
Disana Syifa tiba tiba ingat kepada paman Andre hatinga resah sekali memikirkan paman Andre apa ada yang terjadi dengan paman Andre.
Entah kenapa dirinya sudah melupakan paman Andre tapi tetap saja hatinya dan fikirannya tertuju pada paman Andre, dengan ragu Syifa segera mengubungi paman Andre namun segera dimatikan lagi. Takut malah geer nanti paman Andrenya lagi.
"Gimana ya, harus gimana aku, masa iya aku harus telfon dia, malu dong, akukan udah bilang sama paman Andre untuk tak menghubungiku lagi, masa iya sekarang malah aku yang hubungin paman Andre kan gengsi. " Syifa terus saja mondar mandir, bahkan tak menyadari kalau Nabil sudah pulang.
Nabil hanya diam duduk dikursi melihat Syifa yang mondar mandir saja, tak menyapanya sama sekali, Nabil ingin tau apakah akan sadar bahwa dirinya sudah ada disini didalam apartemen.
Syifa segera duduk dikursi dan kenapa merasa empuknya "loh kok kursinya empuk banget ya, enak banget kursinya gak kaya biasanya"
"Turun Syifa lo berat banget tau, gue lagi cape nih"
Syifa segera berdiri dan ternyata dirinya menduduki Nabil "kamu ngagetin aja, kapan datangnya coba , kamu kalau jadi kursi cocok deh"
"Lo gak liat gue dari tadi udah dateng, dan lo malah anteng mondar mandir kaya setrikaan apa sih yang lo fikirin sampai gak sadar kalau gue udah pulang, gimana kalau yang masuk bukan gue, lo udah mati di tempat Syifa "
"Iya maaf maaf aku lagi banyak fikiran Nabil, jangan marah marah terus dong kamu"
"Mikirin apa sih, kenapa apa pelajaran lo susah susah, sini biar gue bantu apa yang susah"
"Engga kok bukan itu, gue masuk kamar dulu ya" Syifa yang tidak mau ketahuan kalau dirinya sedang memikirkan paman Andre segera masuk kedalam kamarnya.
Syifa segera membuka galeri fotonya melihat fotonya dan paman Andre yang masih tersimpan rapih, Syifa hanya bisa tersenyum melihat wajah cemberut paman Andre.
"Kalau saja paman dulu membalas cintaku, mungkin sekarang kita udah bahagia paman, tapi ternyata tuhan gak biarin kita untuk bersatu, aku lelah mengejar paman yang acuh padaku, paman doakan ya agar aku bisa melupakan paman, aku akan memulai lembaran baru dengan Nabil. Paman disana baik baik, carilah perempuan yang memang pantas untuk paman cintai "
"Aku bukanlah perempuan yang pantas untuk menemani paman, pasti akan ada perempuan yang lebih mencintai paman dari pada aku, jadi paman juga harus belajar lupain aku, bukannya aku gak mau lagi kembali lagi sama paman, tapi luka yang paman torehan membuat aku tak percaya diri dan tak percaya kalau paman mencintaiku. Aku takut itu hanya bujuk rayu paman saja agar aku kembali mengejar paman lagi, aku tak sanggup kalau harus mendengar caci maki paman lagi "
Syifa berbaring dan memeluk ponselnya, mencurahkan rasa rindunya dan khawatirnya yang harusnya tak dilakukan olehnya namun hatinya sangat sulit di ajak kompromi.
***
Liam membuka pintu dan melihat istri dan anaknya yang sudah mandi "wah wah kenapa gak ajak papih "
"Habisnya papih lama, jadi Lucas dan mamih mandi duluan "Zeline menirukan suara anak kecil.
