
Gavin yang masih melamun di kagetkan dengan suara langkah kaki yang masuk kedalam ruangannya, Gavin memojokan dirinya, takut kalau itu Liam, dirinya tak mau kalau dia sampai datang lagi, terlalu emosional kalau dia datang.
Namun suara langkah kaki itu semakin mendekat dan mendekat kearah ruangan ini, dan masuklah seekor serigala yang mendekati Gavin.
"Hus hus sana pergi jangan kemari aku bukan makanan mu, sana sana pergi, jangan ada disini "
Gavin yang badannya lemas hanya bisa membaringkan dirinya diatas tempat tidur, lapar sekali dirinya ini, ingin makan tapi makan apa, tak mungkin kalau harus makan daging itu.
Ingin minum juga tapi minum apa, tidak disediakan minuman sama sekali, Liam sungguh tak pri kemanusian dia tak memberikannya apa apa.
Namun saat tangan Gavin memegang bawah tempat tidurnya ada sebuah botol, Gavin segera mengambilnya dan ada airnya dengan senang Gavin meminumnya dan menyimpannya kembali, akhirnya rasa hausnya hilang.
Serigala itu masih ada dihadapannya diam lalu dia berih ketempat Liam memotong daging mengendus endus dan memakain daging yang belum Liam masukan ke dalam pendingin.
Gavin hanya bisa menatapnya dengan perut keroncongan, dia melihat ada kecoa dengan cepat Gavin memakannya namun langsung memuntahkannya tidak enak sekali.
Gavin terus saja menatap daging yang Liam berikan, dia menggelengkan kepala dan jamgan sampai dirinya memakannya.
__ADS_1
"Tahan Gavin jangan sampai kau memakan daging itu, itu bukanlah daging yang selalu kau makan, itu daging manusia kau harus sadar. Kau jangan sampai jadi kanibal jangan jangan tahan diri lebih baik mati dari pada memakan daging itu"
Kembali Gavin melihat kearah serigala itu yang sangat lahap memakan daging manusia itu, Gavin melihat kearah bawah dan disuguhkan dengan kepala yang melotot, Gavin segera membalikan diri kearah tembok, menulis angga 2 ditembok, menghitung hari sudah ada berapa lama dirinya disini.
Bayangkan saja dirinya ini tak makan 2 hari lapar lemas, kepala sakit segala hal sakit, tak makan beberapa jam saja suka tak tahan apa lagi ini dua hari.
"Semoga saja saat aku nanti bangun ada seseorang yang menolongku. Aku ingin keluar aku ingin makan, aku minun yang banyak. Aku tidak mau tersiksa di sini semoga saja saat aku nanti bangun ada seseorang yang menolongku. Aku tidak ingin tersiksa di sini sampai aku mati, aku harus keluar ya aku harus memberikan kebenaran pada seluruh dunia kalau Liam si pengusaha kaya itu adalah seorang pembunuh dia bukan orang baik seperti apa yang terlihat di publik, aku harus memberi tahu semuanya kalau dia juga yang telah membunuh Bulan dan juga Lia ya aku harus melakukan itu"
Dan tanpa Gavin sadari dia tertidur dengan badan yang meringkuk memeluk kakinya dia kedinginan, pakaiannya masih basah bekas Liam tadi menyiramnya memakai air yang banyak tubuhnya menggigil bibirnya kering dan wajahnya sangat lusuh.
Bahkan saat ingin buang air besar dirinya tidak bisa melakukan itu, karena mau di mana masa Iya di sini tidak mungkin kan, itu sangat menjijikan sekali dirinya bukan hewan dirinya adalah manusia jadi bersikaplah seperti manusia bukan seperti hewan yang bab di mana saja dan pipis di mana saja.
Saat Tora masuk kamar dia melihat raut wajah sang istri yang cemberut , Tora yang melihat mengerutkan dahinya.
"Ada apa dengan mu, kenapa kau cemberut suami pulang bukannya disambut malah manyun kayak gitu "
"Kamu tahu apa yang udah nyonya kamu lakuin sama ibu itu buat Ibu sedih banget tau gak sih, bisa gak sih keluarga ini gak bikin Ibu nangis, gak bikin ibu sakit hati apa sih kesalahan Ibu dia hanya mencoba sebuah kalung saja, tapi dihinanya terus-menerus apa sih kesalahannya Tora. Kenapa kau tidak membela ibu sama sekali kenapa kau diam saja dan hanya melihat ibu yang sedang dihina oleh nyonya mu itu kau begitu jahat "
__ADS_1
"Apa yang nyonya kulakukan setau ku ibumu hanya berkeliling dan memohon mohon pada nyonya, tak ada yang dia lakukan, dia hanya diam saja, apakah kau sekarang termakan dengan omongan ibumu yang suka melantur kemana mana "
"Tidak mungkin Ibuku berbicara bohong padaku dia pasti berkata jujur, kenapa sih kau selalu membela saja mereka aku tahu kau anak buahnya, anak percayaannya. Jadi kau tidak mau sampai nama baikmu itu kotor olehku dan juga Ibuku, tapi setidaknya bela kami juga kami ini juga punya harga diri ,kami tidak suka jika diinjak-injak"
"Memangnya di sini siapa yang menginjak-injak harga diri ibumu, kalau saja tuanku dan Nyonya Ku ingin mungkin ibumu sudah dipenjara dengan dirimu bodoh "sambil menunjuk kepala Airin.
"Malam-malam seperti ini kau jangan membuatku marah Airin. Aku ingin istirahat aku baru saja selesai berjaga seharusnya kau yang menjadi seorang istri menyambutku bukannya malah seperti ini, kau ini istri macam apa kalau ada seseorang yang berbicara padamu meskipun itu orang dekatmu , kau tidak perlu langsung percaya kau ini bodoh sekali bukannya kau sekolah kenapa kau bodoh, aku tidak mau mendengar kau berkata ini lagi padaku dan mengadu yang tidak-tidak, ibu mu itu pembohong dia seorang pembohong dan kau jangan percaya begitu saja pada dirinya "
Tora segera keluar dari dalam kamarnya dan entah pergi kemana meninggalkan sang istri sendirian di sana. Airin hanya diam dan menangis melihat suaminya yang kasar padanya memberitahunya dengan begitu sangat kasar.
"Hanya membela keluarga ini aku sampai dikatakan bodoh oleh suamiku sendiri. Kenapa kau begitu kasar pada ku Tora, aku ini istrimu bukan orang lain tapi sikapmu mencerminkan Kalau dirimu itu bukan seperti suamiku, tapi seperti orang asing yang menghamiliku saja dan bertanggung jawab"
"Tapi memang itu kenyataannya dia bertanggung jawab karena aku hamil saja, dia tidak menyayangiku sama sekali dia hanya menyayangi pekerjaannya saja, dia sebenarnya tidak butuh wanita dia hanya ingin seorang anak aku sudah terjebak di sini bersama monster yang sangat menjijikan itu"
"Pilihanku untuk memilihnya ternyata salah, dia sama sekali tidak mementingkan pilihanku itu, dia hanya fokus untuk bekerja dan mengabdi pada nyonya dan tuannya itu tak ada satupun kasih sayang yang dia berikan padaku"
Airin mengusap air matanya lalu segera membaringkan dirinya, sudahlah dirinya lelah sekali dan ingin beristirahat dirinya sedang mendung besar jangan banyak fikiran, biarkan suaminya seperti itu tak usah difikirkan saja, biarkan dia melakukan apa yang dia mau, biarkan saja lah.
__ADS_1
Cape juga memikirkan sikapnya yang tak pernah berubah dan sama terus.