Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Bi Sari berbicara


__ADS_3

Makan malam sudah tiba, Liam sibuk menyuapi sang anak, sedangkan istrinya katanya terkena macet dan masih dijalan, dan menyuruh semuanya untuk makan terlebih dahulu saja.


Ibu Airin dari tadi tak henti hentinya makan dia mengambil berbagai makanan dan tentu saja menghabiskannya.


"Maaf semuanya aku pulang telat " ucap Zeline sambil dibantu Hamzah membawa berbagai barang belanjaannya.


"Aduh nyonya kenapa baru pulang jam segini, kasian suaminya nyuapi anak, masa laki laki nyuapi sih nyonya, seharusnya nyonya tau waktu, kan sudah beda nyonya sudah mempunyai suami, seharusnya lebih tau waktu saja nyonya "


Zeline mengerutkan dahinya dan menatap suaminya " Iya saya udah pulang kok dari tadi sore sama Jo dan saya tau waktu, cuman ya ada perbaikan jalan, jadi kita terkena macet yang mau gimana lagi dong Bu, kita gak pernah tahu keadah diluar kenapa, saya juga sebenarnya gak mau pulang malam kayak gini, tapi ya gimana jalannya lagi macet. Masa saya mau terobos aja gitu , tabrak-tabrak mobil yang lain kan gak mungkin"


"Iya nyonya benar saya cuman memberitahu saja nyonya, hanya kasian saja dengan suami mu yang mengurus anak mu, sedangkan kamu belanja belanja seperti itu, tak baik nyonya jangan dibiasakan "


Tiba tiba saja "tenang saja menantu saya selalu mengurus anaknya dengan baik, dan dia juga jarang belanja jadi wajar kalau dia pulang lama karena dia harus membeli kebutuhannya, semua kebutuhan yang dia butuhkan, dan anak saya juga tak keberatan dengan hal itu, Liam dia siapa "


Ibu Liam langsung memeluk setelah badan Zeline "ini ibu mertuanya Tora bu, ibu kapan pulang kok gak bilang Liam sih, kalau tau ibu pulang sama ayah, Liam jemput "


"Oh tapi dia seperti bos saja berani menasehati menantuku, aku saja tak masalah dengan apa yang dilakukan menantuku, tapi ini ikut campur saja, ibu pengen kasih kejutan aja sama kalian, ayo Line kerumah ibu yu, ibu punya sesuatu buat kamu "


Zeline langsung mengangguk dan membawa Lucas yang sudah beres makan, dan digendong oleh Zeline, pergi kerumah omah dan opahnya.

__ADS_1


Liam yang sudah tak mood segera menghentikan makannya "Hamzah kau bawa barang barang belanjaan istriku kekamar dan minta bi Sari untuk menata semuanya ya "


"Baik tuan "


Hamzah segera pergi dan membawa semua barang nyonya nya, yang cukup banyak, sedangkan Liam dia pergi meninggalkan ruang makan untuk menyusul sang istri.


Tora langsung menyimpan sendoknya dan menatap kearah ibu mertuanya " Bu tolong jaga sikap, ini kita sedang di rumah orang lain. Tolonglah hargai tuan saya dan juga Nyonya sebagai istrinya. Ibu jangan terlalu ikut campur tentang urusan rumah tangga mereka, mau Nyonya pulang malam , mau Nyonya belanja, mau Nyonya ke manapun Ibu jangan ikut campur, tolong Bu jangan mempertaruhkan pekerjaan saya "


"Karena ibu yang terus saja berceloteh semenjak kita datang ke sini, di sini kita cuma numpang bu bukan sebagai tuan rumah. Untung saja bos saya masih bisa dan mau menerima kita di sini seharusnya ibu bersyukur dan tidak banyak berbicara dengan tuan saya. Apa lagi Nyonya saya Ibu jangan sekali-kali menyinggungnua, nanti urusannya akan fatal Bu tolong hargain saya di sini "


Setelah mengatakan hal ini secara panjang lebar Tora langsung mendorong kursi rodannya dan meninggalkan ruang tamu, sudah tak selera makan kalau begini kan, lebih baik pergi saja.


"Bu benar apa yang dikatakan Tora tadi, sebaiknya Ibu jangan terlalu ikut campur tentang masalah keluarga ini, kita di sini cuma numpang kita di sini cuma beberapa bulan sampai aku lahiran dan Tora juga sudah sembuh, tolong Bu jangan selalu mengomentari hidup mereka sudahlah Bu kenapa ibu sekarang menjadi seperti ini l, selalu ingin ikut campur tentang urusan orang lain sudahlah Bu Jangan seperti itu "


