Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
memilih


__ADS_3

Dengan menguatkan hatinya segera Zeline melapaskan cengkraman tangan ayahnya, lalu beralih untuk membangunkan suaminya dan memengan tangan suaminya dengan erat.


Liam menjadi takut pasti istrinya ini akan memilih orang tuanya dari pada dirinya ini yang bukan siapa-siapa, dia sudah tau jawaban istrinya ini. Istrinya ini sangat sayang pada kedua orang tuanya mana mungkin istrinya memilih dirinya yang sakit ini.


Zeline segera mengatur nafasnya lalu menghembusakan nafasnya, mengangkat genggaman tangannya lalu mencium tangan suaminya dengan sayang dan menatap wajah suaminya memberikan senyumnya juga.


"Maaf ayah, ibu Zeline akan ikut dengan kak Liam, kak Liam sekarang adalah suami Zeline mau bagaimana pun Zeline harus ikut dengan kak Liam, karena sekarang Zeline sudah menjadi milik kak Liam. Zeline sayang sama ayah sama ibu, tapi Zeline juga sayang sama kak Liam dan ga akan pernah bisa buat ninggalin kak Liam sendirian. Tanpa kak Liam aku tak akan bisa hidup yah, memang kak Liam dulu menpunyai masalalu yang kelam namun itu ada alasannya kenapa kak Liam bisa menjadi seperti ini. Namun aku yakin kak Liam tak akan pernah melukai aku sampai kapan pun, maafkan aku yah,bu " ucap Zeline panjang lebar menundukan kepalanya takut dengan tatapan ayahnya yang tajam.


Liam lega mendengarnya namun dia juga menjadi bersalah karena dia istrinya harus berpisah dengan kedua orang tunya dan keluarganya juga. Apa dirinya jahat sampai memisahkan keluarga yang utuh ini.


"Baik jika itu memang pilihan mu Line, mulai sekarang kamu bukan anak ayah dan ibu. Sekarang bawa barang-barang kalian semua. Kamu sudah terbutakan oleh cinta Line sampai mengabaikan orang tua sendiri " ucap Ayah Zeline lalu melengos pergi kedalam kamar di ikuti oleh ibunya. Pintu kamar ayahnya dibanting sangat keras sampai Zeline kaget


Liam segera memeluk istrinya dengan erat "maafkan aku sayang maaf gara-gara aku semuanya hancur " ucap Liam merasa bersalah dengan keegoisannya tanpa membicarakan terlebih dahulu dengan istrinya.


"Tidak mas, lebih baik berbicara sekarang dari pada nanti tahu dari orang lain pasti ayah akan lebih marah "


"Apa kau yakin ingin ikut dengan orang sakit ini "


"Ya aku yakin akan ikut denga orang sakit ini, kemana pun kamu pergi aku akan selalu ada disamping kamu mas. Bagaimana pun keadaanmu aku akan selalu menerima kamu dan tak akan meninggalkan kamu meski seluruh dunia membenci kamu aku tak akan pernah meninggalkan kamu dalam kondisi tersusah sekalipun " ucap Zeline panjang lebar sambil mendongakan kepalanya menatap kedua bola mata suaminya.

__ADS_1


Liam lantas menangis mendengar semua penuturan istrinya yang rela untuk berpisah dengan kedua orang tuanya demi terus bersama dirinya yang sakit ini. Liam tak salah memilih istri Zeline adalah wanita yang tepat untuknya.


Liam segera mempererat pelukannya kepada istrinya itu sambil menagis menumpahkan rasa yang ada didalam hatinya. Sakit sekali hantinya mendapatkan cacian dari ayah mertuanya sendiri kalau dari orang lain dia tak akan peduli.


Merasa senang dan sedih bersamaan. Senang karena istrinya yang sangat mencintainya sedih karena mertunya marah kepadanya sampai tak mau mengakui anak nya sendiri karena memilih dirinya ini.


