Psikopat Tampan Dosenku

Psikopat Tampan Dosenku
Marah pada ibu


__ADS_3

"Liam lebih baik kamu pulang dulu, temui anak dan istrimu, kasihan mereka, zeline sepertinya sangat syok dengan semua kejadian ini, segeralah pulang nak" ucap ayahnya Liam mereka sekarang sudah ada di rumah sakit dan juga Andre ada diruang ICU.


"Tapi bagaimana dengan Andre ayah, aku juga sangat khawatir dengan dia, takut terjadi sesuatu dan aku tak ada disampingnya"


"Tenang saja ayah yang akan menjaganya, kau mending pulang dulu saja, nanti kemari lagi, pasti ayah akan mengabarimu"


"Baiklah ayah hati hati ya disini kalau ada apa apa kabari Liam "


"Iya nak "


Liam segera pergi untuk pulang dahulu kerumah, untuk melihat keadaan istrinya dan juga anaknya tak lupa dengan bi Sari, dirinya juga ingin tau apa yang terjadi sebenarnya.


Liam sudah sampai didepan rumah ibunya, Liam masuk dan Zeline yang sedahg duduk diruang tamu segera bangkit sambil terbirit birit membawa Lucas pergi.


"Sayang kamu kenapa " saat mendengar itu suara suaminya Zeline segera berbalik dan menghembuskan nafasnya dengan tenang.


"Sayang kamu kenapa " tanya Liam sekali lagi sambil menghampiri sang istri.


"Aku aku takut mas, takut itu bi Sarah yang kesini, aku takut Lucas diambil mas, aku gak mau kehilangan Lucas mas"


"Gak akan sayang disini ada aku jadi kamu gak usah khawatir ya, aku akan selalu lindungi kalian, jadi kamu jangan khawatir sayang"


Zeline hanya bisa mengangukan kepalanya saja dan Liam membawa Zeline untuk duduk terlebih dahulu dikursi.


"Bi Sari gimana apa dia baik baik aja kan, sekarang bibi dimana "


"Disini tuan " ucap bi Sari yang tiba tiba muncul.


"Sini bi duduk "


Bi Sari segera duduk namun malah duduk dilantai. "Bibi kenapa duduk disitu sini dikursi bi " pinta Liam.


"Gak papa tuan saya disini aja, kurang sopan kalau saya duduk dikursi bersama tuan dan nyonya "


"Loh kok gitu, disini aja bi cepet naik, sama saya gak ada kata penolakan "


Bi Sari dengan canggung duduk dan muncul juga ibunya Liam yang juga ikut bergabung dengan mereka semua.


"Bibi gimana keadaannya " tanya Liam sambil menatap tangan yang diperban.


"Saya baik tuan, saya sudah berhasil menyelamatkan den Lucas, alhamdulillah allah masih membantu saja untuk menyelamatkan den Lucas dengan bantuan tuan Andre"


"Nanti kita kerumah sakit ya buat obatin tangan bibi, terimakasih bibi sudah menjaga anak kami dengan sangat baik, kalau tidak ada bibi mungkin entah apa yang akan terjadi dengan anak saya, sungguh saya berhutang nyawa kepada bibi "


"Gak usah tuan sudah diobati kok. sama sama tuan itu sudah kewajiban saya untuk selalu menjaga den Lucas, saya gak mungkin tak bertangung jawab, nyonya dan tuan kan sudah mempercayakan saya untuk den Lucas, jadi saya yang diberi amanah harus menetapinya"

__ADS_1


"Engga nanti kita kerumah sakit sambil tengok keadaannya Andre, kita obati disana bi"


"Andre kenapa nak " tanya ibunya Liam dengan sangat panik


"Dia ditusuk bu dan sekarang sedang ada diruangan ICU, ayah disana nunggu Andre "


"Ya allah Andre, ibu harus kesana "


"Nanti bu kita pergi sama sama, begini bi apa bibi bisa ceritakan kronologinya, kenapa bi Sarah pengen lenyapin anak saya "


"Begini tuan, dari awal saya masuk saya sudah sangat curiga dengan mba saya, tiba tiba saja saya diajak bekerja dan dia juga menjadi aneh sekali setelah tau kalau Nina sudah tiada, dia selalu berbicara pada saya kalau dia akan balas dendan pada orang yang telah membunuhnya "


"Lalu bibi tau siapa yang di maksud bi Sarah. " tanya Zeline.