"Mas apakah kau tak keterlaluan sampai memarahi ibu seperti itu, itukan bukan salah ibu seutuhnya, kenapa kau memarahinya, kasihan ibu, wajahnya sudah sangat sedih sekali mas, seharusnya kau jangan seperti itu"
"Aku tak memarahinya hanya saja aku menasehatinya agar menjadi lebih hati hati lagi, dan tidak percaya kembali pada orang lain sayang dan maafkan aku yang tak percaya tentang perkataanmu, seharusnya aku mendengarkannya bukan mengabaikannya begitu saja, perkataanmu benar namun aku malah mengabaikannya sayang"
Zeline hanya bisa tersenyum kearah suaminya dan entah apa yang harus dirinya katakan. Binggung semuanya terjadi tak ada gunanya kalau harus marah pada suami tercintanya ini.
"Kenapa kau hanya tersenyum saja sayang, maafkan aku sayang, maaf aku sudah tak menurut denganmu, maafkan aku sayang, aku sangat menyesal, aku menganggap firasatmu sebuah perasaan biasa ternyata semuanya terjadi kecuriaanmu semuanya terjadi sayang, maafkan aku, aku sungguh tak berguna "
"Sudah mas, kamu gak usah meminta maaf lagi, semuanya sudah terjadi, jadi tak perlu ada yang di khawatirkan lagi, sekarang kita harus berhati hati karena bi Sarah dan juga Aryo masih berkeliaran dengan sangat bebas diluar sana, kita harus lebih menjaga anak kita ini mas agar tak kecolongan"
"Aku akan mencarinya sayang, mencarinya sampai ketemu, lihat saja aku tak akan memberikan ampun pada orang yang sudah melukai keluargaku, aku tak akan semudah itu memafkannya dan membiarkannya dipenjara begitu saja tanpa pembalasan yang setimpal"
"Mas kamu kenapa berbicara seperti itu, aku sudah bilang jangan ada dendam lagi jangan mas, sudah cukup, ini yang terakhir mas tolong"
Liama segera mendekap istrinya, biarkan semua ini menjadi urusannya. Menjadi dendam dirinya kepada kedua orang itu, istrinya terlalu baik membiarkan orang itu untuk hanya di penjara saja, karena orang itu sudah bermain main dengannya maka nyawa taruhannga.
Ponsel Liam berdering. Dengan cepat Liam mengangkatnya karena itu telfon dari ayahnya.
"Hallo yah "
"Hallo Liam. Andre sudah sadarkan diri, kemarilah nak, temui sahabatmu. Ayah dan ibu menunggu kalian"
"Ibu sudah ada disana yah "
"Iya ibu sudah ada disini nak "
"Baiklah Liam dan juga Zeline akan kesana beserta bi Sari "
__ADS_1
"Kenapa mas "
"Andre sudah sadar sayang, ayo kita kesana "
"Ayo mas " segera Zeline memangku anaknya dan pergi tak lupa tadi mengajak bi Sari untuk pergi kesana, saat membuka pintu muncul Jo.
"Loh kok pergi, aku mau main kamunya mau pergi Line, kemana sih, kok gak ngabarin tau gini aku gak akan kesini"
"Udah kamu ikut aja " ajak Zeline..
Jo tanpa banyak bicara lagi segera mengangguk dan segera duduk di pinggir bi Sari, meskipun belum kenal namun dia sudah tau pasti ini bi Sari..
Selama perjalan tak ada yang mengobrol hanya keheningan saja yang mengikuti mereka.
Segera mereka semua turun dan Jo sungguh binggung kenapa kerumah sakit siapa yang sakit.
Liam sebelum keruangan Andre meminta dokter untuk mengobati lagi luka bi Sari dan nanti suster yang akan mengantarkan bi Sari keruangan Andre.
Saat mereka masuk sudah ada ayah dan ibunya Liam, segera opahnya mengambil sang cucu dari ibunya dan segera keluar sambil mengajak istrinya.
Jo hanya bisa diam dipojokan baru aja kemarin dia bareng bareng sama kak Andre , tapi sekarang kak Andre terbaring begitu saja di rumah sakit. Apa yang terjadi, kenapa dia sampai tak tau, apa kemarin malam kak Andre kecelakaan setelah mengantarnya pulang.
