Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Curiga


__ADS_3

Sedangkan Zeline sekarang sedang menyuapi sang anak Lucas yang tak mau diam, sampai sampai dia menabrak papihnya yang baru datang.


"Anak papih ini ya gak bisa diam, kalau mamih lagi suapin itu diem gak boleh lari lari "


"Iya pih, tapi Lucas pengen lali lali, tadi gak sempet kalena Lucas bobo sama mamih "


"Yakan ada hari esok sayang "


"Iya pih maaf, pih kapan mamih sama papih buat adik untuk Lucas, Lucas pengen pelut mamih besar sepelti tante sipa"


Liam segera menatap istrinya lalu mengedikan bahunya, setelah mengambil tas suaminya dan masuk beriringan.


"Emm nanti deh tunggu Lucas besar dulu, Lucas aja masih kecil masa udah punya adik aja "


"Gak apa apa pih. Bial Lucas punya teman main, bosan main dengan mamih "


"Heyy awas ya aku "


"Hehe maaf mamih, aku tak bosan belmain dengan mamih kok " Lucas kembali fokus pada papihnya.


"Jadi kapan papih pelut mamih akan besal "


"Coba kau tanyakan pada mamihmu "


"Tadi mamih pun berkata sepelti itu, lalu setelah ini apalagi"


"Mungkin setelah kau sekolau bagaimana "


"Baiklah pih. Akan aku tunggu ya, awas saja jangan ingkal janji padaku , ayo tulunkan aku, aku ingin main pih belsama paman Tola "


"Baiklah sayangku "


Setelah turun dari pangkuan ayahnya Lucas langsung saja berlari menghampiri Tora dan sekarang Tora yang menyuapi Lucas mengantikan sang mamih yang akan mengurus papihnya.


" Kenapa tiba-tiba Lucas meminta seorang adik sayang"


"Entahlah Mas mungkin tadi karena melihat Syifa yang perutnya besar, dia menjadi ingin aku juga seperti Syifa, Lucas itu suka ada ada saja, Mas kan tau dia gimana cerewet dan pengen apa aja yang dia mau terwujud kan"


" Iya tahu Jadi kapan Sayang"


"Loh kok nanya aku sih kamu kali kapan, udah sana kamu mandi Aku udah siapin air anget aku mau siapin makanan dulu"


" Ya udah nanti malam kita bikin ya sayang"


"Apaan sih mas, udah sana kamu ini ya Nanti belum saatnya Lucas aja masih kecil"


"Kan Lucas mintanya sekarang sayang jadi gimana"


"Udah Mas cepet mandi"


Zeline segera meninggalkan suaminya yang cerewet itu, nanti kalau diterusin akan panjang urusannya. Sepanjang jalan kenangan.


**


Andre yang baru pulang sama sekali tak menemukan istrinya, namun dia melihat kaca yang pecah, apa ada yang terjadi dengan Syifa.


Andre segera mencari keberadaan Syifa "Syifa Syifa kau dimana Syifa "


Saat Andre membuka pintu kamar tak ada Syifa, dimana sebenarnya dia, tapi jendelanya sudah tertutup rapat "Syifa kau dimana "


"Paman "


"Ya ampun Syifa kau dari mana, kenapa kau membutku khawatir saja. Apa ada yang terjadi "


"Tidak paman semuanya baik baik saja, aku tadi sedang mandi paman, maaf aku tak kedengaran kalau paman memanggilku "


"Baiklah jangan buat aku cemas ya "lalu kenapa jendela rumah kita pecah, apa ada yang macam macam dengan mu, atau ingin melukai mu "


"Emm tidak paman tak ada yang mengancamku, untuk kaca itu tadi ada anak kecil yang main bola dan tak sengaja melemparkannya kearah kaca lalu pecah begitu, maafkan aku tak langsung membereskannya "