"Tidak nyonya. Saya hanya di beritau kalau saya akan bekerja di rumah orang yang sudah membunuh Nina katanya seperti itu. Tapi saya tak terlalu mengubrisnya saya biarkan saya. Dan pada puncaknya tadi siang tiba tiba mba datang membawa pisau dan menyuruh saya untuk menyerah den Lucas, katanya nyawa harus dibalas dengan nyawa"


"Saya gak mau kasih den Lucas, saat dia akan menusuk den Lucas saya tahan dengan tangan saya dan kabur namun Aryo datang mengepung saya tuan, untungnya ada tuan Andre yang membantu saya dan saya tak tau kalau tuan Andre sampai ditusuk seperti itu, dan saya benar benar tidak tau tentang rencana itu tuan nyonya, jadi mohon jangan jebloskan saya kepenjara, saya tak tau apa apa"


"Bibi tenang saja, kami tak menuduh bibi bersekongkol dengan mereka, kalau bibi bersekongkol mungkin bibi sudah memberikan anak saya kepada bi Sarah, bibi gak usah khawatir saya gak akan pernah jeblosin bibi kepenjara karena bukan bibi yang salah, jadi bibi gak perlu takut" jawab Liam denga pelan pelan.


"Terimakasih tuan nyonya, tapi apakah saya dipecat dari pekerjaan saya ini tuan"


"Kenapa saya memecat bibi, saya tak akan mungkin memecat bibi, bibi adalah orang yang sangat berani telah menyelamatkan anak kita, jadi sampai kapan pun saya tak akan pecat bibi, bibi akan selalu ikut dengan keluarga saya "


"Alhamdillilah tuan, alhamdillilah "


"Baik tuan baik " bi Sari segera pergi dengan wajah senangnya dirinya berfikir akan di pecat oleh tuannya, karena kesalahan kakaknya, tapi ternyata tidak,tuan dan nyonya baik tidak seperti yang difirkan mbanya.


"Ibu minta maaf, untuk kedua kalinya ibu telah membuat rumah tangga kalian hampir hancur, yang pertam ibu telah memasukan Nina kedalam rumah kalian pada akhirnya dia mempunyai rencana licik untuk melenyapkan Zeline, Liam akhirnya membunuh Nina dan untuk kedua kalinya ibu juga sama memasukan seorang pejahat kedalam rumah tangga kalian, Lucas yang menjadi sasarannya sekarang, ibu sungguh tak berfikir kesana"


"Ibu sungguh tertipu dengan pengabdian yang diberikan oleh bi Sarah pada keluarga kita, dan itu membuat ibu buta dan mempercainya begitu saja, seharusnya ibu belajar dari kesalah yang Nina buat, ibu tak hati hati saat bicara dan gegabah, kalau bi Sarah gak mendengarnya tak akan mungkin bisa melakukan kesalahan sebesar ini. Ibu telah percaya pada orang jahat "


"Kalau saja waktu itu ibu kekeh, pengen Lucas di jaga sama bi Sarah mungkin sekarang kejadiannya akan lebih parah lagi, yang tentu tak bisa ibu bayangkan, ibu sungguh minta maaf pada kalian, atas keteledoran ibu kalian hampir kehilangan anak kalian, ibu juga masih sangat tak menyangka kalau bi Sarah bisa berbuat seperti itu, berbuat hal nekat yang membahayakam nyawa anak kalian "


