
Liam segera memeluk istrinya yang sudah menangis histeris dan terduduk dengan terkulai, yang Zeline tembak adalah Aryo, Aryo yang sudah tak berdaya masih bisa bangkit untuk mengambil pistolnya dan akan menembak Liam yang membelakanginya.
Zeline dengan refleks mengacungkan pistolnya dan menembakan peluru itu tepat pada kepala Aryo. "Mas aku , aku telah membunuh orang, aku telah membunuh Aryo "
Tiba tiba Zeline pingsan didekapan sang suami "sayang sayang kamu kenapa, " Liam dengan perlahan mencoba menepuk nepuk pipi istrinya namun tak bangun.
Dengan segera Liam memangku istrinya dan membawa pistolnya, takut nanti ada orang jahat lagi. Saat ada dihadapan Jo, Liam berhenti.
"Bangunlah Jo, jangan kau diam didepan pintu seperti ini " Jo segera mematuhinya berdiri dan mengikuti suami sahabatnya.
Saat didalam rumah bi Sarah baru saja tersadar dan akan memukul Liam yang memangku Zeline namun belum juga kayu itu diayunkan Liam sudah mengeluarkan pelurunya sebanyak dua kali dor dor.
Tepat didada dan juga di kepala bi Sarah,Jo membekap mulutnya, jangan sampai dirinya berteriak dan membuat dosennya marah, belum siap kalau untuk mati disini bersama penjahan penjahat ini.
Saat sudah masuk kedalam kamar, Liam membaringkan istrinya, menatap Jo yang langsung menundukan kepalanya "Jo tolonh jaga Zeline, aku akan membereskan semua kekacauan ini "
Jo hanya mengangguk saja, saat Liam sudah pergi, Jo hanya bisa diam melamun, melihat pembunuhan nyata yang baru di saksikan, biasanyakan di film namun sekarang bukan kenyataan.
Liam tak keluar namun pergi keruangan kerjanya dan melihat bi Sarah yang sedang duduk dipojokan sambil memangkul Lucas, Liam mengambilnya dan mengendong Lucas.
Menciumi seluruh wajah anaknya dengan sayang dan mengembalikannya lagi pada bi Sari "pergilah kekamar saya bi, disana ada Zeline dan Jo "
"Baik tuan " bi Sari segera pergi meninggalkan Liam sendirian.
Setelah yakin bi Sari pergi Liam pun segera pergi untuk membereskan semuanya, saat sampai dilantai bawah dirinya melihat ibu dan ayahnya sedang menatap mayat bi Sarah.
"Liam kenapa kau membunuh bi Sarah juga " tanya ibunya dengan air mata yang mengalir deras.
"Aku sudah bilang pada ibu, jika ada yang menganggu keluargaku, atau sampai mengusiknya aku tak segan segan akan mengahabisinya dengan tanganku sendiri, siapa pun dia, setua atau semuda apa pun dia, jika berani berurusan denganku taruhannya nyawa, aku tak akan pernah bermain main dengan perkataanku bu "
"Iya ibu tau, kamu melakukan itu untuk melindungi keluargamu, tapi nak, jika kau seperti ini terus nanti akan ada karma "
"Aku tak peduli dengan karma, yang terpenting keluargaku selamat dan bebas dari ancaman apapun, untuk satu hal yang ini aku mohon ibu jangan melarangku, ini adalah pertahanku untuk melindungi keluarga kecilku, aku tak mau kehilangan kembali orang tesayangku "
Setelah mengatakan itu Liam menghampiri mayat bi Sarah mengusurnya keluar dan akan disatukan dengan mayat Aryo, dibakar dilubang yang sama nantinya. Agar mereka bisa bersama sama kembali, didunia maupun di akhirat nantinya.
Liam terlebih dahulu memasukan bi Sarah lalu mengusur Aryo dan memasukannya, dirinya lupa satu hal minyak tanah, dengan santai Liam pergi ke gudang dan mengambil satu kompan minyak tanah dan kembali lagi ke tkp.
Dimasukannya minyak tanah kedalam lubang itu dan Liam segera menyalakan rokoknya menghisapnya perlahan dan melemparkannya langsung kedalam lubang itu. Perlahan lahan api muncul dan membakar jasad mereka berdua.
Liam hanya mematung sambil menyalakan rokok yang lainnya dan menghisapnya kembali, setelah yakin tubuh mereka akan habis dimakan api. Liam memanggil anak buahnya yang sedang mematung menunggu perintah darinya.