"Apakah kaca rumah kita serapuh itu Syifa, sampai sebuah bola bisa memecahkan kaca kita. Bukannya bola sepak itu terbuat dari plastik ya maksudku bahan yang ringan dan tak mungkin bisa sampai memecahkan kaca paling juga memantul kembali kepada mereka"

__ADS_1


"Bukan bukan bola itu mereka memainkan bola kasti, sudah Paman segeralah mandi aku akan membuatkan kopi untukmu yah, agar nanti kau hangat ya. Aku pergi dulu ke dapur"


Tanpa mendengarkan jawaban dari suaminya Syifa langsung saja pergi "Sepertinya ada yang terjadi tapi Syifa berusaha tak memberitahu aku. Sebenarnya apa yang terjadi aku harus memasang CCTV mulai sekarang agar tahu apa yang terjadi diluar dan apa yang terjadi di dalam rumah tanpa sepengetahuan Syifa ya aku harus melakukan itu"


Setelah sudah yakin dengan rencananya, Andre masuk ke dalam kamar mandi dan akan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Lalu meminta bantuan pada Tora untuk membelikannya cctv dan juga memasangnya.


"Huff kenapa kau bisa ceroboh Syifa, kau lihat Paman Andre bahkan sudah curiga, apa Lebih baik aku memberii tahunya saja, tapi kalau aku sampai memberitahu Paman Andre yang ada akan menambah pikiran Paman Andre. Paman Andre sudah pusing dengan perusahaan dengan aku dan anak aku. Lalu apakah aku harus menambahkan nya lagi dengan masalahku yang baru. Tidak-tidak aku tidak boleh memberi tahu paman Andre aku tidak boleh menyusahkannya kembali, itu jangan sampai terjadi aku tidak mau sampai tergantung terus pada paman Andre."


"Aww panas sekali " tanya Syifa sadari tangannya terkena air panas.


Dengan cepat Syifa membasuhnya dan pergi kedalam kamar lagi untuk memberikan kopi ini pada paman Andre.


Dan kebetulan sekali suaminya sudah beres mandi bahkan sudah memakai pakaiannya. Syifa segera menyimpannya di nakas. Sedangkam Andre duduk diatas tempat tidur.


Mata Andre hanya fokus pada tangan Syifa yang merah, Andrw segera menarik Syifa sampai Syifa terduduk dipangkuannya "paman apa yang kau lakukan "


"Kenapa dengan tanganmu. Apakah terkena air panas karena kau terlalu banyak melamun"


"Emm tidak paman tadi saat menuangkan airnya aku terlalu banyak dan akhirnya malah terkena pada tanganku, tidak aku tidak banyak pikiran dan aku baik-baik saja Paman ini sudah biasa"


"Begitu ya, baiklah jika kau baik-baik saja, Paman sudah bilang jika ada apa-apa jangan ada yang ditutup-tutupi bilang pada paman, paman tidak akan merasa terbebani sedikitpun kau jujur Paman tidak mau terjadi sesuatu padamu dan anak kita ini kalian terlalu penting untuk paman"


"Iya paman aku tahu aku pergi kedapur ya menyiapkan makan untukmu dulu, kau di sini dulu saja aku akan menyiapkan semuanya. Setelah semuanya beres aku akan memanggil paman untuk segera ke ruang makan"


tanpa banyak bicara Andre langsung memangku Syifa dan menidurkannya " aku yang akan menyiapkannya, kau yang perlu istirahat Syifa dan pikirkan lagi tentang rahasiamu itu. Jangan memendamnya dariku karena lambat laun aku pasti akan tahu. Lebih baik kau bicara dari pada aku tahu dari orang lain"


Andre pergi meninggalkan Syifa sendirian, " kenapa aku jadi bingung seperti ini dan kenapa begitu cepat Paman Andre bisa menembak semuanya. Biarlah lebih baik tahu dari orang lain dan aku nanti pura-pura tidak tahu saja dari pada aku memberitahunya sekarang dan akan menambah bebannya lagi. Sudahlah aku pusing memikirkan semua ini gara-gara surat itu gara-gara orang yang melempar batu ke rumahku ini"


