
"Tolong, tolong " teriak Maura saat melihat orang yang lewat, Liam yang sudah memang dekat dengan Maura segera membekapnya tak Lupa dia sudah memakai sarung tangan agar sidik jarinya tak terdeteksi sama sekali.
Liam membuat mereka jatuh di rerumputan dengan dirinya yang masih setia membekap mulut perempuan itu. Orang yang sedang lewat itu yang merasa ada yang meminta tolong segera celingak celinguk mencari asal suaranya namun tak ada.
Orang itu segera memegang tengkuknya "siapa sih malem malem minta tolong hih takut, pasti itu hantu" orang itu segera berlari meninggalkan tempat itu.
Maura yang dibekap sudah sangat ketakutan, bahkan tangannya sudah dipegang oleh orang itu dengan erat, Liam segera berdiri masih dengan membekap Maura, mengarahkannya ke sebuah gudang, dirinya tau disini ada gudang, yang pastinya akan pas untuk membunuh orang ini.
Dan untungnya gudang sama sekali tak di kunci, Liam mendorong perempuan itu sampai tersungkur dan kepalanya terpentok pada dinding.
"Lepaskan aku, kau ini kenapa, apakah kau orang gila yang baru dilepaskan dari rumah sakit jiwa dasar laki laki gila, lepaskan aku, berani sekali kau padamu, "
"Aku lebih dari itu, jika kau tak kenal dengan orang itu jangan berani berani mendekatinya, kau belum tau aku kan, lalu kenapa kau sangat berani untuk mendekati ku dan berbicara pada orang asing"
"Apa salahnya. Aku hanya ingin bertanya, ingin bercerita, aku tak melakukam apa apa padamu, tapi kau malah memperlakukan aku dengan tidak baik, apa salah ku padamu. kita baru bertemu malahan dan tak saling mengenal"
Tanpa menjawab pertanyaan orang itu Liam segera mengaitkan sebuah tali dan juga menalikannya dengan erat.
Mendekati perempuan itu untuk digantung "menjauh kau. jangan dekati aku, pergi kau pergi sana"
Namun Liam malah tersenyum dan langsung menghamiri perempuan itu dan menangkapnya "tidah lepaskan lepaskan ,"
Namun Liam tak menghiraukan sedikit pun ocehan orang itu langsung mengangkatnya dan mengantungnya dengan mudah. Liam kembali menyalakan sebatang rokoknya menyesapnya sedikit lalu menusuk nusukan rokok itu kekaki perempuan yang sedang tergantung.
Perempuan itu mencoba untuk turun dan menahannya dengan tangannya agar tak mencekik lehernya. Liam yang menyadarinya segera mengambil tangan itu dan memegangnya agar leher itu tercekik dengan sempurna.
Liam yang belum puas segera menyalakan lagi rokoknya dan menyulutkan kembali pada tangan perempuan itu. Sebelum pergi Liam mencari kayu runcing dan ketemu, segera dirinya menusukan kayu itu kearah perutnya, sampai perut itu bolong dan kayu itu tembus kebelakang.
"Aku sebenarnya belum puas bermain main dengan mu, namun sudah lah, aku tak suka kau cepat sekali matinya, sungguh tak menyenangkan dan tak menantang sedikit pun dasar cupu si mulut besar"
Liam keluar dari dalam gudang menutupnya rapat dan membiarkan tubuh itu membusuk sampai tak akan ada orang yang bisa mengenalinya.
**
Ibu Liam yang memang terbangun dan melihat kearah rumah anaknya anaknya merasa aneh. Kenapa semua gelap padahal tidak sedang mati lampu.
Segera ibunya Liam membangunkan suaminya "yah bangun. Yah "
"Ada apa sih bu. Ayah gantuk banget nih "
"Bangun dulu yah bangun "
"Kenapa sih bu " sambil mengucek ngucek kedua bola matanya.