"Kenapa ibu harus minta maaf ini bukan kesalahan ibu, Zeline tau ibu tak bermaksud begitu, jadi ibu jangan salahin diri ibu dan minta maaf sama kita, kita berdua sama sekali tak menyalahkan ibu, mungkin saja itu sudah takdir dari tuhan, kalau bi Sarah harus tau yang sebenarnya, kita harus sembunyiin sampai kapan bu, karena sebau baunya bangkai akan tercium juga, bi Sarah menunggu kepulang anaknya, tapi itu gak akan mungkin Nina bisa kembali, jadi untuk kejadian ini kita jadikan sebuah pelajaran hidup, kalau kita tak boleh gegabah dalam melakukan sesuatu yang nantinya akan merugikan diri kita dan juga keluarga kita "


"Untuk saat ini Liam minta sama ibu, jangan maksa maksa kita lagi untuk ada pelayan dirumah, apalagi kepercayaan ibu, ibu yang selalu egois dan ingin menang sendiri akhirnya begini kan bu, membuat keluarga Liam terancam, Liam ingin hidup normal bu, Liam ingin memperbaiki hidup Liam ini, tolong mulai saat ini ibu jangan ikut campur lagi masalah rumah tangga kita, aku mau urus rumah tangga aku sendiri "


"Kalau pun aku nanti butuh pelayan aku akan cari sendiri, gak ada kata recomendasi lagi dari ibu, udah cukup, cukup bu aku harus mengalama semua kejadian ini, aku bukannya menyalahkan ibu, tapi aku mengigatkan pada ibu, jangan terlalu percaya pada orang lain selain keluarga kita, mungkin orang itu sudah dekat dengan ibu tapi kita gak tau didalam hatinya itu seperti apa, meski udah baik sama dia, kalau dia punya niat buruk tetep aja gak akan membuat dia berubah"


"Mas " tegur Zeline


Liam hanya menganggukan kepalanya saja lalu segera membawa istrinya untuk segera pulang kerumahnya, kerumah mereka berdua.


Ibunya Liam akhirnya tak bisa membendung rasa sedihnya, dia menangis, karena dirinya gagal membuat anaknya malah jadi marah, padahal niatnya baik ingin membantu anak anaknya. Namun semua ini malah disalah artikan oleh bi Sarah.

__ADS_1


"Sarah kenapa kamu lakuin ini sama kelurga saya, saya padahal udah baik sama kamu, saya udah kasih apapun yang kamu mau. Tapi semua itu ternyata tak berarti buat kamu, aku ingin membalas atas kematian anakmu, makannya aku royal padamu. Karena aku tau anakku salah telah melenyapkan Nina, aku bersalah atas semuanya"


"Ku kira dengan semua yang aku berikan bisa memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh anak ku, tapi ternyata semuanya sia sia dan terbuang tak berarti. Kau ternyata memanfaatkan kebaikanku untuk keberhasilan misi mu membunuh cucuku, kenapa seperti itu "


"Kenapa kau tak bunuh aku saja Sarah, biar kau puas dan semua dendam mu itu terbayar lunas, anak anak ku serta cucuku bisa hidup dengan bahagia tanpa ada gangguan dari mu, sungguh kau keterlaluan"


Setelah mencurahkan semua isi hatinya ibunya Liam segera berjalan kearah kamarnya masih dengan tangisnya, bi Sari yang mendengar semuanya menjadi sangat bersalah, tadi tak sengaja dirinya mendengar semuanya karena ingin berpamitan untuk pulang kerumah nyonyanya.


Masa dirinya enak enakan tidur, tak enakan kalau carannya seperti itu, mba nya sungguh sudah menghancurkan sebuah keluarga yang baik baik saja menjadi berantakan seperti ini.