"Gimana Dre apa ada yang sakit lagi, selain perut lo" tanya Liam dengan khawatir.
"Tenang aja, gue baik baik aja, gue kan kuat kenapa lo khawatir banget sama gue Liam, gue gak papa, lo tenang aja gue gak akan mati "
"Kalau lo kuat lo gak akan pingsan tadi dan gak akan gue angakat, berat tau badan lo itu"
"Hahaha lo ini, gue tadi cuman ngantuk aja biasa kurang tidur, makannya gue tidur aja"
"Makasih ya Dre lo udah nyelamatin Lucas dan bi Sari dari orang jahat itu, kalau gak ada lo , mungkin sekarang gue gila kehilangan Lucas dan rumah tangga gue hancur Dre"
"Lo tenang aja gue bakal selalu jaga Lucas, diakan anak gue juga, jadi kenapa engga gue ikut andil dalam menjaga Lucas, gue sayang banget sama dia mana mungkin gue bisa lukain dia"
"Heh lo mau jadi patung diem bae lo Jo, gak kaya biasanya lo, kesambet apa sih lo Jojo" panggil Andre.
Jo denga perlahan lahan segera berjalan kearah Andre lalu memukul tangan Andre "nyebelin ya, lagi sakit aja masih aja lo ajak gue berantem, mau gue tonjok tu perut"
"Ya habisnya lo diem aja di pojokan, gue kira Liam sama Zeline bawa kuntilanak ternyata ini parner gue Jojo, yang cerewetnya minta ampun"
"Ya terus gue harus gimana, harus jungkil balik gitu atau teriak teriak dirumah sakit gini, lo gila ya, mikir dong "
Liam segera membawa istrinya untuk keluar membiarkan tom and jerry bertengkar. "mas masa kita tinggalin berdua yang ada bisa perang dunia loh mas, nanti rumah sakit ancur"
"Udah sayang gak apa apa biarin aja mereka berantem, udah biasa kok, dikantor juga mereka gak ada akurnya berantem terus jadi gak usah khawatir "
Zeline hanya mengangguk saja duduk disebela suaminya dan menyenggol suaminya "apa sayang " bisik Liam.
"Minta maaf sama ibu, cepetan aku gak mau kamu sama ibu jadi ada masalah" Liam segera menganguk berjalan kearah ibunya berlutut sambil memegang kaki ibunya.
"Kenapa nak "
"Bu, Liam mau minta maaf, maaf Liam udah kasar sama ibu. Dengan menyalahkan ibu atas kejadian yang menimpa keluarga Liam, Liam sungguh minta maaf Liam tadi emosi dan tak bisa mengontrol kemarahan Liam, jadi tolong maafkan Liam ya bu, memang Liam bukan anak yang baik "
Ibunya memegang kepala Liam sambil mengusap ngusapnya dengan sayang "ibu sama sekali tak marah nak, ibu akan selalu memaafkanmu, sebesar apapun kesalahan mu, ibu akan selalu memaafkanmu nak, jadi kamu jangan khawatir tentang ibu, ibu sama sekali tak akan bisa marah pada anak ibu ini. kamu anak baik kok nak"
Liam bangkit dan segera memeluk ibunya, ibunya masih baik memaafkannya yang sudah kasar padanya.
Sedangkan didalam kamar inap Andre masih saja Jo dan Andre berdebat entah apa yang mereka debatkan lagi.