"Ayah kenapa rumah Liam sangat gelap, ibu takut terjadi sesuatu dengan Zeline dan yang lainnya, apalagi Liam sedang menunggu Andre dirumah sakit "
"Lah kok gelap bu, gelap banget "
"Iya kan ibu udah bilang gelap yah, ayah ini tak percayaan dengan ibu sih "
"Ya sudah ayah aka mengeceknya kesana "
"Jangan gegabah yah, kita telfon saja Zeline "
Segera ibunya Liam menghubungi Zeline dan Zeline segera mengangkatnya.
"Hallo nak, kenapa rumah mu sangat gelap, apa ada yang koslet atau bagimana, ibu disini dan ayah sangat khawatir, ibu dan ayah akan kesana ya"
"Bu Aryo kembali, dia ada diluar dan pak Herman sudah dibunuh oleh Aryo, ayah dan ibu jangan kemana mana, kunci semua pintu dan jendela jangan ada yang terbuka, semuanya kunci takut nanti bi Sarah juga dateng"
"Liam gimana bisa dihubungin gak, kamu disana sama yang lain gimana baik baik aja kan "
"Mas Liam gak bisa, gak bisa dihubungin bu dan kita semua disini baik baik aja, kita lagi ada dirungan mas Liam bu, kita ngawasin pergerakan Aryo yang lagi bobol pintu depan bu, pokoknya ayah sama ibu jangan sampai nekat mau kesini, pokoknya diem dirumah, Aryo orang berbahaya bu, dia tega bunuh pak Herman"
__ADS_1
"Terus gimana kamu, ibu khawatir sayang, ibu khawatir gimana kalau Aryo tau kalian disana, apa ibu telfon polisi saja yaz agar kalian cepat diselamatkan"
"Ibu tenang saja, ibu pokoknya dengan ayah jangan sampai nekat kemari ya, pokoknya dengarkan kata kata Zeline kunci semua pintu dan juga jendela, jangan, jangan ibu lapor polisi, disini Zeline akan berusaha telfon mas Liam"
"Baik nak "
Sambungan segera terputus, "yah cepet cek semuanya cek apakah sudah terkunci pintu dan juga jendela " dengan tergesa gesa ayah Liam keluar dan mengecek semuanya.
Sedangkan Aryo sudah masuk kedalam rumah dan menggusur sebuah kayu "keluar kalian jangan mengumpat. Aku pasti akan menemukan kalian semua, dasar pengecur, keluar jangan mengumpat"
Aryo naik ke lantai atas dan membuka satu persatu kamar, pertama masuk kedalam kamar Lucas, lalu masuk kekamar Zeline.
"Dimana hah kalian semua keluar keluar keluar, jangan membuatku semakin marah pada kalian, ayo keluar atau aku akan membakar rumah ini"
Aryo segera beralih keruangan paling pojok yang belum dirinya cek ternyata terkunci, pasti mereka ada didalam sini dan gagang pintu bergerak, Aryo mencoba membukannya namun tak bisa.
"Kalian semua pasti ada didalam, keluar kalian jangan bermain petak umpet dengan ku, kaliam sungguh pengucut dasar para perempuan tak berguna"
Zeline yang melihat gagang pintu bergerak segera menatap Jo saling pandang satu sama lain. "bagaimana ini Line "
"Shutt kau diam saja Jo, kita hanya perlu tenang dan diam "
Jo segera mengangguk dan diam menatap pintu yang makin lama makin bergerak cepat. Untungnya Lucas tertidur dengan pulas, dipeluk oleh bi Sari.
Zeline segera mengacungkan pistolnya menunggu kalau Aryo tiba tiba masik dan membobol pintu ini.
**
Liam yang baru sampai diruang inap Andre, mendudukan bokongnya dan memijat keningnya yang sungguh pusing ini. Saat melihat ponselnya, ada banyak panggilan dari Jo da juga istrinya ada apa ini.
Liam dengan tergesa gesa segera menelfon istrinya namun tak aktif segera Liam beralih menelfon Jo dan diangkat.