**


"Mih pih, kapan lencanannya aku sudah sangat tidak sabal untuk mempunyai adik"


"Dengar setelah anak papih ini besar dan bisa makan sendiri baru mamih dan papih akan memberikan adik padamu bagaimana apakah kau setuju"


"Baik Lucas setuju, awas ya kalau kalian bohong padaku "


"Tentu kami tak mungkin membohongi mu nak, ayo sekarang makan, mamih akan menyuapimu "


Liam dan Zeline hanya tertawa dengan tingkah sang anak yang mengemaskan, tak terasa Lucas sudah mulai besar dan dia sangat pintar, entahlah di usinya yang masih balita dia pintar sekali.


"Baiklah mamih akan membiarkan mu makan sendiri, mamih akan lihat anak mamih seperti apa saat makan apa akan berantakan "


"Baiklah lihat saja, ayo kita makan "


Mereka mengangguk dan segera melahap makanan ya masing masing, Lucas makan dengan belepotan serta makanan yang tercecer kemana mana, namun Zeline membiarkannya saja. Dia mau belajar dan setiap keinginan yang dia mau harus seperti ini dulu, agar nanti saat dewasa tak seenaknya begitu.


"Wahh anak papih hebat bisa makan sendiri " ucap Liam yang sudah selesai makan


"Tapi pih aku menumpahkan begitu banyak makanannya "


"Tidak apaa apa, kau kan sedang belajar, papih pun sana dulu selalu begitu, jadi kau belajar sampai aku bisa makan dengan benar ya "


"Siap bos laksanakan " sambil mengangkat tangannya.


Sedangkan Zeline sedang memebereskan meja makan besama Bi Sari, tadi pun mereka makan bersama, makan satu meja bersama sama.


**


"Jo aya cepat minum jamu lagi ya, mamih sudah membuatkannya untuk kalian berdua "


"Nanti dulu mih, Jo baru pulang dan Riyan juga belum pulang nanti saja ya, Jo ingin istirahat dulu ya. Pasti nanti Jo minum "


"Tapi benar ya diminum "


"Iya setelah Riyab pulang aku dan Riyan akan meminumnya ok, didepan mamih "


Jo melangkah pergi kekamarnya, saat mebuka pintunya alangkah kagetnya saat melihat ada seorang laki laki dikamaenya.


Belum juga teriak mulutnya sudah di bekap "Sayag ini aku, ini aku suami mu "


"Kamu ini kenapa tiba tiba ada dikamar aku kan jadi kaget, aku kita orang lain, kau menakuti ku saja dengan lampu yang temaram seperti ini "

__ADS_1


"Sayang aku tadi lewat jendela, aku tidak mau bertemu Mami nanti dia pasti memaksaku untuk meminum jamu itu lagi, Makanya aku nekat naik jendela"


"Kau naik ke lantai dua, bagaimana kalau kau jatuh atau di bawah kau dibantu oleh siapa sampai bisa naik ke balkon dan masuk ke dalam kamar apa di luar ada seseorang yang membantumu"


"Tentu Ada Sayang, Ada pak satpam yang mau menjadi tangga Untukku, Aku pun sudah membayar dia agar tidak memberitahu kepada Mami bahwa aku sudah pulang. Lega sekali rasanya aku sudah masuk ke dalam kamar sayang. Sungguh aku tak siap untuk menghadapi Mami di bawah yang memegang gelas jamu pahit itu dan menyuruhku minum di hadapannya. Sayang apa kita kembali lagi pada rumah kita saja rasanya aku disini seperti tawanan saja. Apa kita kabur saja "


"Lalu mobil mu disimpan di mana, Aku pun sama aku sudah lelah menjadi tawanan disini, aku pun merasa begitu rasanya Aku pun ingin pulang ke rumah kita. Rumah impian kita tapi mami pasti akan mengejar kita berdua. Apa yang harus kita lakukan aku bingung"


"Sudahlah sayang, nanti kita fikirkan lagi ya, sekarang aku mau mandi dulu ya, kamu juga istirahat dulu ya sayang, kamu jangan bilang kalau aku pulang ya sama mamih "


"Iya Yan, iya kamu tenang aja "


Tiba tiba pintunya terbuka dan Jo dengan cepat membuka pintu dan ternyata mamihnya yany ada dihadapannya.