"Kau kenapa bisa terluka seperti ini kak "
"Gue baru saja jadi pahlawan hebatkan gue, ayo soraki gue "
__ADS_1
"Ah palingan juga pahlawan kesiangan "
"Tau aja lo Jo, tadi gue nolongin Lucas yang mau diburu oleh bi Sarah dia mau bunuh Lucas dan dengan ke beraninya gue menghajar Aryo dan akhirnya gue ditusuk tapi tenang aja ini gak seberapa kok, sama rasa kangen gue sama Syifa"
"Jadi lebih sakit ditinggal Syifa ya"
"Ya itu lebih sakit, bisa lo bantu gue gak Jo "
"Bantu apa sih kakang, apa yang perlu adinda bantu"
"Begini adinda, tolong fotokan keadaanku pada Syifa segera kirim, aku ingin tau dia masih khawatir tidak denganku, tapi pake ponsel lo "
"Siap kakang, pura pura bobo dong "
Dengan menurut segera Andre memejamkan kedua matanya ckrek, Jo segera mengirimnya ke Syifa.
"Udah beres kakandang "
"Bukan kakandang tapi kakanda, Jojo dasar lo kurang asem"
"Oh iya salah sorry sorry dong, jangan marah bae ah, nanti tuh jaitan kebuka lagi tau rasa"
Syifa yang sedang mengerjakan tugas lalu segera mengecek ponselnya dan mendapati foto paman Andre yang sedang terbaring tak sadarkan diri, dengan khawatir Syifa segera menelfon no itu.
"Ahh kak, Syifa nelfon " sedang Jo
"Angkat Jo angkat "
Jo segera mengangguk lalu segera mengangkat telfon itu.
"Hallo Syifa ini aku Jo sahabatnya Zeline, apakah kau sudah melihat gambar yang aku kirim "
"Hallo kak Jo, ya aku sudah melihatnya ada apa dengan paman Andre. Kenapa paman Andre bisa terbaring dirumah sakit kak, tolong jelaskan"
"Paman Andre mu tertusuk, dia belum sadar apakah kau mau menemuinya kasian dia, dia sangat merindukanmu, sekali ini saja kau temui kak Andre, mungkin jika kau kemari kak Andre akan sembuh dan membuka matanya, ayolah tolong Syifa, turunkan sedikit egomu dan bantu lah kak Andre untuk kembali sadar"
"Baiklah kak "
Sambungan segera terputus segera mereka bertepuk tangan dan saling tos karena senang rencana mereka berhasil.
Liam yang mendengar kegaduhan segera memutuskan untuk masuk kedalam ruangan Andre. "Ada apa dengan kalian. Kenapa kaliam berteriak "
"Tidah ada apa apa kok Liam, aku hanya sedang senang saja. Kau juga nanti akan tau semuanya "
"Ku kira kalian bertengkar, awas jangan berisik ini tuh rumah sakit bukan rumah kalian, jadi jaga sikap"setelah menegur mereka berdua segera Liam menutup pintu lagi dan pergi.
**
Syifa yang sudah sangat panik dan khawatir segera mengemasi pakaiannya, Nabil yang memang ingin menemui Syifa segera masuk dan memegang tangan Syifa.
"Mau kemana sih lo Syifa udah pecking barang gini "
"Gue mau pulang gue mau temui paman Andre dia ketusuk, gue harus kesana sekarang juga"
"Terus lo percaya gitu aja, terus kalau semua itu bohongan gimana Syifa, gimana kalau itu buat jebak lo aja, kenapa sih lo polos banget"
"Mana mungkin sih Nabil, tolong biarin gue kesana jangan halangin gue, please Nabil, gue cuman pengen pastiin aja, kalau paman Andre baik baik aja, biar gue gak makin bersalah"
"Bersalah karena apalagi sih Syifa, emang lo yang tusuk dia sampai lo yang harus bertangung jawab, bukannya lo mau lupain semuanya, lalu sekarang kenapa lo mau temuin dia, bener bener ya lo"
"Gue udah bilang, gue mau pastiin aja tolonh Nabil tolong "
Tanpa berkata kata lagi Nabil segera keluar dari kamar Syifa membanting pintu dengan keras.
__ADS_1
Syifa yang binggung akhirnya hanya bisa menangis saja, tak bisa membantah Nabil karena dirinya sudah berjanji.