Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Sudah tau


__ADS_3

Sekarang Yuda dan ayahnya sudah ada dirumah sakit, untuk memeriksakan tentang kakinya yang tak sembuh-sembuh. Suster segera memangil Yuda. Untuk segera masuk kedalam ruangannya.


Ayah Yuda bangkit dan mendorong kursi roda anaknya untuk masuk kedalam.


"Siang dok "


"Siang pak, kok Yuda masih duduk dikursi roda ya " ucap dokter yang memang menangani Yuda.


"Kan Yuda memang belum sembuh dok, makannya kita kesini lagi pengen ngecek keadaan Yuda kenapa ya gak sembuh- sembuh dok, padahal Yuda teratur kok minum obatnya gak pernah bolong-bolong "


"Baik pak, silahkan duduk dulu pak "


"Asa bilangnya Yuda sudah sembuh pak, waktu bertemu dengan saya. Apa boleh saya lihat obat yang diberikan Asa "


"Sebentar dok saya ambil dulu ya" ucap Yuda sambil membuka tasnya dan langsung memberikannya pada pak dokter.


Dokter segera mengambilnya dan menatap botol itu dengan seksama, namun ada yang aneh seperti ditempel dengan lebel lagi. Segera dokter itu membukanya dengan perlahan-lahan takut ada yang ikut sobek.


"Kamu beneran minum obat ini? " tanya dokter dengan wajah syoknya.


"Iya dok, saya selalu meminum obat yang diberikan Asa, itu bukannya dari dokter ya"


"Kenapa Asa lakuin ini, engga saya gak kasih obat itu kok" gumam dokter.


"Memangnya apa yang salah sama obatnya dok, bukannya memang ini obat saya "


"Tidak tidak ini bukan obat yang saya kasih buat kamu, ini bukan obat buat manusia "


"Maksud dokter gimana "


"Ini tuh buat anjing, kamu kalau minum ini terus gak akan sembuh. Malahan kamu bakal kaya gini terus lumpuh seterusnya. Kenapa kamu gak cek sebelum minum "


"Selain bisa buat kamu terus lumpuh, obat ini bisa nimbulin penyakit-penyakit lainnya dan nantinya komlikasi " lanjut dokter itu.

__ADS_1


"Dokter berkata jujurkan gak bohong sama saya " tanya Yuda lagi, sungguh dirinya tak menyangka Asa tega melakukan hal ini padanya.


"Iya ngapain saya bohong, ini tuh gak seharusnya di minum oleh kamu, ini sudah keterlaluan saya akan melaporkan Asa ke atasan saya biar dia dikeluarkan dan tak punya pekerjaan lagi, ini sudah diluar batas dan mempermalukan pihak rumah sakit"


"Jangan, jangan dok, biarin Asa istri saya,biar saya yang urus, dokter tolong jangan sampai masalah ini terdengar oleh siapa pun. Saya gak mau karir Asa hancur saya mohon dok "


"Baiklah saya akan diam, yasudah sekarang kita cek lagi ya kakimu "


Segera dokter memeriksa keadaan Yuda, semua diperiksa tak ada yang terlewat satupun.


"Baik, untungnya obatnya belum diminum terlalu lama. Jadi tidak terlalu merusak yang lain, lebih baik kamu mengikuti terapi ya Yuda, biar cepat sembuh "


"Iya siap dok apapun akan saya lakukan, agar bisa sembub seperti sedia kala "


"Ini saya kasih resep obatnya, jangan lupa diminum, selalu berhati-hati jangan minum obat sembarang lagi"


"Iya dok saya permisi ya"


Segera Ayah Yuda mendorong kembali kursi roda Yuda untuk mengambil obatnya.