"Karena mereka tidak suka dengan ibu dan kamu, kamu harus tahu tuannya Tora itu ingin kamu dengan Tora bercerai, jadi dia selalu tidak suka dengan apa yang Ibu katakan, makanya kata Ibu apa kamu harus hati-hati dengan mereka dan kalau bisa kamu harus bisa mendapatkan hati tuannya itu, bisa aja kan kamu jadi Nyonya nya nanti di sini, kan enak bisa tinggal dirumah yang besar "


"Ibu kok makin kesini ibu makin berfikiran yang aneh aneh, bu sadar aku tak akan mungkin mengoda tuan, dia sudah mempunyai istri dan aku juga sudah mempunyai suami, kenapa ibu sekarang menyesal karena aku telah menikah dengan Tora, ibu mau aku menjadi pelakor, dan aku dihina kembali seperti waktu itu, saat nyonya salah sangka, apa kah itu yang ibu mau, ibu sekarang jadi gila harta ya, "


"Kau ini ya kenapa jadi salah sangka, ibu hanya berbicara saja dekati tuannya, apakah ibu salah dia kaya kau bisa hidup bahagia bersamanya, apa salahnya menjadi istri kedua orang kaya, mungkin waktu itu ibu berbicara kalau ibu tak mau kau menjadi orang kedua, istri muda tapi setelah melihat semua ini ibu rasa tak masalah nak"

__ADS_1


"Cukup bu sepertinya ibu sudah sakit, besok aku akan mengantar ibu pergi kerumah sakit kita cek apakah ibu masih waras atau gila, rasannya aku tak mengenal ibuku, lebih baik kita miskin lagi dan aku bisa mendapatkan ibu ku kembali yang bijak dan tak gila dengan harta seperti ini, "


Airin pun sama segera pergi kekamarnya, dia sudah muak dengan ibunya yang seperti ini, rasanya bisa bisa dirinya ikut gila seperti ibunya.


"Kenapa sih mereka semua itu, aneh aneh saja aku kan hanya memberi nasehat, dan aku juga mau anak ku menjadi orang kaya dna hidup bahagia tapi ini malah mau membawaku kerumah sakit jiwa, jadi istri kedua pun tak masalah asalkan uang terus mengalir kenapa tidak kan "


"Dasar anak tidak diuntung, tak mau diajak senang, tak usah memikirkan hati istri pertama biarkan saja nanti juga dia akan menerima, uang adalah segalanya jadi istri pertama akan baik baik saja kalau suami terus memberikan uang, aku harus membujuk anak ku agar mau menjadi istri kedua dan mengoda tuan kaya ini "


Bi Sari yang mendengar semua pembicaraan tadi langsung menghampiri ibu mertua Tora dan membereskan piring piring itu.


"Eh eh saya belum beres makan, kenapa kamu tiba tiba saja membereskan semua ini "


"Oh belum ya saya kira sudah, ingat bu sudah diberi hati jangan minta jantung, ibu harus sadar anak ibu sudah bersuami jangan membuat dia terpengaruh dengan kata kata ibunya yang menjerumuskannya keneraka, menyuruhnya untuk menjadi orang ketiga dan menghancurkan rumah tangga orang lain, gak baik loh bu seperti itu, seharusnya ibu memberi contoh yang baik bukannya seperti ini, ibu ini ibu macam apa ya "


"Hey kamu cuman seorang pembantu jangan ikut campur, mau anak saya jadi orang ketiga, orang keempat orang keberapa pun itu urusan saya sama anak saya, kamu jangan ikut campur ya, sudah sana bawa makan makanan ini saya sudah tak slera lagi, gara gara kamu ini, kamu dasar pembantu kurang ajar ya, tak tau di untung "


"Lah kok lebih galak, meskipun saya pembantu tapi saya gak menyuruh anak saya sendiri untuk merebut suami orang lain, kau ini ibu durhaka, awas saja kalau kau ingin mengacaukan rumah tangga nyonya ku, aku tak akan diam, aku akan membela nyonya ku terus menerus dan yang aku tau tuan tak akan mau dengan anak mu, lihat nyonya ku lebih cantik dari anak mu, dan lebih baik darinya jadi kau jangan bermimpi tuan akan mau dengan anak mu itu "


"Aku akan terus menghalangi apa yang akan kau lakukan dasar nenek sihir kau, tak tau diri dan tak tau di untung sudah ditampung tapi tak tau diri, malah mau jadi nyonya rumah dasar kurang ajar kau " sambung Bi Sari

__ADS_1


"Kau pembantu kurang ajar, lihat saja setelah anak ku menjadi nyonya dirumah ini aku akan mengusir mu dari sini dan aku tak akan memperkerjakan mu lagi lihat saja kau pegang kata kata ku "


Bi Sari langsung pergi saja tak mau mendengarkan celotehan tamunya yang gila, harus tau nyonya dan tuan tentang masalah ini, jangan sampai dirinya tak berbicara pada nyonya dan tuan, ya dirinya harus berbicara jangan didiamkan saja seperti ini, biar di usir tuh nenek nenek tua.


__ADS_2