Setelah cukup tenang Liam segera membawa istrinya untuk masuk kedalam kamar dan membereskan semua barang mereka dimasukkan semuanya kedalam koper, Zeline dari tadi terus saja membatu suaminya meski suaminya melarang.


Satu persatu koper Liam turunkan dan dimasukkan kedalam bagasi mobil mereka. Menyusunnya dengan rapih.


Setelah selesai segera Liam dan Zeline keluar dari kamar, Zeline menatap kamarnya lalu pergi dengan suaminya sambil menggenggam tangan suaminya.


"Ayah ibu Zeline dan suami Zeline akan pergi, ayah dan ibu sehat-sehat ya jangan sakit, Zeline sayang kalian Assalamualaikum " ucap Zeline didepan pintu kamar orang tuanya air mata Zeline sudah turun kembali.


Zeline segera menarik tangan suaminya agar secepatnya pergi dari sini kalau tidak dia tak akan kuat segera Liam membantu istrinya itu untuk duduk dan Liam segera beralih ketempat duduknya.


Liam menjalankan mobilnya dengan perlahan, Zeline menatap kejendela kamar ibunya air matanya sudah mengalir kembali memang berat meninggalkan kedua orang tuanya namun sekarang dia seorang istri dan tanggung jawabnya sudah beralih pada suaminya bukan kepada kedua orang tuanya.


***

__ADS_1


Ibu Zeline yang memang mendengar anaknya berpamitan menangis tanpa suara dan berlari kearah jendela melihat kepergian anak semata wayangnya. Menatap dengan nanar kepergian anaknya kenapa harus seperti ini selalu saja ada ujian.


Sebenarnya dia juga marah pada Liam tapi dia sudah percaya Liam sudah berubah lihat saja sekarang anaknya itu bahagia bersama Liam suaminya. Tak pernah sama sekali dia melihat Liam menyakitu anaknnya yang ada hanya kasih sayang saja, yang diberikan oleh laki-laki itu.


Dia juga sangat menyayangi Liam, sudah dia anggap seperti anaknya sendiri Liam itu, karena pribadinya yang sopan serta baik hati. Serta mau menerima kekurangan anaknya juga.


Dia sangat bangga dengan Liam, mau mengakui kesalahannya meski harus menanggung konsekuensi yang besar. Salut sekali dirinya ini, ingin sekali memeluk anak itu tapi tak bisa dia harus menghargai suaminya.


Benar keputusan Zeline dengan mengikuti suaminya karena itu sudah seharusnya. Zeline harus berbakti kepada suaminya karena sekarang syurganya sudah perpindah kepada suaminya.


Segera ibunya itu keluar dari kamarnya dan berlari kekamar Zeline memeluk bantal yang selalu Zeline pakai menghirup dengan rakus wangi anaknya. Baru saja anaknya itu pulang namun sekarang sudah pergi lagi untuk meninggakanya.


Sosok suaminya akan sudah sekali untuk bisa memafkan menatunya itu, dia sangat keras kepala dan tak bisa terbantahkan sama sekali. Harus bagaimana dirinya ini agar bisa menyatukan keluarganya lagi.


Dia membaringkan tubuhnya menghirup wangi anak-anaknya yang sudah pergi dari rumah dan dirinya tak tau mereka pergi kemana.


Tangisnya malah makin menjadi-jadi saja memikirkan anak-anaknya yang pasti sakit hati dengan ucapan ayah mereka. Dia sungguh tak bisa melakukan apa-apa jika dirinya membela anak anaknya lalu suaminya bagaimana dan sebalinya juga begitu.


Dirinya menjadi serba salah ada ditengah-tengah dan tak bisa memilih salah satu dari mereka hanya bisa bungkam seperti ini.

__ADS_1


Hatinya sakit sekali saat suaminya membentak anak-anaknya lalu menghajar Liam seperti orang kesetan saja, sengaja dirinya pergi dari kamar agar suaminya itu menenangkan fikirannya terlebih dahulu emosinya masih meluap-luap salah saja dirinya ini bicara bisa saja dia nanti di marahi atau yang terparahnya memukulnya.


__ADS_2