"Udalah yah, aku sadar kok, aku udah hancurin hidup adiknya itu pantas buat aku, ayah jangan marah sama Asa. Aku ikhlas kok, aku gak marah sama yang Asa lakuin"


"Ya gak bisa gitu Yud, Asa tuh udah hampir bunuh kamu, apa lagi sekarang sudah kejadian seperti ini kamu masih mencintai dia menyayanginya Yud "


"Mungkin setelah dia balas dendam dia akan lebih baik yah, sampai kapan pun Yuda akan selalu mencintai Asa, sesalah salahnya Asa sama Yuda, Yuda gak akan marah. Yuda yakin Asa bisa berubah dan juga mencintai Yuda juga. Tolong ayah jangan sampai benci pada Asa. Dulu Yuda lebih parah pada Zeline. Ini mungkin karma buat Yuda. Gak papah ya, biar Yuda jadiin sebuah pelajaran besar untuk hidup Yuda agar tak semena-mena lagi pada orang lain "


"Baiklah jika itu memang keputusan mu, ayah tak bisa untuk melarangmu, jika Asa memang kebahagianmu ayah akan dukung, namun jika Asa kembali merencanakan untuk membunuhmu kembali ayah tak akan pernah tinggal diam, ayah gak mau kehilangan kamu untuk yang ketiga kalinya"


"Yakin sama Yuda, Yuda akan bisa membuat Asa berubah. Menjadi Asa yang dulu, ayah hanya perlu mendukung Yuda. Jangan ayah membenci Asa ya, aku mohon yah"


"Iya iya insyaallah ayah gak akan membenci Asa, ayah akan doakan yang terbaik buat kamu dan Asa ya. Sekarang kamu harus fokus untuk kesembuhanmu "


"Iya yah "

__ADS_1


**


Dirumah Zeline sedang heboh, para orang tua memperebutkan ingin menimang cucu mereka Lucas. Zeline yang melihatnya sampai pusing. Padahal dirinya ingin bermain dengan anaknya.


"Mas aku mau gendong Lucas juga dong " rengek Zeline


"Yang sabar ya sayang, biarkan dulu para nenek dan kakek yang melihat Lucas, kan nanti malam kita masih bisa melihat Lucas dan menimangnya "


"Yahh mas tapi aku kan Ingin " sambil menampakan wajah sedihnya.


"Jangan sedih dong sayang, mending kamu samperin kakak kamu, dari tadi kok dia diam terus. Coba kamu tanya siapa tau dia pengen cerita "


"Yaudah deh mas , aku ke kak Asa dulu ya "


Segera Zeline berjalan kearah kakaknya yang sedang duduk disebelah Jo yang asik dengan ponselnya.


"Ada yang mau kakak ceritain sama aku " tanya Zeline sambil memegang tangan kakaknya.


"Emm enggak kok dek, kakak baik-baik aja, gak ada yang perlu kakak ceritain " bohong Asa


"Engak deh, kak Asa gak baik-baik aja Jo lihat kakak tuh gak seceria dulu, gak banyak bicara, ayolah kak bicara sama kita. Jangan dipendam sendiri. Aku dan Zeline pasti akan membantu kakak sebisa kami, aku janji gak akan bilang siapa-siapa "


"Yaudah, ayo ikut kakak kekamar dulu, kakak gak mau kalau harus diceritain disini nanti ada yang denger lagi, bisa berabe nanti. Soalnya ini rahasia besar"


"Yaudah ayo kak, aku udah gak sabar pengen denger " ajak Zeline.


"Aku boleh ikut gak kak sama kalian " tanya Jo


"Boleh ayo Jo ikut aja, kamu ini kaya kesiapa aja, padahal ikut aja"


"Yaudah ayo kak, ayo "


Dengan senang Jo segera mengikuti keduanya untuk masuk kamar. Jo juga dari kemarin memperhatian tingkah kak Asa yang tidak seperti biasannya. Baru aja mau tanya udah keduluan sama Zeline. Jadi gak apa-apa lah.

__ADS_1


Semoga saja dirinya dan juga Zeline bisa membantu kak Asa, kasian kak Asa dari kemarin malam diam terus sendirian. Melamun saja, yang lain pada ngobrol kak Asa diam saja. Kelihatan sekali banyak masalahnya dari raut wajahnya.


__ADS_2