"Mamih ngapain "


"Telfon Riyan masa jam segini belum pulang sih "


"Dia lagi meeting mih, udah biarin dia lagi banyak kerjaan "


"Itu siapa yang ada dikamar mandi "


"Ehh itu lagi Jo lagi ngisi air buat mandi, mamih keluar dulu ya, aku mau mandi dulu bay mih "


Jo mengembuskan nafasnya "hampir aja ketauan huff cape banget kucing kucingan kaya gini sama mamih "


**


"Kenapa Andre cari Tora, ada apa "


"Aku ingin minta tolong sama dia, gak apa apa kan "


"Yaudah gak apa apa, emang ada perlu apa "


"Liam kayanya Syifa lagi umpetin sesuatu deh dari gue "


"Emang nya kenapa "


"Ya tadi jendela gue pecah, gue rasa ada orang yang neror kerumah, Syifa bilang itu kena bola tapi gue gak percaya, mana mungkin sih sama bola pecah, gue mau pasang cctv deh biar keliatan semuanya. "


"Hah emang siapa yang neror kalian, masa sih ada yang nelor. Emang lo punya musuh setau gue gak ada deh "


"Iya gue tau, tapi kita kan gak tau, siapa yang gak suka sama gue siapa yang suka sama gue , gak pernah tau Liam, untuk jaga jaga jaga aja "


"Yaudah sebentar, tuh Tora, Tora sini "


"Ya tuan ada yang bisa saya bantu "


"Ini Andre pengen minta tolong sama kamu "


"Baik tuan Andre apa gang perlu saya bantu, "


"Kau bisa tolong pasangkan cctv dan juga membelinya untuk dirumah ku "


"Baik bisa tuan, saya akan membelinya dan memasangnya dimaan saja saya harus memasangnya "


"Diluar rumah dan juga di dalam rumah ya, nanti aku akan mengajak istriku pergi dan kau masang semuanya, jangan sampai istriku tau ya "


"Baik tuan saya permisi dulu "


"Bagaimana apakah kau sudah bisa beradabtasi dikantor ayah mertuamu "


"Belum lah Liam, aku baru juga kerja 1 hari, oh ya lo tau gak Milla ternyata anak dari pak Tedi asistennya alm ayah Syifa, gak percaya sih gue dia anak dari pak Tedi secara lo tau kan dia gimana "


"Masa sih, beda banget ya berarti mungkin si Mila itu mirip kayak ibunya mulutnya pedes gue suka pengen robek mulutnya. loh hati-hati Milla itu bukan orang sembarangan dia bisa aja buat hal nekat, loh dulu kan sempet dekat. Gua udah bilang kan Jangan deket sama Mila tapi lo nggak percaya ya sekarang harus hati-hati , dia itu orangnya gak pantang menyerah "


"Ya makanya dari itu gue bilang sama lo, gue juga agak nggak enak sih perasaan gue, takutnya dia minta sama bokapnya buat dia Yang gantiin pak Tedi. Karena kan pak Tedi juga udah tua dan pastikan harus diganti sedangkan Pak Tedi orang kepercayaan mertua gue. Emang sih papih udah nggak ada tapi kan ya gimana gue kalau misalnya cari orang lain sedangkan Nanti Pak Tedi merekomendasikan si Mila"


"Bener juga, udahlah jangan fikirin dulu cepet balik kasian Syifa sendirian "


"Oh iya gue pulang "

__ADS_1


Andre berlari pergi meninggalkan rumah Bian.


__ADS_2