"Hallo pak dosen kau kemana saja, kenapa sangat sulit di hubungi, cepat bantu kami pak, kami dalam bahaya Aryo ada dirumah pak Herman sudah dihabisi oleh Aryo, tolong kami pak " cerocos Jo.
"Kita ada diruangan kerja pak dosen, disini kita bisa mengawasi semuanya, "
"Bagus, tolong berikan ponselnya pada istriku "
"Line ini pak dosen "
Zeline segera mengambil ponselnya "Hallo mas, kamu kemana mas, aku dari tadi menghubungi mu mas, kita semua disini terjebak, apa yang aku lakukan aku binggung mas, sudah tak ada cara lain lagi yang terfikir oleh kepalaku mas "
"Maafkan aku sayang, maaf, kau dan Lucas tak apakan dengan yang lainnya "
"Kita semua baik mas, tapi bagaimana Aryo ada didepan pintu berusaha untuk membukannya sekarang aku harus bagaimana mas, aku gak mau sampai Lucas diambil sama penjahat itu"
"Tenang, aku akan segera pulang sayang, kalian bertahanlah disana, kalau tidah segeralah masuk ke pintu rahasia "
"Dimana mas, dimana aku harus kemana"
"Kau kearah lemari buku, lalu ambil buku paling tebal dan buka disana ada tombol "
" Baik mas "
Zeline langsung mencari bukunya dan membukannya dan benar saat tombol itu di tekan terbuka ada sebuah ruangan.
"Bi Sari ayo bawa Lucas, Jo ayo cepat "
Mereka semua segera masuk dan pintu segera menetup lagi dengan sendirinya saat mereka semua sudah masuk berbarengan dengan Aryo yang berhasil masuk kedalam.
"Aku sudah masuk mas "
"Baiklah aku akan segera pergi kesana "
__ADS_1
Zeline segera mengembalikan ponselnya Jo dan melihat kebelakang yang masih sama mereka semua bisa melihat keluar rumah, Zeline mengambil Lucas dan memberikan susu padanya.
Karena sudah waktunya untuk memberikan minum pada anaknya "kamu yang tenang ya sayang, mamih yakin papih mu akan datang sebentar lagi, pasti papihmu akan bisa megatasi semua masalah ini sayang, kamu jangan nangis ya syaang agar persembunyian kita tak ketahuan"
Diruangan Aryo mencari keberadaan mereka berempat "rupanya kalian masih ingin petak umpet denganku, keluarlah aku tak akan menyakiti kalian semua, ayo keluar dari ruang persembunyian kalian, aku tak akan menyakiti kalian "
Namun tak ada jawaban sama sekali, masih hening tak ada suara dan tak ada gerak gerik sama sekali semuanya hening.
"Ahh sialan "
Aryo segera keluar rumah dan kembali mencari keberadaan mereka semua, takutnya mereka semua ada diluar rumah dan kabur, bisa gagal semuanya, jangan sampai gagal untuk yang kedua kalinya.
**
Andre yang sedang tidur dengan nyenyak terbangun karena Liam yang berisik "kenapa sih lo Liam berisik banget, gue jadi kebagunkan"
"Zeline, Lucas Jo dan juga bi Sari lagi dalam bahaya Andre, Aryo balik lagi, dia kaya tau kalau gue gak ada, gue harus cepet cepet kesana dan selamati keluarga gue"
"Gue ikut Liam, gue pengen ikut ya aww "
"Jangan lo masih sakit, lo diam aja disini istirahat, gue akan minta bantuan sama suster buat jaga lo, gue pergi dulu ya lo jaga diri baik baik, gue takut bi Sarah kesini "
"Ah gampang kalau bi Sarah mah nenek nenek ini gue senggol sedikit pun langsung metong, gak usah lo pergi aja gak usah panggil suster gue sendiri aja, lo jangan sampai telat cepet buruan pergi "
Liam segera mengangguk dan segera pergi meninggalkan Andre sendirian.
