya pilih siapa semuanya penting bagi hidupnya ini.


__ADS_2