"Tora, kemarilah "
"Baik tuan ada yang bisa saya bantu "
"Setelah api ini abis melahap tubuh penjahat ini, kau kubur dan kembalikan seperti semula, jangan sampai istriku curiga dengan tamannya "
"Baik tuan "
Liam beralih pada pak Herman yang kaku dengan luka yang banyak. Liam memangku pak Herman dan membawanya kerumah, dia akan mengantarkan jasad pak Herman kerumahnya diantar dengan ambulans yang sudah dirinya pesan dan untuk istr.i dan anaknya dirinya akan membiyayainya sampai anak anak pak Herman kulian.
Disana masih ada ibu dan ayahnya yang mematung diam melihat Liam yang sibuk sendiri, "jika ayah dan ibu tak menerima kekuranganku, aku tak masalah lebih baik kalian berdua pulang, tenangkan diri kalian "
Liam segera pergi kelantai atas menemui sang istri yang masih pingsan.
"Bibi tolong bawa Lucas kekamarnya ya, istirahatlah "Bi Sarah segera pergi tanpa banyak bicara sama sekali.
__ADS_1
"Jo apakah kau mau membantuku "
"Ya apa pak dosen, yang harus aku bantu "
"Andre disana sendirian, apakah kau bisa menunggunya sampai Zeline benar benar pulih lagi, aku akan menpatkan anak buahku untuk menjaga kalian "
"Baik pak, aku akan pergi kesana, permisi pak " Jo dengan tergesa gesa segera pergi meninggalkan suami istri itu.
Li menatap istrinya yang masih pingsan membelaki wajahnya dan mengusap seluruh inci wajahya, namun tiba tiba Zeline bangun dan histeris "Aku , aku gak mungkin kan mas bunuh orang, Aryo masih selamat kan mas " tanya Zeline dengan wajah paniknya.
Liam segera memegang bahu istrinya menatap mata istrinya dengan sangat lekat "tenang sayang, kamu tak membunuh Aryo, aku yang sudah membunuhnya, kamu tenang saja tak usah khawatir sayang, semua tanggung jawabku, kamu jangan takut ya "
"Tapi mas, tadi aku menembakan pistol itu kearah Aryo mana mungkin Aryo tak mati "
"Tidak tidak sayang, aku berkata jujur, Aryo mati ditanganku, sekarang kau tenang, istirahatlah kembali "
"Lucas mana mas, Lucas mana, aku ingin melihatnya mas "
"Lucas Ada bersama bi Sari, kamu istirahat dulu. Baru kau temui Lucas, lihat kantung matamu hitam sekali, istirahtlah Lucas baik baik saja "
Liam membaringkan tubuh istrinya dirinya pun sama membaringkan tubuhnya, mengusap punggung istrinya agar cepat cepat tertidur. Saat mendengar suara dengkuran halus, Liam segera melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku sayang, maaf aku telah membohongimu namun ini demi kebaikanmu, aku tak mau kamu malah menyalakan dirimu sendiri, aku mencintaimu sayang " Liam mengecup dalam kening istri.
Lalu beralih kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan nanti akan langsung mengantar jasad pak Herman ke rumahnya, sekarang jasad pak Herman sedang dimandikan oleh tim medis yang dirinya suruh kesini.
Setelah semunya siapa Liam keluar dan langsung ada anak buahnya yang menunggu diluar kamar, seorang laki laki tinggi besar dengan wajah seramnya.
"Kau jaga disini, jaga anak ku serta istriku. Jika ada orang yang mencurigakan segera hubungi aku "
"Baik bos "
Mobil ambulans berhenti dan diluar istri pak Herman yang sedang menyapu halaman bingung mrlihatnya. Liam segera turun dan menemui istri pak Herman..
"Selamat pagi bu "
"Pagi tuan, ini ada apa ya kerumah saja membawa ambulans"
"Baiklah bu saya akan menjelaskannya, saya sangat minta maaf, kemarin malam dirumah saya terjadi perampokan dan pak Herman berusaha untuk memberhentikannya dan perampok itu menghabisi pak Herman, sungguh saya minta maaf atas kejadian ini "
Sapu yang sedang dipegang oleh istrinya pak Herman terjatuh dan "bapakkkk " histerik istri pak Herman sambil berlari kearah ambilans dan anak anak pak Herman yang mendengar jeritan ibunya segera menghampirinya dan mereka akhirnya melihat bapak mereka yang sudah terbungkus kalin kafan.
Liam hanya bisa diam, tak bisa berkata kata apa apa lagi, jasad pak Herman segera dikeluarkan dibantu oleh para warga yang memang sudah berkerumun saat mendengar jeritan istri pak Herman.