Liam yang sudah ada didalam rumah segera mengusap wajah istrinya "kamu sekarang masuk lah kedalam kamar ya. Aku akan memberi pelajaran pada karyawanku yang tidak becus "


"Tapi kamu jangan melakukan kekerasan mas, aku minta tolong sama kamu jangan gegabah lagi, aku gak mau sampai ada yang nekat lagi seperti bi Sarah melukai keluarga kecil kita mas, tolong fikirkan keluarga kita"


"Kamu tenang saja sayang aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama, jadi kamu bisa tenang, segerala masuk dan beristirahat lah bersama Lucas, jika nanti aku akan pergi kerumah sakit aku akan membangunkan mu sayang"


Zeline dengan patuh segera pergi kedalam kamar dengan masih was was takut takut suaminya nanti melakukan kekerasan kepada pegawainya, dengan perlahan Zeline segera membuka pintu kamar dan masuk kedalam membaringkan Lucas yang sudah pulas tertidur.


Namun Zeline sama sekali tak bisa tidur hanya bisa diam melamunkan semuanya, semua kejadian yang baru menimpa keluarganya, dulu anaknya sekarang ibunya yang melakukan hal kejih itu.


Ternyata orang terdekat kita bisa lebih jahat dari pada yang kita bayangkan, jadi sekarang Zeline memegang teguh kalau dirinya jangan gampang percaya pada orang sekitar apalagi orang asing.


Liam yang masih dibawah segera berteriak memangil satpamnya "Herman Herman kemari kau "


Herman yang sedang mengobrol dengan bi Sari dan diberi tahu tentang kejadiannya sangat kaget, jadi dia tadi dijebak oleh Aryo, ya allah bagaimana dirinya ini pasti akan habis oleh tuanya yang galaknya minta ampun.


"Sebentar ya bi Sari saya di panggil bapak, pasti saya akan habis deh bi, saya permisi dulu ya bi takut nanti makin marah kalau lama"


"Baik pak, silahkan"


Pak Herman segera berlari dengan terbirit birit dan menemui tuanya, "Ya tuan anda memangil saya "


"Ya iyalah sama manggil kamu, saya kan manggil nama kamu ya berarti kamu. Kerja kamu apa sebenernya "


"Maaf pak, kerja saya menjaga rumah dengan aman dan baik dan melindungi semua keluarga tuan "


"Aman, lalu apa yang kamu lakukan saat kejadian berdarah dirumah saja, kau tau nyawa anaku hampir melayang, nyawa sahabatku dan juga bi Sari, jadi sekarang saya bertanya apa kerjaan kamu Herman , apa coba jelaskan pada saya semuanya dengan terperinci" bentak Liam.


"Maafkan saya tuan, maaf tadi Aryo memberikan minuman, dan saya tak tau kalau didalam nya ada obatnya, saya tiba tiba mengantuk dan langsung tertidur pak, maafkan saya pak, pekerjaan saya adalah menjaga rumah ini agar aman dari penjahat dan semua adalah tanggung jawab saya pak"


"Bodoh kamu. Kenapa meminumnya, seharusnya kau cek dulu bukannya asal minum saja, masa iya aku harus menyekolahkan mu lagi Herman, jadi bagaimana saya baiknya, apa perlu saya memecat Anda atau bagaimana"


"Tolong pak jangan pecat saya tolong, saya mempunyai anak dan istri dan anak saya masih perlu biaya untuk sekolah, anak saya juga masih kecil kecil, tolong kasihani saya pak, jangan pecat saya pak" pak Herman segera berlutut dihadapan Liam.


"Baik saya akan memberi kesempatan lagi untuk mu, ini yang terakhir kalinya saya memberikan kesempatan padamu, jika sampai ada kejadian seperti ini saya tak akan segan segan untuk memecatmu, dan mendepakmu dari sini. dan tak ada lagi ampun untuk mu"

__ADS_1


"Baik pak baik saya tak akan melakukan kesalahan yang sama terimakasih pak atas kebaikan bapak, karena sudah tak memecat saya"


Liam segera pergi tak menjawab sama sekali perkataan pak Herman, dirinya masih marah dengan semua kejadian ini.


__ADS_2