Andre yang tak bisa tidur akhirnya menguhungi Jo, dia menjadi sangat khawatir sekali dengan Jo, takut terjadi apa apa dengan perempuan cerewet itu, kalau sampai kenapa napa siapa yang akan menemaninya lagi selain Liam dan Zeline.
Pada deringan pertama tak diangkat deringan kedua pun sama tak diangkat dan pada deringan ketiga akhirnya diangkat.
"Hallo kak Andre ada apa, malem malem malah nelfon ada perlu apa sama gue sih kak "
"Hait sebentar, satu satu lo tuh yah kalau gu nelfon, biasa aja dong bicarannya, biar gue dulu yang bicara lo jangan duluin gue dong"
"Yaudah ada apa, kakak ada perlu apa "
"Kamu gak apa apa kan sekarang Aryo dimana, dia gak temuin persembunyian kalian kan, disini gue khawatir banget takut terjadi sesuatu sama kalian semua"
"Gue baik baik aja kak, ini lagi sembunyi, kenapa sih lo nanyain gue baik baik aja atau engga sih kak, kakak tau dimana kalau Aryo ada disini"
"Ya jelas dari Liam la, ya gue cuman takut lo kenapa napa kan sebentar lagi mau nikah, masa gak jadi untuk yang kedua kalinya, gue juga gak mau kehilangan temen yang cerewet kaya lo, nanti sepi dong, hidup gue makin sengsara, udah mah ditinggal Syifa masa iya sekarang mau ditinggal lo juga, jangan sampai dong"
"Gue gak apa apa kok, dan yang lain juga baik baik aja, gila tuh Aryo kalau saja tadi Zeline tak bangun mungkin kami semua sudah mati ditangan Aryo dia sangat jahat bahkan pak Herman dia bunuh didepan mata kita semua, dia adalah penjahat yang sesungguhnya"
"Pokoknya kalian tenang pasti Liam sebentar lagi akan datang, jangan putuskan sambungan ini Jo, aku ingin mendengar semuanya, jadi jika ada apa apa aku akan datang kesana menolong kalian "
"Baiklah kak, baik aku tak akan mematikan sambungannya sama sekali, bagaimana kau bisa datang kesini sedangkan kau sedang sakit monyet"
"Heh berani sekali kau mengatakan ku monyet, awas nanti sembuh akan aku balas ya, awas saja tunggu aku Jojo "
"Berisik kau kak, sudah jangan bicara aku ingin menemui Zeline dulu "
Jo segera pergi kearah Zeline yang sedang saling menatap dengan Aryo namun diluar sana Aryo tak akan bisa melihatnya, tak akan bisa mengetahui mereka ada dimana..
Aryo yang kebingungan duduk di bawah, dirinya sudah bingung harus melakukan apa lagi, masa iya harus pulang dengan tangan kosong, yang ada ibunya nanti akan marah marah padanya.
"Kemana sih mereka semua, masa tak ada hasil lagi, aku harus berhasil melenyapkan mereka semua, agar semua dendamku terbalaskan, aku tak mungkin kalau harus menunggu waktu yang lama lagi, bisa bisa nanti tak ada kesempatan lagi, ini adalah kesempatan terbaiknya. Seharusnya aku mengecek seluruh ruangan rumah "
Lalu dirinya mengigat kembali kenapa bisa sampai tau tak ada Liam dirumah ini, karena ya saat dirinya memutuskan untuk pergi dengan ibunya, dia kembali lagi kesini dan berjanji pada sang ibu untuk kembali kerumah ini dan membalasnya.
Tadi saat dirinya menunggu, dia melihat yang masuk hanya perempuan saja tidak dengan Liam, jadi dia menyusun rencana kembali dan terjadilah sekarang seperti yang kalian lihat
Tanpa Aryo sadari ada yang berjalan kearahnya dan langsung menusuk punggungnya, jleb jleb.
__ADS_1