**
Zeline segera bangun dari tidurnya, menatap sebelahnya namun tak ada suaminya, segera Zeline keluar kamar namun dikagetkan dengan orang yang berdiri di pinggir pintunya, ditengah tengah kamar dirinya dan juga anaknya.
"Siapa kau "tanya Zeline dengan was pada
"Saya Tora, anak buah tuan Liam, saya diperintahkan untuk menjaga tuan muda dan juga nyonya "
"Terus suami saya kemana "
"Tuan pergi mengantar jenazah pak Herman kerumahnya "
"Baiklah terimakasih "
__ADS_1
"Sama sama nyonya "
Zeline segera berjalan kekamar anaknya namun ini anak buah suaminya malah mengikutinya.
"Kenapa kau mengikuti ku "
"Saya disuruh oleh tuan untuk selalu mengikuti nyonya kemana pun itu "
"Lalu kalau saya masuk kamar mandi kamu akan ikut "
"Tentu tidak nyonya, saya akan diam diluar menunggu nyonya "
"Sudahlah kamu diam disini "
"Maaf nyonya, perintah tuan harus selalu saya patuhi jadi saya harus mengikuti nyonya kemana pun itu "
Zeline menghembuskan nafasnya dengan lesu pergi kekamar Lucas dan melihat putranya sudah gangteng sambil dipangku oleh bi Sari. .
Zeline mengambilnya dan membawa anaknya keluar kamar, untuk duduk di teras rumahnya sambil melihat keadaan diluar sana.
Anak buah Liam masih setia mengikuti nyonya yang sekarang sedang duduk sambil menjemur anaknya Lucas, berdiri tegak di samping belakang Zeline.
**
Jenazah sudah dikuburkan sekarang Liam sedang memgobrol dengan istri pak Herman yang masih menahan tangisnya agar tak kembali pecah.
"Saya sangat berduka cita atas kepergian pak Herman, dia sudah sangat berani untuk menyelamatkan keluarga saya, maka dari itu ibu tenang saja, saya akan menanggung semua biayaya kehidupan ibu dan anak ibu, sampai mereka kuliah "
"Terimakasih tuan terimakasih atas bantuanya. Sungguh saya sangat berterikasih atas belas kasih yang telah tuan berikan pada keluarga kami "
"Ya, suami pemberani dan saya menghargai itu, saya permisi dulu "
Liam segera pergi setelah memberikan uang pada istrinya pak Herman, dia pulang tidak naik mobil ambulans lagi tenang, tapi anak buah yang lainnya sudah menjemputnya dan menunggunya disini.
Saat gerbang rumah terbuka, terlihat istrinya yang sedang melamun ditemani oleh Tora dan juga Lucas, Liam turun dan menemui istrinya memerintahkan Tora dengan tatapannya untuk segera pergi.
Dengan patuh Tora pergi meninggalkan sepasang suami istri ini dan juga anaknya. "Sayang " panggil Liam. Sambil menepuk bahu istrinya.
"Mas kamu ngagetin aja. Kapan pulang mas, gimana keluarga pak Herman "
"Kok kaget sayang, baru aja, ya mereka sangat sedih atas kehilangan anggota keluarganya namun aku sudah memberikan jaminan kalau mereka akan hidup layak "
"Baiklah mas kalau begitu aku tenang "
"Memang nya kau berfikiran apa sayang "
"Aku hanya takut mas, takut bila nanti keluarga pak Herman malah menuntut balas seperti yang dilakukan oleh keluarga Nina ".
"Tidak sayang, tidak itu tak akan terjadi sama sekali, jadi kamu jangan khawatir ya, ada aku dan aku juga akan menyebarkan anak buah ku dirumah ini, jadi kau tak perlu takut bila nanti banyak orang berjas hitam dirumah kita karena itu anak buah ku "
"Baiklah mas aku tak masalah, tapi apakah perlu Tora selalu mengikutiku mas "
"Ya perlu kenapa tidak, ini demi kau dan Lucas sayang, sini syang aku juga ingin memangku Lucas, aku sudah sangat rindu dengan anak jagoan ini "
Zeline segera memberikan sang anak pada suaminya menatap mereka berdua yang sangat mirip, sepertinya Lucas fotocopy papihnya dibandingkan dengan dirinya.
Diriny berdoa semoga saja keluarga selalu bahagia, dimana pun berada nantinya mereka.
__ADS_1
Zeline bergabung dengan suaminya untuk membawa main anaknya, yang hanya bisa tersenyum tanpa suara.